Jumat, 28 Agustus 2015

Deklarasi SEOUL Untuk Kedamaian

Agama sejatinya diturunkan Allah untuk menciptakan sumber kedamaian dalam kehidupan. Pesan normatif  ini menjadi impian bagi semua pihak. Wajah agama begitu menyejukkan dan menyatukan. Namun ketika agama menyejarah, wajah sejuk dan ramah seringkali berubah sebaliknya. Agama menjadi kasar dan bengis. Berbagai konflik horizontal yang terbentang di banyak tempat ditengarai menggunakan agama sebagai senjata pembunuh yang paling dahsyat. Pada ranah ini, tidak sedikit pihak berupaya keras untuk menyegarkan fungsi-fungsi sosial agama dan mencari formula baru agar agama kembali kepada pesan semula.
Salah satu tokoh penting yang melakukan hal itu adalah Man Hee Lee. Lee merupakan salah seorang veteran perang Korea (1950-1953). Lee berupaya keras untuk mengembalikan agama ke posisi aslinya, yaitu sebagai sumber kedamaian. Lee merasakan secara langsung asap hitam, panasnya api peperangan, serta konflik horizontal yang menggunakan spirit agama. Berangkat dari fakta pahit ini, Lee mendarmabaktikan hidupnya untuk menjadi duta perdamaian (the ambassador of peace) demi terwujudnya perdamaian.
 Melalui lembaga yang didirikannya, Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) (Budaya Surgawi, Perdamaian Dunia, Restorasi Cahaya), Lee melakukan perjalanan panjang ke seluruh dunia, bertemu dengan para  pemimpin negara, pemimpin agama, aktivis perempuan, aktivis kepemudaan dan para pemimpin lembaga-lembaga sosial, untuk terlibat aktif dalam proses perdamaian. Melalui HWPL, Lee telah berhasil menjadi inspirator, inisiator dan pendampingan salah satunya  mendamaikan umat  Katolik dan umat Islam yang terlibat konflik di Filipina selama 40 tahun.
Di usianya yang tidak lagi muda, 80 tahun, Lee mengundang tokoh-tokoh pemerintahan, tokoh-tokoh agama dunia, para aktivis perempuan, para aktivis kepemudaan ke Seoul Korea Selatan dalam sebuah Konferensi  Internasional World Alliance of  Religions: Peace Summit, untuk urun rembuk dalam menciptakan visi dan misi bersama. Acara yang berlangsung dari tanggal 17-19 September 2014 diawali dengan opening ceremony (upacara pembukaan) secara amat meriah di Olympic Stadium Seoul. Opening ceremony dihadiri tak kurang dari 100 ribu orang, terdiri dari seluruh penganut agama-agama dunia: Yahudi, Katolik, Kristen, Hindu,  Buddha, Konghucu, Taoisme, Islam, maupun masyarakat umum yang menjadi relawan.
Dalam opening ceremony itu, para pemimpin politik dan pemimpin agama dunia menyampaikan opening remarks (ucapan pengantar) yang bermuara pada sebuah konklusi: rasa prihatin yang mendalam atas berbagai disfungsi agama dan perlunya kedamaian.  Pidato yang sangat menggetarkan muncul dari Man Hee Lee. Lee membawa ruh seluruh hadirin berziarah ke berbagai tempat dan lorong waktu di mana agama menjadi fasilitator hitam terjadinya berbagai konflik sosial. Lee berbicara tentang rasa sakitnya kehilangan keluarga bahkan kehilangan hidup dan masa depan. Ia memimpikan bagaimana dunia bersaudara lewat sebuah statemen yang terpampang dalam sebuah tulisan “We Are One” (Kita adalah saudara).
Sementara  itu, Nam Hee Kim, Chair Woman of  International Women’s Peace Group (IWPG) (Ketua Perhimpunan Perempuan untuk Perdamaian Internasional), mengajak warga dunia untuk memulai perdamaian melalui diri masing-masing. Jika responsibilitas untuk mewujudkan kedamaian telah menjadi tanggung jawab setiap individu maka akan bermuara pada sebuah kekuatan yaitu tanggung jawab kolektif untuk kedamaian. Menurutnya, kedamaian adalah anugerah ilahi yang harus dirawat sepanjang masa.
Rabbi Shmuley Boteach, Pendeta Yahudi Ortodoks, dalam kesempatan yang sama menghimbau agar kedamaian diwujudkan tidak hanya pada ranah eksternal secara luas, namun harus pula dihayati dari diri masing-masing. Boteach menegaskan bahwa kita harus hidup dalam kebersamaan dan persaudaraan dan memiliki status yang sama di hadapan Tuhan. Bahwa kemudian terdapat varian ekspresi keagamaan, hal itu merupakan kehendak Tuhan yang harus disikapi secara toleran.
Pada hari ke dua, acara dilangsungkan di 63 Building Covention Center. Di hari ke dua ini tampil pula para pembicara yang mewakili negara dan agama. Mereka  menyampaikan pokok-pokok pikiran untuk mewujudkan kedamaian. Dalam catatan penulis yang mewakili Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dan  terlibat langsung dalam event tersebut, paparan yang dikemukakan H.E. Haris Silajzic, Mantan Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri Bosnia Herzegovina menarik untuk dicermati. Menurutnya, konflik horizontal antar umat beragama sama sekali tidak ada dasarnya dalam agama. Konflik itu dipicu oleh berbagai kepentingan nasional, internasional, kepentingan politik maupun kepentingan penguasaan sumber-sumber ekonomi.
Hal senada juga diungkapkan oleh Patricio Viveros Robles, Arch Bishop (Uskup Agung) dari Chili. Robles secara sinistik menjelaskan bahwa politik telah merusak peran dan fungsi agama untuk menciptakan kedamaian. Meskipun ia menyadari bahwa politik jika ditempatkan secara proporsional pasti akan melahirkan kedamaian. Ia tidak menampik bahwa politik merupakan faktor yang paling dominan tercabik-cabiknya persaudaraan kemanusiaan dan sirnanya kedamaian.  
Penulis mendapatkan pengalaman menarik ketika berbincang dengan Riffat Hassan, Cendekiawan sekaligus Feminis Muslimah asal Pakistan yang kini menetap di Kentucky Amerika. Kepada penulis Hassan menuturkan bahwa umat beragama dapat bersatu jika diikat oleh kedamaian. Rasa damai adalah hal yang kini hampir sirna dari praktik keagamaan setiap kita. Padahal semua mahluk hidup tidak dapat melangsungkan kehidupannya tanpa adanya kedamaian. Meskipun tidak tampil sebagai pembicara, namun kehadirannya memberikan warna tersendiri terlebih ketika ia mengapresiasi pesan damai yang disampaikan oleh Esref Gokcimen, Imam Besar Tasawuf dari Jerman.
Momen yang paling bersejarah terjadi ketika para pemimpin politik, para pemimpin agama, para pemimpin organisasi kepemudaan, para aktivis perempuan, menandangani naskah perdamaian dunia yang disebut “Unity of Religion Agreement” (Deklarasi Perjanjian Agama). Naskah itu menjadi semacam spirit sekaligus “buku suci” yang lahir dari ikhtiar untuk saling berdialog, bekerjasama, memahami orang lain sebagai elemen penting kehidupan, dan berakhirnya berbagai bentuk kebencian dan  peperangan. 1500 peserta menyatakan diri siap menjadi duta perdamaian dunia pada momen bersejarah itu.
Terdapat beberapa poin penting dalam deklarasi tersebut, yaitu: Pertama, para pemuka agama berkewajiban untuk mengakhiri segala bentuk kecurigaan dan menjadi duta perdamaian. Kedua, atas nama Tuhan para pemuka agama berjanji untuk membangun persaudaraan semesta karena pada hakikatnya manusia adalah satu. Ketiga, para pemuka agama harus mewujudkan kedamaian di muka bumi untuk kemudian diwariskan kepada generasi mendatang. Keempat, para pemuka agama harus bersatu untuk mengakhiri berbagai konflik dan mewarnai dunia ini dengan kedamaian.
 Pada hari ketiga, acara diakhiri dengan peace walk (jalan damai). Puluhan ribu peserta tumpah ruah di jalanan Kota Seoul yang segar dan bersih sembari meneriakkan pesan-pesan kedamaian. Di hari terakhir itulah semua peserta diikat oleh sebuah “agama baru” yaitu kedamaian. Orang tidak lagi dilihat dari latar belakang agama atau kepercayaannya, melainkan sejauh mana kedamaian dapat dijunjung tinggi. Saat itulah persaudaraan antar iman begitu terasa. Silaturrahim internasional itu menjadi bukti bahwa faktor paling dominan untuk menyatukan berbagai pihak yang selama ini bertikai adalah kedamaian. Wallaahu a’lam.

0 komentar: