Jumat, 10 November 2017

Dakwah Muhammadiyah Melintas Zaman

Tanggal 18 Nopember 1912 Miladiyah atau 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah, menjadi momen penting bagi Muhammadiyah. Sebab pada tanggal tersebut Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Salah satu variabel penting berdirinya Muhammadiyah disebabkan karena terjadinya gerak menjauh praktik keislaman di Indonesia dari sumber utamanya, Alquran dan As-Sunnah. Muhammadiyah hadir untuk melakukan purifikasi terhadap paham dan pengamalan keagamaan Umat Islam saat itu.
Semangat berdirinya Muhammadiyah dapat dipahami secara rasional, mengingat sinkretisme ajaran Islam dengan budaya lokal demikian kental. Saat itu, sulit dibedakan ajaran otentik Islam dengan aktifitas yang lahir dari tradisi masyarakat setempat. Takhyul, Bid’ah, Churafat, yang dikenal dengan TBC menjadi sorotan utama Muhammadiyah. Gerakan kembali kepada Alquran dan As-Sunnah menjadi choice of movement (pilihan gerakan) organisasi pembaruan tersebut.
Selain itu, massifnya misi kristenisasi yang mendompleng pemerintah kolonial Belanda juga turut serta memantik kesadaran religius KH. Ahmad Dahlan.  Alwi Shihab dalam buku “Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (2016)”, menjelaskan bahwa agama Kristen yang secara moral dan finansial didukung pemerintah kolonial menjadi ancaman yang sangat mengkhawatirkan dakwah Islam, sebab itu gerakannya perlu untuk dibendung dan diimbangi.
Namun menariknya, meskipun terjadi kontestasi antara dakwah Islam dan misi penyebaran ajaran Kristen, relasi sosial yang dibangun KH. Ahmad Dahlan dengan tokoh-tokoh Kristen tetap berjalan secara baik. Haedar Nashir dalam buku “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam (2010)”, menjelaskan bahwa KH. Ahmad Dahlan tak sungkan belajar tentang kelebihan-kelebihan gerakan misi Kristen. Uniknya, KH. Ahmad Dahlan melakukan, jika boleh diistilahkan,  “Muhammadiyahisasi” kelebihan-kelebihan gerakan keagamaan itu.
Kekuatan finansial yang dimiliki gerakan misi Kristen, terutama Katolik, memungkinkan mereka membangun lembaga pendidikan, panti asuhan, gereja, dan lembaga kesehatan. Keempat institusi itu menjadi kebutuhan mendasar masyarakat. Inilah yang pada akhirnya menyadarkan KH. Ahmad Dahlan betapa keberhasilan sebuah gerakan keagamaan sangat dipengaruhi oleh berdirinya lembaga-lembaga itu.
Kini usia Muhammadiyah sudah lebih dari satu abad, gerak melintasi zaman yang  pernah  dilalui  Persyarikatan ini mengambil model yang beragam, demikian pula tantangan-tantangan yang dihadapi. Benang merah gerakan Muhammadiyah dari masa ke masa tetap sama, tidak mengalami perubahan, meskipun terjadi kontekstualisasi. Terdapat empat wilayah gerakan Muhammadiyah yang senantiasa  menjadi karakteristik unik dalam dirinya, yaitu: purifying (memurnikan akidah dan meluruskan ibadah), schooling (sekolah dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan), feeding (memberi makan dengan menyantuni kaum dhu’afa dan mendirikan panti asuhan), healing (menyembuhkan penyakit dengan mendirikan lembaga-lembaga kesehatan).
Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan zaman menuntut Muhammadiyah melakukan pola gerakan yang semula sangat fokus pada urusan keagamaan ke arah kemanusiaan. Predikat sebagai gerakan puritan yang terkesan  berwatak keras dan eksklusif bergeser ke arah gerakan humanis yang berwatak inklusif dan terbuka. Pada level atas, lapisan elit Muhammadiyah tentu tidak tepat mendapat predikat puritan dan dan eksklusif, namun pada lapisan yang luas dan arus bawah, puritanisme dan eksklusifisme sangat kental. Inilah mungkin salah satu sebab mengapa di banyak tempat Muhammadiyah tidak dapat diterima dengan baik.
Oleh kebanyakan warga Muhammadiyah, eksklusifisme pada konteks tertentu (baca: ibadah), jarang diikuti dengan sikap toleran dan apresiatif terhadap perbedaan. Di banyak masjid, Muhammadiyah sering dirasakan sebagai “musuh” bersama. Warga Muhammadiyah seharusnya menyadari situasi seperti ini. Menelisik teks-teks ideologis Muhammadiyah, ditemukan secara eksplisit bahwa Muhammadiyah adalah persyarikatan terbuka dan cukup toleran. Gerakannya juga tidak melulu persoalan keagamaan as sich, melainkan gerakan-gerakan yang bersifat humanis dan responsif dengan tantangan zaman.
Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam “Kepribadian Muhammadiyah”  sejalan dengan predikat itu.  Pada butir kedua, ketiga dan keempat ditegaskan beberapa karakteristik Muhammadiyah, yaitu; Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah islamiyah; Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam; Bersifat keagamaan dan kemanusiaan. Dalam konteks ini, sifat terbuka dan humanis sangat jelas. Karakteristik ini sering tidak mendapat perhatian warga Muhammadiyah secara luas.
Kekeliruan dalam memandang buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) juga kerap terjadi. HPT sering dianggap satu-satunya sumber, paling tidak bersifat dominan, yang merepresentasikan Muhammadiyah. Berbicara tentang Muhammadiyah selalu dilihat dari perspektif  HPT. Padahal Muhammadiyah tidak bisa dibonsai dengan menggunakan HPT itu. Seluruh aspek kebutuhan masyarakat disentuh oleh Muhammadiyah. Jumlah majelis dan lembaga yang demikian banyak menjadi bukti akan hal itu. Sebagian besar majelis dan lembaga tersebut terkait dengan persoalan humanitas.
Muktamar Muhammadiyah ke-46 yang dikenal dengan “Muktamar Satu Abad” di Yogyakarta tahun 2010 lalu menegaskan kembali jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan tengahan dan kemanusiaan. Salah satu rumusan ideologis yang diputuskan dalam Muktamar tersebut adalah: “Pernyataan  Pikiran Muhammadiyah  Abad  Kedua”.  Ditegaskan dalam rumusan itu bahwa aktifitas Muhammadiyah bermuara pada kepentingan kemanusiaan secara universal tanpa diskriminasi. Muhammadiyah juga menegaskan ideologinya sebagai ummatan wasathaan (umat moderat) dan syuhadaa’a ‘alannaas (saksi untuk umat manusia). Kerja-kerja persyarikatan Muhammadiyah bermanfaat untuk semua tanpa memandang suku, agama, bangsa, dan budaya.
Salah satu hal menarik, sebagaimana mata rantai tak terputus dari misi sebelumnya, dalam rumusan ideologis itu dinyatakan bahwa Muhammadiyah mengintegrasikan keislaman dan keindonesiaan. Dua pesan penting yang terkandung dalam konteks ini, yaitu islamisasi dan indonesianisasi. Bagi Muhammadiyah, menjadi Muslim tidak harus menanggalkan bingkai keindonesiaan. Muhammadiyah melakukan integrasi antara Islam dengan budaya khas Indonesia. Muhammadiyah meniscayakan bahwa mencintai Islam selalu  melahirkan semangat kuat untuk mencintai Indonesia.
Pada Muktamar ke-47 di Makassar 2015 yang lalu, dirumuskan konsep Muhammadiyah tentang “Negara Pancasila Sebagai Daarul Ahdi Wa Syahaadah”. Rumusan ini sangat penting, mengingat pasca reformasi telah terjadi disorientasi kehidupan yang berpotensi menggerus pemahaman bangsa Indonesia tentang Negara bangsa. Sebab itulah, Muhammadiyah hadir untuk meluruskan kiblat bangsa. Ada empat hal yang terkandung dalam rumusan itu, yaitu; NKRI menjadi keputusan final yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika. Konsep itu akan bermuara pada lahirnya cita-cita  Negara bangsa sebagaimana disebut dalam Alquran “Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur”.
Usia 100 tahun merupakan waktu yang matang bagi Muhammadiyah untuk terus berkiprah. Program Muhammadiyah secara nasional dalam lima tahun  ke depan (2015-2020), diarahkan pada tiga bidang penting, yaitu; respons Muhammadiyah terhadap persoalan keumatan, respons Muhammadiyah terhadap persoalan kebangsaan, dan respons Muhammadiyah terhadap dinamika kehidupan global. Tiga ranah perhatian Muhammadiyah ini menjadi ikhtiar untuk turut serta memberikan kontribusi penting bagi kepentingan kemanusiaan. Sebab itu, setiap warga Persyarikatan harus memahaminya dan sedapat mungkin melaksanakan pesan-pesannya. Wallaahu a’lam.

0 komentar: