Rabu, 23 Maret 2016

Ironi Gerakan Dakwah



Dakwah dalam konteks gerakan Islam diibaratkan jantung yang mengalirkan darah ke sekujur tubuh. Posisi dakwah sebagai instrumen transformasi nilai-nilai ke berbagai aspek kehidupan. Dakwah merupakan dinamisator, dengannya Islam dapat berkembang dan tanpanya Islam boleh jadi terpuruk menjadi semacam material sejarah yang mati. Sampainya Islam yang menjadi sistem keyakinan kita saat ini adalah konsekuensi logis dari pelaksanaan dakwah tersebut.

Masalah Dakwah
Dalam perkembangan kontemporer sebagaimana yang kita saksikan kini, dakwah sejatinya tajam seperti radar. Berbagai permasalahan pelik yang dihadapi masyarakat dapat ditangkap dan dipecahkan secara baik. Jika dipaparkan secara luas, masalah-masalah yang dihadapi umat demikian beragam. Tak jarang diantaranya mengancam kehidupan umat, dan yang lebih mencekik kesadaran kita adalah menipisnya volume keimanan sebagai benda paling berharga dalam Islam.
Terdapat dua masalah besar yang menjadi tantangan dakwah pada masa sekarang, yaitu: masalah internal yang disebabkan oleh umat Islam sendiri, dan masalah eksternal yang disebabkan oleh skenario global untuk memperlemah dakwah Islam. Kedua masalah ini menarik untuk dicermati agar umat memiliki kesadaran kolektif sembari merawat energi yang masih ada untuk gerakan dakwah selanjutnya.
Masalah internal yang dihadapi umat Islam menjadi tantangan dakwah yang demikian berat, menyangkut tidak saja rendahnya kesadaran dan lemahnya kemauan untuk maju, namun juga sikap tertutup selain tak ambil pusing dengan  berbagai perubahan yang terjadi. Pada konteks ini umat Islam sering bersikap  gagap, tertutup, curiga dan defensif dengan hal-hal baru yang berkembang, seperti isu-isu kemanusiaan universal. Isu-isu ini bisa menyangkut radikalisme, toleransi, demokrasi, gender, maupun Hak Asasi Manusia (HAM).
Jika ditilik secara mendalam, isu-isu yang dianggap kontemporer dan menjadi wacana global ini sebenarnya bukanlah tema baru yang menakutkan dan mengancam dilihat dari perspektif Islam. Alquran maupun hadis menyinggung hal ini. Bahkan untuk beberapa hal Alquran mengungkapkanya secara eksplisit. Misalnya saja tentang perempuan. Posisi perempuan dalam pandangan Islam cukup mulia, tidak saja secara teologis, namun kesempatan untuk aktif di ruang publik.
Pada abad pertengahan yang dikenal dark age (zaman kegelapan), posisi perempuan amat rendah dan terpinggirkan baik dalam konteks sosial maupun politik. Tahun 60-an, muncul gerakan feminisme yang berupaya mengubur sejarah gelap kaum perempuan. Sampai kemudian dukungan terhadap kaum perempuan merasuk dan menjadi bahan kajian di dunia Islam. Namun karena isu itu digulirkan oleh Barat, maka umat Islam terbelah ke dalam mazhab-mazhab pemikiran. Memang menerima secara total ide-ide Barat terkait hal ini adalah sikap gegabah, menolaknya secara menyeluruh juga tindakan yang tidak arif. Sikap wasathaa (tengahan) yang mesti dikedepankan adalah kritis-integratif.
Sejujurnya, tanpa gerakan feminisme itu pun masalah perempuan tetap menjadi salah satu tema khusus dalam Alquran. Namun umat Islam seringkali heboh dan reaktif. Secara sederhana, salah satu surah dinamakan An-Nisaa’ yang berarti kaum perempuan. Gagasan global yang ingin disampaikan Alquran adalah betapa pentingnya mengangkat derajat kaum perempuan. Ini artinya, pembahasan tentang kaum perempuan menjadi bagian integral Alquran yang memang diharuskan.
Isu-isu lain, seperti perbedaan dalam praktik ritual, kurang mendapatkan respon senada. Seperti sebuah lingkaran setan, energi umat Islam tersedot sia-sia. Mestinya hal itu dapat digunakan untuk membangun kembali peradaban Islam yang kini lumpuh dan menjadi tontonan orang. Dakwah yang semestinya tampil dengan wajah yang menyejukkan dan merangkul, berubah sangar dan memukul. Uniknya, yang dipukul adalah saudara-saudara sendiri sebagai pemilik sah Islam ini.
Masalah eksternal yang menghambat dinamika dakwah muncul dari luar diri umat Islam. Peta perpolitikan dan perekonomian dunia kini tidak berpihak pada umat Islam. Namun uniknya sumber konflik politik dan perebutan sumber-sumber ekonomi ada di dunia Islam. Ini menarik untuk dicermati. Dunia Islam yang terhampar dari Gambia di Afrika Barat sampai Indonesia di Asia Tenggara seperti sebuah dadu yang pergerakannya tergantung pada sang pelempar.
Pada satu sisi, dunia Islam sulit bersatu. Namun pada sisi lain, negara-negara Islam bersikap lembut dan bersahabat dengan negara-negara Barat dan sekutunya.  Barat dalam hal ini Amerika dan Rusia menjadi pelempar  dadu yang demikian berpengaruh. Rutinitas konflik antar sesama umat Islam bagi Barat menjadi pasar emas yang cukup menjanjikan. Ketika Barat sibuk mengekspor berbagai merek senjatanya sekaligus mendapat devisa bagi negara, dunia Islam sibuk menghabiskan anggaran negara untuk membeli senjata perang di tengah isak tangis dan kesengsaraan rakyatnya.
Betapa senangnya negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, Jerman dan Perancis, mendapatkan keuntungan jutaan dolar dari penjualan senjata mereka. Uniknya, negara-negara dunia ketiga dalam hal ini negara-negara Islam asyik masyuk mengimpor senjata-senjata canggih Barat dan sekutunya. Lebih unik lagi, moncong-moncong senjata itu diarahkan ke negara-negara Islam pula. Ini merupakan sebuah fakta yang tidak dapat diterima akal sehat.
Kompleksitas problem dakwah semakin berat ketika masalah politik dan ekonomi di berbagai negara Islam dianginkan ke berbagai negara Islam lain. Tidak sampai di situ, masalah politik dan ekonomi lebih membakar di saat penafsiran agama menjadi alat legitimasi yang bersifat disintegratif. Konflik politik dan ekonomi antara Arab Saudi versus Iran pada level akar rumput menjadi konflik teologis. Padahal sebelum meletusnya revolusi Islam Iran 1979, Arab Saudi dan Iran seperti sahabat sejati. Masalah teologis muncul ketika satu sama lain merasa terusik secara politis dan ekonomis.
Arab Saudi dengan petro dolarnya dan Iran dengan kecerdikan dan gerakan kulturalnya merambah negara-negara Islam lain sebagai ladang persaingan. Sebagaimana dimafhumi, Arab Saudi yang sebagian besar berpaham Ahlussunnah dan Iran yang sebagian besar berpaham Syiah bersaing keras untuk mendapatkan pasar simpati. Keduanya mencoba untuk membelah dunia ke dalam dua kategori, yaitu: kami dan kalian.
Dakwah dalam konteks ini seperti kibasan pedang yang diayunkan oleh pendekar mabuk yang tak sadarkan diri. Alih-alih mencerdaskan, umat semakin bergerak kencang ke belakang. Orang lain sudah menciptakan berbagai penemuan ilmiah sementara umat Islam hidup bahagia di atas pusaran konflik internal yang memilukan.
Materi dakwah yang semestinya menjurus pada pengentasan kemiskinan, pembangunan peradaban yang kini sirna dari tangan umat Islam, berganti menjadi materi saling menghujat, saling menyalahkan, saling memojokkan, dan pada konteks tertentu saling mengkafirkan dan fatwa mati. Inilah ironi dakwah itu. Bagaimana model khairu ummah (umat terbaik) dapat terwujud jika umat Islam masih berkubang di lumpur konflik. Predikat sebagai umat terbaik hanyalah utopia.
Benar kata Muhammad Abduh, kebesaran Islam mahjuubun (tertutup) karena perilaku umat Islam itu sendiri. Meminjam semangat Bung Karno, bahwa musuh yang terbesar umat Islam bukan mengusir Amerika dan sekutunya dari dunia Islam, melainkan konflik internal antar umat Islam itu sendiri. Masih menurut Bung Karno, umat Islam memilih mengamalkan abu Islam ketimbang api Islam.

Menepis Ironi
Agar tidak menjadi sebuah ironi, maka dakwah mesti mengangkat isu-isu yang menjadi kebutuhan manusia secara global. Ke depan dakwah harus direvolusi. Revolusi dakwah menyangkut masalah kebutuhan umat Islam secara real. Dakwah tidak saja berisi janji-janji manis yang berujung surga. Dakwah merupakan jihad menciptakan peradaban asri yang dapat dinikmati manusia sejagad.  Dakwah adalah aktifitas spiritual dan sosial yang memformat umat untuk hidup bahagia secara material dan spiritual, duniawi dan ukhrowi. Wallaahu a’lam.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

0 komentar: