Sabtu, 07 November 2015

Revitalisasi Dakwah Muhammadiyah




Sudah dimafhumi secara umum, bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam. Ini berarti Muhammadiyah adalah organisasi yang bergerak, dinamis, cerdas, dan progresif. Muhammadiyah bukan organisasi statis, diam, tanpa terobosan, apalagi berhenti dan berjalan mundur. Sebagai gerakan dakwah Islam, Muhammadiyah mesti siap untuk menyegarkan model dan membidik komunitas dakwahnya secara tepat agar tetap up to date dan mengenai sasaran. Itulah sebabnya, revitalisasi dakwah Muhammadiyah mau tidak mau harus dilakukan. Revitalisasi bertujuan untuk meninjau kembali model dan komunitas dakwah Muhammadiyah secara real dan memberikan solusi alternatif atas problem yang dihadapi.
Secara sedehana, revitalisasi dapat dipahami sebagai sebuah proses penyegaran. Terminologi ini menyiratkan ada sesuatu yang layu, beku, statis, tidak segar dan tidak kontekstual. Revitalisasi dakwah Muhammadiyah berarti menyegarkan kembali berbagai model dakwah yang dilakukan Muhammadiyah selama ini. Penyegaran tersebut tentu saja memiliki ruang lingkup yang luas, bisa jadi terkait dengan juru dakwah, metode dakwah, materi dakwah, maupun komunitas dakwah sebagai objek perubahan. Perubahan masyarakat dengan segala permasalahannya terjadi secara massif. Karena itu dakwah juga perlu dikemas dengan model aktual.
Seperti yang terlihat selama ini, dakwah hanya dipahami secara sempit dan hanya sebatas urusan lisan. Materi yang disampaikan para juru dakwah juga sering tidak up to date. Ketika dakwah berlangsung, maka pokok pembahasan masih seputar fikih shalat, fikih zakat, fikih puasa, fikih munakahat, dan fikih haji. Padahal permasalahan yang dihadapi umat semakin problematik. Dakwah konvensional seperti ini dikhawatirkan melahirkan pemahaman Islam yang sempit. Islam hanya dipahami sebatas urusan fikih ritual. Akhirnya persoalan-persoalan kontemporer yang tersaji di pelataran sejarah tidak terpecahkan secara baik. Fikih ritual bukan tidak penting, namun jika peran yang diambil terlalu dominan maka dapat menutup aspek-aspek penting ajaran Islam yang lain.
Dakwah mesti mempromosikan nilai-nilai Islam secara komprehensif. Nilai-nilai tersebut dijadikan barometer untuk memotret berbagai objek, selain manusia tapi juga lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, kini di Indonesia khususnya pulau Sumatera dilanda musibah kabut asap. Para juru dakwah setidaknya dapat melihat bagaimana kearifan Islam dalam merespon kabut asap yang mencemari lingkungan. Karena itu, salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah kajian mendalam terhadap fikih lingkungan. Kabut asap terjadi karena lahir tensi yang berkepanjangan antara manusia dengan alam. Akhirnya kerusakan alam dengan berbagai konsekuensi negatifnya kembali kepada manusia itu sendiri.
Fenomena lain yang menimbulkan keprihatinan kita adalah masalah lalu lintas. Rasa nyaman dalam konteks ini bergerak ke arah yang cukup memprihatinkan. Setiap pengguna jalan merasa yang paling berhak dengan menegasikan pengguna jalan yang lain. Selain jalan yang sempit dan berlubang, sengkarut kendaraan di jalanan tidak dapat dihindari. Fenomena ini seharusnya menyadarkan setiap juru dakwah untuk merumuskan model dakwah baru. Fikih lalu lintas sepertinya perlu dipromosikan. Tertib berlalu lintas, menghormati hak-hak orang lain, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, sebenarnya merupakan bagian penting dari Islam. Daya baca kritis seperti ini perlu dikembangkan dalam konteks yang lebih luas.  
Berbicara tentang dakwah, perlu juga ditelusuri semangat dakwah KH. Ahmad Dahlan (Kiyai Dahlan) pada masa lalu. Beliau cukup cerdas membaca berbagai perubahan di masyarakat. Pendekatan yang digunakan juga inklusif, mulai dari teologi, fikih ritual, fikih ekonomi, fikih seni, bahkan fikih kemajemukan. Kiyai Dahlan tidak menggunakan fikih ritual untuk menjadi semacam “super hero” dalam menyelesaikan semua permasalahan umat. Beliau memilah-milah setiap permasalahan yang ada dan pendekatan yang akurat untuk mengatasi permasalahan itu. Kiyai Dahlan menerapkan pendekatan yang sesuai dengan objek dakwah.
Ketika berhadapan dengan anak yatim, Kiyai Dahlan menggunakan fikih ekonomi. Beliau tidak membiarkan anak-anak yatim pulang ke rumah kecuali membawa makanan, minuman, bahkan sabun untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika berhadapan dengan kaum muda, Kiyai Dahlan menggunakan pendekatan seni. Dalam konteks ini cukup menarik. Menurutnya, menyajikan Islam seperti memainkan biola. Semakin ahli pemain biolanya maka semakin baik suara yang dihasilkannya. Semakin cerdas juru dakwahnya maka semakin mengena misi dakwah yang disampaikannya.
Demikian pula ketika berkomunikasi kepada non Muslim, maka fikih kemajemukan yang dikedepankan. Kiyai Dahlan berdialog tidak saja kepada penganut agama tertentu, kepada penganut kepercayaan tradisional pun dilakukannya. Materi dialog yang dipromosikannya bukan untuk meruntuhkan lawan bicara melainkan untuk menggali berbagai kearifan teologi dan kearifan kultural. Kiyai Dahlan menjadikan isu kemanusiaan sebagai tema besar dialog. Menurutnya, kemiskinan, bencana alam, kebodohan, bukan merupakan tanggung jawab agama tertentu melainkan menjadi tanggung jawab kolektif. Berbagai penyakit sosial merupakan the common enemy (musuh bersama) yang harus dihadapi.
Berkaca dari model dakwah yang dikembangkan Kiyai Dahlan, maka dakwah Muhammadiyah mesti dikembangkan secara luas. Dakwah bukan hanya sejenis pengajian rutin setiap pekan dan setiap bulan, melainkan menukik pada persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Para juru dakwah juga tidak bisa dibatasi hanya orang-orang yang menyampaikan ceramah dari masjid ke masjid, atau dari pengajian ke pengajian. Juru dakwah sebenarnya setiap umat Islam yang memiliki komitmen religius untuk memperbaiki keadaan. Komitmen religius itu dibingkai dalam kerangka amar ma’ruf dan nahiy munkar.
Rekomendasi hasil Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar sebenarnya berisi semangat seperti itu. Dakwah mesti dikembangkan dalam beragam konteks. Juru dakwah dalam arti luas harus memiliki kecerdasan serta kearifan dakwah. Terdapat 13 poin penting yang menjadi tugas berat dakwah Muhammadiyah kini dan mendatang. Beberapa diantaranya adalah isu kemajemukan, pemberdayaan kelompok difabel, pengendalian narkotika, menyetop predikat takfiri. 13 rekomendasi yang dihasilkan oleh Muktamirin dirumuskan secara terencana. Rekomendasi itu berangkat dari berbagai kenyataan di lapangan yang membutuhkan respon dengan segera.
Jika dicermati, ada beberapa pesan penting yang perlu ditangkap dari rekomendasi itu. Pertama, dakwah harus diterjemahkan dalam konteks luas. Karena itu, juru dakwah harus membekali diri dengan berbagai metode dan pendekatan canggih agar objek dakwah benar-benar mengalami perubahan. Kedua, perlu diperkuat jaringan dakwah di berbagai lapangan. Juru dakwah harus bekerjasama dan sharing berbagai informasi. Ini bertujuan untuk memperkaya perspektif dan saling melengkapi. Ketiga, dakwah bukan melulu urusan ceramah melainkan aksi konkrit untuk memecahkan berbagai problema umat.
Selain beberapa pesan tersirat yang dihasilkan, satu tugas besar lain yang harus dilakukan Muhammadiyah di berbagai tempat adalah pembuatan peta dakwah (preaching map). Peta dakwah sangat penting. Berbagai kekuatan (strengh), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan tantangan (threat) dapat ditabulasi secara jelas. Kemudian dilakukan langkah-langkah konkrit pelaksanaan dakwah. Peta dakwah bukan saja menyajikan data-data yang menyangkut jumlah umat Islam dan non Muslim, jumlah masjid, maupun jumlah madrasah, melainkan sebuah data yang juga menggambarkan pola kehidupan masyarakat dan budaya setempat.
Peta dakwah menyajikan kepada kita berbagai komunitas dakwah yang mungkin saja luput dari sentuhan dakwah. Komunitas funk kini menjamur di berbagai persimpangan jalan. Jika dilihat ternyata sebagian besar adalah generasi muda Islam. Selain itu adalah komunitas waria. Tentu yang tak kalah menarik adalah komunitas Pekerja Seks Komersial (PSK). Mereka merupakan objek dakwah yang kerap tak kita sentuh bahkan terkadang diremehkan. Padahal mereka juga bagian integral dari umat. Pada konteks ini dakwah diharapkan benar-benar merupakan juru selamat bagi mereka. Wallaahu a’lam.


0 komentar: