Selasa, 09 Februari 2016

Dakwah Untuk Komunitas Difable


Dakwah amat terkait erat dengan proses memperhatikan. Perhatian terhadap objek dakwah (mad’u) mesti dilakukan secara luas dan dikategorisasikan secara proporsional. Langkah ini penting, mengingat objek dakwah berikut permasalahannya tidak tunggal. Sebab itu, dibutuhkan analisis mendalam terhadap berbagai masalah dan pemecahannya agar dakwah membuahkan hasil yang maksimal. Dalam hal ini, maka dakwah di kalangan komunitas difabel perlu mendapatkan perhatian.

Terminologi Difabel
Siapakah komunitas difabel itu? Secara semantik difabel merupakan akronim dari different ability(kemampuan berbeda). Dalam kamus The social Work Dictionary sebagaimana dikutip dalam Tafsir Alquran Tematik: Kerja dan Ketenaga Kerjaan, Departemen Agama RI (2012), dijelaskan bahwa difabel adalah komunitas manusia yang mengalami reduksi fungsi secara permanen atau temporer serta ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang mampu dilakukan orang lain sebagai akibat dari keterbatasan fisik maupun mental.
Definisi tersebut tentu saja perlu dikritisi, sebab tidak semua orang yang memiliki keterbatasan fisik terbatas pula kemampuannya. Banyak deretan nama yang tergolong ke dalam komunitas difabel menorehkan berbagai prestasi gemilang. Misalnya Ratna Indraswari, seorang difabel yang terbatas secara fisik. Kaki Ratna tidak dapat berfungsi sebagaimana lazimnya, ia pun harus duduk di kursi roda sepanjang hayatnya. Namun siapa sangka ia mensedekahkan hidupnya untuk dunia sastra Indonesia. Demikian pula dengan Muhammad Ade Irawan, seorang anak tuna netra. Ia mampu menjadi pianis dunia. Performa musik jazznya banyak ditampilkan dalam festival music jazz di Eropa dan Amerika. Oleh sebab itu, difabel mendapat pemaknaan baru menjadi differently able (berkemampuan berbeda). Pemaknaan ini lebih halus mengingat orang yang terbatas secara fisik juga mempunyai kemampuan tersendiri dan harus dibaca secara proporsional.
Sedikitnya ada dua faktor yang menyebabkan seseorang tergolong pada komunitas difabel. Pertama, bawaan sejak lahir. Secara medis, seorang anak dilahirkan dalam keadaan fisik tidak normal karena disebabkan kurangnya nutrisi semenjak dalam kandungan atau kekurangan asam folat yang menyebabkan kecacatan otak. Namun demikian, tidak sedikit orang yang berkemampuan dan dapat merawat kandungannya dengan baik namun janin yang dikandungnya tetap tidak normal. Sebaliknya, ada orang yang mengandung janin dalam kondisi ekonomi yang cukup terbatas namun bayi yang dilahirkannya dalam kondisi normal. Tentu alasan nutrisi bukan faktor dominan. Secara religius ketentuan dari Allah harus dihadirkan untuk menilai hal tersebut.
Kedua, mengalami kecelakaan. Hal ini menjadi faktor yang termasuk dominan seseorang menjadi difabel. Akibat dari kecelakaan tidak sedikit yang harus kehilangan anggota tubuh mereka, misalnya: kehilangan tangan, kehilangan kaki, dan kehilangan mata. Efek yang ditimbulkan bukan saja terkait dengan persoalan fisik namun juga fisikis (kejiwaan). Melihat kenyataan ini, masyarakat harus memiliki tanggung jawab untuk turut serta menyembuhkan mereka dengan memberi apresiasi secara psikologis dan sosial.
Menurut data yang dikeluarkan oleh kementerian Kesehatan RI (2010) bahwa jumlah kaum difabel di Indonesia adalah 3.11 persen atau sekitar 6,7 juta jiwa. Data ini berbeda dengan yang dikeluarkan oleh WHO. Berdasarkan data WHO maka jumlah kaum difabel di Indonesia adalah 10 juta jiwa. Tentu saja perbedaan dalam hal ini disebabkan standarsiasi WHO yang lebih ketat. Angka yang demikian besar merupakan sebuah kekuatan yang harus diberdayakan secara baik. Jika dibaca secara kuantitatif jumlah komunitas difabel setara dengan populasi sebuah propinsi. Di sinilah pentingnya agama hadir dengan perspektifnya tersendiri, bagaimana kaum difabel dapat diberdayakan.

Kehadiran Dakwah
Islam melihat manusia bukan dari performa fisikal, namun kualitas ruhiyah dan perilaku terpuji dalam kehidupan. Dalam sebuah hadis Rasulullah menyebutkan bahwa Allah tidak akan melihat performa fisik(shuwar) dan kepemilikan harta benda (amwaal), yang dipandang Allah justru kualitas ruhiyah dan aktifitas-aktifitas terpuji. Di sini menjadi jelas, bahwa keterbatasan fisik bukan merupakan penghalang bagi seseorang untuk menorehkan prestasi dan berbuat untuk kepentingan kolektif.
Kasus yang dihadapi oleh Rasulullah terhadap Abdullah Ibnu Ummi Maktum perlu menjadi bahan renungan. Saat itu Rasulullah bermuka masam (‘abasa) dan memalingkan pandangan (tawalla) dari Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang ingin mendapatkan pencerahan. Pada saat yang sama Rasulullah sedang menerima para pembesar Quraisy yang masih non Muslim. Secara politis Rasulullah berharap mereka menerima Islam dengan harapan dakwah Islam akan semakin kuat dengan bergabungnya mereka. Namun Allah menegur Rasulullah. Allah memerintahkan Rasulullah agar tidak menciptakan pembedaan terhadap kaum difabel (Q.S. ‘Abasa/ 80: 1-3).
Secara sosiologis, sebab turun ayat ini dipahami sebagai ketidaksiapan mental masyarakat Quraisy terhadap kesetaraan derajat sebagaimana yang diajarkan Islam. Di sisi lain, ayat ini memberikan dukungan moral serta tanggung jawab terhadap umat Islam agar tidak mengabaikan komunitas masyarakat yang dianggap memiliki strata sosial rendah. Lebih daripada itu, landasan etik yang diajarkan Islam terhadap komunitas difabel sejatinya merupakan lentera penerang dan pegangan bagi para pemimpin masyarakat.
Dakwah selama ini banyak ditujukan kepada komunitas masyarakat yang secara agamis sudah mapan dan secara fisik normal. Dakwah juga berada pada posisi konfirmasi, karena sebagian besar objek dakwah telah mengetahui materi dakwah sebelumnya. Dakwah semestinya diposisikan sebagai media informasi dan sarana perubahan terhadap komunitas yang menjadi target perubahan. Inilah percikan pemikiran yang mestinya menjadi materi tersendiri dalam berbagai kegiatan dakwah. Melihat jumlah komunitas difabel yang terbilang signifikan maka dakwah mesti menjangkau eksistensi mereka.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan terhadap komunitas difabel ini: Pertama, memberikan pencerahan dalam bidang pendidikan dan pelatihan. Dalam Islam, hak untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan menjadi kebutuhan asasi setiap individu tanpa terkecuali. Kata iqra’(bacalah) menjadi argumentasi teologis tentang pendidikan dan pelatihan itu. Sebab itulah pendidikan perlu diberikan kepada siapa pun. Dakwah tidak mesti diterjemahkan dengan ceramah keagamaan, selain itu pelatihan-pelatihan juga dapat dikaitkan dengan substansi dakwah. Strategi tersebut ditempuh untuk memberikan kepada mereka pemahaman keagamaan selain life skill (kecakapan kehidupan) yang memang dibutuhkan dewasa ini. Di tengah kapitalisasi pendidikan yang kian menggurita, dakwah mesti tampil memberikan jalur alternatif.
Kedua, memberikan ruang sosial. Komunitas difabel disadari atau tidak sering menyebabkan inferiority (rasa rendah diri). Pada fase yang ekstrim, komunitas difabel merasa sebagai elemen masyarakat yang tidak mempunyai arti. Keterbatasan fisik dan persepsi yang rendah terhadap mereka jika dibiarkan akan menjadi masalah tersendiri. Sebab itulah, dakwah menjelaskan kepada mereka bahwa dalam berbagai kesempatan mereka mempunyai hak dan kesempatan yang sama sebagaimana manusia normal pada umumnya. Berbagai elemen masyarakat mesti melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan sosial. Aktifitas ini perlu dilakukan untuk mengangkat derajat mereka. Difabel tidak menyiratkan kekurangan, melainkan equality(kesetaraan) dan equity (keadilan yang bermakna khusus).
Melalui gerakan dakwah, masyarakat memiliki wawasan dan pemahaman yang luas tentang komunitas difabel. Ini juga penting bagi komunitas difabel itu sendiri. Mereka merasa dihargai sebagai elemen masyarakat yang juga memiliki hak dan kesempatan yang sama seperti yang lain. Sentuhan-sentuhan dakwah yang berangkat dari berbagai kenyataan dengan demikian akan menyebabkan dakwah akan terus hidup dan dibutuhkan masyarakat. Inilah model dakwah pencerahan, yaitu dakwah yang kerap menawarkan jalan keluar atas persoalan-persoalan umat. Wallaahu a’lam.


0 komentar: