Selasa, 31 Oktober 2017

Membaca Perubahan Zaman


Perintah membaca dalam Alquran yang diekspresikan dengan kata iqro’ (bacalah), mengandung berbagai aktifitas akademik yang tidak sederhana. Termasuk dalam lingkup perintah membaca adalah mengamati, mencermati, menganalisa, menghubung-hubungkan, mengkritik, mendalami, meninggalkan, dan tentu aktifitas yang sejenis.
Kata iqro’ sendiri dapat dipahami dalam dua konteks, yaitu; membaca yang tersurat. Pembacaan ini tentu saja terkait dengan ayat-ayat Alquran yang jumlahnya terbatas, menurut sebuat versi 6236 ayat, sementara versi lainnya 6666 ayat. Membaca yang tersirat terkait dengan perkembangan sosial kemasyarakatan yang jumlahnya tidak terbatas.
Khusus membaca yang tersirat, diperlukan respons yang serius karena ada dua hal yang terkandung, yaitu hal-hal positif dan tentu hal-hal negatif dan cenderung tidak sesuai dengan norma agama . Di sinilah respons jeli kita dituntut, karena Islam telah melintasi berbagai zaman, keluar masuk ruang dan waktu, berikut berbagai tantangan zaman yang mengitarinya. Sebab itu dibutuhkan daya baca kritis untuk mengantisipasi berbagai hal negatif yang boleh jadi masuk dan mempengaruhi pola pikir dan sikap hidup masyarakat.
Era informasi yang kini tengah melanda dunia merupakan fase kehidupan yang tidak dapat dihindari termasuk juga oleh umat Islam. Era ini menyediakan berbagai kemudahan di antaranya cara berkomunikasi. Dunia yang luas dan jauh terasa dekat sekali dan seolah tak berjarak. Peristiwa yang terjadi di berbagai bagian dunia pada saat yang sama dapat disaksikan di bagian dunia lain, bahkan bisa saling berinteraksi. Meskipun demikian, nilai-nilai kebebasan yang terkandung dalam era ini tidak kecil, bahkan tidak sedikit yang bertentangan dengan doktrin agama.
Berangkat dari paham antroposentris, dimana manusia memiliki otoritas mutlak untuk mengatur dirinya sendiri dan mengendalikan dunia, hidup manusia berputar dari manusia dan bermuara kepada manusia itu. Manusia merasaa sudah dewasa, agama tidak lagi dibutuhkan. Tidak ada unsur teleologis (akhirat) dalam paham itu. Demikian pula dengan paham liberal yang berkembang pesat di Barat dan kini menjadi konsumsi warga dunia secara luas, kebebasan individu harus dihormati dan dijunjung tinggi. Semuanya boleh dilakukan selama tidak mengganggu kepentingan orang lain.
Revolusi informasi melalui jaringan internet menjadi semacam pasar dunia dan bersifat sangat bebas. Siapa pun berhak untuk mengakses informasi dan konten yang ada di dalamnya. Sebut saja misalnya sekolah Prostitusi yang didirikan di Spanyol, selain legal, sekolah Prostitusi tersebut membekali para siswa dengan ilmu tentang sejarah prostitusi dan bagaimana menjadi praktisi prostitusi yang profesional dan berpendapatan tinggi.  Gaya hidup bebas (free life) dan praktik sex bebas (free sex) yang menyertainya akan berkompetisi melawan ideologi negara yang memegang kuat prinsip-prinsip agama.
Informasi lain yang tak kalah menantangnya adalah sekolah Lesbian, Gay, Bi Sexual, dan Trans Gender (LGBT). Sekolah ini didirikan di New York dan Atlanta Amerika Serikat, diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan sex berbeda di lingkungan masyarakat, dan wadah bagi mereka yang selalu mendapatkan perlakuan sosial yang tidak baik. Sekolah ini legal dan mendapatkan dukungan masyarakat. Meskipun ditentang, namun otorita sekolah tidak mempedulikan hal tersebut.
Melalui teknologi informasi, bukan tidak mungkin kedua lembaga pendidikan aneh ini akan diimpor ke Indonesia. Potensi ke arah itu sangat besar. Meskipun prostitusi dan LGBT dianggap ilegal dan tidak memiliki akar historis kuat, namun faktanya tidak sedikit para praktisi dan pegiat kedua penyakit sosial itu menunjukkan eksistensinya. Bahkan kini banyak yang mencari dukungan, tidak saja secara konstitusional namun juga agama.
Perlu pembacaan yang komprehensif terhadap berbagai perubahan masyarakat yang bergerak dan ditopang oleh kecanggihan teknologi itu. Para penganut agama dalam konteks ini tidak bisa tinggal diam. Sebuah agama yang marketable (banyak diminati orang) adalah agama yang mampu untuk memberikan respons konkrit terhadap persoalan yang muncul di rahim sejarah. Sebaliknya, agama yang hanya berisi janji-janji manis tentang keselamatan akhirat (salvation) perlahan akan ditinggalkan orang dan ceritanya hanya dimuat dalam kitab masa lalu.
Tak terkecuali Islam, agama termuda dalam rumpun agama-agama semitik  (Abrahamic Religions) ini tak kurang kayanya dengan nilai-nilai sakral yang sampai kapan pun tak lekang dari kehidupan. Mulai dari etika pribadi sampai etika sosial diatur secara detail. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin Islam juga tinggal kenangan dan korban peradaban modern-liberal jika umat Islam gagal merespons perubahan.
Sebagai agama langit, kebenaran Islam tidak diragukan lagi. Namun, siapa pun tidak pernah menyangkal agama langit ini pasti menapak dan dilaksanakan di bumi. Di sinilah kemudian umat Islam amat bertanggung jawab dalam mengawal jatuh dan bangunnya peradaban Islam, maju dan mundurnya peradaban tersebut. Melihat betapa beratnya tantangan dakwah kini dan ke depan, sudah saatnya umat Islam membangun kesadaran kolektif dan membuat sebuah common platform (platform umum) yang dapat menyatukan berbagai elemen.
Media perekat umat Islam bukan lagi pada kesamaan mazhab dan aliran, namun terletak pada ikhtiar bersama untuk menghadapi tantangan yang diajukan zaman. Sunni dan Syi’ah dalam konteks global, Muhammadiyah, NU, Al-Washliyah dalam konteks nasional, harus kita anggap sebagai media penafsiran dan alat ikhtiar untuk memperjuangkan Islam. Perbedaan teologis dan perbedaan detail ibadah praktis mestinya harus diakhiri, meskipun tetap dapat didiskusikan, namun bukan instrumen yang dapat menjauhkan relasi persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) yang indah itu, apalagi sebagai alat justifikasi benar dan salah sebuah kelompok.
Jika cangkang ketertutupan dipecah dan umat Islam melihat dunia lebih luas, betapa umat Islam sudah jauh tertinggal dibanding dengan yang lain. Peradaban yang dibangun di Eropa dan Amerika, serta kemajuan ekonomi dan politik Negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, berat untuk ditandingi. Jangankan berjalan, berlari kencang pun umat Islam mungkin tidak dapat mengejarnya. Ekspor ilmu pengetahuan, teknologi dan gaya hidup yang mereka kirimkan ke Indonesia dengan mayoritas masyarakat Muslim jelas terasa. Terkadang nilai positif dan negatif terintegrasi menjadi satu dan sulit untuk dipilah.
Bagi mereka, Indonesia menjadi pasar global yang dapat mendatangkan devisa negara. Lihat saja teknologi Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok, atau gaya hidup Barat  bergumul menjadi satu. Belum lagi penyelundupan narkoba dalam jumlah besar, bahkan narkoba kini seperti malaikat maut yang mencabut akal dan nyawa anak bangsa secara perlahan. Umat Islam mesti melek perubahan dan memberikan respons, sambil melakukan ikhtiar untuk mengejar ketertinggalan dari mereka, meskipun tidak sama, minimal tidak berjarak terlalu jauh.
Tidak ada pilihan lain, umat Islam Indonesia harus melakukan integrasi dan akomodasi. Apa saja yang datang dari luar, sejauh sejalan dengan Alquran dan As-Sunnah dan bermanfaat bagi kemajuan umat Islam harus diambil. Sikap kritis  (tabayyun) dan terbuka diperlukan untuk merespons ini. Generasi cerdas Islam mesti mengambil bidang kajian beragam, bukan saja tafsir, hadis, teologi, tapi juga bidang-bidang yang terkait dengan teknologi, ekonomi, politik dan seterusnya.
Melawan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat dan negara-negara Asia Timur bukan dengan gerakan radikal, melainkan dengan mempromosikan nilai-nilai luhur dan beradab berbasis agama, mereka kering dalam konteks ini. Namun demikian, nilai-nilai itu bukan yang bersifat eksklusif dan cenderung memojokkan orang lain, melainkan nilai-nilai Islam berkemajuan dan Islam yang mencerahkan, yaitu Islam rahmatan lil ‘alamin, sebuah Islam yang dapat memayungi berbagai perbedaan religius dan kultural.

Karena itu, umat Islam mesti memiliki kesadaran kolektif, bahwa hidup bersama di bawah payung persaudaraan Islam  harus ditempatkan  di atas berbagai kepentingan golongan. Selama ini umat Islam banyak menghabiskan potensi energi untuk urusan konflik, lalu berdebat untuk urusan penafsiran yang tak pernah sampai ke muara, kini hal tersebut harus dikelola lebih produktif untuk membangun peradaban islami. Wallaahu a’lam.

0 komentar: