Minggu, 30 September 2018

Ukhuwah dan Kekuasaan


Penting untuk dimengerti bahwa bangunan sebuah sistem sosial yang berjalan secara harmonis sering ditentukan oleh ukhuwah. Ukhuwah mempersatukan tidak saja satuan-satuan fisik menjadi sebuah komunitas, namun juga mempersatukan keinginan dan tujuan bersama yang hendak dicapai. Tugas-tugas besar dapat dijalankan dengan baik, dan masalah-masalah yang timbul dapat diselesaikan. Ukhuwah menjadi semacam barometer kekuatan sebuah komunitas, dan sekaligus kelemahan jika hal tersebut diabaikan. Ukhuwah menjadi rumah besar sebagai tempat bernaung berbagai latar belakang yang berbeda.

Jejak Hitam Ukhuwah
Ukhuwah terambil dari akar kata akh yang berarti teman dekat. Secara umum, ukhuwah diartikan dengan persaudaraan. Persaudaraan terbangun karena adanya kesamaan. Biasanya, orang akan merasa dekat dengan adanya kesamaan, baik kesamaan fisik, kesamaan sifat, kesamaan geografis, kesamaan suku, kesamaan bahasa atau kesamaan budaya. Di perantauan,  orang-orang akan merasa menjadi saudara karena berasal dari desa atau kota yang sama. Di luar negeri, orang-orang akan merasa menjadi saudara karena berasal dari negara yang sama. Demikian pula dalam masalah keimanan, persaudaraan tercipta karena menganut agama yang sama.
Dalam Islam, ukhuwah menjadi salah satu ajaran penting yang banyak mendapatkan penjelasan. Secara normatif Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa orang Mukmin yang satu dengan lainnya adalah bersaudara (ikhwatun) (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 10). Ayat ini terbilang unik, karena kata ikhwatun biasanya digunakan untuk menjelaskan persaudaraan sekandung (biological brotherhood). Namun dalam ayat ini kata tersebut digunakan untuk menjelaskan hubungan antar sesama orang beriman. Secara kesukuan, kebahasaan, kebangsaan, orang Mukmin di dunia ini tak semuanya saling mengenal. Namun karena memiliki kesamaan iman, mereka dianggap saudara.
Karena bersaudara, orang-orang beriman harus saling melindungi dan memberikan atensi. Orang-orang beriman harus saling berbagi, saling menghormati, saling mengasihi, saling menyayangi, saling memberikan jaminan atas rasa aman untuk beraktifitas di ruang publik. Secara lebih rinci, Alquran menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial orang-orang yang beriman mesti bertanggungjawab terhadap sistem kehidupan yang berlangsung. Hal tersebut ditandai dengan sikap tidak merasa benar sendiri, tidak mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya dan menjauhi ujaran-ujaran kebencian dan merendahkan orang lain (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 11).
Orang-orang yang beriman juga diharuskan menjauhi berbagai macam prasangka (dzan). Prasangka biasanya merubah energi positif menjadi negatif. Akibatnya, kehidupan menjadi tidak sehat dan tidak produktif. Demikian pula dengan sikap saling memata-matai (tajassus), menyebabkan aktifitas menjadi tidak nyaman. Rasa curiga melahirkan tekanan batin karena orang-orang yang ada di sekitar diduga akan berbuat buruk. Tak terkecuali dengan aktifitas bergunjing (ghibah), hal ini juga memiliki peran sentral sebagai kerikil tajam yang dapat merobohkan bangunan persaudaraan (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 12). Praktik ukhuwah ini juga dicontohkan Rasulullah dan direkam dalam berbagai hadis sahih. Misalnya, Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang beriman mesti memberikan rasa aman bagi lingkungannya.
Kendatipun bersifat sakral, pedoman tersebut tak selalu terimplementasi secara mulus. Ukhuwah di kalangan umat Islam pernah tidak memiliki pengaruh signifikan karena perbedaan kepentingan. Tercatat dalam sejarah bahwa perang Jamal yang kemudian menewaskan kader-kader terbaik Rasulullah menghadapkan dua kelompok, yaitu: Aisyah, Thalhah dan Zubair di satu kubu, dan Ali bin Abi Thalib di kubu lain. Thalhah dan Zubair akhirnya meregang nyawa. Tidak sampai di situ, malapetaka lain juga terjadi pada saat perang Shiffin. Perang ini menghadapkan Ali bin Abi Thalib di satu kubu, dan Mu’awiyah di kubu lain.
Pasca perang Jamal dan perang Shiffin, putera Muawiyah, Yazid bin Mu’awiyah, melanggengkan tradisi berdarah itu. Bagi Yazid, nyawa setara dengan barang dagangan kaki lima yang dibanderol dengan harga sangat murah. Abu A’la Al-Maududi dalam buku “Khilafah dan Kerajaan” menjelaskan bahwa putera Ali bin Abi Thalib, Husain bin Ali, terbunuh di Karbala karena kekejaman Yazid. Bukankah Yazid merupakan seorang Mukmin sebagaimana Husain bin Ali? Namun mengapa tetap saja terjadi pembunuhan? Secara faktual dapat dilihat, bahwa perebutan kekuasaan sedikit banyaknya telah turut menjadi pemantik perang saudara di kalangan umat Islam.
Api permusuhan menembus batas ruang dan waktu. Tidak saja di masa klasik namun juga di era modern seperti sekarang ini. Ketika sebagian besar orang berusaha mempersiapkan diri untuk hidup di era industrialisasi 4.0, umat Islam belum dapat melepaskan diri dari perang saudara. Jangankan untuk memproduksi teknologi canggih seperti di Barat, untuk bertahan hidup saja dapat dikatakan masih kesulitan. Perang saudara di Surya, perang saudara di Yaman, perang saudara di Irak, perang saudara di Mesir, perang saudara di Sudan, membuat dada kita sesak. Ukhuwah yang semestinya digadang-gadang dan diagungkan tidak mendapatkan apresiasi positif.
Terminologi “The Arab Spring” atau “Musim Semi Arab” yang dihembuskan Barat ke dunia Islam menyedot ongkos sosial yang tidak kecil. “Musim Semi Arab” ditandai dengan jatuhnya para diktator di dunia Islam yang sudah berkuasa cukup lama. Masyarakat ingin perubahan ketimbang dipimpin oleh penguasa yang despotik. Korupsi terjadi besar-besaran. Penguasa bersenang-senang di atas kelaparan rakyat yang dipimpin. Dalam kasus “Musim Semi Arab”, Barat sesungguhnya menjadi pihak yang sangat diuntungkan karena mereka mendapatkan devisa negara dari hasil penjualan senjata ke dunia Islam. Senjata itu digunakan untuk perang saudara.

Ukhuwah di Indonesia
Boleh jadi wajah Timur Tengah dengan perang saudaranya akan merangsek masuk ke Indonesia. Menjelang Pemilu Presiden, Pemilu Legislatif dan Pemilu Dewan Perwakilan Daerah 2019 mendatang, suhu politik demikian panas. Hal itu dapat dilihat dari berbagai dialog di beberapa media massa. Tokoh yang muncul ke permukaan lebih sering menampilkan sosok arogan yang memiliki filosofi “menangisme”, pokoknya harus menang, dari pada sosok panutan dengan budaya santun dan argumentasi kuat. Statemen yang bersifat apologetik lebih dominan ketimbang adu program terkait dengan persoalan-persoalan krusial di masyarakat.
Deklarasi pemilu damai oleh para kontestan perlu mendapat apresiasi. Namun demikian, deklarasi itu jika tidak disosialisasikan dengan baik maka akan menyentuh lapisan-lapisan elit dari pihak-pihak yang berkompetisi saja. Sementara potensi konflik terbesar berada di akar rumput (grass root). Gesekan psikologis, mungkin akan terjadi gesekan fisik, sudah demikian terasa. Ujaran-ujaran kebencian menjadi konsumsi harian. Hal ini mudah sekali dibuktikan lewat berbagai media sosial. Predikat peyoratif “kampret” versus “cebong” menandai betapa ukhuwah untuk saat ini menjadi barang yang sangat mahal.
Jika dibandingkan secara jujur, antara ukhuwah dan kontestasi menuju kekuasaan, maka akan terlihat perbedaannya. Ukhuwah bersifat suci dan permanen yang wajib dijunjung tinggi, sementara kontestasi menuju kekuasaan bersifat nisbi, sesaat dan menjadi wilayah ijtihadi. Ini artinya ukhuwah mesti dihormati di atas berbagai kepentingan dan model kekuasaan apa pun. Hal ini dilakukan demi persatuan umat Islam. Kini umat Islam kembali dibingungkan karena ulama terpecah. Definisi ulama disesuaikan dengan selera penafsirnya. Selanjutnya, masing-masing ulama mengeluarkan berbagai fatwa. Fatwa sangat bernuansa kepentingan dan cenderung digunakan untuk memperkuat pilihan politik.

Gesekan-gesekan menuju kekuasaan pada akhirnya menyentuh lembaga yang dianggap paling otoritatif dalam masalah keislaman, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sadar atau tidak sadar, “Rumah Besar” umat Islam tersebut akan menjadi material yang diperebutkan demi sebuah kekuasaan. Karenanya,  MUI mesti dirawat dan mesti netral berbagai kepentingan politik. Butuh ikhtiar jernih agar MUI tidak terkesan seperti hidangan di atas meja yang siap disantap orang. Umat Islam boleh saja berbeda pilihan dalam politik kekuasaan, namun tetap dengan semangat Alquran dan hadis. Di atas pilihan itu terdapat ukhuwah yang mesti dijunjung tinggi. Wallaahu a’lam.

0 komentar: