Selasa, 28 Juni 2016

Gema Ramadhan di New Zealand



Gema Ramadhan setiap tahun menyapa kaum Muslimin, tidak saja berlangsung di tanah air, melainkan juga berlangsung di seluruh belahan dunia. Di Indonesia, gema Ramadhan begitu kental. Sejak saat-saat kedatangannya, pelaksanaannya, sampai kepada kepergiannya, mendapat atensi dan selebrasi yang besar. Dari kota-kota metropolitan sampai dusun-dusun yang terletak jauh dari keramaian, gema Ramadhan tetap terasa.
Hal ini wajar saja terjadi, mengingat Indonesia menjadi sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun demikian, tidak semua negara  memberikan respons sama terhadap perjalanan Ramadhan, sebagaimana yang terjadi di New Zealand. Ramadhan di Negara mungil tapi makmur ini tanpa simbol dan selebrasi. Perjalanannya hening, sehening seseorang yang duduk dalam kesendirian namun penuh pemaknaan.
Penulis berkesempatan mengunjungi dua daerah besar di New Zealand, yaitu Auckland dan Christchurch. Fenomena di kedua daerah ini lebih kurang sama. Gema Ramadhan menjadi sebuah fenomena menarik untuk dicermati. New Zealand merupakan negara dengan sistem sekular yang menempatkan agama pada wilayah private (pribadi), namun justru kebebasan beragama dijunjung tinggi oleh negara sebagai hak dasar setiap individu.
Berangkat dari regulasi ini, kaum Muslimin bebas melaksanakan puasa Ramadhan tanpa mendapat halangan. Siapa saja yang berupaya menghalangi seseorang dalam melaksanakan ibadah puasa maka akan berhadapan dengan hukum. Hukum cukup dihormati dan dijunjung tinggi. Hal ini dapat dilihat dari sistem sosial yang tertata rapi, jauh dari kesan semrawut dan tak berperadaban. Mulai dari kebersihan, keramahan, ketaatan terhadap peraturan lalu lintas, memanjakan setiap orang yang datang ke New Zealand.
Simbol-simbol agama apa pun tidak pernah terlihat kecuali di tempat-tempat tertentu, seperti masjid dan gereja. Di gereja sendiri, lonceng kebaktian tidak pernah terdengar, sama seperti azan. Pengeras suara hanya diperbolehkan di dalam ruangan, namun tidak boleh keluar karena dapat mengganggu kenyamanan kolektif. Meskipun gereja dapat dijumpai di banyak sudut kota, namun kebaktian dilaksanakan tanpa mengganggu pihak lain.
Kultur toleransi di New Zealand terbilang tinggi. Menurut penuturan beberapa rekan penulis yang bekerja sebagai pegawai di instansi pemerintah maupun swasta, setiap orang bebas melaksanakan keyakinannya. Sebagai contoh, jika waktu berbuka puasa tiba dan bersamaan waktunya dengan jam kerja, maka bagi yang berbuka puasa diberikan waktu luang untuk berbuka puasa sampai pelaksanaan shalat maghrib. Sarana ibadah seperti musholla disediakan, meskipun tidak di setiap tempat.
Para orang Kiwi, sebutan untuk penduduk New Zealand, tidak akan sungkan membuka kantornya bagi seorang Muslim untuk melaksanakan sholat. Bahkan penulis melaksanakan sholat maghrib berjamaah di Musholla Universitas Lincoln yang memang dibangun secara khusus. Tentu di berbagai Universitas lain seperti Universitas Canterbury, Universitas Auckland, fasilitas itu mudah dijumpai.
Puasa Ramadhan pada tahun ini 1437 H./ 2016 bertepatan dengan musim dingin (winter). Dapat dibayangkan, rasa haus yang biasa meraba tenggorokan tidak begitu berpengaruh. Waktu rata-rata pelaksanaan puasa Ramadhan adalah 11 jam. Di Auckland misalnya, waktu berbuka berada pada kisaran pukul 17.15 sementara Imsak pada pukul 06.00. Waktu puasa di Christchurch 15 menit lebih cepat. Suhu rata-rata di Auckland antara 10-15 derajat celcius, sementara di Christchurch antara 4-10 derajat celcius.
Keadaan ini cukup berbeda jika Ramadhan bertepatan dengan musim panas (Summer). Selain cuaca yang agak ekstrim, puasa pada musim ini terbilang panjang. Biasanya, kaum Muslimin berbuka puasa pada pukul 21.30 dan harus bangun pada pukul 02.30 pagi untuk makan sahur. Dapat dibayangkan, betapa singkatnya malam hari yang hanya berlangsung dari pukul 21.30 sampai pukul 03.00. Di rentang waktu tersebut kaum Muslimin melaksanakan shalat Maghrib, Isya, dan Tarawih.
Di New Zealand, kaum Muslimin tidak dengan mudah dapat membeli makanan untuk berbuka puasa. Tidak seperti di Indonesia, di berbagai tempat dijumpai menu berbuka puasa yang dapat dibeli dan disesuaikan dengan selera dan kemampuan. Di negara ini, menu-menu kegemaran tidak akan ditemui kecuali disiapkan sendiri. Selain itu, status hukum makanan mesti diperhatikan secara jeli. Tak jarang menu makanan yang dijual tidak sesuai dengan syariat Islam.
Itulah sebabnya, aktifitas buka puasa bersama menjadi salah satu momen yang cukup dirindukan oleh kaum Muslimin Indonesia. Selain dapat bertukar informasi, menjalin silaturrahim, buka bersama juga dapat dipergunakan sebagai media untuk mengaktifkan kembali lidah Indonesia yang setelah sekian lama “tersandera” oleh keadaan. Penulis merasa kagum dengan salah seorang warga Indonesia yang menempuh perjalanan 250 km. hanya untuk buka puasa bersama. Selain memang beliau ingin bersilaturrahim dengan yang lain.
Di beberapa masjid seperti An-Nur di Christchurch dan Air Port Mosque di Auckland, buka puasa bersama dilaksanakan secara rutin. Biasanya panitia yang mengelola adalah kaum Muslimin India. Menu yang disajikan juga khas India. Penulis juga berkesempatan hadir di acara itu. Menariknya, umat Islam yang ikut buka puasa bersama datang dari banyak negara seperti Burma, Malaysia, Singapura, Mesir, Arab Saudi dan Bangladesh. Meskipun persoalan kebersihan dan kerapian menjadi poin penting yang harus ditingkatkan.
Masyarakat Muslim Indonesia, selain ada yang melaksanakan tarawih di masjid-masjid umum, juga menggunakan rumah-rumah mereka sebagai musholla sementara. Penulis juga diminta untuk menjadi imam sekaligus penceramah pada acara tersebut. Antusiasme mereka tinggi. Tak jarang mereka membawa anak-anak mereka untuk mengikuti sholat tarawih itu untuk menanamkan nilai-nilai keislaman. Meskipun sebagian besar dari anak-anak itu tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik.
Secara umum, masyarakat Muslim Indonesia dapat dikategorikan ke dalam beberapa varian: Pertama, citizen. Mereka merupakan warga negara tetap dan memiliki passport New Zealand. Kedua, indefinite citizen. Mereka merupakan warga negara Indonesia yang boleh tinggal di New Zealand dalam waktu yang tidak terbatas. Ketiga, permanent resident. Mereka merupakan warga negara Indonesia yang boleh tinggal di New Zealand dalam waktu lama, namun dalam waktu tertentu harus melapor ke kantor imigrasi. Jika mereka meninggalkan New Zealand selama dua tahun berturut-turut, maka haknya sebagai permanent resident akan hilang. Keempat, international setudent. Mereka tinggal di New Zealand selama masa studi. Kelima, pekerja. Mereka tinggal di New Zealand karena urusan pekerjaan.
Berbagai kategori itu lebur menjadi satu dalam banyak kesempatan, termasuk acara-acara hari besar keislaman. Hubungan emosional mereka menjadi lebih erat karena dilatarbelakangi oleh faktor ke-Indonesiaan. Dalam pembacaan penulis, paham keagamaan umat Islam Indonesia tidak tunggal. Pengaruh Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Al-Irsyad, salafy, sedikit mewarnai. Meskipun terkadang terjadi gesekan kecil, namun persaudaraan tetap terawat baik.
Ikhtiar untuk mempertahankan Islam bagi masyarakat Islam Indonesia di New Zealand perlu mendapat apresiasi dan dukungan moral. Di samping kemakmurannya, kultur free sex (sex bebas) dan minuman keras menjadi tantangan tersendiri. Seorang remaja yang sudah mencapai usia 18 tahun akan diberikan kebebasan untuk hidup bersama pasangannya tanpa ikatan perkawinan. Bahkan tidak sedikit yang sudah memiliki beberapa anak namun tetap belum melangsungkan perkawinan. Demikian pula tantangan yang disajikan minuman keras. Semuanya dianggap legal, tentu dengan peraturan tertentu.
Karena itulah, lembaga-lembaga keislaman yang dikelola oleh masyarakat Indonesia seperti Umat Muslim Indonesia (UMI) di Wellington dan Himpunan Umat Muslim Indonesia Auckland (HUMIA) di Auckland perlu mendapat atensi besar para da’i di Indonesia. Secara umum mereka haus akan siraman ruhani dan rindu kedatangan para da’i Indonesia. Kerjasama mereka dengan lembaga-lembaga seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama untuk pengiriman da’i mulai dirintis.
HUMIA misalnya meminta kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) di Jakarta seorang da’i yang dapat diterbangkan ke New Zealand. Selanjutnya Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta lembaga pendidikan Tinggi, seperti Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), untuk mengutus da’i-nya. Penulis sendiri berangkat ke New Zealand dari UMSU atas nama PP Muhammadiyah. Kedepan diharapkan ada da’i-da’i yang melakukan aktivitas sama di New Zealand untuk memberikan pencerahan keagamaan. Demikian semoga bermanfaat.

2 komentar:

juwai riah mengatakan...

Subhanallah,,, sangat menginspirasi mas... Semoga dapat mengikuti jejak mas.. Bermanfaat bagi ummat.. :)

Shareza Hafiz mengatakan...

Proud of u sir. #ALWAYS