Kamis, 24 Maret 2016

IMM tanpa Muhammadiyah



Bung Karno pernah menantang, “Berikan kepadaku seratus orang tua, akan ku taklukkan puncak Semeru. Berikan kepadaku sepuluh pemuda, akan ku taklukkan dunia.” Bung Karno memposisikan pemuda sebagai elemen penting perubahan. Dengan gelora yang tinggi dan semangat membaja, pemuda dapat melakukan banyak hal untuk membangun masyarakat. Terkait hal ini, sebagai salah satu elemen pemuda, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagaimana harapan Bung Karno dapat menjadi bagian penting perubahan. Jangankan puncak Semeru, dunia dapat diguncangkan kader-kader IMM.
Siapakah IMM sebagai agen perubahan itu? Pertanyaan kecil ini dapat dijawab dengan menelusuri karakteristik IMM. Di antara keputusan-keputusan resmi yang dapat dijadikan landasan normatif kajian tentang IMM salah satunya adalah Mukaddimah Anggaran Dasar IMM. Dalam Mukaddimah itu kelihatan watak IMM yang sesungguhnya. Terdapat beberapa poin penting yang dapat menjadi standar acuan kader-kader IMM dalam bertindak.
Pertama, kutipan Surah al-Faatihah. Apa pentingnya Surah ini dikutip dalam Mukaddimah? Surah al-Faatihah disebut pula ummul kitaab (Ibu Alquran). Dengan kata lain, gambaran global Alquran dapat dilihat dari kandungan al-Faatihah. Selain itu al-Faatihah mengandung nilai-nilai tauhid yang murni, karena ketauhidan adalah hak Allah. Di sini kader-kader IMM diharapkan memiliki tauhid murni, tidak bercampur dengan berbagai model syirik, baik syirik teologis, syirik kultural, syirik struktural maupun syirik sosial.
Sebagai Ummul Kitaab, al-Faatihah kaya nilai-nilai. Misalnya nilai-nilai ritual dan sosial. Hal ini dapat dilihat dari penggalan kalimat na’budu, menunjukkan ritualisme yang diwujudkan melalui shalat, puasa, dan nasta’iin, menunjukkan bentuk kepasrahan kepada Allah. Persoalan pertama dan terpenting dalam ber-IMM adalah pengakuan akan kebesaran Allah, bukan IMM itu sendiri. Tauhid kader-kader IMM harus kuat dan ibadahnya harus tertib. Perkaderan yang sesungguhnya bukan terletak pada Darul Arqom Dasar (DAD), Darul Arqom Madya (DAM) dan Darul Arqom Paripurna (DAP), melainkan implementasi nilai-nilai tauhid dan praktik ibadah yang dilakukan secara konsisten.
Tauhid yang kuat dan ibadah yang tertib dimulai dari masjid. Integrasi antara kegiatan yang dilaksanakan IMM dengan masjid adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Masjid mesti menjadi basis kekuatan IMM. Di dalamnya digodok berbagai ide bernas dan dari sana langkah gerakan dimulai. Masjid juga merupakan simbol keislaman yang melekat dalam tubuh IMM. IMM adalah gerakan kemahaiswaan Islam, berada di lingkungan Islam dan berjuang untuk kepentingan Islam. Sebab itu, rasa asing terhadap masjid adalah sesuatu yang asing. IMM harus dengan masjid bukan tanpa masjid.
Kata na’budu dan nasta’iin (kami menyembah dan kami mohon pertolongan) mengisyaratkan kebersamaan. Hal ini penting dimengerti. Kebersamaan selalu melahirkan kekuatan. Apapun kegiatan yang dilaksanakan dan seberat apapun masalah yang dihadapi, jika kebersamaan menjadi acuan, maka banyak hal yang dapat dilakukan. Melihat pentingnya kebersamaan ini, maka konflik internal, mosi tidak percaya, kepemimpinan tandingan, tidak memiliki akar-akar teologis.
Kedua, IMM sebagai gerakan dakwah. Sebagai gerakan dakwah maka IMM melakukan berbagai gerakan yang bermanfaat bagi banyak pihak. Gerakan terambil dari akar kata gerak yang berarti hidup. Hidup adalah sebuah keadaan tidak mati. Jika IMM tanpa gerakan sama artinya ia sudah mati. Sebagai gerakan dakwah, maka IMM dapat melaksanakan aktifitas di berbagai dimensi, tentu yang masih terkait dengan predikatnya sebagai mahasiswa. Dakwah dalam konteks ini dapat dipahami secara luas, bukan hanya sebatas ceramah dan pengajian.
IMM diisi oleh para kader yang berasal dari berbagai latar belakang ilmu. Masing-masing kader dapat mengamalkan ilmunya di lingkungan kampus atau lingkungan masyarakat. Aktifitas demikian dapat dikelompokkan pada gerakan dakwah. Oleh sebab itu, setiap kader IMM adalah da’i, minimal bagi dirinya sendiri. Karena berpredikat sebagai da’i maka kader-kader IMM mesti mematangkan pikiran dan perilaku terpuji.
Ketiga, hubungan IMM dengan Muhammadiyah. Secara organisasional dan ideologis, IMM tidak bisa menjauh dan dijauhkan dari Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah, IMM merupakan lapisan elit dimana berbagai ide-ide bernas disemai dan gelontorkan. Muhammadiyah menjadikan IMM sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna dakwah Muhammadiyah. Diktum tersebut perlu dipahami dengan baik, tidak mungkin dakwah Muhammadiyah bermuara pada hasil maksimal sekiranya mengabaikan IMM.
Sebagaimana Muhammadiyah, IMM adalah gerakan tajdid yang memainkan peran sebagai stabilisator. Peran ini menjelaskan posisi IMM sebagai penyeimbang keadaan. Ini posisi yang mulia. IMM dalam konteks seperti ini menjadi rahmatan lil Muhammadiyah (rahmat bagi Muhammadiyah). Integrasi IMM di Muhammadiyah benar-benar merupakan blue print (cetak biru Allah). Sebab selain berperan sebagai stabilisator IMM merupakan anugerah terbesar bagi Muhammadiyah, mengingat kader-kader IMM adalah lapisan masyarakat terdidik yang mendapat julukan “maha”. Inilah salah satu keunikan dan credit point (nilai tambah) bagi IMM.
Hubungan IMM dengan Muhammadiyah perlu dirawat dari waktu ke waktu. Hubungan ini juga meniscayakan bahwa setiap kader IMM adalah kader Muhammadiyah. Ironi dapat saja muncul sekiranya kader IMM mengambil jarak dengan Muhammadiyah. Apabila ini terjadi maka dapat dipastikan kader tersebut seperti sosok intelektual yang tak mengenal jadi dirinya. Kader seperti ini bukan saja menjadi pribadi yang tak punya visi, tapi juga pribadi yang kerap melahirkan masalah.
Kekhawatiran tersebut muncul karena bergerak dari kenyataan. Ada kader IMM yang mengenal Muhammadiyah ketika ber-IMM, namun enggan mematangkan ke-Muhammadiyahannya di Muhammadiyah. Kader seperti ini merasa besar di IMM namun tidak menyadari siapa orang tua yang telah membesarkannya. Berbagai kegiatan di Muhammadiyah tak pernah ia ikuti, mulai dari ranting, cabang, daerah maupun wilayah. Jika ini terjadi, maka pertanyaan yang muncul adalah untuk apa ia ber-IMM? Padahal sesungguhnya IMM adalah anak panah Muhammadiyah. Situasi seperti ini akan melahirkan apa yang disebut anomali ideologi, dimana kader IMM tak mengenal  Muhammadiyah.
Dalam Anggaran Dasar (AD) IMM pasal tujuh secara tegas dinyatakan bahwa IMM bertujuan untuk membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Sementara substansi tujuan Muhammadiyah adalah menjadi pengawal dan pengamal agama Islam yang bermuara pada lahirnya komunitas masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. AD IMM ini tidak boleh dikubur dalam lorong waktu dan dilupakan di buritan kegiatan. AD IMM dalam hal ini menjadi semacam jangkar bertambat. IMM dalam keadaan bagaimanapun tetap terkoneksi dan terintegrasi dengan Muhammadiyah.
AD tersebut juga sebenarnya menyatakan bahwa tidak ada kegiatan IMM yang tidak bersinerji dengan Muhammadiyah. Rasa lebih sebagai komunitas terpilih dan terdidik karena berpredikat “maha” sedapat mungkin dieliminir. Predikat tersebut sesungguhnya menuntut kesiapan pikiran dan kesantunan  berperilaku agar dapat menjadi teladan warga Muhammadiyah dan tentu saja masyarakat umum. Tantangan terbesar IMM adalah pola pikir dan karakter yang dipraktikkan kader-kader IMM itu sendiri. Opini yang sering menggiring orang berkesimpulan negatif terhadap kader-kader IMM mesti dihempang dengan aktifitas-aktifitas yang sejuk, lembut dan merangkul berbagai pihak.
IMM juga merupakan dinamisator bagi Muhammadiyah. Dinamisator memiliki akar kata yang sama dengan dinamis, yang secara sederhana berarti selalu bergerak, dan seakar dengan dinamika yang berarti pergerakan. Ini berarti IMM merupakan wadah dimana kader-kader Muda Muhammadiyah bergerak dan melakukan pergerakan. Siklus gerakan IMM berangkat dari Muhammadiyah dan bermuara untuk kepentingan Muhammadiyah. Jangan ada kesan IMM tanpa Muhammadiyah. IMM tanpa Muhammadiyah berarti melawan kesejatian dirinya.  IMM lahir di Muhammadiyah, berkembang untuk Muhammadiyah, dan aktifitas yang dilakukan bermuara untuk kepentingan Muhammadiyah.
Responsibilitas kader IMM sebagai warga persyarikatan wajib ditanamkan dari waktu ke waktu. Kepribadian IMM adalah kepribadian Muhammadiyah. Sebuah kepribadian yang diformat dari nilai-nilai suci Alquran dan hadis. Alquran  mesti didekati setiap saat, dan hadis harus menjadi pedoman tehnis dalam bersikap. Rasa asing terhadap Alquran bukan kultur IMM. IMM hidup dalam dekapan Alquran. Kesadaran normatif ini pada akhirnya berujung pada lahirnya kader-kader yang berilmu amaliyah dan beramal ilmiah. Bertanggung jawab kepada persyarikatan dan tentunya kepada Allah. Demikian semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.

4 komentar:

Abidin Ghozali Al-Grabyagani mengatakan...

Membaca tulisan ini. bukan sedang membuang waktu.

jahiddin hidayat Daulay mengatakan...

sejatinya inilah bingkai yang telah dirancang, kita juga berharap semoga Muhammadiyah baik secara pribadi maupun keorganisasian juga membaca dan mengerti akan pesan penulis ini, sehingga kepaduan itu tidak terkesan meretak,sebab susah betul apabila secara serta merta menyalahkan anak/kaum muda itu sendiri.orang tua harus terlibat dalam urusan anak secara bijak, pertengkaran 2 anak dlm keluarga selain faktor eks juga sebab terjadi intervensi yang tidak bijak.

irwan bahri mengatakan...

alhamdulillah saya mendapat pencerahan dari tulisan ini.

islam rahmatan lil 'alamin mengatakan...

Terima kasih para sahabat yang sudah memberikan respon. Jazakumullah khairul jaza...