Selasa, 11 September 2018

IMM dan Do'a Iftitah




Tak dapat dipungkiri, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah lembaga kemahasiswaan yang paling dominan membentuk kerangka berpikirku. Namun akhir-akhir ini aku jengah berbicara tentang IMM. Berbagai ikhtiar ku lakukan untuk menghapus IMM dari memori hidupku. Semakin keras usaha itu, semakin kuat pula ingatanku terhadap lembaga yang kelahirannya pernah dipersoalkan tersebut. Harus ku akui, IMM ternyata telah bersenyawa dalam sukmaku. Eksistensiku kini tak bisa lepas dari tornado perubahan yang dihembuskan IMM.

Visi Yang Samar
Aku mencoba membuka nalar ideologis yang biasanya dijadikan landasan pergerakan para kader IMM. Beberapa di antaranya menyadarkan aku bahwa IMM merupakan salah satu ujung tombak dakwah besar Muhammadiyah. Deklarasi Kota Barat, Deklarasi Garut, Deklarasi Baiturrahman, memaparkan secara gamblang siapa sebenarnya IMM dan untuk apa organisasi elit ini dilahirkan. Poin-poin penting dalam deklarasi itu menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah membutuhkan IMM. Sinergitas gerakan IMM dengan Muhammadiyah menjadi sebuah kemutlakan sejarah.
Demikian pula dengan garis-garis ideologis yang dijelaskan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM. Visi sebagai gerakan Islam yang bernaung di bawah tenda besar Muhammadiyah menjadi tujuan utama. Kata-kata yang bernuansa pencerahan, seperti: pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah merupakan mimpi-mimpi besar yang mesti diwujudkan. Sejauh yang dapat ku amati, visi cerdas yang seharusnya menjadi warisan kultural IMM itu malah terkubur abu sejarah dan terbelenggu rutinitas organisasi yang kumuh dan kering inovasi.
Aku tak tahu secara pasti apa penyebabnya. Dalam kedunguanku melihat  wajah IMM yang kian berubah, aku mencoba mereka-reka, bahwa turbulensi sosial dan politik di tanah air turut memberikan perubahan signifikan dalam  lagak dan gaya kader-kader IMM. Terutama politik, meskipun menjadi sarana dakwah paling efektif dan efisien, politik memiliki kepribadian tersendiri. Tak sedikit kader-kader IMM tersedot energi politik yang bersifat pragmatis dan oportunis. Penetrasi pragmatisme dan oportunisme ke tubuh IMM kurasakan menjadi kanker yang mematikan.
Predikat sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah perlahan namun pasti bergeser menjadi ujung tombak kekuatan politik tertentu. Pergeseran ini juga berjalin berkelindan dengan kepentingan politik yang mengharapkan dukungan organisasi sosial (baca: anak main) seperti IMM. Dalam konteks ini, kekaburan visi berselingkuh dengan kepentingan politik yang mewujud dalam sebuah raga tanpa sukma. IMM berubah seperti Frankeinstein, selain fisik yang cenderung mengerikan, ia juga tak punya kepribadian karena arah dan langkahnya ditentukan pihak lain.
Moralitas publik yang semestinya bernuansa adem ayem, kental nuansa akademik sebagai ciri khas aktifis muda Muhammadiyah, berganti dengan obrolan praktis-pragmatis-oportunis yang memihak dan mendatangkan keuntungan instan. Diskusi-diskusi substantif, pengkajian-pengkajian keislaman, bedah buku, kajian rutin akademik, membaca dan menulis di media massa menjadi barang yang sangat langka dan mahal harganya. Budaya keras cenderung lebih dominan dalam membentuk kerangka berpikir kader-kader IMM ketimbang budaya yang santun penuh norma sebagaimana yang ditegaskan dalam nalar ideologisnya.
Mulai dari Muktamar, Musyda, Musycab, Musykom, terasa tidak sempurna jika tidak mengalami dead lock. Sumpah serapah, kursi melayang, bahkan mungkin kekuatan uang dalam perhelatan itu, demikian pula dengan kepemimpinan ganda, tak terlalu sulit dibuktikan. Ranting dan Cabang Muhammadiyah hanya merupakan rumah persinggahan dan mungkin juga lembaga untuk memanipulasi data demi Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah. Pengajian di Ranting dan Cabang Muhammadiyah menjadi sangat sepi kader-kader IMM, namun tidak demikian halnya dengan kafe-kafe dan lobi-lobi hotel.
Untuk menggulirkan dakwah pencerahan, harapan Muhammadiyah terlalu besar kepada IMM. Sungguh ironis justru yang terjadi sebaliknya, Muhammadiyah berbalik arah dan harus melakukan dakwah internal agar kader-kader IMM kembali kepada kesejatian dirinya. Ide-ide besar dan mendunia yang kini menjadi sasaran dakwah Muhammadiyah tidak dapat direspons secara positif dan gagal dipahami, apalagi dilaksanakan dalam perilaku organisasi. Elan vital berdirinya IMM adalah untuk turut serta menyelesaikan permasalahan keumatan. Kondisi sekarang menunjukkan bahwa kader-kader IMM menjadi bagian dari permasalahan itu sendiri.
Para pendiri IMM di masa lalu menjadikan etika akademik dalam berbuat, etika itulah yang selanjutnya melahirkan kegelisahan organisasional, pada akhirnya berujung dengan lahirnya IMM. IMM dilahirkan dari sebuah diskusi rutin untuk menjawab kebutuhan dakwah Muhammadiyah. Bukan menyusun logika terbalik, menempatkan IMM pada etalase dagangan lengkap dengan bandrolnya.  Nafas keislaman menjadi sangat kering. Kini dapat dibuktikan, berapa banyak kader IMM kelimpungan pada saat diminta untuk membaca doa iftitah, atau mempraktikkan pelaksanaan fardhu kifaayah.
Padahal, bacaan-bacaan ritual itu merupakan kajian paling mendasar dalam ber-Muhammadiyah. Apalah gunanya ber-IMM jika mengabaikan hal-hal yang paling fundamental itu? Dalam hal ini, pandanganku sangat tradisional. Melihat degradasi pemikiran IMM dan moralitas bermuhammadiyah yang cenderung melemah ini, aku sangat setuju jika dibuat aturan tegas. Mulai dari Pimpinan Komisariat, Pimpinan Cabang, Pimpinan Daerah bahkan Pimpinan Pusat sekalipun, tidak dibenarkan menjabat sebagai pengurus harian jika tidak aktif di ranting dan cabang Muhammadiyah. Bagiku, IMM bukan untuk IMM tapi IMM untuk Muhammadiyah. Tidak ada IMM tanpa Muhammadiyah.
Jika dapat ku sebut, kader-kader IMM seperti ashabul kahfi, bersembunyi dalam gua dalam waktu yang cukup lama. Begitu keluar dari gua, zaman telah berubah. Demikian pula dengan IMM, hidup hanya di dalam cangkang IMM, sempit dan gelap, tak tahu dunia luar. Begitu cangkang dipecah ternyata dunia sudah berubah. Kader-kader IMM banyak tertinggal  dibanding dengan yang lain. Jangankan berjalan, berlari sekalipun kader-kader IMM masih tertinggal. Kader-kader IMM mestinya juga akrab dengan dunia beasiswa dalam dan luar negeri. Peluang ini banyak diraih oleh orang lain, salah satu permasalahannya karena daya saing yang sangat lemah terutama dalam penguasaan bahasa asing.
Aku membayangkan bagaimana kader-kader IMM saling merapatkan barisan mempromosikan kader terbaiknya, dengan komitmen dan loyalitas kemuhammadiyahan yang kuat, untuk menduduki posisi publik dan menentukan masa depan persyarikatan dan bangsa, seperti: KPU, Bawaslu, Timsel, Legislatif, KNPI dan seterusnya. Namun hal tersebut mesti dikaji secara matang, bukan berdasarkan keinginan dan peluang saja, tapi juga kemampuan kognitif, keluasan jaringan dan kesanggupan finansial. Transformasi kader juga menjadi sebuah pemikiran penting. Banyak aspek kehidupan yang belum diisi kader IMM. Penumpukan kader di satu aspek bukan saja tidak sehat, tapi sering melahirkan konflik internal yang turut memperlemah roda organisasi.

Menjual Program
 Masa depan seseorang sedikitnya ditentukan oleh beberapa hal, yaitu: buku apa yang dibacanya, sahabat seperti apa yang didekatinya dan inovasi apa yang diciptakannya. Kader-kader IMM mesti kreatif dan inovatif dalam melahirkan ide-ide cerdas. Ide-ide itu dapat dijual melalui berbagai macam program. Selain mendatangkan keuntungan individual, program-program cerdas itu dapat diintegrasikan sebagai program unggulan organisasi. Jika program-program itu menarik, aku yakin, banyak lembaga dan alumni yang bersedia memberikan dukungan secara moral maupun finansial. Pendidikan anti korupsi, pengelolaan bank sampah, crisis centre untuk kaum difable, adalah program-program yang tidak tergarap, atau malah tak terpikirkan sama sekali.
Aku sedih, tidak sedikit yang berujar bahwa kader-kader IMM dalam jumlah yang tidak kecil bermentalitas dhu’afa. Mereka hanya ingin menghasilkan uang dengan meminta-minta. Untuk alasan tertentu ini dapat diterima, namun ketika aktifitas tersebut menjadi proyek fiktif maka akan sangat berbahaya. Ini bukan saja menghancurkan nama baik IMM namun membunuh masa depan manusianya. Ber-IMM tidak lama, ber-Muhammadiyah dan bermasyarakat akan selamanya. Tidak etis menyakiti batin masyarakat. Para sahabat, IMM merupakan laboratorium pemikiran dan gerakan. IMM rumah kita. Di antara kita sedang dan  pernah tinggal di dalamnya. Mari kita rawat bersama. Bravo IMM. Wallaahu a’lam.


0 komentar: