Kamis, 08 Desember 2016

Tukang Bubur Mendamba Surga



Berguru tidak harus melalui pendidikan formal. Aktifitas tersebut dapat saja dilakukan di berbagai tempat dan kepada siapa saja. Yang terpenting tentu adalah ibrah (pelajaran) yang dapat dipetik dan semangat yang dapat dikontekstualisasikan dalam aktifitas nyata. Seperti diungkapkan lewat penggalan kalimat berikut: “Alam terkembang menjadi guru”, mengisyaratkan betapa berbagai aktifitas yang terbentang di dalam kehidupan dapat menjadi laboratorium pembelajaran.
Demikian pula dengan aktifitas yang penulis saksikan secara langsung. Suatu ketika, dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat, penulis melihat seorang ibu mengayuh sepedanya dengan sedikit kencang. Tanpa asumsi apa pun kepadanya, tiba-tiba ia mendekat ke sebuah kotak infak yang berukuran agak besar di depan sebuah masjid lalu melemparkan beberapa lembar rupiah ke dalamnya.
Aktifitas aneh tersebut membuat penulis terkejut. Dilatarbelakangi rasa ingin tahu yang besar, penulis mencoba mengejar sepeda yang dikayuh ibu itu. Batin penulis bergetar ketika memandang gerobak kecil berwarna biru yang ia bawa bertuliskan sebuah kata singkat, “Bubur”. Penulis berusaha untuk melihat lebih cermat lagi, gerobak tersebut sudah usang dan memiliki warna yang sudah pudar. Batin penulis bergejolak, bagaimana mungkin seorang pedagang kecil seperti ibu itu, dengan pendapatan yang kecil pula, namun masih bersedekah untuk kepentingan publik?
Di sepanjang jalan, nalar penulis terpaksa mengembara sembari mencari jawaban atas fenomena yang baru saja terjadi. Semestinya, seorang pedagang kecil jika ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa tergantung kepada orang lain, tentu hal itu sudah dikatakan cukup. Sesuatu dapat dikatakan luar biasa jika dengan volume ekonomi serba terbatas namun ia masih bisa berbagi kepada orang lain. Setidaknya dalam analisa yang paling sederhana, itulah alas pikir untuk memotret aktifitas ibu tersebut.
Jika Alquran ditelisik lebih jernih dan mendalam, akan dijumpai beragam ajakan yang ditawarkan oleh Allah untuk mengerjakan kebajikan. Kebajikan sesungguhnya tidak tunggal. Ia amat beragam dan dapat termanifestasi ke dalam banyak aktifitas. Uniknya, aktifitas yang dikenal dengan kebajikan tersebut dapat dilakukan oleh siapa pun tanpa dilatarbelakangi deretan status sosial. Penghilangan status sosial diganti oleh Allah dengan kategorisasi komunitas. Komunitas mengisyaratkan kualitas dan bukan berdasarkan status sosial.
Dalam kalimat “yaa ayyuhalladziina aamanuu/ hai kaum yang beriman”, Allah menyeru komunitas beriman. Komunitas tersebut dianggap sanggup dan siap secara material dan spiritual untuk memenuhi panggilan Allah. Itulah sebabnya, komunitas beriman dapat saja muncul dari kalangan marginal, yaitu kelompok manusia yang kerap dianggap terpinggirkan dan tidak penting dalam siklus kehidupan. Namun demikian, rasa dan kualitas keagamaan kaum marginal belum tentu sama marginalnya dengan status yang mereka sandang.
Apa yang dilakukan ibu penjual bubur itu menunjukkan kualitas dan rasa keagamaan yang sudah matang (matured religiosity). Rasa keagamaan seperti itu ditandai dengan memudarnya egoisme individual yang kemudian mewujud ke dalam atensi komunal. Batin orang dengan rasa keagamaan yang sudah matang akan meronta jika ia tidak dilibatkan dalam banyak kebajikan dan hasratnya untuk berbuat baik terhalangi.  Berangkat dari rasa keagamaan yang sudah matang, ibu penjual bubur itu rela melakukan sesuatu yang menurut ukuran orang banyak terasa berat.
Pada konteks lain, ada yang disebut optimisme teleologis. Seseorang  terpanggil untuk melakukan kebajikan karena yakin bahwa apa yang dilakukannya akan berbuah yang kelak dinikmati di akhirat. Keyakinan seperti ini mengantarkan seseorang berpikir jauh ke depan, melampaui kekinian dan kedisinian. Seseorang dengan pendidikan rendah pun dapat saja memiliki keyakinan seperti ini, karena keyakinan memang merupakan profound emotion (rasa terdalam) dan menjadi basis setiap agama. Sebab itu, keyakinan sering melahirkan berbagai aktifitas yang sulit dijangkau nalar.
Kini jika dilihat, betapa banyak orang dengan tingkat pendidikan  formal yang  rendah namun menghasilkan karya besar dan menggelegar. Bahkan karya-karya tersebut menembus batas-batas generasi dan dapat menyelamatkan banyak kehidupan. Mereka akrab dan dekat dengan dinamika sosial serta dapat memecahkan persoalan di masyarakat. Sosok-sosok seperti Mbah Sadiman sang penyelamat lingkungan atau M. Saleh Yusuf, sopir truk yang mampu membangun sekolah untuk masyarakat, menjadi cermin hidup untuk semua.
Sebaliknya juga demikian, seseorang dengan predikat tertinggi dalam dunia pendidikan tak sedikit yang seringkali merasa terasing dengan lingkungannya dan tak dapat berbuat banyak, kecuali untuk kepentingan dirinya saja. Bahkan tak jarang yang kemudian menjadi sampah masyarakat dan aktor utama terjadinya keresahan sosial. Para terpidana kasus korupsi dapat menjadi sampel nyata untuk hal ini. Gelar akademik dan keagamaan yang mereka sandang tidak berbanding lurus dengan sikap dewasa dalam beragama. Pada akhirnya semua berujung dengan petaka.
Dambaan ibu penjual bubur itu untuk meraih surga tidak berlebihan. Allah secara eksplisit memaparkan bahwa surga amat luas, bahkan diibaratkan seluas langit dan bumi. Potensi untuk masuk ke dalamnya tidak ditentukan oleh jaringan sosial yang luas, jabatan yang tinggi, gelar akademik yang beraneka ragam, nama yang masyhur, maupun harta yang berlimpah. Allah menentukan kualifikasi tersendiri, yaitu rutinitas mengeluarkan infak, pengendalian diri dengan baik, dan memberi maaf kepada orang lain.
Kualifikasi yang ditentukan Allah itu memang secara literal terbilang gampang dan hampir dapat dilakukan banyak orang. Namun ketika kualifikasi tersebut sampai pada tataran implementasi maka berbagai persoalan sering muncul, termasuk menguatnya virus kebakhilan. Inilah yang menyebabkan potensi untuk masuk ke dalam surga menjadi terhambat. Tidak demikian halnya dengan ibu penjual bubur itu. Dengan mengayuh sepeda, ia dengan mantap memenuhi salah satu persyaratan yang ditetapkan Allah, yaitu berbagi kepada sesama.
Berbagi kepada sesama selain sebagai salah satu bentuk kebajikan juga dianggap bagian dari jihad. Pada konteks ini menjadi lebih menarik, mengingat jihad tidak mesti selalu diartikan dengan menghunus pedang di tangan untuk menghadapi musuh-musuh Islam. Jihad dalam arti universal adalah memberikan sesuatu yang positif untuk kepentingan bersama, termasuk menghilangkan rasa lapar, berpartisipasi mendirikan rumah ibadah, merawat lingkungan, atau mentaati rambu-rambu lalu lintas. Bagi penulis sendiri, jihad bermuara pada terwujudnya sebuah peradaban asri yang bersifat universal dan inklusif untuk manusia dan bermanfaat bagi semua kehidupan.
Apa yang dilakukan ibu penjual bubur itu pada sisi tertentu dapat digunakan sebagai kritik sosial terhadap orang-orang yang menistakan agama (insulting of religion). Sebatas yang sering dipahami bahwa para penista agama adalah orang-orang yang dengan sengaja menghina elemen-elemen yang dianggap suci dalam sebuah agama, seperti kitab suci, rumah ibadah dan sebagainya. Penistaan agama dapat pula dikategorikan orang-orang yang memiliki kemampuan namun enggan melakukan kebajikan di ruang-ruang publik. Padahal kebajikan tersebut tertera di dalam kitab suci.
Membela Islam merupakan tindakan luhur dan terpuji. Membela Islam tidak selalu diekspresikan dengan teriakan Allahu Akbar di berbagai tempat. Dalam penterjemahan yang lebih luas dan dinamis, membela Islam dapat diwujudkan ke dalam berbagai aktifitas sosial. Aktifitas tersebut tidak mesti ditujukan untuk mengawal elemen-elemen yang diyakini sebagai sesuatu yang suci di dalam Islam.

Mengawal Islam dapat dilihat dari kecakapan umat Islam membawa doktrin-doktrin Islam yang bersifat suci ke tataran sejarah, ke dalam perilaku individual maupun kelompok, sehingga umat manusia benar-benar merasakan kehadiran Islam tersebut. Watak Islam sebagai diinurrahmah (agama rahmat) dapat dirasakan berbagai pihak. Jika kita ingin melihat salah satu aksi bela Islam dalam konteks sederhana, lihatlah ibu penjual bubur itu. Wallaahu a’lam.

0 komentar: