Kamis, 10 Desember 2015

Muhammadiyah dan Gerakan Wasathiyah


Sebagai gerakan Islam modern, Muhammadiyah mencita-citakan model keislaman yang tidak berpihak pada kutub ekstrim, baik kanan maupun kiri. Seperti paham yang berkembang dewasa ini, bahwa pemikiran Islam khususnya di Indonesia menampilkan variasi beragam, tak jarang bersitegang. Ekstrim kanan diklaim dan dikenal amat tekstual, dianggap anti perubahan dan cenderung curiga dengan berbagai produk pemikiran dan gerakan yang lahir dari Barat. Sementara ekstrim kiri diklaim dan dikenal amat apresiatif dengan pemikiran dan gerakan Barat. Tak jarang kutub ini dianggap agen atau kaki tangan Barat itu sendiri.
Dua varian pemikiran Islam yang berkembang tersebut secara tidak disadari masuk dan mengambil tempat tersendiri di tubuh Muhammadiyah. Hal ini terbilang wajar. Banyak kader Muhammadiyah kini memperoleh pendidikan di berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar negeri dan tentu dengan latar belakang kajian yang berbeda pula. Kenyataan ini menyebabkan Muhammadiyah kaya akan perspektif dan wawasan yang terkadang sulit diseragamkan. Sebagai sebuah pemikiran, dinamika ini  menunjukkan sebuah progres yang patut diapresiasi. Namun demikian, jati diri Muhammadiyah perlu dipahami secara baik agar warga persyarikatan bergerak tidak terlalu ketat atau sebaliknya terlalu jauh dan liar.
Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Haedar Nashir, “Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (2010)”, diuraikan secara rinci bahwa Muhammadiyah menempatkan diri sebagai pengusung moderatisme. Menurut Nashir, Muhammadiyah berberbeda dengan pandangan kaum tekstualis di satu ujung spektrum dan liberal di ujung spektrum lainnya. Pada konteks tertentu Muhammadiyah amat tekstual, dan pada konteks lain Muhammadiyah cenderung terbuka. Pendekatan yang digunakan oleh Muhammadiyah sering tergantung konteks. Muhammadiyah menegaskan jati dirinya sebagai gerakan Islam tengahan (wasathiyah).
Pilihan untuk menjadi gerakan wasathiyah bukan sebuah kebetulan, melainkan diputuskan secara matang dan terencana. Argumentasi yang digunakan Muhammadiyah sebagai gerakan wasithiyah dapat dilihat dalam Alquran, “Wa kadzaalika ja’alnaakum ummatan wasathaa…/ Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan…” (Q.S. Al-Baqarah/ 2: 143). Ayat tersebut mendapatkan penguatan dari sebuah hadis Nabi, “Khairul umuuri ausaathuhaa/ Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan.” Ayat dan hadis ini saling menguatkan. Umat Islam ditakdirkan menjadi kaum moderat yang tidak ekstrim. Sementara hadis Nabi tersebut menjelaskan bahwa pilihan pemikiran dan gerakan terbaik tentu yang tidak berlebihan (ghuluw).
Apakah makna wasathiyah itu sehingga menjadi pilihan Muhammadiyah? Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqaayiis al-Lughah menjelaskan bahwa wasathiyah terambil dari kata wasath yang berarti adil, baik, tengah dan seimbang. Kata wasath mengandung makna yang selalu berada pada posisi tengahan, seperti sifat berani merupakan tengahan dari takut dan sembrono, dermawan tengahan dari sifat kikir dan pemboros. Dari kata wasath lahir kata wasith (wasit) yang berarti penengah atau pelerai.
Dalam Alquran, kata wasath dan derivasinya disebut lima kali dengan pengertian yang dekat dengan makna kebaikan. Kata wasath juga menunjukkan titik temu dari semua sisi. Misalnya saja lingkaran yang merupakan titik temu dari beragam sisi. Di sini menjadi jelas bahwa kata wasath memiliki makna baik dan terpuji berlawanan dengan kata pinggir (ath-tharf) yang berkonotasi negatif. Selain itu, sesuatu yang berada pada posisi pinggir akan mudah sekali tergelincir. Sikap keberagamaan yang tawassuth (pertengahan) berlawanan dengan sikap keberagamaan yang tatharruf (pinggiran, berada di ujung), baik ujung kanan maupun ujung kiri.
Dalam bahasa Arab modern, kata tatharruf berkonotasi dengan makna radikal, ektrim dan berlebihan. Dalam pandangan Ali bin Abi Thalib bahwa orang yang paling baik akan memilih posisi di pertengahan, dimana orang yang lalai berusaha untuk mencapainya dan orang yang berlebihan kembali bersamanya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa gerakan wasathiyah merupakan gerakan tengahan yang menjaga seseorang dari kecenderungan menuju dua sikap ekstrim menuju sikap yang seimbang.
Kristalisasi semangat wasathiyah dapat dicermati dalam berbagai keputusan resmi yang menjadi sumber ideologi Muhammadiyah. Misalnya dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) butir ke-4 dan ke-5. Pada butir ke-4 terlihat jelas watak Muhammadiyah yang puritan untuk urusan akidah dan ibadah. Namun watak Muhammadiyah menjadi fleksibel dan inklusif untuk urusan non teologi dan non ritual. Pada butir ke-5 bahkan ditegaskan bahwa Muhammadiyah siap membangun jejaring kemanusiaan kepada siapa saja untuk mewujudkan masyarakat yang sebenar-benarnya.
Jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan wasathiyah juga tersimpul dalam Kepribadian Muhammadiyah. Jika dianalisis satu persatu berbagai diktum dalam keputusan resmi itu, maka akan semakin terlihat dua wajah Muhammadiyah yang terkesan kontradiktif namun pada hakikatnya saling mendukung. Di satu sisi Muhammadiyah seolah berada pada ekstrim kanan, namun di sisi lain berpihak pada ekstrim kiri. Inilah sesungguhnya keunikan Muhammadiyah itu. Antara teks dan konteks dipahami dan diposisikan secara proporsional.
Sebagai gerakan wasathiyah, maka berbagai gerakan ekstrim kanan maupun ekstrim kiri di Muhammadiyah tidak memiliki akar yang jelas. Kultur ekstrim tidak sesuai dengan atmosfer Muhammadiyah dan dengan sendirinya akan tertolak. Gerakan wasathiyah senafas dengan model Islam berkemajuan yang kini dipromosikan Muhammadiyah. Dalam konsep Islam berkemajuan terselip pesan damai, terbuka, toleran, bersahabat, dan mengapresiasi kemajemukan. Pesan-pesan tersebut tentu saja menjadi nafas gerakan wasathiyah.
Oleh sebab itu, penawaran untuk menegakkan syariat Islam dan mendirikan negara berdasarkan agama, yang ditujukan kepada Muhammadiyah disikapi dengan bijak dan rasional. Bagi Muhammadiyah, penegakan syariat Islam dipahami sebagai ikhtiar tak kenal lelah untuk mewujudkan sistem sosial yang beradab (civilized). Keadaban sistem sosial tercermin dari kesadaran masyarakat untuk hidup dalam ketertiban sosial, seperti: menjaga kebersihan, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, menepati waktu dan seterusnya.
Sementara itu, bentuk negara ideal yang disetujui Muhammadiyah adalah NKRI dengan memfungsikan Pancasila sebagai falsafah negara. Muhammadiyah melalui gerakan wasathiyah dengan sendirinya berfungsi mengawal keutuhan NKRI. Jauh hari Ki Bagus Hadi Kusumo, tokoh Muhammadiyah yang kini dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, menjadi salah seorang peletak dasar berdirinya Indonesia. Bukti historis ini menunjukkan betapa Muhammadiyah tak tergiur merubah NKRI menjadi negara berdasarkan agama.
Muhammadiyah juga bukan rumah bagi pemikiran dan gerakan liberal-sekuler yang mengedepankan kebebasan dan membuang agama dari ruang aktivitas. Bagi Muhammadiyah kebebasan memang dijunjung tinggi sebagai hak dasar, namun bukan kebebasan tanpa batas. Kebebasan yang dianut Muhammadiyah adalah kebebasan terbatas yang mempertimbangkan eksistensi pihak lain. Selain itu, pemikiran dan gerakan sekuler amat bertentangan dengan Muhammadiyah, karena dapat bermuara pada gaya hidup permisif.
Pilihan Muhammadiyah untuk menjadi gerakan wasathiyah amat dibutuhkan di tengah kekerasan dan tarik menarik kepentingan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Seperti ditegaskan Angel Rabasa dalam buku, “Building Moderate Muslim Networks (2007 )”, bahwa berbagai elemen umat Islam, dalam konteks ini adalah Muhammadiyah, menjadi pengawal apa yang sekarang dibutuhkan oleh masyarakat dunia, yaitu: demokratisasi, penghormatan terhadap hak-hak azazi manusia, menjunjung tinggi berbagai bentuk keragaman, penegakan hukum secara tak pandang bulu, melawan terorisme global dan pencegahan terhadap berbagai bentuk kekerasan. Pengawalan itu memang menjadi misi Muhammadiyah demi terwujudnya tatanan kehidupan dunia yang diharapkan. Inilah sesungguhnya substansi dari gerakan  wasathiyah. Wallaahu a’lam.

0 komentar: