Sabtu, 19 Agustus 2017

Muhammadiyah Kita



Membaca perkembangan Muhammadiyah akan memberikan daya tarik tersendiri. Berbagai predikat telah disematkan oleh para pakar untuk organisasi ini. Mulai dari gerakan modernisasi, gerakan kultural, gerakan sosial, sampai gerakan purifikasi, menunjukkan bahwa Muhammadiyah tak pernah berhenti dikaji. Namun demikian, gerakan purifikasi lebih populer daripada berbagai predikat yang lain.
Hal ini dapat dimengerti, karena secara historis kelahiran Muhammadiyah tak lepas dari situasi sosial yang penuh dengan praktik keislaman sinkretik. Kehadiran Muhammadiyah ketika itu hendak mengembalikan Islam agar sesuai dengan ajaran yang sebenarnya. Itulah sebabnya mengapa dalam lintasan sejarah aroma ritualisme demikian kental dan berakar kuat hingga kini.
Muhammadiyah didesain untuk menjadi sebuah gerakan yang responsif dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Berbagai majelis dan lembaga, yang dikenal dengan badan pembantu pimpinan dan sifatnya diangkat atau ditunjuk, merupakan bukti tentang itu. Majelis dan lembaga tersebut dibuat berdasarkan kebutuhan masyarakat dan meliputi berbagai aspek kehidupan.
Semangat yang ada di balik keragaman majelis dan lembaga adalah bagaimana Muhammadiyah memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan. Tujuannya agar kehadiran Muhammadiyah benar-benar dirasakan. Mencermati cakupan bidang yang sangat luas, ini membuktikan bahwa Muhammadiyah bersifat progresif dan siap dengan berbagai tantangan yang tersaji di meja sejarah.
Namun demikian, mengintegrasikan antara cita-cita ideal dengan fakta-fakta yang bergulir di lapangan tidak selalu mudah. Problem nasional yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai tingkatan secara umum sama. Tidak semua majelis dan lembaga berjalan sesuai dengan harapan, terlebih di tingkat Wilayah, Daerah, Cabang maupun Ranting.
Tak terkecuali di Sumatera Utara, jumlah majelis dan lembaga yang tergeletak di pusaran pasifitas jauh lebih banyak dibanding majelis dan lembaga yang kaya terobosan. Banyak problem klasik yang dijadikan alasan, misalnya; problem finansial, kesibukan pengurusnya, tuna visi dan lemah semangat, sampai konflik internal yang tak berujung. Alih-alih melahirkan inovasi, keberadaan majelis dan lembaga yang tidak aktif sering menjadi beban psikologis dan institusional.
Namun dari sederatan aktifitas tersebut, ternyata posisi ritualisme begitu kuat. Terlebih jika nama Muhammadiyah disebut, maka warna fikih demikian kental. Majelis Tarjih dan Tajdid, Majelis Tabligh, sering tercelup ke dalam warna itu. Tugas utama majelis-majelis itu sebenarnya untuk melahirkan berbagai pemikiran dan model dakwah Islam kontemporer, namun kemudian terpasung hanya pada persoalan klasik yang sudah dibahas selama ribuan tahun.
Perdebatan akademik seputar ritualisme harus dianggap final, dalam arti wacana itu bukan lagi menjadi opsi utama, mengingat ujian-ujian sejarah semakin kompleks dan membutuhkan respons matang. Majelis-majelis yang khusus menangani keagamaan mesti mengarahkan lampu perubahannya pada persoalan-persoalan yang bersifat kontemporer dan menjadi kebutuhan mendesak, misalnya terkait dengan fatwa haram dan dosa besar bagi orang yang membuang sampah sembarangan.
Program Muhammadiyah mestinya dapat lebih diarahkan pada terobosan-terobosan aktual. Misalnya untuk konteks Kota Medan, degradasi etika sosial hampir menemui titik puncak. Dalam berlalu lintas, Muhammadiyah dituntut melahirkan sebuah fatwa yang dapat menjadi pedoman tentang tata cara berlalu lintas. Sampai saat ini belum ada fatwa haram terkait menerabas lampu merah. Padahal aktifitas itu dapat membahayakan banyak pihak bahkan tidak sedikit yang berujung kematian.
Selanjutnya tentang infrastruktur yang sangat buruk, Muhammadiyah dapat menyodorkan kritik terhadap pemangku amanat yang kurang memperhatikan kualitas  fasilitas umum. Kesadaran masyarakat juga rendah untuk merawat fasilitas tersebut. Anggaran yang disiapkan pemerintah tak jarang habis di tengah jalan dan hanya tinggal sisanya untuk pembangunan infrastruktur. Carut marut wajah kota Medan diperparah oleh warga masyarakat yang menggunakan jalan sekehendak hati untuk kepentingan pesta perkawinan.
Fakta getir ini mestinya menjadi “buah bibir” dan material pemikiran. Bagi para pemangku amanat yang menyelewengkan dana pembangunan dikategorikan musyrik. Muhammadiyah mesti lebih berani dari ormas Islam lain dalam mengeluarkan fatwa untuk masalah ini. Muhammadiyah tentu saja tidak boleh menjadi korban sekaligus penikmat sengkarut kota Medan yang nyaris sempurna.  Muhammadiyah diharapkan hadir memberikan solusi alternatif terhadap kebiadaban sosial ini.
Warga persyarikatan harus berpikir di luar kotak (out of the box), tidak terkungkung dalam sangkar Muhammadiyah. Transformasi kader persyarikatan di berbagai bidang setidaknya dapat menjadi skala prioritas. Posisi strategis dan politis seperti; gubernur dan wakil gubernur, wali kota dan wakil wali kota, bupati dan wakil bupati, dan seterusnya, dapat menjadi perhatian serius. Bahkan yang menyedihkan, dalam beberapa kali Pemilu, belum pernah kader Muhammadiyah duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Bahwa Muhammadiyah tidak dapat memainkan politik praktis adalah norma yang tidak boleh diabaikan. Namun kekuatan Muhammadiyah setidaknya dapat memberikan nilai tawar yang tinggi dan disegani. Lemahnya peran dalam ranah ini cukup menyakitkan. Sebagai contoh, Kementerian Agama kini kental dengan nuansa yang kurang menguntungkan, demikian pula di Kemenristekdikti, akhirnya Muhammadiyah kalah cepat dalam mendapatkan “roti” kebijakan.
Warga persyarikatan mesti menghentikan sikap reaktif dan instan. Sikap tersebut menyedot energi yang tidak kecil. Tidakkah lebih baik energi yang ada dipersiapkan untuk pelatihan tilawah Alquran, mengingat mencari sosok yang dapat membaca Alquran di lingkungan Muhammadiyah seperti menarik bambu dari ujungnya, terasa sangat sulit. Krisis ulama juga menjadi masalah tersendiri. Jika ini terjadi terus menerus, maka predikat sebagai organisasi pembaruan Islam hanya akan menjadi hiasan sejarah.
Warga persyarikatan juga seringkali heboh dengan berita yang beredar di media sosial. Nuansanya penuh kecurigaan. Isu seputar kristenisasi, penodaan Islam, penodaan Alquran, penghinaan terhadap Rasululullah, menjadi perdebatan harian. Jangan-jangan, reaksi warga persyarikatan dan umat Islam pada umumnya dalam hal-hal seperti ini adalah hasil sekenario. Ada kesengajaan dari pihak tertentu. Umat disibukkan agar lupa menciptakan berbagai aktifitas strategis dan permanen.
Keributan di amal usaha pendidikan dan kesehatan juga menjadi tradisi buruk. Hal ini berakibat pada kualitas pendidikan yang rendah, institusi kesehatan juga tidak akan berkembang. Hal yang tak kalah menyedihkan adalah banyaknya warga Muhammadiyah yang enggan membayar setelah berobat. Ini salah satu faktor yang menyebabkan lembaga kesehatan mengalami kerugian yang tidak kecil. Sikap buruk tersebut menyebabkan hutang menumpuk dan aliran dana tersumbat, kepercayaan masyarakat pun menurun.
Di atas itu semua, Muhammadiyah Sumatera Utara membutuhkan gedung  dakwah representatif yang dapat berusia 30 sampai 40 tahun ke depan. Rencana ini berangkat dari harapan dan impian seluruh warga persyarikan. Gedung itu berlantai sepuluh. Dana yang dibutuhkan tidak kecil, sekitar 50 sampai 70 milyar rupiah. Di harapkan gedung itu akan menjadi rumah bersama, pusat berbagai aktifitas dan tempat merumuskan ide-ide cerdas untuk Islam berkemajuan. Sementara gedung yang sekarang sudah berusia tua dan sangat kumuh. Untuk ini, diperlukan doa dan dukungan semua pihak.
Sudah saatnya warga persyarikatan bangkit dari mimpi panjangnya. Menjadi warga dari sebuah organisasi yang dikenal modern dan berkemajuan tidak boleh menyebabkan lupa diri, bangga dengan predikat itu namun lupa berbagai kualifikasi yang mesti dipenuhi. Kini warga persyarikatan harus mampu meninggalkan tradisi inward looking (hanya menilik ke dalam), sambil memancangkan pandangan jauh ke depan. Melihat berbagai kemajuan dan prestasi orang lain menjadi sangat penting, sembari menciptakan berbagai prestasi. Muhammadiyah adalah milik kita dan mari kita rawat bersama. Wallaahu a’lam.

0 komentar: