Sabtu, 23 April 2016

Narkoba dan Respons Agama


Tantangan-tantangan yang tersaji di pentas kehidupan akhir-akhir ini semakin menuntut rasa khawatir kita. Mulai dari kasus pembunuhan yang berujung mutilasi sampai kepada peredaran narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif) terjadi secara masif.  Untuk yang terakhir, telah mengantarkan Indonesia sebagai negara dengan predikat “darurat narkoba”. Predikat ini bukan menyeruak sebagai opini yang tidak beralasan, melainkan lahir dari fakta-fakta hitam di lapangan. Mulai dari pejabat tinggi negara, artis, akademisi, oknum aparat keamanan, tua dan muda, tak lepas dari sentuhan lingkaran setan itu.
Dalam merespon fakta tersebut, seperti yang diberitakan Kompas.Com, baru baru ini Presiden Joko Widodo sempat menggelar rapat terbatas di kantor Presiden. Hasil dari pertemuan para pejabat negara tersebut dapat disimpulkan dalam dua hal: Pertama, perlunya sinergitas antar satu departemen dengan departemen lainnya untuk membendung arus peredaran sekaligus pemberantasan narkoba. Ego sektoral dalam konteks ini diletakkan pada posisi belakang. Narkoba menjadi semacam common enemy (musuh bersama) semua pihak. Kedua, perlunya disusun by design (secara terencana) langkah-langkah rehabilitasi para pemakai narkoba.
Presiden Joko Widodo juga menginformasikan bahwa di Indonesia korban narkoba yang meninggal dalam satu hari berjumlah 50 orang. Sementara dalam satu tahun korban meninggal dunia akibat narkoba dapat mencapai 18.000 orang. Pada 2015, jumlah pengguna narkoba yang terdaftar direhabilitasi mencapai 4.5 juta orang. Hal yang juga mencengangkan disampaikan Kepala BNN Komjen Pol. Budi Waseso, menurutnya, 62 persen peredaran narkoba yang terjadi di Indonesia dikendalikan dari rumah tahanan. Wajar saja, predikat “darurat narkoba” yang disemat Indonesia menuntut atensi kolektif berbagai pihak.
Untuk melengkapi ikhtiar tersebut, maka kesadaran beragama dalam kasus perang melawan narkoba seperti yang digemakan Presiden Joko Widodo tidak bisa diabaikan. Indonesia memang bukan negara agama, namun dapat dipastikan bahwa hampir seluruh masyarakatnya menganut agama. Respon agama terhadap narkoba dapat dilihat dari seperangkat penjelasan normatif dan penawaran nilai-nilai untuk mengantisipasi narkoba tersebut.

Narkoba dan Khamr
Istilah narkoba tidak dikenal di dalam Alquran, namun terdapat kata yang secara substantif sama bahkan mengandung makna lebih luas daripada narkoba, yaitu khamr. Sebagaimana dijelaskan dalam Ensiklopedi Alquran: Kajian Kosa Kata (2007) bahwa secara semantik khamr berarti tutup. Segala sesuatu yang berfungsi sebagai penutup disebut khimaar. Kata tersebut lebih populer diartikan dengan kerudung atau tutup kepala wanita. Arti lain dari khamr adalah minuman yang memabukkan. Disebut khamr, karena minuman keras memberikan pengaruh negatif yang dapat melenyapkan akal pikiran.
Kata khamr di dalam Alquran disebut enam kali, antara lain dalam Q.S. Al-Baqarah/ 2: 219 dan Q.S. Al-Maa’idah/ 90 dan 91. Memang inti pembicaraan Alquran dalam ayat ini berkisar pada hukum meminum jenis minuman tersebut. Alquran menegaskan bahwa hukum meminum khamr adalah haram. Menariknya, penetapan hukum haram tidak terjadi sekaligus, melainkan secara gradual. Jika ditelusuri secara antropologis, khamr merupakan simbol status sosial yang cukup lekat dengan masyarakat Arab dan sudah menjadi tradisi sendiri. Melarang sebuah tradisi untuk ditinggalkan tanpa proses tentunya tidak sejalan dengan hikmah diturunkannya Alquran secara berangsur-angsur.
Narkoba dan khamr meskipun terbaca berbeda secara tekstual, namun keduanya berpengaruh pada penurunan daya kerja akal. Dengan demikian narkoba dapat disamakan dengan khamr karena berfungsi menutupi kinerja akal. Menurut As-Syathibi, salah satu tujuan diturunkannya agama kepada umat manusia adalah untuk menjaga akal (hifz al-aql) agar tetap berfungsi secara baik. Salah satu letak kelebihan umat manusia dibanding mahluk-mahluk Allah yang lain adalah potensi akal. Sebab itulah mengkonsumsi narkoba dilarang dalam Islam. Narkoba itu sendiri menjadi momok paling berbahaya dan dapat dikategorikan pembunuh berdarah dingin.
Dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam Ahmad dinyatakan bahwa Rasulullah melarang semua yang memabukkan dan mufattir. Kata mufattir diartikan dengan yang membuat lemah. Karena memang narkoba membuat akal menjadi lemah. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dijelaskan bahwa Rasulullah melarang umatnya untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak dan merugikan diri sendiri. Balasan untuk pelakunya adalah neraka jahannam. Jika dilacak secara jeli, narkoba dengan berbagai formatnya sesungguhnya benda lama dengan kemasan baru.
Dalam hal ini, ada beberapa kerugian sebagai konsekuensi penggunaan narkoba, yaitu: Pertama, kerugian di dunia. Hal ini dapat meliputi kerugian fisik, mental dan tentu saja sangsi sosial. Kedua, kerugian di akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran dan hadis, bahwa narkoba membunuh kemampuan akal. Sementara akal merupakan salah satu bagian penting dalam beragama. Membunuh akal sama saja dengan mendisfungsikan agama. Selain itu, Allah memberikan ancaman berat bagi para bandar dan pengguna narkoba.
Sebab itulah, para pemuka agama mesti memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan umat dari bahaya narkoba. Tantangan yang diajukan zaman terhadap Islam bukan hanya menyangkut pendangkalan akidah dan pemurtadan saja. Kini umat malah dikejutkan dengan tantangan yang sama dahsyatnya dengan hal tersebut, yaitu narkoba. Mengawal akidah umat memang penting dan memagari umat dari gerakan pemurtadan juga harus dilakukan. Sementara narkoba dapat merusak skenario pembentukan umat. Narkoba akan melahirkan generasi dengan kelengkapan raga namun tanpa sukma. Dalam hal ini tidak ada kata berhenti melawan narkoba.
Serangan laten yang dilakukan para bandar dan pengguna narkoba lebih berbahaya daripada terorisme. Terorisme terjadi tidak dalam setiap saat, namun narkoba dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Jaringan yang dibangun tidak saja berskala lokal, nasional, tapi juga internasional. Indonesia dianggap lahan subur dan menjanjikan dalam peredaran narkoba. Musnahnya satu generasi tidak selalu diakibatkan oleh terjadinya bencana alam dan berlangsungnya peperangan.  Penyalahgunaan narkoba oleh masyarakat dapat pula menyebabkan musnahnya satu generasi.

Ikhtiar yang Dilakukan
Perang melawan narkoba kini menjadi tugas kolektif berbagai pihak termasuk para pemuka agama. Nilai-nilai yang diberikan agama sebagai pagar moral dalam hal ini cukup signifikan dan senantiasa dinantikan. Penanaman nilai-nilai keimanan menjadi bagian penting dan salah satu strategi mencegah peredaran narkoba. Dalam teks keagamaan dijelaskan secara eksplisit betapa narkoba menjadi isu penting yang wajib dicegah dan dijauhi karena dapat merugikan keberlangsungan dan suasana normal kehidupan seseorang.
Respon keluarga dalam membimbing anggotanya untuk menjauhi narkoba juga amat berperan. Keluarga broken home berpotensi terjerat lingkaran narkoba. Seorang anak ketika tidak merasa nyaman tinggal dalam sebuah keluarga, maka ia akan mencari komunitas yang memberikannya kenyamanan dan dapat mengakui eksistensi dirinya. Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh para bandar narkoba untuk mencari korban. Dalam hal ini, nilai-nilai sakiinah (rasa tenteram), mawaddah (rasa cinta), dan rahmah (rasa sayang), menjadi sebuah kebutuhan mendasar.

Seperti disampaikan Rasulullah, jika seseorang berteman dengan pandai besi maka ia akan mendapatkan panasnya api minimal debunya. Berteman dengan penjual minyak wangi meskipun minyaknya tidak didapatkan maka aromanya yang wangi dapat tercium. Berteman dengan pengedar dan pengguna narkoba juga seperti itu. Meskipun narkobanya tidak dikonsumsi, maka atmosfir narkoba dapat memberikan pengaruh. Dengan demikian, memilih teman dalam pergaulan mutlak diperlukan untuk menghindari pengaruh narkoba tersebut. Bergaul dan berkomunikasi dengan mereka dibenarkan dengan alasan-alasan tertentu. Seorang ahli hikmah mengingatkan bahwa tabi’at itu suka meniru. Sebab itu, tirulah orang-orang baik dan shaleh dalam pergaulan. Mari kita bentengi diri dan keluarga kita dari perngaruh narkoba melalui agama. Wallaahu a’lam.

0 komentar: