Minggu, 19 April 2020

Sebuah Cermin Menatap Diri






SEBUAH CERMIN MENATAP DIRI
Oleh Muhammad Qorib
Wakil Ketua PWM Sumut dan Dekan Fakultas Agama Islam UMSU

Ustaz Farhan memacu sepeda motornya dengan kencang. Tak lupa ia melengkapi berbagai surat dan pengaman selama berkendara. Hari itu, ia terikat janji dengan jamaah pada pukul 14.00 sd 16.30. Ustaz Farhan diminta untuk menjadi penceramah dalam sebuah pengajian akbar. Sebelum acara berakhir, Ketua Pengajian juga mendaulatnya untuk memimpin Gerakan Amal Sholeh (GAS). Hasil GAS direncanakan untuk komoditas aktifitas sosial. Sesuai dengan keputusan rapat, dana yang terkumpul dikonversikan menjadi sembako dan diserahkan kepada kaum dhu’afa.
GAS memang menjadi tradisi di pengajian itu. GAS itu pula yang mengantarkan pengajian akbar tersebut sebagai institusi filantrofi. Sungguh sangat membanggakan. Namun jauh lebih membanggakan karena pengajian itu berada di rahim organisasi besar yang masyhur dengan terobosan-terobosan sosialnya. Singkat cerita, pengajian berjalan lancar. Jamaah serius mengikuti uraian demi uraian. Terkadang suasana serius pecah berubah menjadi jenaka, ketika Ustaz Farhan memasukkan humor-humor religius, sebuah metode khas dalam dakwahnya.
Sebagai pembawa GAS, Ustaz Farhan membius jamaah untuk bersedekah. Namun ia memberi contoh terlebih dahulu. Agak kurang elok, jika seruan bersedekah namun tidak dimulai oleh penyerunya. Ketua Pengajian merasa sangat senang dan berterima kasih atas kepiawaian Ustaz Farhan berceramah dan menggerakkan GAS. Setelah pengajian selesai, Ustaz Farhan pamit pulang. Tak lupa Bendahara Pengajian menyelipkan uang transportasi untuknya. Di tengah jalan ban sepeda motornya bocor. Ia harus menuntunnya ke bengkel terdekat. Selesai itu, Ustaz Farhan mengeluarkan uang untuk jasa tambal ban tersebut.
Saat memacu sepeda motor, hujan turun dengan lebatnya. Karena jarak menuju rumahnya masih jauh, Ustaz Farhan menembus derasnya guyuran hujan. Sampai di rumah ia basah kuyup. Istri beliau yang sholehah menyambut kedatangannya, diikuti pula oleh putera dan puterinya yang lucu-lucu. Karena keletihan dan imunitas yang tidak stabil, akhirnya Ustaz Farhan demam. Esok harinya ia pergi ke dokter untuk mendapatkan perawatan. Selesai berkonsultasi kepada dokter, Ustaz Farhan mengambil uang pembayaran. Uang itu berasal dari amplop transportasi yang ia dapatkan dari pengajian akbar sehari sebelumnya. Setelah dihitung, ternyata biaya resep dan  berobat yang mesti ditebus lebih besar.
Dalam konteks ini, pengeluaran uang Ustaz Farhan lebih besar dari yang ia peroleh. Untuk diketahui, selain untuk perobatan, Ustaz Farhan mengeluarkan sedekah ketika memimpin GAS, membayar tambal ban ketika bocor dan mengisi bahan bakar untuk sepeda motornya. Tidak tersisa untuk ekonomi keluarganya. Uniknya, uang transportasi yang kecil dari jamaah sering ia peroleh, namun tak menggerus semangat Ustaz Farhan. Istrinya yang sholehah tampil menguatkan.  Ia kemudian mengambil sejumlah uang dari dompetnya untuk menutupi kekurangan. Uang itu berasal dari simpanan yang dikumpulkan sedikit-demi sedikit. Atas takdir Allah, semua berjalan lancar dan akhirnya Ustaz Farhan sembuh seperti sediakala. Ia dapat melaksanakan peran dan fungsinya kembali sebagai seorang pencerah.
Hari-hari dilalui Ustaz Farhan dengan gembira. Banyak jamaah yang memerlukan sedekah ilmu dan pemikirannya. Aktifitasnya seolah diatur oleh jamaah, tak terbelenggu waktu. Jika sehat dan tidak berbenturan dengan acara yang sudah disusun, Ustaz Farhan selalu memenuhi undangan ceramah yang sampai kepadanya.  Jadwalnya tersusun rapi. Tidak pernah ia membeda-bedakan tempat ceramah, kering atau basah. Hidup dan matinya tetap berada di lingkaran pencerahan. Ia sosok yang ikhlas dan berjiwa sosial tinggi. Ia juga dikenal memiliki loyalitas institusi yang kuat. Filosofi  tersebut ia rujuk dari pendiri organisasi dimana ia aktif.
Karena zaman terus mengalami perubahan dan isu-isu dakwah semakin pelik, Ustaz Farhan juga berpikir untuk meningkatkan kualitas diri. Gerakan pencerahan yang ia lakukan akan ketinggalan zaman jika ia tidak menimba ilmu ke jenjang berikutnya. Ia berniat untuk melanjutkan studi ke tingkat magister. Dalam konteks ini, Ustaz Farhan tetap berkonsentrasi sesuai bidang yang ia dalami selama ini, yaitu dirasah islamiyah. Ia punya visi, jika wawasan ilmu semakin luas tentu jamaah juga akan mendapatkan pemahaman agama ke tingkat yang lebih baik. Perubahan keadaan terjadi jika diawali dengan perubahan pola pikir. Ini bisa dilakukan lewat perbaikan kualitas pendidikan.
Berbekal tabungan pas-pasan, Ustaz Farhan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Apa yang ia lakukan sangat spekulatif. Selain memikirkan ketersediaan ekonomi untuk keluarga, Ia juga dituntut untuk mencari dana studinya. Keadaan tersebut sudah pernah ia sampaikan secara tersirat ke beberapa jamaah pengajian yang di dalamnya terdapat orang-orang mampu. Namun mereka lebih memilih bersedekah doa ketimbang bersedekah materi yang sedang dibutuhkannya.  Ada yang tidak memberikan respons. Namun beberapa diantaranya memberikan bantuan ala kadarnya. Padahal, diantara mereka ada yang sudah menunaikan haji dan umroh berulang kali.
Meskipun terseok-seok, Ustaz Farhan dapat menyelesaikan studi. Ia meraih gelar yang diimpikan, yaitu magister. Gelar tersebut membuatnya semakin optimis dalam proses gerakan pencerahan. Jadwal ceramahnya semakin padat. Permintaan untuk mengisi acara keagamaan kepada dirinya semakin meningkat. Selain berceramah dari pengajian yang satu ke pengajian lainnya, Ustaz Farhan mengamalkan ilmu dengan menjadi seorang guru di sebuah sekolah kecil. Sekolah itu didominasi oleh  siswa-siswi miskin yang tak berkecukupan materi. Meskipun berpenghasilan di bawah UMR, Ustaz Farhan tak kenal kata menyerah, berhenti, apalagi melarikan diri mencari sekolah dengan penghasilan yang lebih tinggi.
Seiring dengan bergulirnya waktu, kini anak-anak Ustaz Farhan membutuhkan biaya pendidikan. Biaya itu menurut ukurannya terbilang tidak kecil. Keadaan tersebut harus ia tutupi, ditambah lagi dengan sewa kontrakan rumah yang terus naik dari tahun ke tahun. Sepeda motor yang ia gunakan untuk berceramah masih dalam proses angsuran dan belum lunas. Tentunya, Ustaz Farhan dan istrinya harus cerdas dalam mengelola keuangan. Harus ada skala prioritas dalam ekonomi keluarganya. Jika terbentur masalah ekonomi, Ustaz Farhan hanya meluahkan kepada istrinya. Melakukan hal tersebut kepada orang lain dapat menimbulkan aib untuk dirinya, terlebih jika terendus jamaah. Apalagi ia seorang Ustaz. Sosok yang dianggap mumpuni oleh masyarakat.
Beban ekonomi Ustaz Farhan semakin berat dengan munculnya pandemi covid-19. Selama ini, pilar ekonomi Ustaz Farhan ditopang oleh dua kekuatan, yaitu; ceramah agama dan mengajar di sekolah kecil. Praktis setelah mewabahnya pandemic covid-19, sebagian besar jadwal ceramah Ustaz Farhan terhenti. Banyak pengurus masjid memberlakukan lock-down dan social distancing. Pengajian dan khutbah jum’at dibatalkan karena alasan keselamatan. Tentu saja, keputusan para pengurus masjid dapat dibenarkan. Mereka mengacu pada Surat Edaran yang dikeluarkan oleh pemerintah, lembaga ulama maupun keputusan organisasi.
Saat covid-19 memuncak seperti sekarang ini, hampir setiap pengurus masjid dan pengurus Ormas Islam mengadakan kegiatan amal. Kegiatan itu menghimpun dana untuk orang-orang yang terdampak wabah karena minimnya pendapatan. Ada pula yang kehilangan pekerjaan. Dari pendataan yang dilakukan, ternyata Ustaz Farhan tidak dianggap terdampak wabah global tersebut. Ia dianggap mampu. Ustaz Farhan sebenarnya ingin menyampaikan suara hatinya. Namun ini ia anggap sangat sensitif. Akhirnya ia urungkan. Ustaz Farhan berharap agar ada yang menyuarakan, namun keinginannya tidak terwujud. Tidak ada yang merespons. Di kebanyakan jamaah, meminta dan mengusulkan untuk kepentingan diri sendiri dianggap tidak etis. Pelakunya bisa dihukum secara moral dan sosial.
Ustaz Farhan membayangkan hari-harinya dalam himpitan ekonomi yang berat. Jangankan menjaga agar imunitas tubuh tetap stabil, membeli beras saja ia mengalami kesulitan. Terkadang anak-anaknya meminta jajanan. Ustaz Farhan mengalihkan perhatian agar pertanyaan itu teralihkan. Di belakang mereka, Ustaz Farhan hanya bisa menangis dan berdoa, agar masa-masa yang sangat sulit seperti sekarang ini lekas berlalu. Ustaz Farhan berharap agar Zat Yang Maha Pemberi Rezeki itu menurunkan rezeki kepadanya melalui para dermawan yang hatinya terketuk. Ia juga berharap agar pengurus masjid dan pengurus lembaga-lembaga sosial punya kebijakan tertentu untuk orang sepertinya.


Sebuah Refleksi
Kita hidup di sebuah Masyarakat dimana simbol lebih dominan daripada substansi. Kita juga terperangkap pada sebuah budaya dimana tuntutan lebih besar daripada kewajiban. Kita juga kerap lupa bahwa yang jauh lebih menyedot atensi ketimbang yang dekat. Kegiatan sosial yang kita lakukan sering bernuansa media ketimbang ridha Ilahi. Kita hapus perbudakan namun kita lahirkan model perbudakan baru. Perbudakan itu lebih halus, lebih terselubung dan lebih canggih. Mirisnya atas nama dakwah Islam pula. Kita sering menghitung angka-angka kemiskinan nun jauh di sana, namun lalai dalam meneropong kaum dhu’afa di sekitar kita. Seringkali apresiasi manusia menjadi ratu di dada kita. Kehendak langit kita abaikan. Kita dipasung oleh berbagai syahwat yang berserakan di bumi.
Ustaz Farhan adalah contoh kecil yang mestinya menjadi cermin beragama kita. Cermin untuk merefleksi diri. Cermin untuk melihat keangkuhan yang semakin bersenyawa dengan kita. Ustaz Farhan sepi dalam gegap gempitanya syiar agama. Ia menjadi korban penyembelihan dari keangkuhan itu. Ustaz Farhan juga diciptakan menjadi sosok bisu tanpa aksi. Ia dieksploitasi oleh orang-orang yang gagal memahami substansi ajaran Islam ini. Mestinya, sosok seperti Ustaz Farhan lebih berhak menerima santunan sosial. Hidupnya secara manusiawi harus ditopang oleh kekuatan jamaah. Bukankah diantara mereka ada orang-orang yang mampu?
 Sudah banyak yang diberi  Ustaz Farhan untuk sebuah pencerahan. Kini ia hanya bisa berdoa dan menangis dibelakang buah hatinya yang semakin lapar. Boleh jadi, ada puluhan bahkan ratusan Ustaz Farhan lain disana. Karena itu, jangan biarkan Ustaz Farhan dihimpit derita. Jangan biarkan pula hanya ia dan keluarganya saja yang menanggungnya. Semoga saja kritikan pedas Allah dalam Surah Al-Maa’uun terjauh dari kita. Kita ruku’ dan sujud secara khusyu’ namun tetap sebagai pendusta agama. Semoga bermanfaat.



0 komentar: