Kamis, 24 Agustus 2017

Hijrah Ke Madinah


Membaca rangkaian historis tentang peristiwa hijrahnya Rasulullah, selalu melahirkan atmosfir yang berbeda. Semakin dibaca, rangkaian itu semakin memberikan semangat segar untuk dikontekstualisasikan dalam berbagai ruang aktifitas. Peristiwa hijrah sesungguhnya berangkat dari sebuah kesadaran teologis, yaitu sebuah kesadaran ilahiyah, bahwa hijrah memang mesti dilakukan dan atas dasar perintah dari Allah. Namun hijrah bukan berarti bersifat ahistoris, di luar perilaku manusia, melainkan sebuah aktifitas manusiawi yang dilakukan para aktor sejarah. Di sinilah pentingnya nilai-nilai hijrah itu digali secara terus menerus.

Alasan Melakukan Hijrah
Banyak variabel penting yang melatarbelakangi peristiwa hijrah tersebut. Terkait ini, para sarjana masuk ke sebuah perdebatan akademik yang menarik, apa sesungguhnya faktor utama yang menyebabkan Rasulullah meninggalkan tanah kelahirannya. Alfred Guillamme dalam bukunya “Islam”, menjelaskan bahwa Rasulullah mengalami apa yang disebut sebagai exile (pengusiran). Tidak saja mengguncang sistem keyakinan politeisme masyarakat Arab, kehadiran dakwah Rasulullah juga merobohkan sistem sosial, ekonomi dan politik yang sudah terbangun demikian kokoh. Sistem itu menguntungkan dan dikuasai oleh segelintir orang. Mereka merasa terusik. Dengan alasan ini, Rasulullah harus diusir.
Analisa dari Philip K. Hitti dalam bukunya, “Islamic Way of Life” lebih bernada positif. Ia menyebut bahwa Rasulullah melakukan hijrah karena pertimbangan perluasan wilayah dakwah, meskipun tekanan secara sosial politik dari para tiran Mekkah adalah fakta yang tak terbantahkan. Selama 13 tahun berdakwah di kota Mekkah, namun nilai-nilai tauhid seperti kompas bagi terbangunnya peradaban besar.
Peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah lahir dari sebuah strategi yang cukup matang. Rasulullah melalui sebuah jalan yang berliku dan lebih jauh dibanding jalan umum yang selalu dilalui para saudagar ketika menempuh tujuan yang sama. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengecoh orang-orang yang mengejarnya. Hal lain yang terbilang penting dalam keberhasilan perjalanan hijrah ini adalah loyalitas dua orang sahabatnya, yaitu Abu Bakar As-Siddik sebagai teman di perjalanan dan Ali bin Abi Thalib yang bertaruh nyawa  karena menggantikan posisi Rasulullah di atas tempat tidur.
Para sejarawan menjelaskan bahwa sebelum kota itu bernama Madinah, masyarakat mengenalnya dengan Yatsrib. Nama tersebut menggambarkan sebuah daerah dengan penduduk yang pola pikirnya masih sangat sederhana dan berperadaban rendah. Selain itu, Yatsrib didiami oleh beragam suku, qabilah dan bahkan agama. Uniknya tradisi buruk berupa peperangan sering kali terjadi. Alih-alih memikirkan peradaban besar dan maju, penduduk Yatsrib terpenjara oleh sejenis hukum rimba, siapa kuat maka dialah yang dapat memegang kendali dalam berbagai aspek.
Sampai di Madinah, Rasulullah disambut oleh kaum Muslimin dengan suka cita. Kehadiran Rasulullah diharapkan dapat mengubur rapat-rapat konflik horizontal antar qabilah yang sudah berlangsung lama. Misalnya Auz dan Khazraj, dua kabilah besar Madinah yang kerap berebut pengaruh dan sumber ekonomi. Kedua kabilah itu merasa letih dan selama ini menguras banyak energi karena konflik. Ada yang menyebut bahwa Rasulullah hijrah karena permintaan kedua suku ini. Sebelumnya memang sudah ada komunikasi yang dibangun antara Rasulullah dengan masyarakat Madinah melalui Perjanjian Aqobah.
Kehadiran Rasulullah hendak meletakkan dasar-dasar dan membangun hubungan harmonis dengan berbagai elemen masyarakat tersebut. Pertama yang dibangun setelah sampai di Madinah adalah masjid, yang dikenal dengan Quba. Langkah Rasulullah dapat dipahami, sebuah peradaban besar tidak akan memiliki arti jika nilai-nilai agama tidak dijadikan dasar pembangunan. Selain sebagai sarana ibadah, masjid menjadi sebuah tempat kaum Muslimin berkumpul untuk bermusyawarah dan merumuskan ide-ide bernas untuk pergerakan.
Belakangan Yatsrib diganti menjadi Madinah. Kata ini memiliki akar yang sama dengan tamaddun (peradaban) dalam bahasa Arab atau civilization dalam bahasa Inggris. Madinah juga seakar dengan diin yang berarti agama. Pesan universal yang ingin disampaikan Rasulullah adalah signifikansi nilai-nilai agama dalam kehidupan. Agama menjadi fitrah dalam diri setiap orang. Fitrah secara sederhana dapat diartikan dengan sesuatu yang asasi dan melekat. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan agama. Menegasikan agama sama artinya dengan mengingkari kesejatian diri manusia. 
Meskipun nilai-nilai Islam sebagai basis, Rasulullah tidak serta merta membabat agama-agama yang ada dan membumihanguskan kepercayaan tradisional. Di luar dugaan, Rasulullah membangun sebuah sistem sosial. Dalam sistem tersebut beragam keyakinan diikat menjadi satu demi sebuah kepentingan, saling membantu dan saling melindungi. Sebuah tapak sejarah diletakkan Rasulullah dengan membuat sebuah undang-undang untuk kepentingan kolektif. Undang-undang itu dinamai “Miitsaaqul Madinah/ Piagam Madinah”, dalam bahasa Inggris dikenal dengan “The Medina Document”.
Piagam tersebut memuat 47 pasal. Secara garis besar Piagam Madinah berisi tentang pembentukan umat, hak asasi manusia, pluralitas agama, hubungan antar warga negara, golongan minoritas, hak dan kewajiban warga Negara, kepemimpinan negara, dan tentang perdamaian. Melalui undang-undang ini, Rasulullah membuat masyarakat menjadi peka terhadap hukum dan bagaimana mentaati hukum sebagai peraturan bersama. Muaranya adalah hidup secara teratur.
Respons Rasulullah terhadap agama lain menjadi contoh modern tentang praktik toleransi. Dengan kekuatan sosial politik yang berada dalam genggamannya, bisa saja Rasulullah menunjukkan hegemoni kekuasaan agar penduduk Madinah menjadi Muslim, namun hal itu tidak dilakukannya. Keragaman agama oleh Rasulullah dianyam menjadi sebuah kekuatan bersama untuk membangun Madinah. Kebesaran Islam ditunjukkan lewat relasi sosial yang harmonis dan beradab. Islam tidak akan menjadi kecil dan ternoda dengan sikap toleran yang dipromosikannya.

Model Masyarakat Modern
Rasulullah membangun sebuah negara berdasarkan kepentingan bersama dan penuh dengan keteraturan. Hubungan sosial yang harmonis, kaum mayoritas menjadi payung sosial bagi kaum minoritas, menjadikan kota yang dibangun Rasulullah bercorak modern. Madinah menjadi milik bersama. Tidak ada tirani mayoritas atas minoritas. Tidak pula ada radikalisme minoritas terhadap mayoritas. Semua berjalan secara seimbang dan adil.
Apresiasi terhadap prestasi kerja demikian tinggi. Meritokrasi menjadi standar  status seseorang. Kemuliaan tidak berdasarkan garis keturunan, melainkan prestasi yang dicapai seseorang. Setelah Madinah berada di bawah kendali Rasulullah, potensi mengganti nama Yatsrib menjadi nama Muhammad sebenarnya terbuka lebar. Namun hal itu tidak dilakukannya. Rasulullah ingin menunjukkan kepada masyarakat tentang buruknya kultus individu. Ada semacam kekhawatiran, kelak sepeninggalnya akan terjadi kultus individu sekiranya nama Yatsrib diganti dengan Muhammad.
Wajar saja, sosiolog Robert N. Bellah dalam bukunya “Beyond Belief”  menjelaskan bahwa prestasi Rasulullah dalam membangun peradaban merupakan lompatan jauh ke depan yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut Bellah, sistem sosial yang dibangun Rasulullah sangat modern, jauh meninggalkan masanya. Masyarakat Madinah adalah komunitas paling demokratis ketika itu. Prinsip keterbukaan (openness) dan partisipasi (participation) warga negara demikian tinggi. Bagi Bellah, karakteristik inilah yang menjadi alasan kuat kemodernan Madinah. Wallaahu a’lam.


0 komentar: