Selasa, 30 Mei 2017

Catatan Tentang Idul Fitri


Atmosfir Idul Fitri dalam beberapa hari ini demikian terasa. Berbagai asesoris yang kerap mewarnai Idul Fitri mengusik atensi masyarakat di berbagai  tempat. Mulai dari spanduk ucapan selamat Idul Fitri, ketupat lebaran, festival tabuh bedug, iklan di berbagai media, berkurangnya jamaah sholat tarawih, menjadi fenomena tersendiri. Tidak hanya itu,  kesibukan masyarakat terus meningkat dalam mempersiapkan pakaian baru, membeli makanan dan minuman untuk memeriahkan “Hari Bahagia” tersebut.
Budaya mudik juga tak alpa untuk dilakukan. Dengan menempuh perjalanan jauh dan beban berat yang dibawa, orang-orang dengan suka rela pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga, berbagi cerita suka dan duka sembari menunjukkan keberhasilan pekerjaan selama hidup di perantauan. Mirisnya, dalam perjalanan mudik banyak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas, namun hal tersebut tak mengurangi hasrat untuk melepas Ramadhan dan menyongsong Idul Fitri di kampung halaman.
Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam. Jika disebut kemenangan maka ada kesan telah terjadi pertempuran dahsyat. Memang demikian adanya. Selama satu bulan penuh orang-orang beriman menjalani pertempuran fisikal dan spiritual. Pertempuran fisikal dapat dilihat dari aktifitas tidak makan dan minum pada siang hari selama Ramadhan. Sementara pertempuran spiritual dapat dilihat dari manajemen hati yang terus dirawat untuk tidak cenderung apalagi berbuat kemaksiatan. Wajar saja, hari kemenangan Idul Fitri merupakan momen yang didambakan kehadirannya.
Terdapat perdebatan akademik tentang apa sesungguhnya makna dan hakikat Idul Fitri itu. Ada yang menyebutkan bahwa Idul Fitri adalah sebuah hari dimana umat Islam berbuka karena sudah melaksanakan puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Ada juga yang menjelaskan bahwa Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian. Ramadhan seolah membasuh debu-debu kesalahan sehingga bersih. Karena debu-debu kesalahan itu sudah lekang, maka orang-orang yang beriman kembali menjadi suci. Masing-masing memiliki argumentasi sendiri.
Meskipun kerap terjadi tarik menarik tentang tafsir Idul Fitri, tapi yang pasti, Idul Fitri adalah hari bahagia. Kebahagiaan itu terpancar dari eskpresi suka cita karena sudah berjuang melawan hawa nafsu. Selain itu, Idul Fitri menjadi sebuah waktu untuk melakukan distribusi materi kepada sesama. Hari itu tidak ada lagi orang-orang yang kelaparan karena kekurangan makanan. Idul Fitri juga mengumpulkan keluarga yang terpencar, mendekatkan yang jauh, karena kesibukan masing-masing dalam sebuah ikatan persaudaraan yang padu.
Meskipun merupakan hari bahagia, Idul Fitri kerap meninggalkan sederetan luka sosial yang berkepanjangan. Memang benar, saat Idul Fitri datang setiap orang merasa bahagia. Namun kebahagian itu sering bersifat tidak permanen. Dengan kata lain, kebahagiaan yang dilahirkan Idul Fitri bersifat teritorial dan situasional. Kebahagiaan hanya terjadi pada momen-momen tertentu dan saat-saat tertentu saja.
Beberapa saat sebelum datangnya Idul Fitri, ada ritual wajib yang mesti ditunaikan setiap umat Islam, yaitu membayar zakat fitrah. Zakat fitrah kerap dipahami sebagai harta tertentu yang mesti dikeluarkan untuk orang-orang tertentu sebagaimana eksplanasi Alquran. Ketika Alquran menyebutkan, “aqiimuushhalaata wa aatuuzzakaata/ tunaikanlah sholat dan keluarkanlah zakat”, harus dipahami bahwa zakat memiliki makna yang luas.
Zakat juga dapat diartikan dengan infak dan sedekah. Ini artinya zakat tidak terbatas pada ruang dan waktu dan mesti dilakukan secara kontinyu dan konsisten. Mungkinkah kaum dhu’afa lepas dari belenggu kemiskinan jika hanya menerima zakat fitrah yang frekuensinya setahun sekali? Bukankah zakat fitrah secara kuantitatif  demikian terbatas?  Dapat diasumsikan bahwa jawabannya tidak bisa.
Agar tidak melahirkan luka sosial yang permanen maka zakat memiliki makna yang fleksibel dan dapat diperluas. Waktu pelaksanaannya juga tidak boleh dibatasi hanya pada momen menjelang Idul Fitri saja. Pesan moral yang mesti ditangkap adalah bahwa berbagi kepedulian sosial yang disimbolkan dengan zakat fitrah dan infak serta sedekah harus dilakukan setiap waktu dan dimana saja. Tanpa pemahaman seperti itu, zakat fitrah hanya sejenis ritual yang terjadi secara berulang namun tidak membawa efek perubahan yang berarti.
Terdapat pemahaman yang keliru, bahwa membayar zakat fitrah menggugurkan kewajiban-kewajiban lain seperti membantu kaum dhu’afa. Pemahaman seperti ini mesti dikikis. Zakat pada hakikatnya sejenis ritual simbolik yang penuh pesan-pesan kemanusiaan. Tinggal bagaimana umat Islam bersikap jujur dan berani untuk melihat zakat dari perspektif yang luas dan humanis. Inilah yang mesti dirawat agar ruh Idul Fitri tidak kering dan kandas dalam pusaran sejarah.
Memang pada sisi tertentu benar,  zakat fitrah dapat menghapus duka dan lara, namun pertanyaan selanjutnya adalah sampai kapankah keberlangsungannya? Bagaimana dengan kelanjutan hidup dari kaum dhu’afa selama  sebelas   bulan selanjutnya  pasca  Idul Fitri?  Transformasi bentuk zakat fitrah ke aksi sosial jauh lebih penting, baik dilakukan secara individual maupun kolektif, secara personal maupun institusional.
Selain itu, umat Islam yang berkecukupan kerap mengeluarkan zakat maal (zakat harta) pada bulan Ramadhan. Tradisi ini dapat dikelola agar lebih produktif. Misalnya, mengeluarkan zakat maal bukan untuk aktifitas-aktifitas yang bersifat konsumtif dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, melainkan pemberian modal usaha sehingga pada akhirnya sang mustahik (penerima zakat) akan menjadi mandiri.  
Masalah kemiskinan juga masih menjadi momok yang mengerikan bagi umat Islam. Malam menjelang Idul Fitri, gema suara takbir sering beriringan dengan pemandangan yang kurang elok. Ratusan bahkan ribuan kaum dhu’afa menanti belas kasih orang-orang yang mampu untuk mendapatkan bagian zakat maupun sekedar infak dan sedekah. Wajah muram umat Islam ini menjadi masalah tersendiri dan melahirkan catatan negatif bagi banyak pihak. Islam seolah-olah amat identik dengan kemiskinan.
Meskipun jika ditelusuri secara cermat, tidak semua orang yang duduk dan berdiri berjajar itu adalah umat Islam atau berasal dari kategori kaum dhu’afa, namun sebagian besar dapat diduga umat Islam. Zakat fitrah dengan turunannya infak dan sedekah mesti hadir dalam memberikan respons. Sungguh ironi memang, di satu sisi Allah dipuja dan dipuji di semua masjid dan musholla pada malam sakral itu, namun ternyata sanjung dan puji itu terusik oleh duka dan derita umat Islam yang senantiasa dililit kemiskinan.
Masalah lain yang masih menjadi kanker bagi masa depan generasi Islam adalah rendahnya tingkat pendidikan. Islam di masa yang akan datang tentu berada dipundak generasi mendatang pula. Bagaimana peradaban Islam dapat terbangun secara asri jika sumber daya umat Islam demikian lemah? Sebab itulah, umat Islam yang mampu dapat menjadi orang tua asuh untuk turut serta membantu biaya pendidikan kaum dhu’afa tersebut.
Banyak anak cerdas yang terusir dari sekolah karena tidak mampu menebus biaya pendidikan. Padahal mungkin saja generasi emas Islam mendatang diciptakan oleh mereka. Sementara di sisi lain, ratusan ribu umat Islam terus membangun masjid, terus menunaikan haji dan umroh, terus membangun rumah-rumah mewah, makan berlebihan, wisata ke berbagai negara, sementara di sekeliling mereka terdapat anak-anak cerdas yang tengah kelimpungan memikirkan masa depan pendidikannya. Karena itu diharapkan, Idul Fitri dengan berbagai hal yang dikandungnya menjadi tumpuan perubahan masa depan itu.
Dengan pembacaan demikian, maka Idul Fitri tidak akan berwajah dingin dan acuh tak acuh dengan lingkungan sosial yang dilaluinya. Lewat penafsiran mendalam dan luas tentang Idul Fitri, maka diharapkan ada sejenis transformasi sosial yang terjadi. Transformasi itu bukan hanya menyangkut hubungan personal kepada Allah, lebih daripada itu adalah hubungan umat Islam kepada saudara-saudaranya yang lain. Inilah sesungguhnya Idul Fitri yang bermakna, yaitu hari bahagia yang bersifat humanis dan penuh dengan energi kebaikan.



0 komentar: