Minggu, 13 Agustus 2017

Haji dan Kesadaran Budaya


Ibadah haji merupakan sebuah ritual unggul (par excellent) dan dapat dibaca dari berbagai perspektif. Keunggulannya bukan berarti ibadah ini terpisah dari ibadah-ibadah lain dan menjadi yang terbaik. Selain memerlukan persiapan mental yang baik, ritual ini perlu didukung oleh kekuatan fisik sekaligus finansial pelakunya. Dapat dilihat, sebagian besar syarat dan rukun haji membutuhkan kebugaran fisik dan tentunya kecukupan dana yang disiapkan. Tanpa keduanya, meskipun bisa, ibadah haji tidak dapat berlangsung maksimal.
Namun ada sebuah perspektif menarik untuk meneropong ritual tahunan ini. Ibadah haji menjadi sebuah magnet raksasa yang menyedot jutaan umat Islam dari seluruh dunia untuk berkumpul di satu tempat. Selain tentunya untuk mensucikan jiwa, pertemuan tersebut melahirkan interaksi budaya yang besar dan menjadi sebuah keunikan tersendiri. Umat Islam dari satu tempat dapat belajar dan memperkaya wawasan dari saudara-saudaranya yang datang dari tempat lain.
Adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan, bahwa Islam memang satu, namun melahirkan beragam ekspresi. Islam berasal dari sumber yang satu, namun karena dipratikkan di lingkungan sosial yang berbeda maka ekspresi keislaman masyarakat Muslim dari satu tempat dibanding lainnya akan berpotensi berbeda. Di sinilah kemudian kearifan respons keagamaan umat Islam dituntut. Perbedaan budaya menjadi media penting untuk mempercantik wajah Islam dan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Islam dalam konteks lokal.
Budaya dalam hal ini perlu dipahami secara luas, bukan menyangkut seni saja. Sebagaimana dijelaskan Ralph Linton dalam “The Cultural Background of Personality (1947)” bahwa budaya mengandung berbagai aspek. Budaya tidak saja menyangkut seni, musik, melainkan juga termasuk pola pikir, gagasan, sikap, perilaku dan seterusnya. Ini artinya, budaya mempunyai banyak cakupan. Aspek sosial, ekonomi, politik, kesehatan, pandangan dan ekspresi keagamaan, dapat dikategorisasikan sebagai budaya. Karenanya, kesadaran budaya dalam pelaksanaan haji menjadi sesuatu yang penting dimiliki.
Perbedaan budaya bukan menjadi sebuah momok dan ancaman yang harus dimusnahkan, melainkan keindahan sebagai anugerah terindah dari Allah yang mesti diterima. Dalam Alquran sendiri, dijelaskan bahwa Allah menciptakan (kholaqo) manusia dalam keberbagaian, laki-laki dan perempuan, menjadikan (ja’ala) manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar manusia dapat saling mengisi (Q.S. Al-Hujurat/ 49: 13).
Ayat ini menjadi menarik ketika kata kholaqo (menciptakan) dan ja’ala (menjadikan) disandingkan. Sepintas memang keduanya sama, namun jika dianalisis lebih dalam keduanya memiliki perbedaan dalam konteks pragmatisnya. Allah menggunakan kata kholaqo untuk penciptaan laki-laki dan perempuan, karena memang proses penciptaan kedua jenis kelamin tersebut menjadi hak prerogatif Allah, tidak ada interfensi manusia di dalamnya. Sementara kata ja’ala digunakan untuk menunjukkan proses kejadian yang melibatkan pihak selain Allah, dalam hal ini manusia.
Interaksi suku-suku dan bangsa-bangsa di dunia ini merupakan konsekuensi logis dari sebuah proses budaya yang panjang. Keterlibatan manusia yang memiliki budaya tidak dapat dinegasikan karena manusia sebagai subjek interaksi. Sebab itulah, suku-suku dan bangsa-bangsa saling memberi dan saling menerima budaya lain sebagai sebuah khasanah kemanusiaan yang wajar. Di sini menjadi jelas mengapa Allah menempatkan kata ja’ala terkait dengan kelahiran suku-suku dan bangsa-bangsa. Budaya sekelompok manusia akan kering jika tidak dihiasi dan dipercantik dengan budaya lainnya.
Dalam pelaksanaan ibadah haji, umat Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul menjadi satu. Mereka datang dengan latar belakang sosiologis (masyarakat) dan antropologis (budaya) yang tidak sama. Kedatangan mereka selain untuk memenuhi panggilan Allah melalui ritual haji, juga saling bertukar pengalaman dan kebudayaan yang berbeda. Bukan untuk menunjukkan bahwa satu budaya lebih unggul dan lebih baik dari yang lain, melainkan apa kearifan yang dapat dipetik dari lokalitas budaya tertentu.
Muara dari pelaksanaan haji adalah predikat mabrur. Kata mabrur tidak sesederhana yang dibayangkan masyarakat selama ini. Meskipun populer, kata mabrur memiliki makna yang luas dan terbuka. Kata ini tidak saja bermakna kebaikan ritual, dalam arti seorang peraih haji mabrur akan semakin tertib ibadahnya, namun juga kematangan dalam berinteraksi sosial, saling membantu, toleran, saling menghormati dan jujur untuk melihat kelebihan orang lain.
Tidak sampai di situ, peraih haji mabrur siap dan rela membuka diri untuk mempelajari kelebihan dan kekuatan yang dimiliki saudara-saudaranya. Inilah yang tersimpul dalam penggalan kata “li ta’aarofuu/ untuk saling belajar”. Jamaah haji asal Indonesia tentu memiliki budaya berbeda dengan jamaah haji asal Turki. Jamaah haji asal Cina tentu memiliki latar belakang budaya yang tidak sama dengan jamaah haji asal Iran. Jamaah haji asal Korea kemungkinan memiliki model keagamaan yang berbeda dengan jamaah haji asal Afrika. Begitu pula seterusnya.
Banyak pengalaman menarik yang selalu diungkapkan oleh saudara-saudara kita sepulang menunaikan ibadah haji. Sebagian menceritakan bahwa jamaah haji asal Indonesia tergolong yang paling tertib. Lain pula dengan jamaah haji asal Afrika, selain berpostur besar dan tinggi, tidak sedikit dari mereka yang tidak tertib, seperti menyerobot antrean, dan ingin menang sendiri ketika tawaf dan sa’i. Namun boleh jadi hal ini bersifat subjektif. Sama seperti jamaah haji asal Indonesia, mungkin saja mereka berpendidikan rendah dan dari desa pedalaman sehingga budaya antri dan tertib masih dianggap aktifitas yang asing.
Haji bukan hanya persoalan keimanan, tapi juga kesadaran bahwa selain diri kita ada orang lain yang punya kepentingan sama. Egoisme budaya yang selama ini menjadi berhala dan kerap menempatkan umat Islam pada kelas-kelas tertentu menjadi runtuh karena kesadaran budaya itu sendiri. Di sisi lain perlu dipahami, memindahkan budaya umat Islam dari satu tempat ke tempat lain juga mesti melalui proses kontekstualisasi, disesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu. Jangan sampai terjadi benturan budaya karena adanya pemaksaan budaya satu atas yang lain.
Kasus seperti ini sudah berkali-kali terjadi di Indonesia. Kultur Islam Timur Tengah yang pada satu sisi keras tentu tidak dapat diimpor begitu saja ke Indonesia yang secara umum memiliki kultur sejuk dan damai. Demikian pula dengan tindakan radikal seperti peledakan bom bunuh diri. Dengan alasan apa pun, tindakan ini tidak dapat dicontoh dan tidak dapat dibenarkan. Kultur keras ini selain tidak memiliki akar kuat, juga bertentangan dengan doktrin suci Islam. Model khilafah dan negara Islam juga tidak mesti diadopsi begitu saja, mengingat Indonesia memiliki model negara sendiri.
Kesadaran budaya mengantarkan pelaksana haji sebagai pribadi-pribadi dengan karakteristik terbuka dan toleran namun tetap kritis, mana yang bisa diambil maupun tidak. Kesadaran ini menjadi benteng masuknya sikap tertutup dan intoleran, yaitu sebuah sikap yang menganggap dirinya paling absah dan paling otoritatif dalam menafsirkan Islam. Meyakini sebuah paham keagamaan menjadi hak seseorang. Namun ketika paham itu dijadikan “pengadil” untuk semua paham keagamaan maka akan menjadi masalah tersendiri.
Jamaah haji Indonesia dapat berfungsi sebagai duta-duta budaya. Amanah nasional yang ada di pundak mereka adalah memperkenalkan Islam Indonesia kepada masyarakat Muslim dunia. Karakteristik lembut, toleran, sifat gotong royong dan gemar bekerjasama adalah nilai-nilai yang wajib diekspor. Beragam suku, agama dan bahasa bukan merupakan penghalang bagi bangsa Indonesia untuk hidup bersama. Pluralitas sosiologis merupakan sebuah kekuatan dan keunikan yang dapat memantik hasrat masyarakat Muslim dunia untuk belajar kepada bangsa Indonesia.
Ibadah haji menjadi sebuah momentum bagi umat Islam Indonesia untuk membayar hutang sejarah. Jika berbagai kajian Islam baik klasik maupun  modern selalu dirujuk dari Timur Tengah, maka sudah saatnya kajian itu menjadikan berbagai ekspresi keislaman di Indonesia sebagai objek menarik yang tidak kalah menantangnya dibanding Islam Timur Tengah. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Islam Indonesia satu saat akan menjadi kiblat perkembangan budaya Islam dunia. Wallaahu a’lam.

0 komentar: