Senin, 26 Desember 2016

Wahyu Yang Tersandera


Di sebuah gang sempit di tengah deru kendaraan bermotor dan polusi udara yang nyaris sempurna, hiduplah seorang janda tua yang miskin. Rumah yang dihuninya sungguh tidak layak. Selain tidak memenuhi standar kesehatan, rumah itu juga terletak di sebelah parit busuk. Parit itu berpredikat busuk bukan  agar mudah dikenali, namun benar-benar busuk karena aroma yang ditimbulkannya. Mulai dari limbah keluarga sampai tradisi membuang sampah sekehendak hati menjadi variabel penting kebusukan aroma parit itu.
Janda sengsara tersebut sudah beberapa tahun ditinggal mati  oleh suaminya. Ia berprofesi sebagai penarik becak tua. Anaknya terdiri dari tiga orang. Satu berkelana dan entah dimana rimbanya, satu sudah berkeluarga namun minus atensi kepada ibunya, dan satunya lagi hidup membujang dan kini mengalami depresi berat. Secara sosial, keluarga malang itu hidup dalam suasana sepi di tengah keramaian. Tak sedikit anggota masyarakat mencibir kehidupan mereka bahkan meletakkan mereka pada kasta kehidupan terendah.
Kini janda tua itu hidup sendirian menjalani hari-hari tua yang terasa semakin tak pasti. Bagaimana tidak? Salah seorang anak yang menjadi tumpuan dan harapan hidupnya tidak lagi dapat diandalkan. Sementara pada sisi lain, kurangnya asupan gizi dan penyakit berat yang dideritanya menjadi masalah tersendiri. Secara psikologis hidupnya penuh dengan tekanan, sementara secara material hidupnya penuh dengan berbagai kekurangan.
Tapi ada sebuah ironi di seputar kehidupan janda tua itu. Gubuk reot yang menjadi tempatnya bernaung terletak tidak jauh dari beberapa masjid yang terbilang mewah. Bahkan di sekitarnya juga hidup kaum Muslimin, cerdik cendekia, bahkan orang-orang kaya yang berkecukupan. Ada dua perjalanan hidup yang berlangsung di tempat itu, namun keduanya tidak berjalan beriringan, bahkan bergerak saling menjauh. Kehidupan si janda tua semakin terpuruk sementara masyarakat di sekitarnya semakin hidup mewah.
Melihat fenomena ini, nalar keagamaan kita bekerja kembali. Tidakkah agama diturunkan Allah untuk sebuah pembebasan? Tentu saja pembebasan dalam arti yang luas, misalnya bebas dari kebodohan, bebas dari kepicikan, bebas dari keterbelakangan, bebas dari penjajahan dan bebas dari kemiskinan? Mengapa terjadi kemiskinan di tengah-tengah kecukupan? Bukankah Islam adalah agama pembebasan yang peduli dengan berbagai penyakit sosial?
Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan nakal dan menggelitik ini tidak mudah untuk dijawab. Hal ini membutuhkan pengkajian serius dan komprehensif. Meskipun demikian, penulis berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam sistem keagamaan yang dipahami atau diamalkan selama ini. Sistem keagamaan yang kurang beres ini berkonsekuensi logis pada pengamalan Islam sehari-hari. Pada tataran yang lebih jauh, hal ini akan berujung pada lahirnya citra negatif terhadap agama Islam itu sendiri.
Penjelasan yang paling sederhana dengan melihat model keislaman kaum Muslimin di lokasi tersebut. Model keislaman fikih oriented sepertinya menjadi primadona, bukan model keislaman komprehensif. Model ini bertujuan membentuk pola pikir keislaman kaum Muslimin melalui ibadah-ibadah ritual praktis yang dilaksanakan sehari-hari. Misalnya syahadat, sholat, puasa, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji. Apa dan bagaimana implementasi nilai-nilai ritual itu dalam kehidupan sehari-hari sering terabaikan.
Dengan model keislaman tersebut, standar kemuliaan seseorang diukur dari syahadat yang diucapkannya, sholat yang tidak pernah ditinggalkannya, puasa yang dikerjakannya, zakat yang dibayarkannya, dan haji yang ditunaikannya. Jika seorang Muslim melaksanakan ritual-ritual ini, maka predikatnya sebagai hamba yang religius layak disematkan. Rasa keislaman seorang Muslim dianggap sempurna melalui runtutan ritual ini.
Sampai di sini, rasa keislaman itu tidak melahirkan masalah. Masalah akan muncul ketika hal itu berhenti pada tataran ritual dan mandul untuk melahirkan pesan moral  dalam kehidupan nyata. Karena itu, sering kita lihat seorang Muslim rajin dalam melaksanakan sholat, namun hidupnya kumuh, buang sampah sembarangan, egois dan hanya mementingkan kesenangannya sendiri, serta tidak peduli dengan nasib orang lain. Menjadi Muslim sejati dirasakan cukup hanya dengan aktifitas itu.
Padahal sesungguhnya, Islam adalah agama kemanusiaan. Artinya, agama ini diturunkan Allah untuk kebahagiaan umat manusia. Menjadi seorang Muslim berarti menjadi orang yang memiliki komitmen kuat untuk mengangkat harkat dan martabat nilai-nilai kemanusiaan. Sejauh yang penulis pahami, semua ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran maupun As-Sunnah bermuara untuk kemaslahatan umat manusia.
Disinilah letak kesucian Islam itu. Kesucian Islam tidak lepas dari konteks kehidupan. Kesuciannya justru melekat erat dengan kehidupan. Dimana ada permasalahan dalam kehidupan, nilai-nilai luhur Islam mesti hadir di tempat itu. Kesucian Islam itu mengintegrasikan dua hal yang padu, yaitu; teks dan konteks, atau nilai-nilai normatif sebagai panduan dan nilai-nilai praktis sebagai implementasi. Kesucian Islam ternodai ketika ajaran-ajarannya tumpul dan lumpuh menghadapi dinamika persoalan di masyarakat. Inilah yang sekarang menjadi fenomena menyedihkan.
Jika dicermati model ideal keislaman versi Rasulullah, maka kehadirannya merupakan titik balik perubahan dari sistem kehidupan yang merendahkan harkat dan martabat manusia menuju pembebasan yang mencerahkan. Di antara jasa besar Rasulullah adalah ikhtiar kemanusiaan yang dilakukannya secara sistemik. Padahal sebelumnya nilai-nilai kemanusiaan ditentukan oleh hegemoni kekuasaan dan kapitalisasi ekonomi.  Dari lisannya yang suci terlontar kalimat-kalimat yang tak usang hingga kini, misalnya; jadilah tokoh-tokoh perdamaian, hilangkanlah rasa lapar, eratkan hubungan silaturrahim.
Wahyu di tangan Rasulullah ditransfomasikan dalam segala lini kehidupan, baik dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Wahyu begitu hidup. Wahyu tidak berhenti pada tataran hapalan apa lagi membatu yang hanya terletak di hati. Wahyu bagi Rasulullah adalah nyawa dan dinamisator peradaban. Ia membumi dan dirasakan oleh manusia tanpa memandang latar belakang keimanan dan status sosial. Pemahaman dan semangat seperti ini seharusnya menjadi bahan renungan dan nafas berbagai perubahan di masyarakat.
Mulai dari persaksian syahadat sampai pelaksanaan ibadah haji, Rasulullah menjadikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai ending target (target akhir). Ukuran kemuliaan manusia sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah terletak pada kematangan setiap pribadi Muslim dalam merawat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara substantif sama artinya  dengan mencederai tujuan syahadat sampai pelaksanaan ibadah haji.
Umat Islam kini lupa jika terdapat seorang Muslim yang masih kelaparan di tengah kecukupan harta saudara-saudaranya, itu sama artinya menistakan kesucian dan kemuliaan Islam. Untuk masalah argumen teologis, baik dari Alquran maupun As-Sunnah, tidak perlu diragukan lagi. Islam sudah mengatur itu secara eksplisit baik berbentuk semangat atau tuntunan praktis. Namun umat Islam kerap gagal membawanya dalam prilaku. Pada konteks ini wahyu menjadi tersandera. Semestinya wahyu turun dari langit untuk membebaskan manusia, namun kini dominan untuk urusan ritual.
Gubuk reot tempat berteduh janda tua itu setiap waktu disinggahi gema suara azan. Namun suara itu tidak serta merta dapat menghapus duka dan lara  serta kekurangan makanan di rumahnya. Masjid semestinya menjadi media penghubung dan waduk kesadaran religius dan sosial umat Islam. Berbagai persoalan dibahas dan dicarikan jalan keluarnya termasuk persoalan janda tua itu. Masjid juga bukan sarana yang bertujuan mensucikan Allah secara tekstual dan teritorial, melainkan tempat untuk mentabulasi berbagai persoalan keumatan.
Kasus menyedihkan janda tua itu sebenarnya tak perlu terjadi. Umat Islam dapat bahu membahu mengatasi berbagai kesulitannya, apakah secara konsumtif maupun produktif. Kunci-kunci surga sebenarnya dapat dicari di berbagai tempat, salah satunya dengan membantu orang yang kelaparan. Penulis yakin, jika seorang Muslim turun tangan membantu kesusahan janda tua itu, Allah tidak akan membalasnya dengan apa pun kecuali surga. Dengan cara ini wahyu menjadi hidup dan tidak lagi tersandera.

0 komentar: