Kamis, 13 Agustus 2015

Islam Berkemajuan




Untuk melihat Islam, banyak perspektif yang dapat digunakan. Namun secara umum hal tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua tipologi, yaitu: Islam normatif dan Islam historis. Tipologi pertama terdapat dalam Alquran dan as-Sunnah, selamanya akan benar, dan tidak ada pluralitas pandangan kaum Muslim untuk menerimanya kendatipun berbeda latar belakang kultural. Tidak demikian halnya dengan tipologi kedua. Islam pada ranah ini bersifat relatif dan merupakan implementasi dari tipologi pertama. Potensi terjadinya berbagai perbedaan juga tidak dapat dihindari.

Ranah Islam Berkemajuan
Harus dipahami bahwa istilah Islam berkemajuan berada pada ranah historis, bukan normatif. Sebab itu wajar saja, istilah ini melahirkan perdebatan akademik yang cukup panjang dan menarik. Terkait dengan kapan munculnya istilah tersebut, ada beberapa pendapat yang dapat dikemukakan. Misalnya saja, KH. Ahmad Dahlan dianggap sebagai peletak dasar semangatnya. KH. Mas Mansur, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah beberapa periode setelahnya juga pernah mengusung istilah itu. Momentum yang dianggap historis sebagai penegasan muncul pada saat Muktamar satu abad Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta. Ibarat mata rantai yang tak terputus, Islam berkemajuan menjadi sebuah gagasan besar yang digelorakan dan ingin diwujudkan Muhammadiyah.
Mengapa Islam berkemajuan? Sebagaimana dipahami, Islam merujuk pada agama yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah, kemudian disampaikan kepada umat Islam khususnya. Pada tataran ekspresi dan implementasi, gerak Islam mengalami pasang surut, tergantung kecakapan umat yang mempraktikkannya. Tak jarang Islam disalahpahami bahkan diamalkan secara keliru. Inilah yang menyebabkan ekspresi dan implementasi ajaran Islam tak berbanding lurus dengan cita ideal Islam. Bahkan Islam terkesan mundur, apalagi dalam perjalanannya yang panjang satu setengah millenium pasca wafatnya Rasulullah. Islam terlihat terseok-seok dalam mewujudkan komunitas khairu ummah (umat terbaik), terlebih dunia Islam kerap kali porak poranda karena konflik internal. Sebagaimana dikemukakan Muhammad Abduh, Islam mundur karena kekeliruan umat Islam dalam memahami dan mengimplementasikan ajaran Islam (al-Islaamu majuubun bi al-Muslimiin).
Islam berkemajuan mencoba menelusuri semangat Islam yang sesungguhnya untuk kemudian ditransformasikan dalam pola pikir dan gerakan di berbagai dimensi kehidupan. Islam berkemajuan merupakan sebuah kesadaran religius yang lahir dari kegelisahan umat untuk melukis Islam agar tetap menjadi pilihan sejarah. Label berkemajuan mengisyaratkan sedikitnya pada empat hal: pertama, kontekstualisasi nilai-nilai Islam agar sesuai dengan zamannya; kedua, kritik teologis terhadap pemahaman umat Islam yang cenderung jumud, mandeg, dan terbelakang; ketiga, semangat untuk menjadikan Islam sebagai diinul hadhaarah (agama yang melahirkan peradaban modern); keempat, orisinalitas ajaran Islam pada aspek-aspek tertentu.
Ada dua hal menarik dalam Islam berkemajuan. Keduanya terkesan bergerak saling menjauh dan bersifat kontradiktif, namun sesungguhnya saling menguatkan. Pertama tentu untuk urusan akidah dan ibadah. Dalam konteks Islam berkemajuan, urusan akidah dan ibadah harus dikembalikan kepada sumber aslinya, yaitu Alquran dan as-Sunnah. Keduanya akan semakin memiliki nilai baik dan dianggap orisinil ketika semakin dekat dengan masa Rasulullah dan para sahabat. Selanjutnya urusan mu’amalah. Semakin jauh dan modern maka urusan ini tentu akan semakin baik, hanya saja harus tetap berlandaskan pada semangat Islam dan tidak boleh bergulir secara liar dan tanpa kendali.
Islam berkemajuan memadukan dua masa berbeda menjadi sebuah visi yang bersifat klasik pada satu sisi namun juga progresif dan dinamis pada sisi lain. Integrasi masa lalu dan masa kini akan melahirkan sebuah gerakan yang memiliki basis teologis jelas dan kokoh sekaligus dapat melahirkan daya baca kritis dan tajam terhadap berbagai perkembangan zaman yang sedang berlangsung. Visi Islam berkemajuan memiliki daya dobrak dan daya jangkau jauh ke depan. Modern namun tidak kehilangan arah dan kendali, tradisional namun tidak picik terhadap perubahan.
Fazlur Rahman pernah menaruh harapan besar, bahwa kebangkitan dunia Islam dengan peradaban modern akan terjadi di dua negara, yaitu: Indonesia dan Turki. Rahman kecewa dengan negara-negara Islam dan berpenduduk Muslim di kawasan Timur Tengah yang tak putus dirundung peperangan. Harapan Rahman kemudian terwujud, namun bukan di Indonesia melainkan di Turki. Di negara yang kini masuk ke daratan Eropa, Islam di Turki menjadi penentu nadi sejarah. Peran sartanya dalam proses pembangunan tidak dapat diabaikan. Secara umum masyarakatnya berpikiran modern namun tetap menapak pada ajaran Islam. Islam berkemajuan di Turki menjadi benar-benar terwujud.
Bagaimana dengan di Indonesia? Harapan untuk menjadi salah satu negara di mana Islam berkemajuan tumbuh dan berkembang sepertinya masih menjadi dambaan. Gerakan ke arah itu sudah disuarakan berbagai pihak, namun tak kunjung terwujud. Kita lihat saja kultur beragama secara internal yang cenderung intoleran, julukan-julukan sesat, kafir, tergelincir, ahlul bid’ah, liberal, fundamentalis, antek Yahudi, mudah sekali dijumpai. Terlebih setelah media-media sosial dengan nuansa provokatif menjadi salah satu ladang curhat bagi umat. Belum lagi model kehidupan kita yang kumuh, baik secara fisikal maupun mental. Korupsi, kolusi, nepotisme, jual beli hukum, pencemaran lingkungan, seolah menjadi sebuah tradisi yang mengasyikkan pelakunya.
Kesadaran bahwa selama ini kita telah menjadi korban proxy war (kaki tangan pihak yang berperang) masih belum muncul. Pertarungan politik dan ekonomi di kawasan negara-negara Islam di Timur Tengah seperti Arab Saudi versus Iran secara ironis dan tanpa sadar dilanjutkan di Indonesia dengan para komprador di masing-masing pihak. Yang lebih miris lagi, persoalan politik di kedua negara itu disulap menjadi persoalan teologi di Indonesia. Apalagi psikologi umat Islam seperti rumput kering, mudah sekali terbakar. Darah segar dan energi umat sering tumpah dan terbuang dengan sia-sia untuk urusan ini. Di sinilah kemudian Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk memberi jalan keluar terhadap wajah umat Islam yang kian kusam dengan mengusung narasi besar, Islam berkemajuan.

Intisari Diin al-Islaam
Istilah Islam berkemajuan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Memang betul, istilah itu terkesan asing di berbagai komunitas akademik atau masyarakat luas. Namun jika ditelusuri secara lebih mendalam dan detil tentang karakteristik Islam berkemajuan, jelas ditemukan bahwa sesungguhnya Islam berkemajuan merupakan elaborasi kontekstual dari nilai-nilai yang terdapat di dalam Alquran maupun as-Sunnah. Selama ini kaum Muslim meletakkan dua sumber suci itu secara ahistoris dan tidak membumi, maka kaum Muslim gagal membawa nilai-nilai kemajuan dalam aktifitas sehari-hari. Alquran dan as-Sunah seperti dua pusaka  masa lalu yang disakralkan secara lisan namun diabaikan dalam perilaku.
Islam berkemajuan bukan hendak menciptakan sebuah agama baru. Cita-cita yang terkandung adalah terwujudnya umat terbaik dengan tauhid yang kuat, berpikiran maju, toleran, moderat, kosmopolit, disiplin yang tinggi, humanis, universal, namun tidak meninggalkan partikularitas kultur lokal dengan tetap berlandaskan semangat Alquran dan as-Sunnah. Dengan demikian Islam berkemajuan sesungguhnya merupakan intisari dari diin al-Islaam itu sendiri. Wallaahu a’lam.


0 komentar: