Sabtu, 10 November 2018

Islam Berkemajuan



Perbincangan akademik seputar Islam akan selalu menarik. Agama ini diperbincangkan bukan saja karena memiliki populasi pengikut terbesar di Indonesia, tapi juga karena melahirkan beragam manifestasi keislaman. Berbagai wacana diperdebatkan secara kreatif. Tak terkecuali formulasi pemikiran  yang dikenal “Islam Berkemajuan”, menjadi perbincangan hangat. Konsekuensinya, banyak karya akademik lahir karena merespons formulasi itu.

Membaca Islam
Sebagaimana dipahami, Islam terambil dari bahasa Arab, aslama. Bagi sebagian kalangan, karena berasal dari bahasa Arab, maka kata Islam tidak tepat diberikan imbuhan apapun setelahnya, misalnya: “Islam Transformatif”, “Islam Inklusif”, “Islam Liberal”, Islam Transitif”, “Islam Nusantara”,  dan seterusnya. Selain karena perbedaan bahasa, makna yang dihasilkan dari penggunaan istilah itu tidak tepat. Islam adalah satu dan tak boleh terpenjara dengan istilah yang justru mengkerdilkan substansi Islam itu sendiri. 
Sebenarnya, kosa kata dalam Bahasa Indonesia menyerap berbagai kata yang berasal dari bahasa asing, tak terkecuali kata Islam itu. Namun pada akhirnya, kata itu menjadi baku dan dapat dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dengan demikian, maka kata Islam dapat disejajarkan dengan kata asing lain yang juga sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia.
Demikian halnya dengan istilah “Islam Berkemajuan”. Kedua kata tersebut dapat disejajarkan dan dapat digunakan secara bersamaan karena sudah menjadi baku. Meskipun sesungguhnya, tanpa imbuhan kata berkemajuan, Islam memang agama yang sudah maju. Predikat itu sebagai sebuah aksentuasi, penekanan agar lebih kuat, dan mengingatkan bahwa secara normatif Islam adalah agama yang maju.
Islam berkemajuan merupakan formulasi pemikiran untuk memahami Diinul Islam (Agama Islam) itu sendiri. Nilai-nilai kemajuan yang terkandung sering tertutup debu zaman sehingga sering tidak terperhatikan. Islam berkemajuan merupakan ikhtiar mendinamisasikan Islam. Semangat Islam mesti menjiwai aspek-aspek kehidupan manusia. Kata berkemajuan mengindikasikan bahwa Islam adalah agama yang tidak berhenti bergerak ke depan dan selalu unggul. Islam selalu one or some steps ahead (satu atau beberapa langkah lebih maju).
Dalam konteks pemikiran Islam, Islam berkemajuan sesungguhnya menjadi bagian tak terpisahkan dari tajdiid. Tajdiid dapat dilihat dari dua konteks, yaitu: purifikasi, diartikan dengan pemurnian untuk akidah, dan pelurusan untuk urusan ritual. Akidah tidak bisa dirubah, karena memang sudah ada ketentuan yang dicontohkan Rasulullah, demikian pula dengan ibadah, mesti taken for granted (diterima sedemikian rupa) tanpa mesti menerima penambahan dan pengurangan.
Tajdiid dalam konteks kedua sering disebut dinamisasi, pembaruan maupun perubahan. Formulasi pemikiran Islam berkemajuan sesungguhnya berada dalam wilayah ini. Karena produk sejarah, maka sifatnya nisbi dan sejajar dengan produk pemikiran lain. Islam berkemajuan sejatinya mengembalikan model Islam murni sesuai dengan semangat yang terkandung dalam Alquran dan Hadis. Islam berkemajuan bukan Islam yang manut pada ketentuan sejarah, melainkan kreator dan pengarah sejarah.
Islam berkemajuan diantaranya ditunjukkan dengan budaya literasi (membaca dan menulis). Budaya tersebut  diperkenalkan  ketika wahyu pertama turun, aktifitas membaca bersamaan dengan pengakuan teologis tentang keberadaan Allah, yang disebut dalam ayat 1 Surah Al-‘Alaq dengan Rabb (Sang Pendidik). Di tengah masyarakat yang berbudaya sangat rendah ketika itu, Islam mengajarkan budaya maju dengan iqro’ (membaca dan menulis). Termasuk dalam pengertian membaca dalam ayat itu adalah meneliti, menelaah, mengkaji. Kini gerakan literasi menjadi nafas budaya di berbagai komunitas akademik di seluruh dunia.
Selain gerakan literasi, Islam berkemajuan ditandai dengan budaya toleran. Toleransi sangat penting di tengah berbagai perbedaan dan sekat-sekat yang kerap menjadikan masyarakat terkotak-kotak. Toleransi secara hakiki mengindikasikan sebuah kesiapan untuk menenggang dan mengapresiasi berbagai perbedaan sekaligus mengelolanya secara produktif. Toleransi bukan hidup tanpa sebuah prinsip, melainkan sikap teguh memegang ajaran Islam namun terbuka dalam konteks sosial.
Model Negara Madinah yang dicontohkan Rasulullah menjadi contoh ideal praktik toleransi itu. Berbagai latar belakang perbedaan sosial direkat menjadi satu dalam sebuah mata rantai persaudaraan kemanusiaan. Ini menjadi barang langka ketika itu. Jika dilihat secara jeli, Islam berkemajuan menawarkan sesuatu yang unik dan bergerak terdepan. Islam berkemajuan selalu kreatif dan inovatif melahirkan berbagai ide cerdas demi kepentingan bersama.
Islam berkemajuan juga berupaya menghidupkan dan merawat kembali semangat dasar keadilan. Karena keadilan menjadi salah satu pilar penting di masyarakat. Tanpa adanya keadilan maka siklus sosial akan mengalami turbulensi dan masyarakat berpotensi masuk ke dalam arus konfik. Ini mudah saja dibuktikan. Berbagai peperangan dan aksi teror hampir di semua belahan dunia, salah satu variabel pentingnya, dikarenakan persoalan keadilan yang tidak terdistribusi secara merata.
Islam berkemajuan juga meniscayakan sikap ramah budaya. Secara realistik, kehadiran Islam di semua pelosok dunia tidak terjadi di ruang hampa. Islam selalu bertemu dengan budaya lokal, untuk selanjutnya terjadi dialog. Dalam konteks ini, terjadi proses yang disebut akomodasi dan negasi. Budaya lokal yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan nilai dasar yang terkandung di dalam Alquran dan Hadis akan dinegasikan, meskipun tetap diapresiasi. Sementara budaya lokal yang sejalan dengan Alquran dan Hadis, bukan saja diakomodasi, malah digunakan untuk memperkaya manifestasi keislaman.

Rahmat untuk Semua
Islam berkemajuan bermuara pada predikat rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat bagi semua). Kalimat tersebut  mengandung cita-cita kuat untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan, damai dengan alam sekitar dalam kerangka pengabdian kepada Allah. Predikat rahmatan lil ‘aalamiin berupaya menghidupkan kembali tiga relasi harmonis bagi terlaksananya kehidupan di dunia ini, yaitu; relasi seorang Muslim kepada Allah, relasi seorang Muslim kepada sesama manusia dan tentu yang tidak boleh dilupakan adalah relasi seorang Muslim kepada alam sekitar. Itulah hakikat Islam berkemajuan. Wallaahu a’lam.




0 komentar: