Minggu, 08 November 2015

Spirit Membaca dari OHIO




Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah terekam dalam Surah al-‘Alaq/ 96: 1-5. Menarik jika dicermati spirit yang terkandung dalam ayat-ayat sakral tersebut. Diawali dengan kata iqra’ (bacalah) pada ayat pertama, ditutup dengan pengakuan tulus terhadap kebesaran Zat Allah Yang telah menciptakan manusia. Ayat-ayat selanjutnya kembali menyadarkan manusia akan kelemahan dirinya dan betapa besarnya Allah. Tersirat pula dalam ayat tersebut bahwa manusia itu sesungguhnya jahil (bodoh). Untuk menghilangkan kebodohan yang melekat di dalam dirinya, maka Allah mewajibkan untuk membaca (belajar).   
Kata iqra’ (bacalah) terbilang asing, karena diperkenalkan Allah kepada masyarakat yang secara umum uncivilized (tidak beradab). Namun dibalik itu, Allah menciptakan sebuah skenario progresif dan berjangka abadi. Membaca merupakan sebuah modal dasar tercapainya sebuah kemajuan (progress) dan terwujudnya sebuah peradaban (civilization). Di sinilah letak kemajuan umat Islam pada masa klasik. Mereka mengimplementasikan semangat membaca dalam berbagai konteks.
Berangkat dari spirit tersebut maka aktifitas membaca menjadi sesuatu yang tak terelakkan dan tidak dapat dihindari. Sebagai anggota dari komunitas akademik, aktifitas membaca menjadi nafas kehidupan. Artinya, seorang anggota komunitas akademik (dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan) akan mati jika aktifitas membaca diabaikan. Membaca dalam tulisan ini dapat diartikan secara luas. Membaca buku, majalah, surat kabar, meneliti, diskusi, menulis, seminar, membuka jaringan, dapat diletakkan dalam konteks aktifitas membaca.
Terkait dengan perintah membaca, penulis memiliki pengalaman menarik ketika mengikuti International Conference (IC) di The Ohio State University (OSU) Amerika 23-24 Oktober 2015 yang lalu. Pelaksana dari IC tersebut adalah Asian Society for International Relations and Public Affairs (ASIRPA). ASIRPA didirikan oleh komunitas intelektual Indonesia yang menetap di Amerika, baik sebagai warga negara, sebagai dosen, atau sebagai mahasiswa. Tema besar yang diusung oleh ASIRPA adalah Indonesia Focus (IF). IC tersebut merupakan hasil kerjasama antara ASIRPA, The Ohio State University, dan Kedutaan Besar Indonesia di Amerika. Penulis mewakili Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dalam IC tersebut. Ada tiga hal yang ingin penulis deskripsikan dalam tulisan sederhana ini.
Pertama adalah the atmosphere of academic life (nuansa kehidupan akademik) di OSU. Sebagai kampus yang dibiayai state (pemerintah), OSU meniscayakan dirinya menjadi sebuah kampus unggulan. Mulai dari lokasi yang jauh dari keramaian, OSU merupakan salah satu kampus terluas di Amerika Serikat. Penulis berkesempatan mengikuti campus trip (perjalanan kampus). Campus trip masuk dalam salah satu agenda IC untuk menambah wawasan peserta tentang kehidupan akademik dan land mark (lambang sebuah tempat) di OSU. Dalam pencermatan penulis, OSU seperti sebuah negara mini dengan berbagai fasilitas lengkap di dalamnya.
Gedung-gedung perkuliahan di OSU dibangun secara nyaman dan jauh dari hingar bingar kendaraan atau keributan mahasiswa. Yang membuat penulis tertegun adalah model perpustakaan canggih dan megah di jantung kampus OSU. Di perpustakaan itu para mahasiswa sibuk dengan urusan akademik masing-masing. Hampir tidak ada suara yang terdengar kecuali gesekan-gesekan lembaran kertas yang dibolak-balik oleh para mahasiswa. Ribuan koleksi buku dari berbagai disiplin ilmu mudah didapatkan. Penulis berkesempatan mengunjungi pojok islamic studies (kajian Islam). Di pojok tersebut berbagai koleksi kitab klasik terpajang secara rapi   dan terkesan dirawat dengan baik.
Berbagai perpustakaan tidak saja di OSU namun juga di tempat lain memakai sistem on line. Artinya, jika sebuah koleksi buku tidak ditemukan di perpustakaan tertentu maka dapat dipinjam di perpustakaan lain tanpa harus mengurus kartu perpustakaan lagi. Petugas perpustakaan berkewajiban memberikan pelayanan maksimal kepada setiap pengunjung. Tempat yang paling sering dikunjungi oleh mahasiswa di OSU adalah perpustakaan dibanding tempat-tempat lain seperti kafe-kafe yang tersedia di sekitar kampus. Di sebuah kampus modern, biasanya gedung yang mentereng dan terbilang megah adalah perpustakaan. Salah satunya seperti yang penulis saksikan di OSU.
Penulis juga mengunjungi fasilitas olah raga yang memang megah untuk ukuran kampus. Yang menarik, OSU membangun sebuah stadion sepak bola seukuran Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang. Selain sepak bola, Amerika memiliki sepak bola tersendiri yaitu Rugby. Di bagian lain kampus, lapangan rugby juga amat megah dengan areal parkir luas sampai halaman asrama mahasiswa. Seperti halnya dengan sepak bola, rugby demikian populer di Amerika. Fasilitas lain seperti renang, bulu tangkis, tenis meja, basket, dan lain-lain tersedia dengan baik. Sarana-sarana lain seperti rumah sakit, restoran, rumah ibadah, mini market, toko buku, kebun pertanian, menjadi bagian integral di OSU.
Untuk ukuran kampus OSU yang sangat luas, satu tempat dengan tempat lain dihubungkan dengan bus kampus yang digunakan secara gratis. Selain itu, pihak kampus menyediakan sepeda bagi para mahasiswa dan dosen untuk kegiatan-kegiatan akademik. Di berbagai sudut kampus penulis melihat berbagai fasilitas seperti tempat duduk yang setiap saat dapat digunakan oleh komunitas akademik untuk membaca atau berdiskusi. Taman-taman kampus dilengkapi dengan kolam dan meja belajar menjadi panorama asri dan menambah kekhusyu’an belajar. Dengan fasilitas seperti ini wajar saja OSU termasuk salah satu world best rank campus (kampus terbaik dunia).
Para mahasiswa di OSU benar-benar mencerminkan model belajar mandiri. Penulis melihat, hampir setiap mahasiswa tekun sekali membaca dengan bahan bacaan yang rata-rata tebal. Memang demikian, di sebuah negara modern kultur membaca seperti nyawa yang wajib dijaga. Mereka benar-benar menjadi bagian dari the reading community (masyarakat baca). Inilah ciri sebuah masyarakat yang sudah maju, dimana membaca menjadi sebuah kebutuhan mendasar.
Kedua adalah proses pelaksanaan IC. IC dilaksanakan di sebuah hall dengan kapasitas 200 orang. Ada dua kategori yang ditampilkan dalam IC itu. Pertama adalah kuliah umum, diisi oleh para pakar Indonesia dan Amerika dari beberapa latar belakang keilmuan. Kedua, secara tematik peserta IC dibagi ke dalam ruangan-ruangan tertentu untuk mempresentasikan kertas kerja mereka. Salah satu materi dalam kuliah umum yang menarik penulis mengenai hambatan-hambatan terbesar dalam pendidikan di negara-negara berkembang. Dari riset yang dilakukan, ternyata faktor rendahnya kemauan membaca, keengganan untuk meneliti, dan curang dalam ujian menjadi hambatan-hambatan dominan tercapainya kemajuan itu.
Dalam IC, berkumpul putera-puteri terbaik Indonesia tidak hanya yang sedang  tinggal, sedang mengajar, atau sedang belajar di Amerika, namun juga mereka yang sedang belajar di Italia, Inggris, Turki, dan Australia. Sungguh sebuah silaturrahim akademik berkelas internasional yang mengaggumkan. Di IC itu juga penulis bercengkrama dengan para peraih beragam beasiswa, seperti: Fulbright, The Asia Foundation, LPDP, dan beragam beasiswa yang lain. Usia mereka masih cukup muda, rata-rata 25 tahun. Padahal mereka hampir menyelesaikan program master atau program doktor di berbagai perguruan tinggi bergengsi. Sebuah prestasi yang membuat penulis “iri”.
Banyak sosok yang penulis kenal di IC. Salah satu yang melekat erat di benak penulis adalah sosok anak muda dengan wajah “ndeso” dari Ngawi Jawa Tengah. Namanya Boimin, sebuah nama yang mendengarnya saja mungkin kita akan tertawa. Namun siapa sangka, Mas Boimin adalah peraih beasiswa LPDP untuk program master dan doktor di Universitas Masachussetts, Amerika. Ia menekuni bidang ilmu eksakta. Bagi penulis, Mas Boimin memang lahir dari keluarga yang kekurangan secara materi, namun ia kaya semangat sehingga Amerika ditaklukkannya. Hidup di negara sekuler tidak membuat Mas Boimin menjadi sekuler pula. Ia selalu mengungkapkan bahwa keberadaannya di Amerika merupakan skenario dari Allah.
Di acara IC, penulis didampingi oleh Mbak Tanti. Ia adalah mahasiswa program doktor di Departemen Pendidikan OSU. Dalam acara tersebut Mbak Tanti terlibat sebagai salah seorang panitia. Selama di Ohio, penulis menginap di asrama beliau. Mbak Tanti terbilang nekat. Di Palembang Sumatera Selatan, sebenarnya kehidupannya berkecukupan. Mbak Tanti dan Mas Didik (suaminya) merupakan pegawai salah satu bank terbesar. Mas Didik juga menempati posisi bergengsi di bank itu. Namun rasa haus akan ilmu mengantarkan mereka menjadi musafir akademik di OSU. Mas Didik mendampingi Mbak Tanti meninggalkan dunia material demi mengejar ilmu. Penguasaan bahasa Inggris Mbak Tanti nyaris sempurna dengan skor TOEFL 640. Ia peraih beasiswa Fulbright dan sudah enam tahun menetap di Ohio.
Ketiga adalah terbukanya international outlook (wawasan internasional) bagi komunitas akademik. Di era globalisasi seperti sekarang ini, persahabatan antar budaya dan belahan dunia merupakan sesuatu yang niscaya. Dunia yang kita anggap luas dan tak berbatas ternyata demikian kecil, seperti sebuah kampung buana (global village) yang penduduknya saling menyapa. Di tengah pergaulan global itu tentu saja banyak persyaratan yang harus kita penuhi, di antaranya adalah keteguhan terhadap nilai-nilai agama dan budaya ketimuran, dan tentu saja penguasaan bahasa Asing, seperti: Inggris, Arab, Jerman, Perancis, Belanda dan seterusnya. Nilai-nilai agama dan budaya akan tetap menyadarkan jati diri kita, dan bahasa akan mengantarkan kita menjadi warga dunia.
Pepatah menyebutkan, “seperti katak di bawah tempurung”, merupakan kritik tajam kepada orang-orang yang enggan menerima perubahan dan enggan melakukan perjalanan. Pepatah itu terkait dengan firman Allah, “fantasyiruu fil ardh/ bertebaranlah di muka bumi”. Ayat ini memberikan kritik keras kepada orang-orang yang tidak mau melakukan perjalanan atau hijrah. Hijrah dalam konteks ini tidak mesti diartikan secara fisik, namun dapat pula diartikan dengan hijrah pemikiran. Banyak membaca, terbuka dalam diskusi, rajin menulis, merupakan implementasi dari model hijrah pemikiran itu.
Seperti disebutkan Allah dalam Alquran, bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya selalu memberikan hikmah. Demikian pula dengan keikutsertaan penulis dalam acara IC itu. Penulis mendapatkan wawasan baru yang segar dan persahabatan akademik yang penuh semangat perubahan. Semakin banyak berjalan semakin banyak yang dilalui, semakin banyak pula pengalaman yang didapatkan. Rasa senasib dan sepenanggungan karena hidup di rantau orang, semangat belajar yang membara, disiplin, persaingan akademik dalam kerangka positif, pola hidup rapi, bersih, terencana, jujur, menjadi asupan gizi tersendiri bagi penulis. Meskipun kita tetap diharuskan kritis dengan budaya Barat yang terkadang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya ketimuran. Agaknya inilah yang penulis rasakan selama menetap di OSU.
Para sahabat yang dirahmati Allah, terima kasih sudah bersedekah waktu kepada penulis karena membaca tulisan ini. Penulis mohon maaf sekiranya informasi maupun deskripsi penulis ada yang kurang berkenan di hati. Akhirnya kepada Allah semua kita kembalikan. Wallaahu a’lam.


0 komentar: