Sabtu, 20 Mei 2017

Ramadhan Yang Membebaskan


Ramadhan datang kembali. Bulan mulia ini menyapa kita dalam keadaan moral dan material yang semakin kumuh. Rentetan peristiwa sosial dan politik baik nasional maupun lokal cukup menguras energi kita. Ancaman disintegrasi bangsa dan momok konflik horizontal di tengah masyarakat membuat kita diliputi rasa cemas dan merasa tak nyaman beraktifitas. Lingkungan yang kotor, sampah yang berserakan, lalu lintas yang hingar bingar tanpa aturan menjadi asesoris menyambut Ramadhan yang kita anggap bulan revolusi spiritual. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, respons kita menyambut Ramadhan cukup beragam. Tapi yang pasti, bulan mulia ini dipahami sebagai sebuah oase perubahan kearah yang lebih baik lagi. Namun satu hal yang menyedihkan, Ramadhan kerap dipahami secara simplistik sebagai wadah untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Sering pemahaman ini memutus mata rantai nilai-nilai Ramadhan yang semestinya ditransformasikan ke berbagai ruang publik. Ramadhan menjadi kering. Datang dan perginya hanya dianggap sebagai sebuah rutinitas yang bergulir begitu saja.

Padahal Ramadhan merupakan sebuah waktu dimana kita melakukan berbagai evaluasi sosial dan spiritual. Tidak hanya sebatas memindahkan waktu makan dari siang hari ke malam hari, lebih daripada itu, Ramadhan menenggelamkan kita pada sebuah perenungan komprehensif  tentang apa sesungguhnya makna dan etika publik yang mesti kita telusuri dalam Ramadhan. Ramadhan menyelipkan pesan moral yang secara cerdas mesti kita tangkap dan kita hidupkan dari waktu ke waktu. Dengan ini Ramadhan tidak akan kehilangan bekas.

Menelisik perintah puasa Ramadhan, biasanya ayat Alquran yang dijadikan landasan normatif adalah surah Al-Baqarah/ 2: 183. Ayat ini demikian populer, baik saat saat menjelang datangnya bulan Ramadhan atau menjelang kepergiannya. Menariknya, ayat ini diawali dengan kalimat panggilan, “yaa ayyuhalladziina aamanuu/ hai orang-orang yang beriman”. Ini memberikan indikasi yang kuat bahwa di sini ada komunitas elit yang diseru oleh Allah untuk melaksanakan puasa Ramadhan. Bukan komunitas manusia secara umum.

Komunitas elit itu disebut sebagai “orang-orang yang beriman”. Komunitas ini secara kualitas moral dan material siap untuk melaksanakan perintah Allah. Orang-orang yang beriman selalu memaknai keimanan secara hidup dan produktif. Iman tidak dimaknai hanya sesuatu yang tersimpan di hati. Iman dalam konteks ini mencakup tiga hal padu yang integratif dan tidak bisa dipisahkan, yaitu; kualitas lisan yang terpuji, kualitas hati yang istiqomah, dan perilaku bermanfaat untuk lingkungannya. 

Itulah sebabnya, Allah menjadikan komunitas beriman sebagai subjek yang melaksanakan perintah puasa Ramadhan. Ini bukan merupakan sebuah kebetulan, melainkan skenario suci agar bagaimana Ramadhan dipahami dan dilaksanakan secara komprehensif dan integral. Keutuhan memahami dan melaksanakan Ramadhan mencakup tidak hanya aktifitas penjarakan makan dan minum di siang hari selama Ramadhan, melainkan juga nilai-nilai moral yang ditelusuri secara radikal, sampai menghunjam ke akar-akarnya dengan muara lahirnya ketertiban sosial. 

Dalam pelaksanaan puasa Ramadhan ada semacam regulasi waktu yang mesti dihormati dan dipatuhi secara konsisten. Hal ini ditunjukkan terhadap larangan makan dan minum kecuali pada waktu-waktu yang dibolehkan. Substansi dari regulasi ini adalah prinsip kedisiplinan. Jika dikembangkan lebih luas, disiplin sesungguhnya merupakan pangkal ketertiban sosial yang dapat diimplementasikan di ruang-ruang publik. Nilai-nilai disiplin bergerak dari ranah ritual ke aksi nyata. Disiplin yang sudah melekat secara kokoh dalam iman dapat diwujudkan dalam disiplin berlalu lintas, disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan,  dan disiplin dalam birokrasi. 

Menariknya lagi, kedisiplinan diyakini sebagai bagian integral keimanan. Dengan kata lain, disiplin merupakan bagian dari keimanan itu sendiri. Di sini, orang yang berpuasa Ramadahan akan memiliki rasa sensitivitas sosial yang tinggi. Puasa yang dilaksanakan terasa tidak bermakna di sisi Allah jika di jalan raya tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas, buang sampah di sembarang tempat, dan masih tetap kotor dalam melaksanakan dan mengendalikan  birokrasi. Ramadhan dalam konteks ini merupakan bagian yang cukup lekat dengan kehidupan.

Ramadhan juga mengajarkan kejujuran. Ada dua tanggung jawab yang terbangun di sini, yaitu tanggung jawab pribadi kepada Allah dan tanggung jawab sosial. Kedua model tanggung jawab ini saling terkait dan tak terpisahkan. Tanpa pengawasan dari orang lain, orang yang melaksanakan puasa tetap tidak makan dan minum. Ini dikarenakan tanggung jawab kepada Allah sudah demikian melekat. Persoalan selanjutnya adalah tanggung jawab sosial, seorang yang melaksanakan puasa ramadhan mesti jujur dalam kehidupan sosial. 

Dalam kehidupan sosial, Ramadhan akan menggerus kultur korupsi dan praktik culas yang kerap kita saksikan. Kejujuran sosial kini demikian dibutuhkan. Melalui Ramadhan kita disadarkan bahwa kejujuran menjadi bagian agama dan pilar kehidupan masyarakat. Tanpa kejujuran maka bangunan sosial akan oleng dan boleh jadi ambruk. Pelaku puasa akan merasa mantap selama jujur dan merasa rendah kualitas puasanya jika dalam aktifitas tidak berlaku jujur. Kejujuran juga mengkritik dan menjauhkan perilaku korup dalam berbagai hal.

Menarik sekiranya kita meminjam hasil penelitian yang dilakukan Thomas J. Stanley dalam bukunya “The Millionaire Mind”. Dalam buku itu ia menjelaskan bahwa kepribadian menjadi faktor utama keberhasilan seseorang dalam kehidupan. Misalnya, ia menempatkan kedisiplinan dan kejujuran pada tingkat tertinggi. Artinya jika seseorang ingin berhasil dalam hidup ini maka ia mesti bersikap disiplin dan memiliki kepribadian yang jujur. Uniknya, Stanley menempatkan IQ pada urutan ke-21, sekolah di lembaga pendidikan bergengsi pada urutan ke-23 dan lulus dengan nilai yang tinggi pada urutan ke-30.

Berdasarkan penelitian ini, maka Ramadhan menjadi semacam madrasah untuk menggodok pribadi-pribadi luhur dengan berbagai karakter unggul. Keunggulannya dapat dilihat dari sikap disiplin dan jujur. Ramadhan akan melahirkan manusia-manusia yang tercerahkan. Yaitu manusia-manusia organik yang kuat hubungannya kepada Allah dan matang secara moral. Tanggung jawab sosial manusia-manusia organik di atas kebanyakan manusia pada umumnya. Pribadinya akan merasa resah jika ketimpangan sosial terjadi di sekitarnya. Manusia organik berbeda dengan pelaksana puasa pada umumnya. 

Manusia organik melihat Ramadhan sebagai lumbung spiritual untuk menyerap pesan-pesan ilahiyah untuk ditransformasikan ke tengah-tengah masyarakat. Jika pelaksana puasa pada umumnya melihat Ramadhan sebatas ruang untuk mengumpulkan sekeranjang pahala yang cenderung bersifat ritualistik dan individualistik, manusia-manusia organik justru melakukan passing over (melampaui itu). Kumpulan pesan ilahiyah membutuhkan pemahaman dan implementasi. Di sinilah peran aktif  dan kreatif manusia organik dibutuhkan. 

Dalam penjelasan ayat ditekankan bahwa Ramadhan melahirkan manusia-manusia takwa. Dengan kata lain, manusia-manusia organik itulah orang-orang yang bertakwa. Yaitu kelompok manusia yang sudah terbebaskan dari penjara dan tarikan nafas bendawi. Hidupnya berkisar untuk kemaslahatan orang-orang banyak. Manusia-manusia seperti inilah yang diharapkan menyemarakkan Ramadhan yang datangnya hanya setahun sekali. Komunitas manusia seperti ini memaknakan Ramadhan secara membebaskan. Ramadhan tidak lagi dihiasi dengan seperangkat asesoris material seperti buka puasa bersama dengan dana yang besar, tabuh bedug, tadarus dengan pengeras suara hingga mengganggu orang yang ingin bersitirahat. Ramadhan diisi dengan berbagai karitas sosial dan kecintaan yang lebih kepada kaum dhu’afa.

Jika pelaksana puasa hanya mengendalikan makan dan minum dari terbit fajar sampai terbenam mata hari, tidak demikian halnya dengan kaum dhu’afa. Boleh jadi mereka berpuasa setiap waktu, sepanjang hari dan sepanjang tahun, karena tidak ada lagi makanan dan minuman yang dapat dikonsumsi. Ramadhan menyentuh rasa lapar kita. Agar bagaimana kita dapat berbagai kepada sesama. Ramadhan juga menjadi bulan dimana kepedualian sosial diasah kembali bahkan ditingkatkan. Ini diantara nilai penting yang mesti dipahami dan dimengerti oleh pelaksana puasa. Tanpa itu, maka Ramadhan hanyalah sebuah waktu hampa yang berlalu begitu saja tanpa makna.

Ramadhan kita harapkan menjadi bulan pembebasan. Pembebasan diarahkan kepada dua target perubahan, yaitu; pembebasan pikiran dan pembebasan perilaku. Pembebasan pikiran dibuktikan dengan bagaimana kita memaknai Ramadhan secara proporsional sesuai dengan kehendak wahyu. Pembebasan perilaku dibuktikan dengan sikap istiqomah untuk mengimplementasikan nilai-nilai Ramadhan dalam aktifitas di masyarakat. Ramadhan menjadi sejenis sumber dimana etika publik diproduksi untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah makna Ramadhan yan membebaskan itu.

Meskipun datang dalam suasana yang carut marut dan situasi yang tak menentu, Ramadhan diharapkan menjadi waktu dimana kita dapat kembali menggali nilai-nilai ilahiyah yang kerap tersembelih oleh ego dan kepentingan pribadi kita. Nafsu serakah, pola hidup hewani yang selama ini melekat dalam diri kita, sedapat mungkin kita kikis. Selama satu bulan penuh nilai-nilai kesucian kita injeksi ke dalam keimanan kita agar kita benar-benar menjadi manusia bertakwa sebagaimana muara dari Ramadhan itu. 

0 komentar: