Jumat, 01 Juli 2016

IMM dan Proyek Besar Perubahan



Tulisan ini dibuat dalam balutan musim dingin yang meraba tulang.  Namun penulis mencoba menuangkan kalimat demi kalimat untuk melahirkan makna, kendatipun cubitan-cubitan nakal rasa dingin seringkali tak dapat dihindari.   Meski demikian, pesona dan keramahan panorama alam New Zealand, saat penulis menuangkan kalimat di kanvas pemikiran ini, menjadi penghangat sukma tersendiri. Selain itu, sistem sosial yang tertata rapi dan bernuansa islami juga menjadi bagian pijar kehangatan yang mengitari penulis.
Salah satu diskursus akademik yang selalu membangkitkan syahwat penulis adalah diskursus tentang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Penulis berhutang sejarah hidup kepada IMM. Penulis ibarat sebutir pasir yang demikian tidak berarti di tengah milyaran pasir-pasir lain yang bergerak. Namun demikian, desahan nafas dan detak jantung penulis hingga kini tak lepas dari jasa fantastik IMM.
Di lembaga tersebut, penulis mendapatkan banyak hal yang tak habis diuraikan dengan kata-kata. Mulai  dari semangat untuk bertahan hidup dan konsistensi untuk menjadi sosok  yang bermanfaat bagi kehidupan.  Dalam pandangan penulis, IMM merupakan universitas sungguhan yang mendidik para santri untuk menatap realita, memproduksi nilai-nilai yang mesti diimplementasikan, dan ladang persemaian bibit strategi untuk mencandra masa depan.
Berangkat dari kesadaran normatif tersebut, penulis melihat betapa IMM merupakan salah satu proyek mewah perubahan sosial yang dimiliki umat. Di pundaknya terletak cita-cita dan ribuan semangat perubahan, demi terwujudnya masyarakat islami sebagaimana yang dirumuskan organisasi induknya, yaitu Muhammadiyah. Di sinilah sesungguhnya peran dan fungsi IMM, yaitu sebagai laboratorium pemikiran dan pijar pergerakan.
IMM merupakan salah satu lembaga civil Islam, yaitu sebuah lembaga yang menjadi ruang kesadaran dan dialog komunitas elit. Berbeda dengan lainnya, IMM merupakan lapisan terdepan masyarakat. Elitisme komunitas IMM dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang dimilikinya, yaitu mahasiswa. Dilihat dari optik usia, rata-rata usia komunitas ini antara 18 sd 25 tahun. Rentang usia yang mencerminkan dinamika yang tinggi.
Berbagai persoalan masyarakat dikaji dan dibahas tuntas dalam berbagai diskusi bernas yang dilaksanakan. Menggiring ikhtiar ke arah itu bukan langkah yang mudah seperti membalikkan telapak tangan dan kelihaian bersilat lidah. Perlu niat yang terawat baik dan berbagai usaha yang mengiringinya. Mengingat hidangan persoalan kini kian kompleks, maka IMM perlu mempersiapkan amunisi tempur yang dibutuhkan untuk melahirkan sebuah peradaban besar yang inklusif dan berwawasan kemanusiaan.
Kasus kebangsaan yang kini terjadi di Indonesia menyeret spirit keislaman IMM untuk hadir dan turut serta mengawal eksistensi bangsa ini. Korupsi sebagai kejahatan kemanusiaan, dianggap menjadi faktor dominan yang hampir menenggelamkan bangsa ini dalam lumpur sejarah. IMM dapat menciptakan berbagai ruang dan peluang bagaimana pendidikan anti korupsi dilaksanakan. Perlu dirumuskan sebuah program inklusif kebangsaan di lingkungan IMM yang di dalamnya membahas langkah normatif dan kongkrit agar kultur korupsi tercabik dan pada akhirnya sampai pada momentum ajalnya.
Mulai dari lingkungan mini, akuntabilitas keuangan IMM dapat dipertanggungjawabkan kepada dua pihak, yaitu: laporan organisasional dan tanggung jawab kepada Allah. Seberapa pun keuangan yang beredar di lingkungan IMM tetap tercatat dalam laporan yang terpercaya dan jauh dari rekayasa. Sejujurnya, di lingkungan IMM, pendidikan anti korupsi cukup kuat. Namun rumusan konkrit dan real model yang terimplementasi tak mudah diamati.
Di New Zealand sendiri ada sebuah contoh menarik tentang super market kejujuran. Di dalamnya setiap orang dapat mengambil apa saja dan melakukan pembayaran sendiri tanpa perlu diawasi petugas. Ini berhasil dan sudah berlangsung lama. Jika dicermati, persoalan bangsa kita terletak pada kemauan dan keberanian untuk mengimplementasikan kejujuran. Super market yang penulis contohkan berada di lingkungan masyarakat sekuler, namun praktiknya islami. Budaya seperti ini dapat dimulai oleh IMM, jujur pada spektrum kecil untuk menuju spektrum yang lebih besar.
Bangsa ini terpuruk karena pilar kejujuran hampir ambruk. Ini harus menjadi nafas kesadaran IMM. Kejujuran menjadi barang mewah yang mahal sekali harganya. Beruntung, dengan landasan teologis yang kuat, bagaimana nilai-nilai kejujuran dianggap penting sebagaimana pentingnya sebuah keimanan yang selama ini terhunjam kokoh di lubuk sanubari kader-kader IMM. Agaknya, IMM perlu menjadikan nilai-nilai kejujuran tersebut sebagai modal individual yang bermuara pada aksi sosial.
Memang di sisi lain, kultur pragmatisme menjadi hambatan tersendiri dan dapat menikam nilai-nilai luhur IMM. Predikat sebagai aktifis IMM memberikan status bergengsi di masyarakat sekaligus menuntut sikap matang dan dewasa dalam bertindak. Predikat sebagai aktifis IMM dapat digunakan untuk menaikkan nilai tawar kepada masyarakat luas, siapa IMM, bagaimana gerakannya, dan apa prestasinya dalam sebuah proses pencerahan. Dari IMM kembali untuk IMM. Sementara kultur pragmatisme menyeret IMM untuk menjadi sebuah media pihak tertentu untuk menaikkan nilai tawar bagi kepentingan tertentu. Siklus gerakannya akan bergerak dari IMM, namun untuk kemaslahatan individual.
Kultur pragmatisme itulah yang kerap memproduksi konflik internal yang terkadang terjadi secara berkelanjutan. IMM dalam posisi seperti itu akan terkulai lesu dan seolah hidup dengan energi yang lemah. Sebab energi yang banyak terkuras untuk urusan konflik internal. Inilah diantara variabel penting mengapa IMM tidak pernah tumbuh dan berkembang besar secara eksternal. IMM tidak sanggup bertarung di luar, jika pun ada, maka kerap kali kalah dalam berkompetisi. Tak jarang IMM hanya menjadi lapisan kedua atau malah tak diperhitungkan sama sekali.
Kultur pragmatisme masuk ke IMM sedemikian dahsyatnya. Ungkapan-ungkapan religius dan damai di lingkungan IMM tergerus oleh ungkapan yang dirasakan kering dan instruksional, seperti: “perintah ketua”, “petunjuk ketua”, “izin menghadap ketua”, “mohon arahan ketua”. Jika dikritisi, ungkapan-ungkapan tersebut memojokkan IMM pada sebuah sudut yang kering persahabatan tulus. Kesan yang muncul adalah kepentingan yang datang bertubi-tubi. Hubungan yang dibangun hanya melahirkan “who gets what”, “siapa mendapatkan apa”, bukan sebaliknya “who gives what”, “siapa memberikan apa”. Itulah sebabnya, penulis melihat, jangan sampai IMM seperti daun pisang. Dimanfaatkan orang untuk melindungi diri dari air hujan, setelah hujan berhenti daun pisang itu pun dicampakkan, bahkan diinjak orang nan lalu.
Fenomena sebagai generasi robotik penulis amati juga menyapa IMM. Generasi robotik adalah komunitas manusia yang tidak mengenal jati dirinya, apa yang dilakukannya dan kemana dia sedang melangkah. Generasi robotik terperangkap dalam eforia gerakan secara simbolik namun tak memahami untuk apa gerakan itu ia lakukan. Generasi robotik bernafas sesuai dengan keinginan kreator yang secara jeli menyusun program-program canggih dan terencana yang sudah disiapkan. Dalam konteks ini, balutan idealisme yang disusupi berbagai kepentingan jangka pendek menumpulkan nalar kritis IMM.
Generasi robotik mudah saja dikikis bahkan dihalau dari IMM. Alquran mengajarkan kepada kita untuk tabayyun, melihat secara jeli akar sebuah persoalan untuk kemudian menentukan sikap. Imam Ali pernah berpesan agar kita arif dalam mensikapi persoalan. Kata beliau, “Jika engkau ingin menyelesaikan sebuah persoalan, maka ambillah informasi dari orang kedua sebagaimana engkau telah mengambil informasi dari orang pertama.” Pesan ini bernuansa tengahan (wasatha), tidak berat sebelah namun cenderung mempertemukan.
Batin penulis bergetar ketika menghayati Mukaddimah Anggaran Dasar IMM. Di Mukaddimah itu dijelaskan bahwa IMM bergerak untuk Muhammadiyah, untuk bangsa dan untuk dunia. Betapa cerdas dan progresifnya Mukaddimah itu. Muhammadiyah tidak mungkin ditinggalkan, karena Muhammadiyah maka IMM ada. Sebagai komunitas elit, IMM perlu menjadi katalisator perdamaian dan aktor berbagai aktifitas yang dilaksanakan Muhammadiyah. Relasi antara IMM dan Muhammadiyah seperti tubuh dan kaki. Kaki selalu melekat pada tubuh. Jika tubuh kehilangan kaki, maka langkahnya menjadi tidak seimbang. Begitu pula jika kaki terlepas dari tubuh, yang lahir adalah seonggok bangkai yang tanpa makna.
Meminjam terminologi fikih, penulis menyampaikan bahwa IMM tanpa Muhammadiyah adalah haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang dan harus dihindari. Itulah sebabnya, fatwa “nyasar” ini mesti dilekatkan dalam berbagai regulasi. Syahadah Darul Arqam Dasar (DAD) misalnya, tidak boleh diserahkan sebelum yang bersangkutan melibatkan diri di Muhammadiyah minimal tiga bulan, itu pun harus disertai bukti atau keterangan yang mendukung. Perlu pula dirumuskan kurikulum dan berbagai kegiatan lanjutan setelah perkaderan dasar itu, tentu materinya seputar penguatan ideologi Muhammadiyah.
Kepekaan IMM terhadap isu kebangsaan merupakan poin penting yang mesti dipertahankan. IMM merupakan check and balance (bersikap kritis dan pencipta keseimbangan). Kekuatan moral merupakan modal utama IMM. Penulis setuju, jika IMM turun ke lapangan untuk melancarkan berbagai aksi yang ditujukan untuk mengkritisi bahkan mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak adil. IMM melahirkan kualitas manusia yang peka terhadap lingkungannya. Inilah ulul albaab itu, yaitu kelompok manusia yang peka lahir dan batin.
Sebagaimana Muhammadiyah, IMM perlu memberikan kritik budaya dan politik terhadap berbagai kezaliman yang terjadi. Muhammadiyah mempelopori lahirnya judicial review untuk berbagai peraturan pemerintah yang menyembelih nyawa rakyat. IMM dalam berbagai konteks juga demikian, memberikan kritik konstruktif, misalnya, terkait dengan infrastruktur khususnya di kota Medan yang secara real centang prenang. Ruang hijau kota Medan tidak memadai, kegersangan menjadi selimut aktifitas yang dinikmati secara terpaksa, bahkan kemacetan menjadi momok tersendiri bagi para pengguna jalan. IMM dapat hadir dengan mengangkat berbagai isu tersebut, baik dalam tulisan, dialog, diskusi atau aksi turun ke jalan.
Penulis merasa sebagai orang yang selalu gagal dalam hidup ini. Dalam beberapa kesempatan kunjungan ke luar negeri, penulis tetap menyempatkan diri berkumpul dengan putera dan puteri terbaik Indonesia yang sedang mengambil gelar master dan doktor di berbagai universitas ternama. Kunjungan penulis ke Ohio State University beberapa waktu yang lalu, mengantarkan penulis bertemu dengan para peraih beasiswa Fullbright, LPDP, Dikti, dan seterusnya. Di antara mereka ada yang menetap di Amerika, namun sebagian besar harus mengabdi di tanah air. Mereka telah membuktikan diri sebagai tokoh dunia, menjadi penyangga laju dan berkembangnya peradaban modern.
Melihat kenyataan ini, ingin rasanya penulis kembali ke masa lalu, aktif di IMM sembari menambah kualitas keilmuan terutama penguasaan bahasa asing. Sepertinya penulis ditakdirkan Tuhan berhenti sampai di sini sembari menangisi kegagalan demi kegagalan untuk menjadi yang terbaik. Tentu saja ratapan ini tidak boleh berlangsung secara berkelanjutan. Ratapan seperti ini harus diamputasi segera, sembari melakukan kreasi terbaik dalam apa yang dapat penulis kerjakan saat ini.
Demikian pula perbincangan penulis dengan putera-puteri terbaik Indonesia yang kini tengah menuntut ilmu di beberapa perguruan Tinggi ternama New Zealand, mereka akan menjadi pilar jatuh dan bangunnya masa depan Indonesia selanjutnya. Penulis bermimpi bagaimana IMM dapat menjadi rumah tidak saja untuk pergerakan namun juga pemikiran ke arah itu. Kader-kader IMM tidak boleh dikungkung ego geografis, melihat dunia hanya sebatas halaman rumahnya, berebut lahan gerakan dan menjatuhkan para koleganya. Kader-kader IMM harus berdiri di gunung cita-cita, menatap panorama dunia sekaligus menjadi salah satu elemen perawatnya. Lima atau sepuluh tahun ke depan, jika ada kesempatan untuk berkunjung kembali ke luar negeri, penulis berbahagia sekali mendapat sebuah ungkapan, “aku adalah kader IMM”.
Kader-kader IMM harus berdiaspora, dimana saja dan kemana saja. Penulis berharap, konsep fantasyiruu fil ardh (bertebaranlah di muka bumi), menjadi semacam doktrin teologis IMM. Penggalan kalimat itu menyiratkan betapa kecilnya dunia. Sebab itu, terbuka gerbang yang demikian besar bagi kader-kader IMM untuk membuka dan memasukinya. Dari keinginan itulah kader-kader IMM dapat menjadi musafir pergerakan dan akademik.
Menyangkut  scope gerakan, kader IMM harus memainkan peran secara regional, nasional, bahkan internasional. Potensi ini mungkin bisa dilakukan selama kader-kader IMM merintis ke arah itu dan IMM menjadi fasilitator utama di dalamnya. IMM adalah sebuah proyek penting, yaitu proyek mewah perubahan yang dimiliki Muhammadiyah. Proyek mewah itu mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mencukupi. Melalui IMM perubahan masyarakat minimal sebatas benihnya dapat ditumbuhkan sebaik mungkin. Demikian semoga bermanfaat. Fastabiquul khairaat.

1 komentar:

fais El-farizi mengatakan...

sebuah tulisan insfiratif bagi kader IMM dimanapun itu. Ini harus menjadi ghiroh pergerakan. Membaca tulisan Mas qorib, seperti ditampar berkali kali dan harus kembali berkaca, "sudahkah tulus niatmu bergerak di IMM?"
terima kasih, mas.
fastaiqul khairat