Senin, 22 Mei 2017

Surga Yang Jauh


Dalam sebuah pengajian, seorang ustaz bercerita bahwa ia memiliki sahabat yang giat bekerja dan kini kaya raya. Ia memiliki perusahan besar dengan ribuan tenaga kerja. Kekayaan yang dimilikinya mengantarkan ia dan keluarganya dapat menunaikan haji dan umroh berulang kali. Bahkan para karyawan yang berprestasi selalu mendapat hadiah umroh. Budi luhur yang ia praktikkan mengundang decak kagum siapa pun.
 Satu ketika sang ustaz bertanya, “Mas, untuk apa engkau lakukan semua ini?” Ia menjawab, “Ustaz, aku ingin mendapatkan surga. Bukankah dengan menunaikan haji dan umroh Allah akan memberi balasan surga?”. Sang ustaz menjawab, “Alhamdullillah, kamu menyimpan niat yang cukup mulia. Namun mohon maaf, apakah kamu masih memiliki ibu?” Mendengar pertanyaan seperti itu, wajahnya menjadi merah dan tersinggung. Ia kemudian meninggalkan sang ustaz.
Di sebuah pertemuan dengan para karyawannya, kebetulan sang ustaz diundang untuk hadir, telepon selular sahabat ustaz itu berdering berkali-kali. Anehnya, setelah ia lihat tetap tak ia pedulikan. Karena merasa terusik, dengan berat hati ia jawab panggilan itu dengan intonasi suara yang bengis dan kasar. Para karyawan tak terkecuali sang ustaz merasa heran dan bertanya-tanya siapa sebenarnya orang yang memanggilnya.
Setelah diketahui ternyata panggilan itu berasal dari ibu kandungnya. Sang ibu hanya ingin melepas rindu karena sudah cukup lama tidak mendengar kabar dari anaknya. Selain itu, sang ibu dalam keadaan sakit. Sontak saja para karyawan merasa terkejut dengan perilaku aneh sang pimpinan. Mengapa ia memperlakukan ibu kandungnya begitu kejam. Namun pada akhirnya, si ibu meninggal dunia sebelum anak yang begitu ia rindukan tiba disampingnya.
Dalam kawasan akademik, dikenal istilah “Kajian Islam Komprehensif”. Kata komprehensif bermuatan pembacaan yang dalam dan menyeluruh, utuh dan tidak sepenggal-sepenggal. Islam dilihat dari berbagai aspek, baik akidah, akhlak, ibadah maupun mu’amalah. Bahkan Islam juga dilihat dari aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan seterusnya.
Jika perspektif ini digunakan untuk melihat dan membaca perilaku keislaman sahabat ustaz itu, maka kita dapat mengetahui bahwa keislaman yang diamalkan terbelah, sepenggal dan tidak utuh. Islam yang begitu luas dikebiri dan dipahami secara simplistik. Akhirnya, Islam dimengerti hanya sebatas seperangkat rutinitas ritual yang rigid. Islam yang begitu luas disederhanakan dan menjadi agama yang mahal dan bersifat eksklusif.
Meminjam istilah dalam wilayah psikologi, pribadi yang seperti ini menderita split personality (pribadi yang terpecah). Pribadi ini mengharapkan kebaikan yang jauh dan sukar  pada satu sisi namun mengabaikan kebaikan yang sebenarnya mudah dilakukan dan dekat pada sisi lain. Pribadi yang seperti ini terbelenggu sehingga lupa untuk melihat Islam yang sesungguhnya mengandung banyak aspek dan cakupan amaliyahnya tak terbatas.
Dalam Islam, ibu memiliki posisi yang demikian penting bahkan manusia yang dianggap sakral. Menariknya, dalam Alquran Surah Al-Isra’/ 17: 23 dijelaskan bahwa kebaktian tertinggi seorang anak setelah menyembah Allah adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, salah satunya adalah ibu. Kata ihsaanaan mengandung arti berbuat baik dengan sebaik-baiknya bahkan amat luas. Sungguh ironis, jika ada yang merasa sholeh dengan mengerjakan berbagai kebajikan namun menafikan posisi ibu dalam hidupnya.
Salah seorang sahabat mendapatkan penjelasan dari Rasulullah bahwa ibu adalah manusia yang wajib dihormati. Penekanan terhadap pentingnya menghormati dan menyayangi ibu diulangi oleh Rasulullah sampai tiga kali. Kedua orang tua dalam hal ini adalah ibu, merupakan orang yang paling berjasa dalam hidup seseorang. Namun terkadang fakta mengejutkan kerap terjadi di depan kita, betapa seorang anak merasa cukup berat membantu bahkan menyayangi ibu kandungnya sendiri. Tak jarang ibu dan ayah dititipkan di panti jompo. 
Bahkan akhir-akhir ini kita kerap dikejutkan oleh beberapa anak yang dengan tega menyeret ibu dan ayah kandungnya ke pengadilan karena sengketa warisan. Jika di dalam Alquran maupun hadis ditabulasi dosa-dosa besar yang mesti dihindari, maka akan diketahui salah satu diantaranya adalah durhaka kepada kedua orang tua. Sebab itulah, keberhasilan seorang anak di tengah masyarakat akan sangat tidak berarti di hadapan Allah jika ia tidak menaruh rasa hormat dan menyayangi kedua orang tuanya.
Perlu dipahami, ibu dan ayah mertua termasuk dalam pengertian orang tua kandung. Sering terjadi di tengah masyarakat seorang menantu hanya mau menerima seseorang menjadi suami atau istrinya, namun enggan menerima mertua layaknya orang tua kandung sendiri. Pemahaman ini jelas keliru. Ibu atau ayah mertua harus diposisikan sebagaimana orang tua kandung sendiri. Rasa hormat dan kasih sayang untuk mereka haruslah sama besarnya sebagaimana yang diberikan kepada orang tua kandung kita.
Selain berbakti kepada kedua orang tua, kebajikan (al-birr) tidak mesti dikerjakan dengan biaya mahal dan menempuh jarak yang cukup jauh. Kebajikan dapat dilakukan melalui hal-hal yang kecil dan sangat sederhana. Rasulullah menjelaskan bahwa senyum ikhlas yang kita berikan kepada sahabat menjadi sedekah. Artinya, aktifitas positif yang kita lakukan selama dapat membahagiakan orang lain menjadi bagian dari kebajikan itu sendiri.
Kini media sosial menjadi alat yang paling mudah dan efektif dalam membangun komunikasi. Menulis status yang berisi doa dan membawa kabar gembira juga termasuk kebajikan. Bahkan memberikan tanda “like” yang berarti suka untuk status yang positif mengandung nilai kebajikan. Jika dikalkulasikan secara matematis, aktifitas tersebut tidak membutuhkan biaya besar dan amat mudah dilakukan. Dengan kata lain, kebajikan itu sendiri tidak berjarak dengan kita.
Sebagaimana adagium, “Banyak jalan menuju Roma”, jalan yang dapat kita tempuh untuk mengerjakan berbagai kebajikan jauh lebih banyak dibanding jalan menuju kota Roma itu. Sebagian besar ada di sekitar kita. Namun terkadang kebajikan yang sangat sederhana kurang membuat diri kita puas karena kecilnya apresiasi. Akhirnya kita memilih amalan yang mengandung puja dan puji masyarakat meskipun harus mengeluarkan dana yang tidak kecil.
Untuk mengejar surga, tidak mesti mengeluarkan biaya puluhan sampai ratusan juta rupiah sebagaimana pelaksanaan haji dan umroh. Membersihkan toilet dan tempat wudhu’ masjid tak kalah mulianya. Fakta di lapangan mestinya membuat kita sadar, masjid sebagai sarana ibadah dan simbol kebersihan kaum Muslimin kini banyak yang dalam kondisi memprihatinkan. Mulai aroma yang tidak mencerminkan kebersihan sampai rendahnya sense of belonging (rasa memiliki) fasilitas ibadah tersebut.
Jika belakangan ini muncul gerakan subuh berjamaah, maka gerakan itu mesti diimbangi dengan gerakan masjid bersih secara massal. Subuh berjamaah amat penting, namun menjaga kebersihan masjid tentu tidak kalah pentingnya. Hadis Nabi yang menjelaskan bahwa kebersihan sebagian dari iman harus diimplementasikan dalam ranah faktual. Hadis itu tidak boleh indah di bibir saja, namun butuh ikhtiar kolektif untuk membawanya dalam aktifitas sehari-hari.
Persoalannya tentu terletak pada dua pihak, pengelola masjid yang rendah memberikan atensi, dan tentu para jamaah yang kurang peduli untuk turut serta merawatnya. Sholat merupakan kewajiban pribadi yang wajib ditunaikan. Menjaga kebersihan masjid dan sarana ibadah sama wajibnya dengan pelaksanaan sholat itu. Logika dan kesadaran seperti ini perlu dibangun, agar kebajikan benar-benar dapat dilakukan dalam berbagai konteks.

Sesungguhnya filosofi kebajikan bergerak dari sesuatu yang kecil dan dimulai dari lingkungan terdekat. Apa pun yang ada di sekitar kita dapat dikelola sebagai media kebajikan, apalagi berbakti kepada kedua orang tua. Sebab itulah, Islam harus kita pahami secara utuh. Jika kita mendamba surga, maka surga dapat diraih dengan melakukan berbagai hal sederhana dan dapat dilakukan pada lingkungan terkecil sekalipun. Sesungguhnya surga itu amat dekat. Surga tidak jauh dan kunci-kuncinya ada di sekitar kita. 

0 komentar: