Selasa, 20 September 2016

Nabi Para Pecinta Lingkungan



Nabi dalam tulisan ini bukan sosok manusia suci yang mendapatkan wahyu dari Allah dan dilengkapi berbagai mukjizat.  Tentunya, dalam konteks kekinian, nabi dalam pengertian itu sudah final sejak diutusnya Rasulullah  Muhammad SAW. sebagai utusan Allah yang terakhir. Sebagaimana makna dasarnya dan dalam perspektif yang paling sederhana, nabi dalam tulisan ini merupakan sebuah perspektif sosial bagi orang yang membawa berita baru, memberikan pencerahan, dan tentu saja melakukan perubahan yang berdampak pada kesejahteraan publik.
Adalah Mbah Sadiman, sosok sederhana dari Wonogiri Jawa Tengah yang menurut penulis layak diberikan predikat sebagai nabi. Secara spesifik adalah nabi para pencinta lingkungan. Bagaimana tidak? Di tengah terjadinya konflik antara manusia dengan alam, Mbah Sadiman tampil sebagai sosok penengah dan agen perdamaian di kedua belah pihak. Mbah Sadiman melihat, relasi yang memburuk antara manusia dengan alam berkonsekuensi negatif pada kedua pihak, alam semakin rusak dan ketentraman manusia menjadi terusik.
Dalam pandangan Mbah Sadiman, alam di sekelilingnya berubah secara tidak wajar. Misalnya, debit sumber mata air di kampungnya berkurang, dan ada juga yang mengalami kekeringan. Padahal, sumber mata air tersebut merupakan pilar kehidupan bagi masyarakat setempat. Selain itu, Mbah Sadiman merasakan perubahan cuaca yang terjadi secara perlahan namun pasti, dari dingin ke panas. Setelah diketahui ternyata penyebabnya adalah karena kebakaran hutan dan illegal lodging (penebangan hutan secara liar).
Fakta getir itu mengusik kesadaran sekaligus menuntut tanggung jawab sosial Mbah Sadiman. Ia bertekad keras agar bagaimana debit mata air kembali seperti semula dan hutan menjadi hijau kembali. Mbah Sadiman mengambil langkah konkrit dengan cara menanami areal yang gundul dengan bibit pohon beringin. Uniknya, bibit pohon beringin itu ia beli dengan uang pribadinya atau barter dengan bibit cengkeh yang sudah ia persiapkan.
Ikhtiar Mbah Sadiman untuk merawat alam dan mengeliminir konflik manusia dengan alam dilakukan sendirian tanpa diketahui keluarganya. Wilayah kerja Mbah Sadiman juga tidak kecil. Ia menanami areal yang gundul seluas lebih daripada 100 hektar. Usianya yang sudah mencapai 65 tahun tidak melunturkan semangatnya untuk  memberikan yang terbaik bagi bagi alam, manusia dan generasi setelahnya. Dengan memori yang tak pasti, Mbah Sadiman menuturkan bahwa ia melakukan itu sudah lebih daripada 20 tahun dan sekitar 20.000 tanaman beringin telah ia tancapkan.
Usaha Mbah Sadiman membuahkan hasil. Pohon-pohon yang ia tanam dapat mengikat air dengan baik. Hal itu ditandai dengan debit air yang bertambah dan hutan yang semula gersang menjadi hijau kembali. Masyarakat dapat menikmati hasil dari penghijauan yang dilakukan Mbah Sadiman, termasuk orang-orang yang semula mencerca dan menghalangi aktivitas sosialnya.
Di tengah tradisi pragmatisme dan oportunisme, aktifitas mulia Mbah Sadiman seperti lentera kecil penunjuk jalan. Yaitu jalan yang mesti dilalui oleh banyak orang jika ingin hidup damai dan jauh dari bencana. Dari konteks pendidikan yang dimiliki, Mbah Sadiman bukanlah sarjana yang di belakang namanya tersusun berbagai  titel akademik. Mbah Sadiman lebih tepat disebut sebagai sarjana alam. Almamater yang mendidiknya adalah lingkungan sekitarnya. Boleh jadi dosen-dosennya tempat ia menimba ilmu adalah sungai, air, batu, maupun pepohonan. 
Mbah Sadiman juga bekerja bukan karena skenario untuk mendapatkan status tinggi di masyarakat. Ia juga tak pernah mengharapkan sorotan kamera agar berbagai komunitas memberikan apresiasi kepadanya. Mbah Sadiman jauh dari tujuan pragmatis dan oportunis itu. Ia bekerja karena dilandasi dua hal, yaitu ikhlas dan sabar. Kedua sifat tersebut mudah sekali dikaji dan diucapkan, namun tak sedikit yang gagal membawanya ke arena kehidupan nyata.
Menurut para ulama, landasan berbagai aktifitas yang dilakukan manusia adalah ikhlas. Bahkan di dalam Alquran dijelaskan bahwa ikhlas menjadi dasar utama dalam menjalankan Islam. Secara semantik, ikhlas terambil dari akar kata bahasa Arab, akhlasha, yukhlishu, ikhlaasha. Kata tersebut bermakna murni, bersih, jernih dan tidak terkontaminasi. Memang demikian, Mbah Sadiman menanami hutan yang gundul karena kemurnian, kebersihan dan kejernihan hati, serta yang ia lakukan tidak terkontaminasi dengan berbagai kepentingan.
Selain ikhlas, sifat sabar menjadi penentu keberhasilan usahanya dalam merawat alam. Sabar juga bukan merupakan sesuatu yang sederhana dan dapat dilakukan setiap orang dengan mudah. Sabar adalah sifat yang menuntut perjuangan. Sebagaimana ikhlas, sabar terambil dari akar kata bahasa Arab yang memiliki arti, pengendalian, kokoh seperti batu karang dan tempat yang tinggi. Sepintas memang ketiga arti ini tidak saling terkait. Namun jika ditelisik dengan cermat, ketiga arti sabar ternyata saling mendukung dan seperti tahapan yang bersifat integratif.
Orang yang dapat mengendalikan dirinya secara baik melalui berbagai macam aktifitas, dan itu dilakukan secara konsisten seperti batu karang di lautan, maka suatu ketika orang tersebut akan menempati posisi yang mulia atau tinggi, baik di hadapan manusia, maupun di hadapan Allah. Tiga tahapan dalam sabar tersebut telah dilalui Mbah Sadiman. Yang pertama tentunya aktifitas menanam pohon. Hal tersebut ia lakukan secara konsisten, berkelanjutan dan kokoh, sekokoh batu karang di lautan. Akhirnya apa yang dilakukan Mbah Sadiman mendapatkan apresiasi tinggi di masyarakat, tentunya di hadapan Allah.
Sosok Mbah Sadiman dapat dikategorisasikan sebagai abundant personality (pribadi yang melimpah). Abundant personality ditandai dengan rasa cukup terhadap apa yang dimiliki dan kecenderungan untuk berbuat baik bagi kepentingan bersama. Secara faktual demikian adanya. Pendapatan Mbah Sadiman terbilang hanya dapat untuk mencukupi kehidupan istri dan dirinya. Namun di sisi lain ia masih dapat menyisihkan uangnya untuk membeli bibit tanaman beringin sebagai material penghijauan. Abundant personality berdiri di atas keyakinan, “apa yang dapat saya berikan untuk orang lain, bukan sebaliknya, apa yang dapat diberikan orang lain untuk saya”.
Boleh jadi, Mbah Sadiman secara fisikal kerap merasakan lapar, namun secara spiritual ia merasa kenyang. Ini menarik untuk dicermati lebih komprehensif lagi. Dalam kehidupan seperti sekarang ini tidak sedikit orang yang secara fisikal sebenarnya sudah kenyang namun spiritualnya masih merasa lapar. Illegal lodging penulis amati terjadi karena hal tersebut. Demikian pula dengan malapetaka korupsi yang akhir-akhir ini dianggap makruf (hal yang biasa). Aktifitas biadab tersebut bukan disebabkan karena pelakunya lapar secara fisikal, namun karena spiritualnyalah yang lapar.
Meskipun tidak disadarinya, Mbah Sadiman sebenarnya memberikan kritik  sosial kepada masyarakat luas. Bahwa pendidikan dan deretan titel bukan merupakan variabel penentu bermanfaatnya eksistensi seseorang atau pun tidak. Tanpa titel sekalipun, seperti Mbah Sadiman, berbagai kebajikan sosial dapat dilakukan. Bahkan betapa banyak orang yang dapat mengabdikan dirinya dengan tulus di masyarakat tanpa terlebih dahulu mengecap pendidikan tinggi. Inilah manusia terbaik seperti yang disinggung Rasulullah, yaitu orang yang dapat memberikan manfaat untuk sesama.
Justru sebaliknya, dihadapan kita sering disodorkan berbagai kejahatan di masyarakat, dan pelakunya adalah orang-orang yang pernah mengecap pendidikan tinggi. Secara nasional misalnya, para koruptor yang kini berhasil “membangun” atmosfir korupsi di negeri ini, hampir keseluruhannya pernah belajar di perguruan tinggi. Yang lebih miris lagi, khusus penganut Islam, tidak sedikit yang pernah menunaikan ibadah haji. Dalam hal ini, pendidikan tinggi dan haji tak lebih daripada predikat semu yang menyebabkan lahirnya derita kolektif di masyarakat.
Mbah Sadiman sudah menunjukkan, bahwa orang yang sering dianggap sebagai manusia biasa ternyata memiliki pemikiran dan aktifitas yang sangat luar biasa. Visi Mbah Sadiman juga jauh ke depan, menembus kabut kepentingan pribadi. Ia ingin mewariskan alam dalam keadaan damai dan tentram. Ia juga menginginkan generasi yang hidup pada masa belakangan dapat bersahabat dengan alam sebagaimana yang sudah dicontohkan generasi sebelumnya.
Ketika jutaan kaum Muslimin mendekatkan diri kepada Allah lewat zikir berjamaah, antri naik haji dengan sanjung dan puji, berlomba-lomba membeli hewan kurban, Mbah Sadiman keluar dari perangkap ritual itu. Ia mendekatkan diri kepada Allah dengan merawat lingkungan yang rusak. Getaran manfaat yang dilakukannya bukan untuk ia saja, namun untuk semua. Bagi penulis, tidaklah berlebihan jika Mbah Sadiman disebut sebagai nabi, yaitu nabi para pencinta lingkungan. Wallaahu a’lam.





0 komentar: