Jumat, 30 Oktober 2015

Catatan tentang Perjalananku (Bagian I)


Aku berdoa kepada Allah Yang Maha Kasih, agar para pembaca tetap dalam lindungan-Nya dan sukses jasmani dan ruhani. Tulisan ini ku buat sebagai rekaman ringan atas perjalanan akademik yang baru saja ku lakukan ke negeri Paman Sam. Negeri yang kata banyak orang penuh hamparan impian dan salah satu lambang peradaban modern, tentu dengan segala kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya. Bagi para pembaca yang budiman, jika memiliki waktu luang, ku persilahkan mengikuti uraian ringkas sebagai hasil dari pengalaman pribadiku. Aku sadar sepenuhnya, bahwa tulisan ini amat subjektif dan penuh dengan berbagai kekurangan.
Aku memahami bahwa bagi sebagian orang, Amerika adalah negara yang tidak asing karena mereka sering mengunjunginya, pernah menetap, sedang menetap, atau telah menjadi warga negara. Bagiku, Amerika adalah tanah impian selain ku anggap negara yang terlalu jauh untuk ku jangkau. Bahkan aku baru pertama sekali menginjakkan kaki di bumi yang katanya ditemukan Columbus itu. Namun demikian, aku menancapkan sebuah ikhtiar bahwa boleh jadi di balik kekurangan coretan ringan dari perjalananku ini, ada berbagai hikmah yang dapat dipetik dan semangat yang nantinya dapat ditransformasikan dalam satu atau beberapa konteks kehidupan. Aku hanya ingin sekedar berbagi cerita sekaligus menyalurkan kebiasaanku menuangkan pengalaman di atas kertas.
Aku termasuk orang yang diberi Allah kesempatan baik untuk mengikuti International Conference oleh Asian Society for International Relations and Public Affairs (ASIRPA). Kali ini event akbar tersebut diadakan di Ohio State University (OSU), Columbus, Ohio, Amerika Serikat. Sebagai orang awam dan minim wawasan, tentu saja ini menjadi semacam ruang emas bagiku untuk menginjakkan kaki ke negeri di mana deretan kampus terbaik dunia berada. Terbang ke Amerika menjadi impian gembira sekaligus menyedot energi kesabaran yang maksimal. Mulai dari mengisi visa elektronik sampai pada sesi wawancara di Kedutaan Amerika di Jakarta memberi pengalaman tersendiri bagiku. Aku harus membaca beberapa kali untuk pengisian form aplikasi visa elektronik, karena hal ini asing sekali bagiku. Namun berbekal ikhtiar dan sedikit motivasi dari sahabat-sahabatku, fase itu dapat ku lewati. Sobat, terima kasih atas budi baik kalian. Hanya Allah yang dapat memberi ganjaran setimpal. Berangkat dari pengalaman banyak orang, ketika wawancara, tak sedikit yang gagal. Visa mereka tidak disetujui. Meskipun sedikit mempengaruhi ruang batinku, pengalaman pahit orang-orang tak membuatku surut. Akhirnya proses wawancara ku jalani. Wawancara yang semula ku duga akan menyulitkanku ternyata mewujud sebaliknya. Atas Rahmat Allah, aku hanya menghabiskan waktu dua menit untuk wawancara. Pewawancara bersedekah kepadaku dengan sebuah kalimat, “wonderful activity/ kegiatan Anda luar biasa”. Padahal satu peserta wawancara tepat di depanku diberi form berwarna pink, itu berarti ia tidak diizinkan masuk Amerika. Aku bersyukur kepada Allah atas hasil positif yang diberikan-Nya kepadaku. Ya Rabb, Engkaulah Tuhan Yang Maha Kasih dan Sayang. Kepada-Mu semua ku gantungkan.
Beberapa persiapan menjelang keberangkatan ku buat termasuk rencana penerbangan. Aku tidak terbang langsung ke Amerika, namun transit terlebih dahulu ke Abu Dhabi. Aku memilih terbang dengan Etihad Air Ways. Sebuah maskapai penerbangan kelas dunia yang sudah demikian masyhur. Menariknya sesaat pesawat akan lepas landas, lantunan doa doa diputar menambah kesyahduan penerbangan yang ku jalani. Terlihat jelas nilai-nilai keislaman demikian mantap diekspresikan dalam pesawat tersebut. Aku tahu, para penumpang yang menggunakan jasa Etihad berasal dari keyakinan beragam. Namun keragaman iman tak menghalangi dakwah moderat yang dikumandangkan. Itulah model keislaman yang menyapa dan bersahabat. Dari lantunan doa-doa itu pula dapat ku simpulkan, bahwa dimanapun manusia berada dan kemanapun manusia pergi sandaran vertikal kepada Sang Maha Pencipta tidak dapat diabaikan. Bahasa yang digunakan oleh crew pesawat selama penerbangan adalah bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dua bahasa internasional yang selalu menjadi jembatan persahabatan anak cucu Adam dalam konteks global.
Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam dengan servis maksimal, kami mendarat dengan landing yang menurutku nyaris sempurna. Oleh pramugari yang berwajah khas Timur Tengah, kami dipersilahkan turun dari pesawat. Sebagai anak kampung, aku masih terkesima dengan kemewahan pesawat Etihad yang baru saja menerbangkanku. Sampai di ruang bandara, aku melihat-lihat kemewahan bandara Abu Dhabi. Allah menganugerahkan Uni Emirat Arab sebagai sebuah negara meskipun kecil namun kaya akan minyak bumi. Kekayaan itulah yang mengantarkan negara tersebut memiliki maskapai istimewa. Karena harus melanjutkan penerbangan, aku masuk ke ruang imigrasi khusus tujuan Amerika. Antrian cukup panjang. Setelah giliranku tiba, aku diwawancarai oleh petugas imigrasi Amerika secara detail tentang tujuanku ke Amerika. Kurasakan wawancara itu agak panjang sekitar 15 menit. Petugas imigrasi tersebut seolah mengerti betul dengan tujuan kedatanganku ke Amerika dan poin-poin penting materi yang akan ku sampaikan di seminar nanti. Berbekal tawakkal kepada Allah, proses itu ku lalui dengan baik. Ia menutup wawancara dengan sebuah kalimat, “Have a nice trip/ Semoga perjalanan Anda menyenangkan”. Aku masih ingat tentang beberapa informasi, tidak sedikit orang yang ingin masuk ke Amerika harus dipulangkan karena tujuan yang keliru atau jawaban yang tidak meyakinkan saat wawancara. Alhamdulillah, hal itu tidak ku alami.
Dari Abu Dhabi ke John F. Kennedy International Air Port New York, aku juga memakai jasa Etihad. Perjalanan yang ku tempuh memakan waktu 13 jam. Sebuah perjalanan yang melelahkan. Uniknya lagi, aku tidak menemukan malam selama penerbangan. Sungguh kuasa Allah berlaku ketika itu. Waktu berjalan demikian lama. Di tengah perjalanan, aku menyaksikan seorang perempuan duduk dengan nyaman ditemani lampu baca yang mengarah ke objek yang ia pegang. Aku tidak tahu buku apa itu. Tanpa sengaja usai dari rest room (kamar kecil), aku mencuri pandang ke objek bacaan yang ia genggam. Mataku terpana, ternyata perempuan itu tanpa kenal lelah sedang membaca Alquran. Ia tengah berdialog kepada Allah. Aktivitas itu sungguh menggetarkan dadaku dan membuat aku sedikit malu. Perempuan itu mampu merubah kebosanan menjadi sesuatu yang menyenangkan yaitu berasyik masyuk dengan Allah. Begitulah seharusnya, di samping sesuatu yang kerap kuanggap sebagai kebosanan ternyata ada kenikmatan tersendiri jika dikelola dengan hati dan perencanaan yang matang. Perempuan itu mampu melakukannya. Terima kasih ukhti, dalam khusyukmu engkau telah memberi aku sebuah keteladanan.
Setelah mendarat di New York, aku dan beberapa rekanku dijemput oleh Pak Ratno. Beliau adalah seorang New Yorker, sebutan untuk orang yang sudah lama menetap di New York. Keramahan Pak Ratno meruntuhkan rasa lelahku dan cuaca dingin yang menusuk tulang. Beliau piawai sekali dalam berkisah tentang sejarah hidupnya. Pak Ratno berasal dari Gorontalo namun berlogat betawi yang kental. Sekali dua kali ia bertutur dalam bahasa Inggris yang fasih. Aku senang sekali mendengar kisah tentang sejarah hidupnya diselingi informasi-informasi mengenai kota New York yang selama ini ku dengar lewat film dan buku-buku. Udara dingin kota New York tidak dapat menembus dinding mobil yang ia pacu dengan kecepatan yang agak tinggi. Biasanya di bulan Oktober musim gugur (fall) tiba, setelah itu diikuti oleh musim dingin (winter). Setelah berjalan lebih kurang satu jam, kami sampai di tempat yang dituju.
Sekali lagi sebagai orang awam, aku agak heran dengan model rumah para penduduk yang ukurannya rata-rata sama, termasuk di komplek perumahan yang kami datangi. Setelah ku ketahui ternyata hal itu merupakan kebijakan dari pemerintah. Rumah harus sesuai dengan standar yang ditetapkan, jika ada perubahan maka harus dilaporkan kepada pihak yang berwenang. Itulah sebabnya, keadaan bangunan di Amerika rapi dan terencana dengan baik. Usai menurunkan barang-barang yang kami bawa, sesosok laki-laki berbadan tegap, berkopiah dan berjubah keluar rumah dan mempersilahkan kami masuk ke rumahnya. Belakangan ku ketahui nama laki-laki itu adalah H. Aji Jumena. Beliau tinggal di kota New York lebih daripada 30 tahun. Sebuah masa tinggal yang terbilang cukup panjang. Seperti Pak Ratno, H. Aji Jumena merupakan New Yorker. Meskipun seorang New Yorker dan berbahasa Inggris dengan fasih, namun H. Aji Jumena kental berbahasa Betawi. Ia lahir dan dibesarkan di Jakarta. H. Aji Jumena terbilang banyak makan asam garam dalam menjalani kehidupan ini. Ia pernah aktif di AKABRI, menjadi pilot, pedagang, sampai menjadi mubaligh alam seperti sekarang ini. Mubaligh alam yang ku maksud berarti seseorang yang tidak berceramah namun memberi contoh tentang nilai nilai keislaman via perilaku sehari-hari.
Seperti kebanyakan orang, aku memiliki persepsi sinistik terhadap komunitas Muslim Indonesia yang sudah lama tinggal di Amerika. Pikirku, pasti kultur mereka akan sama minimal mendekati gaya hidup mayoritas orang Amerika. Seperti misalnya berpikir dan berperilaku liberal. Asumsiku keliru. Setelah ku cermati secara seksama, justru nilai-nilai keislaman dan gaya hidup islami ku temukan dalam keluarga H. Aji Jumena. Misalnya saja, tradisi shalat berjamaah, shalat dhuha, shalat tahajjud, membaca Alquran, menjadi santapan sehari-hari. Di tengah hiruk pikuk aktivitas dan gemerlapnya kota New York, mereka mengalokasikan waktu untuk bergerak sedekat mungkin kepada Allah. Dalam konteks ini, aku teringat prediksi John Naisbitt dan Patricia Abudene. Kedua intelektual itu menjelaskan bahwa semakin orang hidup di alam material semakin butuh pula ia terhadap nilai-nilai spiritual.
Komplek perumahan H. Aji Jumena dihuni oleh berbagai etnis dan penganut agama. Di tengah budaya individualistis, H. Aji Jumena menampilkan kehidupan sosial dan harmonis dengan mereka. Yang menarik dalam pemikiranku tentang orang Yahudi. Aku bertanya bagaimananya membangun hubungan sosial dengan orang Yahudi. Secara amat mengejutkan H. Aji Jumena memberikan jawaban tajam dan membuatku heran. Menurutnya, Yahudi sedikitnya dapat dilihat dari dua kategori, yaitu: Yahudi politik (zionis) dan Yahudi religi. Yang memusuhi umat Islam adalah Yahudi dalam kategori pertama. Sementara Yahudi dalam kategori kedua justru bekerjasama secara baik dengan umat Islam, termasuk memprotes kekejaman zionis Israel terhadap Muslim Palestina. Di sini, aku mendapatkan pelajaran berharga tentang toleransi. Selama ini, aku mengkaji toleransi secara manis di berbagai literatur yang ku baca, ternyata H. Aji Jumena bergerak lebih jauh dengan cara mempraktikkan toleransi itu. Dalam pandangannya, menjadi Muslim tidak harus menutup diri dari pergaulan dengan dunia luar. Toleransi juga tidak boleh kelewat batas sehingga pada akhirnya dapat mengorbankan iman. Pak Haji, you are my real teacher of life.
Hal lain menurut penilaianku tentang pribadi H. Aji Jumena adalah kesadaran sosial dan kepedulian sosial terhadap sesama. Selama tinggal di rumah beliau, aku dan para sahabatku diperhatikan secara maksimal. Berkali-kali ia menawarkan makanan dan minuman kepadaku.  Tak Jarang beliau langsung yang menyiapkan makanan dan minuman. Menurutku, beliau merupakan  the giving oriented person (pribadi yang merasa bahagia ketika memberi). Ternyata Bu Hj. Aji Jumena juga bersikap sama. Wajar saja jika ada tamu dari Indonesia yang berkunjung ke New York H. Aji Jumena dan Ibu termasuk orang pertama yang bersedia menerima tamu di rumahnya. Para tokoh seperti AA Gym, Ustaz Yusuf Mansur, Bang Haji Rhoma Irama, pernah menginap di rumah beliau. Aku beberapa kali speechless (tak dapat berkata-kata) melihat amal shaleh yang dilakukannya. Pelajaran ini amat berharga bagiku. Memberi tidak berarti mengeluarkan sesuatu yang kita miliki untuk orang lain. Memberi adalah sebuah aktivitas yang secara kasat mata untuk kebahagiaan orang lain namun secara hakiki untuk kebahagiaan diri kita sendiri. Aku teringat firman Allah dalam Alquran yang menjelaskan bahwa infak dan sedekah merupakan amal shaleh untuk mengejar Ridha Allah. Dalam pemikiranku, inilah yang menjadi dambaan H. Aji jumena dan keluarganya.
H. Aji Jumena dikarunia tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Doktrin hidup islami terlihat jelas dari cara berpakaian dan cara berkomunikasi anak-anaknya. Misalnya anak perempuan beliau yang masih kelas empat Sekolah Dasar sering bertanya  ketika berbelanja, “Mama, are you sure that it is halal? Mama, apakah yakin barang yang kita beli halal?” Menurutku, pertanyaan seperti ini jarang terlontar dari lisan seorang gadis kecil yang baru berusia tujuh tahun. Pesan moral yang dapat ku tangkap adalah nilai-nilai agama harus menjadi basis dalam kehidupan. Di tengah pragmatisme dan oportunisme sikap hidup di Kota New York, moralitas agama amat dibutuhkan sebagai pagar atau benteng agar diri kita senantiasa terlindungi dari pengaruh negatif. Meskipun baru berusia tujuh tahun, putri H. Aji Jumena tak lepas dari jilbab. Ini mengisyaratkan bahwa aurat adalah sesuatu yang mesti dijaga dan dilindungi untuk kemaslahatan diri dan komunitas. Padahal di kota besar seperti New York menutup aurat dapat menjadi sebuah tradisi yang secara umum dianggap ganjil.
H. Aji Jumena bekerja di perusahaan asuransi AON. AON adalah sebuah asuransi kelas atas yang memiliki berbagai cabang di seluruh dunia. Bahkan AON menjadi salah satu penyandang dana klub sepak bola besar, yaitu: Setan Merah (Manchester United). Di perusahaan itu, berkumpul orang-orang dengan latar belakang beragam. H. Aji Jumena mempromosikan Islam Rahmatan Lil Alamin (Rahmat Bagi Semesta Alam). Eksistensinya di perusahaan itu terbilang signifikan. Ia merupakan orang kepercayaan pimpinan AON. Dakwah H. Aji Jumena berlangsung lancar tanpa ada pihak yang merasa terancam. Di beberapa buku yang ditulis oleh Pimpinan AON, nama H. Aji Jumena kerap disebut sebagai penasehat spiritual dan sumber rujukan berbagai masalah yang muncul sewaktu-waktu di perusahaan asuransi itu. Bagiku, ini prestasi yang cukup luar biasa bagi orang Indonesia. Seorang Muslim yang taat dapat menjadi inspirator Pimpinan perusahaan besar. Selain itu, pesan moral yang dapat ku petik adalah metode dakwah yang perlu dikemas sebaik mungkin. H. Aji Jumena menyampaikan dakwah yang merangkul bukan memukul. Ia berupaya mendekatkan yang jauh dan merekatkan yang sudah dekat. Nilai-nilai inilah yang seharusnya dimiliki oleh para da’i dimanapun, salah satunya adalah aku.
Rumah H. Aji Jumena kami jadikan tempat tinggal selama beberapa hari. Di tengah kesibukannya yang demikian padat, ia tetap memberikan pelayanan maksimal kepada kami selaku tamu yang menginap di rumahnya. H. Aji Jumena bahkan bertanya sekaligus mengarahkan rencana kami selama tinggal beberapa hari di kota New York. Setuju dengan masukan yang disampaikannya, kami berencana mengunjungi beberapa land mark (lambang sebuah daerah) termasuk di antaranya patung Liberty, jembatan Brooklyn, dan monumen World Trade Center (WTC) untuk mengenang peristiwa terorisme pada 9 September 2001 yang lalu. Tentu yang paling menggembirakan adalah H. Aji Jumena memberikan kesempatan emas bagiku untuk belajar ceramah di Masjid Al-Hikmah Kota New York. Masjid itu sudah lama ku kenal dan ku dengar. Kali ini aku secara langsung dapat menjadi penceramah di dalamnya. Aku bahagia sekali dengan kesempatan bersejarah ini.
Di selimuti rasa dingin yang luar biasa, kami bergerak ke jantung kota New York di Manhattan. Kembali Pak Ratno dengan setia mengantar kami ke sana. Aku mendapati sebagian besar kota New York cukup rapi dan bersih. Meskipun di beberapa sudut kota ku lihat sampah berserakan. Tentu hal itu bukan dilakukan oleh warga New York sendiri melainkan oleh kaum imigran yang tinggal dan bekerja di sana. Meskipun dihuni komunitas beragam, kota New York terbilang aman dan penduduknya saling menghormati. Hak-hak individu demikian terjamin. Sistem sosial terbangun secara apik dan lalu lintas berjalan dengan lancar. Hal itu karena peraturan dijunjung tinggi dan diberlakukan secara luas. Misalnya saja pelanggaran terhadap lampu lalu lintas akan dikenakan denda yang cukup tinggi. Setiap sudut jalan dipasang kamera otomatis yang dapat memantau gerak lalu lintas di jalanan. Peraturan yang ketat itulah yang menyebabkan masyarakat hidup dalam sebuah sistem yang rapi. Dalam pencermatanku, kesadaran masyarakat untuk merawat fasilitas umum amat baik. Sense of belonging (rasa memiliki) menjadi semacam kebutuhan dasar mereka.
Sampai di tempat tujuan, aku dan beberapa rekanku membeli tiket menuju patung Liberty. Aku memilih tiket paling murah. Tiket itu tidak mengantarkanku ke kaki patung Liberty melainkan hanya berputar di sekitarnya dengan menggunakan kapal Ferry. Budaya antri membuatku kagum, dan para penumpang tidak ada yang saling berdesakan. Meskipun tidak sampai ke kaki patung Liberty, model dan keindahan pemandangan patung itu terlihat jelas. Semangat yang dapat ku tangkap dari patung yang cukup masyhur itu adalah ucapan selamat datang kepada para tamu yang berkunjung ke kota New York. Memang demikian seharusnya, kepada para tamu kita dianjurkan, tidak saja oleh budaya namun juga oleh agama, untuk bersikap sebaik mungkin. Ini juga mengisyaratkan betapa persaudaraan kemanusiaan amat penting dan perlu dirawat dari waktu ke waktu. Selain itu, patung Liberty melambangkan kebebasan dari  berbagai macam tekanan dan penindasan. Inilah semangat yang sepertinya dapat ku kontekstualisasikan dalam berbagai keadaan. Sebuah sistem sosial tidak akan berjalan secara baik jika rasa aman dan nyaman hilang dari ruang publik. Inilah pesan moral dari kunjunganku ke patung Liberty. Meski demikian, budaya muda mudi Amerika dalam beberapa hal terbilang tidak tepat bahkan bertentangan dengan keyakinan yang ku miliki. Inilah salah satu kritik kerasku terhadap budaya muda mudi Amerika.
Setelah mengunjungi patung Liberty, aku dan para rekanku bergerak menuju monumen WTC. Aku dan rekanku berjalan beberapa blok untuk mencapai monumen WTC itu. Aku merasa letih sekali namun amat bahagia. Aku bertanya kepada beberapa orang tentang posisi monumen WTC, mereka memberi jawaban dengan amat ramah. Pada akhirnya kami sampai juga ke tujuan. Aku berdiri sejenak mengamati sejauh yang ku dapat. Gedung tersebut kini berubah menjadi taman dengan kolam luas dihiasi air yang bergemericik. Aku termenung, gedung kembar sebagai lambang kedigdayaan Amerika di mata dunia hanya tinggal kenangan yang menyisakan deretan kesedihan. Ku baca di dinding pembatas kolam nama-nama para korban yang jumlahnya ribuan orang. Ada beberapa hal yang dapat ku garisbawahi, pertama: para korban yang kini hidup di alam lain, korban dengan cacat permanen, atau anggota keluarga yang ditinggalkan hendaknya tidak dilengkapi dengan keadaan serupa di tempat-tempat lain. Kedua, harus pula di sadari bahwa terorisme dalam  berbagai bentuknya tentu tidak dapat dibenarkan. Apalagi membunuh komunitas manusia yang tidak bersalah. Ketiga, bagi sebagian orang, Amerika secara politis dinilai arogan dan kejam kepada negara-negara yang dalam konteks tertentu mengkritik atau tidak dapat diajak kerjasama dengan mereka. Sebab itu, aksi terorisme ini dianggap sebagai media balas dendam dan pelajaran bagi Amerika. Aku berharap, kejadian WTC itu memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Aksi saling membunuh yang dilakukan oleh siapa saja berarti mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan tentu saja berseberangan dengan doktrin indah agama.
Setelah mengunjungi WTC, aku  dan para rekanku naik sub way (kereta bawah tanah) menuju tempat untuk bertemu Pak Ratno. Pada malam harinya aku bersama rekanku harus menyampaikan ceramah di Masjid Al-Hikmah. Aku mengalami kesulitan dalam proses pembelian tiket. Gelagat kami menarik perhatian seorang pemuda dengan wajah khas Asia. Ternyata ia warga negara Indonesia yang sedang bekerja di sebuah Bank di New York. Dengan cekatan ia menawarkan bantuan kepada kami sekaligus menjelaskan arah yang harus kami tempuh. Terima kasih sobat. Jasa baikmu akan tetap terpatri di relung kalbuku. Aku berpikir, rasa nasionalisme menjadi kental ketika kita berada di negeri orang. Rasa senasib dan sepenanggungan muncul recara otomatis ketika berhadapan dengan keadaan.
Pada malam harinya, sebagaimana yang sudah direncanakan, aku bersama para rekanku berangkat ke Masjid Al-Hikmah. H. Aji Jumena setia mendampingi kami. Sesampainya di masjid, kami masuk dan bersilaturrahim dengan para jamaah yang sudah menunggu. Mereka tak lupa membawa keluarga termasuk anak-anak. Pemandangan yang membuat aku tersenyum kagum, sebagian anak-anak jamaah apakah lahir di kota New York atau di Indonesia, lancar sekali berbahasa Inggris. Aku menyampaikan materi “sukur dan sabar”. Para jamaah memperhatikan dengan amat seksama. Mereka rindu sekali dengan kegiatan pengajian seperti ini. Sebagian ada yang tersenyum bahkan tertawa lebar dengan materi yang ku sampaikan. Aku senang mendapat respons positif dari jamaah. Mereka berkeinginan agar pada kesempatan lain aku dapat melakukan hal yang sama. Pada malam itu, H. Aji Jumena bertindak sebagai moderator. Padahal menurutku ilmu agama yang dimilikinya terbilang mumpuni. Hanya saja beliau belum mau menerima kesempatan mengisi pengajian sebagaimana layaknya ustaz pada umumnya. Selepas pengajian, seorang anak berusia tiga tahun, tenyata cucu Pak Ratno, menghampiriku dan mengatakan “I have big trains/ Aku punya kereta api yang besar”. Bahasa Inggrisnya khas Amerika. Canda itu ku jawab, “I also have many big trains in Indonesia/ Aku juga memiliki kereta api yang banyak di Indonesia”. Tentu saja bahasa Inggrisku khas Indonesia beraroma Jawa pula. Di malam itu, dengan berat hati kami berpisah dengan para jamaah. I miss you all Muslim New Yorkers.
Keesokan harinya aku dan rekanku beristirahat dan sore harinya bersiap membeli tiket menuju Washington DC. Kami berencana menggunakan bus Grey Hound yang dilengkapi wifi. H. Aji Jumena dan Ibu mengantar kami membeli tiket. Di luar dugaan, H. Aji Jumena dan Ibu berlomba membayarkan tiket untuk keberangkatan kami. Sungguh kebaikan yang tidak dapat kami balas andai kata mereka berkunjung ke rumah kami. Terima kasih Bapak dan Ibu. Kebaikanmu mengangkasa dan menggetarkan mahluk langit karena terpesona dengan kecintaanmu kepada sesama. Kami pun pulang ke rumah dan beristirahat pada malam terakhir di rumah H. Aji Jumena. Rumah itu ku rasakan sebagai surga kebahagiaan. Pada pagi harinya, aku dan rekanku bersiap menuju terminal bus. H. Aji Jumena dan Ibu meskipun tidak turut mengantar kami, ternyata sudah mempersiapkan taksi mewah yang mereka miliki untuk kami gunakan menuju terminal. Semua mereka siapkan secara free (gratis). Aku berpikir, tiada hari tanpa amal shaleh yang mereka lakukan.
Sampai di terminal, kami sempat beristirahat menunggu keberangkatan. 30 menit sebelum pintu dibuka kami sudah mengantri dengan rapi. Aku berdiri di tengah warga Amerika yang kebetulan sama sama ke Washington DC. Ada pemandangan menarik, seorang pemuda berdiri tepat di sebelahku tanpa menghiraukan sekelilingnya asyik menikmati buku yang ia baca. Pemandangan demikian mudah ditemui. Mereka menjadikan budaya baca sebagai kebutuhan. Itulah di antara tanda sebuah masyarakat yang sudah mencapai peradaban modern. Budaya seperti inilah yang seharusnya dicontoh oleh masyarakat kita. Budaya tonton di Indonesia jauh lebih menguasai masyarakat ketimbang budaya baca. Inilah di antara variable yang menyebabkan masyarakat kita sulit untuk berkembang apalagi untuk maju.
Para pembaca yang dirahmati Allah, perjalananku masih panjang. Aku akan menguraikan perjalanan ke Washington DC, Virginia, Maryland, Pensylvania dan tujuan terakhirku Ohio pada tulisanku selanjutnya. Banyak ibrah kehidupan yang insya Allah nanti ku paparkan. Semakin banyak berjalan semakin banyak yang ku lihat. Tentunya semakin banyak hikmah, pelajaran yang dipetik. Para pembaca yang budiman, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk sekedar membaca tulisan sederhana ini. Aku mohon maaf andaikata yang ku tuliskan kurang pada tempatnya. Akhirnya kepada Allah semua ku serahkan. Jazakumullah khairul jaza’.


8 komentar:

mukhrizal arif mengatakan...

ditunggu catatan tentang Ohio nya mas

Desy Ariska mengatakan...

Perjalanan yg luar biasa mas, tidak banyak orang seperti mas. terutama saya yang terkadang iri namun jauh dari harapan seperti itu.

Ditunggu Blog selanjutnya mas... :)

Desy Ariska mengatakan...

Luar Biasa Mas, terimakasih telah berbagi ilmu nya.

Qorib Aja mengatakan...

Ya rif....syukron ya sdh berkunjung. Jazakallah

Qorib Aja mengatakan...

Rif makasih ya sdh berkunjung. Jazakallah

mukhrizal arif mengatakan...

Kasih Kembali, Wajazakallahu alaik

mukhrizal arif mengatakan...

Kembali kasih mas, wajazakallahu alaik

mukhrizal arif mengatakan...

kembali kasih mas, wa jazakallahu alaik