Rabu, 18 Maret 2020

Covid-19 sebagai Cambuk Kecil




Pada Desember 2019, Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei Tiongkok, dihebohkan oleh merebaknya virus mematikan. Belakangan virus itu populer dengan sebutan Covid-19. Penyebaran Covid-19 terbilang sangat cepat. Dalam hitungan hari saja virus tersebut sudah menyerang ribuan orang dan tak sedikit yang meninggal. Wuhan diisolir dan menjadi sebuah kota mati. Bencana kemanusiaan di Wuhan menarik atensi berbagai pihak. Mata rantai empati dan ungkapan simpati mengalir dari seluruh sudut dunia.


Bencana Global
Relasi, interkoneksi, dan silang budaya antar masyarakat di seluruh dunia merupakan kebutuhan yang tak terelakkan. Variabel-variabel ini pada satu sisi sangat menguntungkan. Namun pada konteks ini justru menjadi faktor percepatan transmisi Covid-19 ke seluruh dunia. Dalam waktu yang sangat singkat, virus itu sudah merambah ke kota selain Wuhan, dan ke berbagai Negara lain. Tak terkecuali Korea Selatan, Jepang, sebagai tetangga terdekat, namun juga Italia, Iran, Amerika Serikat, Australia terkena imbasnya. Akhirnya Covid-19 beralih satus, dari endemi ke pandemi, dari wabah yang bersifat lokal ke wabah yang bersifat semesta.
Meskipun sempat oleng, sebagai negara kaya dan cerdas, Tiongkok mengerahkan seluruh potensinya untuk segera bangkit dan melawan “malaikat maut” tersebut. Tiongkok menggelontorkan dana ribuan trilyun untuk tindakan kuratif dan preventif. Perlahan namun pasti tindakan tersebut berbuah manis dan positif. Menariknya, Tiongkok tidak egois. Di tengah masyarakatnya yang sedang meregang nyawa, mereka berbagi pengalaman dan bersedekah kemanusiaan untuk Negara lain. Satu sisi mereka harus memikirkan nasib rakyatnya, di sisi tertentu mereka juga memikirkan nasib bangsa lain. Ini salah satu poin humanis yang perlu jadi catatan penting kemanusiaan.
Tak hanya Tiongkok, Covid-19 kini mempengaruhi sendi-sendi dunia. Ekonomi menjadi lumpuh. Kota-kota eksotis dan menjadi destinasi wisata seperti; Roma, Tokyo, berubah menjadi muram dan seolah tak berpenghuni. Para pedagang menjerit karena kebutuhan sehari-hari langka, jika pun ada maka harganya melambung tinggi. Hand sanitizer, masker, sembako,  sulit didapatkan. Sedihnya, baku hantam terjadi hanya untuk berebut tisu toilet. Tak sampai di situ, dua Kota Suci Umat Islam, Mekah dan Madinah, di-lockdown. Pemerintah Arab Saudi menghentikan sementara pelaksanaan ibadah umroh. Demikian pula dengan The Holy See, Tahta Suci Vatikan. Audiensi yang dilaksanakan setiap Hari Rabu antara Sri Paus dan ribuan jamaat ditunda entah untuk berapa lama. Sedihnya, Covid-19 juga turut mematikan perasaan kita.
Beberapa pekan sebelum menerjang Indonesia, bangsa yang terkenal religius ini memberikan respons beragam terhadap Tiongkok. Secara amat sederhana dan penuh rasa curiga disebutkan bahwa rakyat Tiongkok sedang diberikan azab oleh Allah karena sekuler dan mengkonsumsi hewan liar dan mentah. Sifat dan tindakan itu menjadi pemantik munculnya virus mematikan tersebut. Selain itu, keadaan itu juga merupakan pembalasan Allah karena pemerintah Tiongkok berperilaku kejam kepada masyarakat Muslim Uyghur. Covid-19 juga merupakan skenario global yang diciptakan pihak tertentu untuk menguasai dunia. Inilah desas desus awam yang berkembang di media sosial.
Ada pula informasi arogan yang menyebutkan bahwa Covid-19 sulit berkembang di Indonesia. Virus tersebut juga tidak kompatibel dengan ras melayu. Demikian ungkapan seorang ahli kesehatan. Ungkapan yang sempat viral di media sosial dan media on-line itu menjadikan banyak elemen bangsa ini terlalu percaya diri untuk sekedar bersenda gurau atau menantang tragisnya “malaikat maut”. Tak memakan waktu lama, ungkapan pongah dan seolah bernyali tinggi itu berubah menjadi rasa malu ketika ditemukan beberapa orang yang menjadi korban. Puncaknya terjadi ketika seorang pejabat publik secara resmi diumumkan terpapar Covid-19.
Menariknya, banyak masyarakat awam tak peduli dengan bahaya yang mengancam. Ketika para agamawan tak henti-hentinya berdoa kepada Allah, dan para saintis mengerahkan segala kemampuannya untuk menemukan anti virus, para pedagang kaki lima, para pedagang keliling, para pedagang asongan, para pemulung, termasuk ojek dan taksi on-line, hilir mudik dan tetap beraktifitas seolah tak terpengaruh sedikitpun. Sepertinya mereka telah berdamai dengan Covid-19. Bagi mereka, mengais rezeki di bawah kelepak sayap “malaikat maut” adalah nyawa kehidupan. Mereka tak menghiraukan dengan sergapan kematian yang mungkin datang tiba-tiba.
Secara nasional, Presiden Jokowi mengumumkan situasi darurat diikuti dengan berbagai edaran dari kepala-kepala daerah agar menghentikan kegiatan di ruang publik. Bagi sebagian pelajar dan mahasiswa, pengumuman tersebut dianggap “rezeki nomplok”. “Rezeki nomplok” berwujud libur yang agak panjang, tujuh sampai empat belas hari. Keadaan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tentu ada yang bersorak sorai kegirangan di tengah malapetaka yang menerpa, namun tidak sedikit pula yang belajar secara on-line dan mandiri. Ada pula yang memanfaatkannya untuk liburan. Pastilah aktifitas seperti ini bertentangan secara esensial dengan tujuan mulia dari surat edaran itu.


Mengambil Tindakan
Semakin hari, kelompok orang yang terpapar semakin banyak. Boleh jadi, jumlah yang belum terungkap jauh lebih banyak. Pemerintah sejatinya arif melibatkan semua elemen masyarakat dan sesegera mungkin beradu cepat dengan Covid-19 untuk membatasi pergerakannya. Beberapa tindakan belakangan diputuskan, seperti; lockdown, social distancing, mungkin juga social tracking. Di negara lain, tindakan tersebut terbukti ampuh untuk menghalangi kecepatan penyebaran virus.  Ini menjadi pengalaman berharga bagi negara kita. Pembatasan jumlah kedatangan dari luar negeri juga harus sangat ketat, terutama dari sumber munculnya Covid-19.
Selain anggaran negara tak sebesar yang digelontorkan Tiongkok, peralatan bagi korban yang terpapar juga sangat terbatas. Ujung tombak tindakan preventif dan kuratif adalah para medis yang terdiri dari; dokter, perawat, bidan, crews, dan elemen terkait. Sebagai “serdadu kemanusiaan” di garis terdepan, mereka perlu dilengkapi dengan berbagai peralatan memadai, karena pekerjaan mereka menantang maut. Ego struktural dari penyelenggara negara dan sikap nyinyir berlebihan dari masyarakat mesti dikurangi. Covid-19 merupakan problem kita secara kolektif. Dalam konteks ini, jangan ada pihak-pihak yang secara ekonomis dan politis mengambil keuntungan.
Pemerintah dan masyarakat harus bergandengan tangan dan bahu membahu untuk mengatasinya. Pemerintah memainkan peran sesuai dengan tugas-tugasnya, dan masyarakat juga mengambil peran sesuai dengan yang dapat diberikannya. Tidak boleh intip mengintip kelemahan. Sikap saling menyalahkan ditransformasikan menjadi energi positif. Kerjasama yang baik merupakan modal sosial yang sangat penting untuk merespons nestapa ini. Secara individual Covid-19 ini dapat dicegah melalui pola hidup sehat, istirahat yang cukup, lingkungan yang bersih, pikiran yang jernih, menjaga kestabilan tubuh, dan untuk sementara menghindari keramaian. Hal terpenting adalah integrasi antara ikhtiar dan tawakkal via do’a-doa  kepada Allah. Covid-19 seumpama cambuk kecil. Allah melecutkannya diatas punggung kita agar sadar bahwa Dialah diatas segalanya.





Muhammad Qorib
Wakil Ketua PWM Sumut dan Dekan Fakultas Agama Islam UMSU. Peminat Kajian Agama dan Sosial.

0 komentar: