Jumat, 29 Desember 2017

PETANI KEBAJIKAN


Sungguh menjadi sebuah kewajaran jika dikatakan bahwa Islam adalah agama penyempurna dari risalah agama-agama terdahulu. Pernyataan ini cukup logis mengingat berbagai aspek yang terkandung di dalam ajaran Islam meliputi tidak saja persoalan teologis dan ritual sebagaimana yang dapat dilihat selama ini, namun juga meliputi persoalan-persoalan kemanusiaan secara ril. Berbagai aktifitas manusia dalam kehidupan tak terlepas dari bingkai keislaman.
Semangat keislaman yang merasuk ke dalam berbagai aktifitas menuntun pelakunya untuk tetap sadar bahwa semua yang dilakukan berasal dari perintah Allah dan tentu saja bermuara pada kesadaran religius bahwa Allah Maha Memiliki segalanya. Aktifitas manusia dalam pandangan Islam tidak mengantarkan pelakunya untuk menjadi makhluk superior yang lupa terhadap kesejatian dirinya sebagai hamba. Sebaliknya, aktifitas itu menjadi media untuk mengimplementasikan ibadah kepada Allah dalam beragam bentuk.
Ibadah itu sendiri masuk ke dalam kategorisasi kebajikan (al-birr). Kebajikan cukup luas dan tak terbatas, tidak saja menyangkut ritualisme yang kerap diekspresikan melalui shalat, puasa, zakat, haji, namun juga menyangkut berbagai aktifitas sosial di tengah kehidupan masyarakat. Untuk yang pertama para ulama kerap menyebutnya dengan ibadah khaasshah (khusus), sementara untuk yang kedua disebut dengan ibadah ‘aammah (umum). Namun kedua kategorisasi itu disebut kebajikan.
Fazlurrahman, Guru Besar Pemikiran Islam, di Universitas Chicago Amerika Serikat dalam buku “Major Themes of The Qur’an”, menguraikan secara detail tentang aspek-aspek ajaran Islam yang demikian luas. Rahman terkesan memaparkan bahwa Islam tidak boleh dikerdilkan dan dibonsai menjadi agama yang sempit dan alpa untuk merespons berbagai persoalan kemasyarakatan. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa tema-tema Alquran meliputi berbagai hal yang sebagian besar lekat dengan kehidupan masyarakat.
Buku yang ditulis Rahman boleh jadi sudah usang, namun pesan yang disampaikannya tetap bersifat kekinian dan kedisinian. Di sisi lain, ada semacam kekhawatiran besar Rahman, satu ketika Islam akan dilihat orang sebagai agama yang sempit dan bersifat tidak dialogis dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Akhirnya pesan Islam tidak sampai dan misi mulia yang semestinya untuk menyelamatkan umat manusia menjadi kering dan tumpul. Islam memang ada namun sebatas agama wacana dan tidak faktual. Dalam konteks ini, secara substantif mungkin saja Islam akan dijauhi orang.
Sebab itulah, mulai dari aspek keimanan sampai pelayanan terhadap kebutuhan kemanusiaan, sejauh dilakukan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan Alquran dan As-Sunnah, Islam melihatnya sebagai kebajikan. Dari sisi ini terlihat jelas bahwa kebajikan bukan lapangan yang kecil dan sempit sehingga pelakunya merasa cemas tidak mendapatkan bagian. Sebaliknya, lapangan kebajikan sangat luas dan tak terbatas. Kemampuan manusialah yang mengenal batas karena tidak sanggup melakukan berbagai kebajikan itu.
Alquran dan As-Sunnah saja pun menjelaskan betapa kebajikan itu dapat dilakukan dalam berbagai keadaan dan oleh siapa saja tanpa dikerangkeng oleh status sosial. Dalam Alquran dijelaskan secara eksplisit bahwa kebajikan yang diistilahkan dengan al-birr terdiri dari banyak elemen; mulai dari elemen keimanan, elemen ritual sampai elemen filantrofi. Untuk elemen yang terakhir, Alquran banyak menjelaskan baik yang bersifat umum maupun sampai penjelasan yang bersifat detail, tentu saja muaranya adalah lahirnya komunitas takwa (Q.S. Al-Baqarah/ 2: 177).
Menariknya lagi, karakteristik orang-orang yang bertakwa tidak saja dilihat dari aspek keimanan dan ritualisme secara sempit. Alquran juga melabelkan predikat takwa kepada mereka yang dengan ikhlas melakukan berbagai kebajikan sosial. Misalnya; membantu fakir dan miskin dalam keadaan lapang dan sempit, mengendalikan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain (Q.S. Ali-Imran/ 3: 133-135). Terdapat ruang yang disebut dengan kebajikan dalam aktifitas-aktifitas yang demikian. Sejauh aktifitas yang dilakukan seorang Muslim tidak bertentangan dengan Alquran dan As-Sunnah, maka sejauh itu pula aktifitas tersebut menjadi kebajikan.
Karenanya, kebajikan tidak saja muncul dari aktifitas keagamaan simbolik sebagaimana yang selalu dilakukan masyarakat seperti sekarang ini, namun sejauh aktifitas itu memberikan manfaat untuk kemanusiaan, itulah sesungguhnya kebajikan. Kebajikan bukan monopoli para tokoh agama yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Islam, melainkan milik semua orang tanpa melihat latar belakang kehidupannya. Sebab itulah, Islam melihat bahwa peluang setiap orang adalah sama, sama-sama berhak melakukan kebajikan, dan sama-sama berpeluang masuk ke dalam surga.
Bahkan sebaliknya, jika ritualisme dilakukan dengan tujuan untuk kepentingan mendapatkan apresiasi manusia dan bukan ridha Allah, bisa saja aktifitas tersebut menjadi riya’, bukan pahala yang didapatkan melainkan murka dari Allah. Ritualisme ini ramai dilakukan dengan gegap gempita namun kering makna dan boleh jadi sia-sia. Namun meskipun sebuah aktifitas yang dilakukan tidak terkait simbol-simbol agama, sejauh memberikan kebahagiaan dan manfaat kepada banyak pihak, inilah contoh kebajikan itu. Meskipun terkadang tidak mendapatkan apresiasi manusia, namun Allah mencatatnya sebagai amal shaleh.
Karena itu, setiap orang bisa menjadi petani kebajikan. Petani kebajikan mengandung dua makna, yaitu; petani yang memang bersungguh-sungguh menggeluti dunia tanaman (flora) sehingga memberikan hasil maksimal dan memberikan faedah untuk kehidupan; selain itu petani kebajikan adalah para pegiat amal shaleh yang hidup di tengah-tengah masyarakat, melakukan berbagai aktifitas dan memberikan manfaat untuk kehidupan orang banyak. Kedua kategorisasi ini sama-sama berpeluang masuk ke dalam surga.
Setiap orang berpotensi menjadi petani kebajikan. Seorang penarik becak dapat menjadi petani kebajikan ketika pada hari-hari tertentu dan waktu-waktu tertentu, ia mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan dengan cuma-cuma, tanpa menakar imbalan. Tukang parkir dapat menjadi kebajikan ketika dalam beberapa kasus ia tidak memungut tarif parkir kepada pemilik mobil. Para pimpinan perusahaan, para pejabat di semua tempat dapat menjadi petani kebajikan ketika tiba di kantor ia menyapa lembut dan menebar senyum kepada para bawahannya. Supir angkot dapat menjadi petani kebajikan ketika ia bersifat ramah kepada para penumpang dan tidak sembrono berlalu lintas.
Dengan demikian, surga mustahil digapai oleh orang-orang yang anti dengan kebajikan. Meskipun di tengah-tengah masyarakat sering muncul orang-orang yang sepertinya cinta kebajikan dan secara simbolik menjadi petani kebajikan, jika secara substantif perilakunya bertentangan dengan norma agama dan tradisi umum di masyarakat, ia tidak dapat dikategorikan sebagai petani kebajikan, melainkan  penjagal terjadinya kebajikan. Ruh kebajikan di tangan orang-orang seperti ini kering dan mati, karena kebajikan simbolik yang dipraktikkannya hanya untuk menjadi bingkai egoisme personal.
Di masyarakat juga sering muncul orang-orang yang lisannya tidak fasih berbicara tentang agama, kesalehan simbolik juga tidak pernah ia tampilkan apalagi untuk menaikkan citra positif dengan tujuan mendapatkan simpati, namun aktifitas-aktifitas yang dikerjakannya sangat bermanfaat untuk kehidupan, inilah sesungguhnya petani kebajikan itu. Ia bekerja bukan untuk meraih apresiasi manusia, melainkan untuk merawat kehidupan. Baktinya bukan untuk kepentingan diri melainkan ridha ilahi.

Petani kebajikan tidak lahir dari rahim perguruan tinggi bergengsi kelas dunia dan bertarif sangat mahal, atau kursus-kursus yang dilaksanakan lembaga-lembaga ternama yang bereputasi internasional. Petani-petani kebajikan lahir dari universitas kehidupan. Kurikulum disusun oleh masyarakat. Kampusnya boleh jadi di berbagai jalanan dan gang-gang sempit, pasar rakyat yang kumuh, panti asuhan, parit mampet, rumah yatim piatu, hamparan bencana alam, bahkan mungkin lipatan-lipatan konflik sosial. Meskipun demikian, universitas tersebut mampu melahirkan para sarjana yang peka dan sensitif dengan tangisan kaum dhu’afa dan berbagai bentuk nestapa. Inilah sesungguhnya hakikat dari petani kebajikan itu. Wallaahu a’lam.

0 komentar: