Rabu, 10 April 2019

Overdosis Agama


Indonesia adalah negara dimana agama dapat tumbuh dengan subur. Tidak sampai di situ, setiap warga negara dijamin secara konstitusional untuk menentukan agama sesuai dengan pilihan imannya. Pancasila yang dijadikan falsafah dan dasar bernegara, pada sila pertama, menunjukkan bahwa agama menjadi nafas kehidupan. Ini memberikan pemahaman bahwa agama merupakan kebutuhan mendasar yang tidak bisa dipisahkan dari aktifitas warga negara.

Selebrasi Agama
Demikian pentingnya agama ini, sehingga pemerintah perlu membentuk lembaga yang secara khusus mengurusi kegiatan-kegiatan agama. Kini lembaga tersebut, setelah melewati berbagai perubahan, bernama Kementerian Agama. Bahkan pemerintah juga mengambil keputusan untuk menjadikan hari-hari besar agama sebagai hari libur nasional.
Selebrasi hari-hari besar agama, khususnya Islam, sangat terasa misalnya pada saat bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Ketika malam Ramadhan, suara tadarus Alquran bergema sampai larut malam. Demikian pula ketika Idul Fitri, suara takbir bersahutan seiring dengan berbagai asesoris lebaran yang bermunculan di banyak tempat.
Identitas agama juga mesti dicantumkan dalam Kartu Tanda Penduduk. Ini membuktikan bahwa tak ada warga negara yang tak beragama. Berbagai rumah ibadah amat mudah ditemukan. Informasi yang disampaikan Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla, ketika menutup Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu bahwa jumlah masjid dengan segala kategorisasinya sekitar 800.000 unit. Jumlah sebesar itu mengagetkan Raja Salman ketika berkunjung ke Indonesia.
Fenomena keagamaan tersebut memberikan sebuah harapan besar. Dari sini akan lahir masyarakat agamis. Agama menjadi pijakan moral dan sumber yang menggerakkan. Sebagaimana misi setiap agama, masyarakat dituntut mengedepankan moralitas agama yang bermuara pada lahirnya berbagai kebaikan. Ucapan, perilaku, bahkan pada tataran yang lebih halus, getaran hati tetap terpaut dan terpancar dari nilai-nilai sakral agama.
Pada saat yang bersamaan, muncul persoalan serius yang justru dapat mencederai cita-cita suci agama. Kini berkembang apa yang diistilahkan dengan ritualisasi agama. Hal ini ditandai dengan kepatuhan yang berlebihan untuk melaksanakan berbagai ritus keagamaan namun kering substansi dan lupa tujuan ritual. Orang beribadah bukan untuk mengejar ridha ilahi yang dibuktikan melalui berbagai kebajikan publik, melainkan perburuan pahala secara terus menerus. 
Dalam konteks ini, seseorang yang boleh jadi berpenampilan religius, namun kumuh dalam kehidupan sosial. Ia akan berberilaku angkuh dan tidak ramah kepada orang lain, miskin empati kepada sesama. Orang seperti ini akan sangat merasa terusik jika ritual terganggu, namun batinnya tak gelisah ketika penyimpangan sosial terjadi di sekitarnya. Ia tidak merasa terusik dengan beragam penyakit masyarakat, seperti: korupsi, kolusi, nepotisme, culas, tidak jujur, suka berbohong, boleh jadi ia merupakan salah satu pelakunya.  
Ritualisasi melahirkan para penikmat agama yang bersifat egoistik, lebih mementingkan diri sendiri daripada kemaslahatan umum. Ritualisasi kerap mempromosikan simbol-simbol agama. Simbol menjadi sesuatu yang sangat penting bahkan terkadang mengubur dan mengaburkan semangat yang terkandung di balik simbol-simbol itu. Orang akan merasa kagum dengan awan di angkasa yang membentuk lafaz Allah, namun perintah Allah untuk menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim diabaikan. Padahal cinta kepada Allah harus diimplementasikan melalui berbagai aktifitas yang bersifat positif dan produktif.
Seiring dengan gejala ritualisasi agama, pada musim tertentu juga muncul gejala politisasi agama. Seperti ritualisasi agama, politisasi agama juga tak kalah bahayanya. Politisasi agama memanfaatkan agama untuk kepentingan politik kekuasaan. Pada batas tertentu, politisasi agama terlihat dari berbagai penafsiran agama yang ditarik sesuai dengan kepentingannya. Namun pada batas yang jauh, politisasi agama menyebabkan orang rela mati demi politik kekuasaan yang dibalut jubah agama.
Dalam agama terdapat emosi keagamaan. Inilah elemen paling sakral sekaligus sensitif dalam sebuah agama. Emosi keagamaan itu dalam bahasa lain diistilahkan dengan iman. Demi iman, maka apa pun mungkin dapat dilakukan oleh pemeluk agama. Iman dalam konteks ini ditransformasikan dari energi positif untuk kebajikan menjadi energi yang bersifat pragmatis dan oportunis.
Politisasi agama menampilkan wajah agama yang intoleran, penuh nuansa kebencian, kecurigaan, dan prasangka kepada orang yang pilihan politiknya berbeda. Tidak ada lagi nuansa kegembiraan dan kecerahan dalam beragama. Padahal beragama yang menggembirakan dan mencerahkan merupakan ajaran fundamental agama. Itulah sebabnya mengapa di berbagai media sosial berkembang istilah overdosis agama.
Overdosis agama ditandai dengan kecintaan terhadap agama secara berlebihan, namun penganutnya tidak tahu kemana arah dan untuk apa agama itu dianut. Agama dijadikan tujuan akhir, bukan media untuk dekat kepada Tuhan. Sifat yang sangat melekat pada masyarakat yang mengalami overdosis agama adalah hilangnya kepekaan sosial dan menguatnya rasa ingin benar sendiri. Setiap paham keagamaan dan realita sosial yang berkembang akan selalu “diadili” dengan menggunakan perspektif keagamaannya. Alih-alih menyelesaikan persoalan, sikap demikian justru melahirkan ketegangan sosial.
Terkait dengan overdosis agama ini, para psikolog menuduh penganut agama sebagai orang-orang yang menderita penyakit psikologis. Mereka menganggap agama sebagai biang terjadinya konflik sosial, prasangka-prasangka, dogmatisme, dan tindak kekerasan. Para psikolog tentu saja tidak sekedar beranjak dari teks-teks suci agama, mereka berkesimpulan seperti itu berdasarkan pengamatan faktual di lapangan.
Dalam konteks yang lebih luas, overdosis agama menjadi faktor disintegratif dan penghambat kemajuan masyarakat. Secara umum dapat dilihat, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kenyamanan beraktifitas di ruang-ruang publik justru dirasakan di negara-negara sekuler, yaitu negara-negara yang menganggap agama sebagai urusan individual, bukan negara berdasarkan agama. Meskipun dalam hal ini overgeneralisasi tidak tepat.
Setidaknya inilah yang dikemukakan oleh Hossein Askari guru besar politik dan bisnis internasional dari Universitas George Washington, AS. Menurutnya, nilai-nilai islami lebih banyak dipraktikkan di negara-negara seperti: Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia. Negara-negara Islam seperti Malaysia menempati urutan ke-33, Kuwait ke-48, Arab Saudi ke-91, dan Qatar ke-111. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia  ternyata hanya berada pada peringkat di atas 140-an.

Energi Perubahan
Menjadikan agama sebagai sumber energi perubahan adalah sebuah kemestian. Ritual dan agama tidak bisa dipisahkan. Agama juga tidak dapat berkembang tanpa dukungan politik. Namun jika terjadi ritualisasi dan politisasi agama, maka agama yang semula berfungsi sebagai energi perubahan berubah menjadi sumber energi yang menghancurkan. Disinilah sebuah masyarakat mengalami overdosis agama. Karena itu, tujuan luhur agama tidak boleh terbelenggu oleh dominasi ritual dan politik secara berlebihan. Semoga bermanfaat.




0 komentar: