Selasa, 29 Desember 2015

Islam yang Membeku



Perkembangan Islam pada masa Rasulullah dan para sahabat serta taabi’ut taabi’iin  menunjukkan dinamika yang cukup tinggi. Masa-masa tersebut dapat dikategorisasikan sebagai periode keemasan Islam. Pada masa itu, Islam ditransformasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Integrasi antara Islam sebagai sumber dan Islam sebagai pemikiran serta pengamalan benar-benar menemukan momentumnya. Peradaban Islam bersifat autentik dan terbuka terhadap berbagai perubahan. Sifat autentik menunjukkan nilai-nilai Islam yang senantiasa menjadi standar acuan, sementara sifat terbuka menunjukkan keberanian dan kesediaan untuk melakukan berbagai perubahan.

Kering Pemaknaan
Ketika masa keemasan itu berlalu, Islam tidak lagi cair melainkan membeku. Islam yang membeku dalam hal ini harus dipahami dalam konteks pemikiran dan pengamalan, bukan Islam dalam konteks sebagai sumber ajaran sebagaimana yang tertera dalam Alquran dan As-Sunnah.  Islam yang membeku  tak lebih seumpama benda sejarah yang kering makna. Wujudnya ada namun nilai-nilainya gagal menjadi standar acuan generasi yang hidup di masa belakangan. Islam memang dicintai, namun rasa cinta itu banyak berkisar pada tataran simbolik. Kaum Muslimin belum mampu membawa sakralitas ajaran Islam dalam setiap perilaku publik. 
Kesadaran terhadap Islam yang membeku menjadi episentrum kajian para pemikir Muslim. Mereka menawarkan jalan keluar agar bagaimana Islam dapat berjaya dan menjadi standar acuan seperti semula di tengah peradaban modern dan arus globalisasi yang demikian kencang. Ashgar Ali Engineer dalam buku Islam in Contemporary World (2009) turut menaruh keprihatinan atas kondisi ini. Dalam buku tersebut Engineer menyesalkan sikap kaum Muslimin yang enggan memperkaya wawasan keislaman dengan menggunakan berbagai perspektif, di antaranya melalui pendekatan sosiologis.
Rasa prihatin Engineer berangkat dari fakta getir kaum Muslimin yang berwawasan sempit dalam membaca ajaran Islam yang jelas-jelas sempurna. Menurutnya, kaum Muslimin memiliki pemahaman tentang Islam yang parsial. Sebagaimana perkembangan Islam di masa klasik, Engineer menawarkan sebuah paradigma Islam yang utuh. Menurutnya, Islam sebagai sumber akan tergilas roda sejarah jika semangatnya gagal dipahami dan dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan, Alquran dan As-Sunnah yang semangatnya tidak dapat ditangkap kaum Muslimin sama buruknya dengan aktifitas kaum Muslimin yang tercerabut dari kedua sumber agung itu. Inilah yang sekarang terjadi di dunia Islam.
Bagi Engineer, Islam sebagai sumber dan Islam sebagai pemikiran serta pengamalan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Istilah yang ia kemukakan adalah Islam normatif (normative) dan Islam kontekstual (contextual). Tanpa perpaduan keduanya, maka bangunan peradaban Islam akan roboh. Alquran dan As-Sunnah adalah dua sumber yang secara tekstual sudah final. Namun di balik kedua sumber itu ada semangat dinamis yang harus digali dari waktu ke waktu. Semangat Alquran dan As-Sunnah itulah yang seharusnya menjadi standar acuan kaum Muslimin dalam melakukan aktifitas.
Engineer menghendaki terwujudnya masyarakat Qur’ani. Dalam masyarakat tersebut, berbagai pemikiran dan gerakan harus bernafaskan semangat Alquran dan As-Sunnah. Semangat Alquran dan As-Sunnah yang ia sebut sebagai eternal vision (visi abadi) tidak pernah padam. Semangat itu harus menjadi cahaya perubahan. Sebab itu, Kaum Muslimin secara kolektif mesti melakukan ikhtiar tak kenal lelah untuk menangkap semangat Alquran dan As-Sunnah itu. Selain hal tersebut, ia menghendaki model keislaman yang manusiawi, yaitu Islam yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Atensi Engineer dalam hal ini terbilang serius.
Tentu saja kegelisahan Engineer dapat dimaklumi. Memang jika dicermati perilaku Kaum Muslimin di berbagai belahan dunia, sebagian menunjukkan perilaku tidak Qur’ani. Islam yang dianut oleh Kaum Muslimin adalah Islam yang bersifat egoistik dan terkesan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Padahal Islam diturunkan untuk kebahagiaan umat manusia dan hal-hal yang terkait dengannya. Tak satu ayat pun di dalam Alquran yang membenci nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya dapat dilihat dalam sebuah ayat, “walaqad karramnaa banii aadam…/ Dan sungguh telah Kami muliakan anak cucu Adam…” (Q.S. Al-Isra’/ 17: 70).
Secara faktual justru nilai-nilai kemanusiaan di sebagian dunia Islam cenderung terabaikan. Peperangan dan konflik internal antar sesama Kaum Muslimin yang menewaskan ribuan orang terjadi hingga kini. Uniknya fenomena hitam ini dianggap masalah yang biasa. Contoh konkrit yang dapat diamati adalah kekacauan sosial dan politik seperti yang kini terjadi di Suriah, Irak dan Yaman. Selain karena faktor politik yang menjadi pemicu, konflik menahun itu dibumbui oleh isu-isu perbedaan mazhab yang dibesar-besarkan. Konflik semakin ramai dengan campur tangan pihak asing yang berebut pengaruh. Selain dunia Islam yang mudah sekali terbakar, pihak ketiga (Barat dan sekutunya) yang memperkeruh suasana melihat betapa strategisnya Suriah, Irak dan Yaman dari perspektif geopolitik. Mereka ingin menangguk di air keruh dengan memanfaatkan kelalaian Kaum Muslimin.
Bukan tidak mungkin kekacauan sosial dan politik itu radiusnya meluas, tidak saja di Timur Tengah namun sampai ke Asia Tenggara bahkan ke Indonesia. Gejala ini mulai terasa, ditandai dengan sikap Kaum Muslimin Indonesia yang dalam beberapa hal terlihat kurang toleran dengan berbagai perbedaan internal. Ada semacam kesan bahwa Islam menjadi instrumen kekerasan. Saling serang atas nama Islam tak jarang pecah. Sungguh ironis, pihak yang menyerang dan diserang sama-sama melafazkan Allah. Islam juga sering diletakkan pada posisi yang saling berhadapan dengan agama lain. Tensi sosial sering muncul karena hal ini. Padahal setiap agama, apalagi Islam, adalah sumber tersemburnya berbagai kedamaian.
Meminjam paradigma Engineer, inilah tipologi masyarakat Islam yang tidak Qur’ani. Masyarakat seperti ini hanya akan melahirkan Islam yang membeku. Islam yang membeku ditandai dengan anti kritik, anti perbedaan, anti perubahan, anti penafsiran, dan anti pendekatan. Islam yang membeku juga kerap bersikap inward looking (berpandangan ke dalam). Hal ini ditandai dengan tingkat kecurigaan yang tinggi terhadap orang yang tidak sepemahaman dengannya, apalagi dengan orang yang memiliki agama berbeda. Islam yang membeku menjadikan mazhab, golongan, kelompok, dan puak mereka sebagai komunitas absah yang boleh eksis, sementara yang lain tidak memiliki hak.
Pada konteks lain, Islam yang membeku dapat dilihat dan dirasakan dengan mudah. Misalnya ketika jumlah jamaah haji terus meningkat, namun jumlah Kaum Muslimin yang sekarat tak berkurang. Contoh lain dapat diamati ketika sholat menjadi standar kesalehan seseorang, namun pelakunya rutin melakukan korupsi. Islam yang membeku juga terlihat ketika berbagai acara keagamaan menjadi agenda rutin, namun kebersihan lingkungan tetap tidak terawat, birokrasi tetap kotor, maupun praktik suap merajalela. Yang hidup dari Islam yang membeku adalah simbol-simbol keislaman seperti shalat, puasa, zakat, haji, umroh, dan ceramah-ceramah keislaman, namun semuanya kering penghayatan apalagi pengamalan. Dalam Islam yang membeku, simbol lebih penting daripada semangat. Sejatinya kedua hal itu mesti berpadu.

Menggali Semangat Islam
Sebenarnya, konflik horizontal di dunia Islam tidak akan terjadi sekiranya Kaum Muslimin menghidupkan semangat berjamaah sebagaimana dipancarkan dari ritual sholat. Kelaparan dan gelombang pengungsi yang menyebar tidak akan terjadi sekiranya Kaum Muslimin menghidupkan semangat kepedualian sosial dari ritual puasa, umroh dan haji. Lingkungan yang kumuh dan kotor tidak akan pernah terlihat sekiranya Kaum Muslimin menangkap semangat wudhu’ yang dilakukan minimal lima kali sehari semalam. Namun semuanya itu gagal dilakukan. Sebagai konsekuensinya, Islam terus menerus beku dan tidak akan mewarnai kehidupan. Jika ini terjadi secara kontinyu, maka Islam berpotensi menjadi korban sejarah. Wallaahu a’lam.

0 komentar: