Senin, 17 Agustus 2015

Ceritaku tentang IMM






Para pembaca yang dirahmati Allah, cerita ini bersifat subjektif dan ditulis dengan cara tidak ilmiah. Tidak ada metode khusus yang dipakai, hanya sebatas deskripsi diri yang lahir dari gumpalan pengalaman. Inilah yang coba ku anyam dan ku tuangkan dalam tulisan. Bagi para pembaca yang kebetulan memiliki waktu luang, silahkan mengikuti paparan demi papaparan yang ku tuangkan. Mana tau ada kesamaan substansi yang diuraikan, atau ada pelajaran baik maupun buruk yang didapatkan. Sebelumnya aku mohon maaf jika dalam cerita ini ada beberapa hal yang kurang berkenan di hati para pembaca sekalian. Maklumlah, aku hanya mencoba menghubung-hubungkan titik menjadi kata, dan merangkai kata menjadi kalimat. Boleh jadi kalimat itu memberi makna atau tidak sama sekali.
Aku termasuk orang yang beruntung karena pernah menjadi skrup kecil di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Aktivitas yang ku lakukan selain meneguk ilmu dari para dosen, juga mengais banyak hikmah bersama para ustaz di ranting-ranting Muhammadiyah. Namun di antara aktivitas yang paling membekas dan tertancap kokoh dalam file sejarah kehidupanku adalah saat-saat aktif di IMM. Awalnya, aku cukup skeptis dengan lembaga kemahasiswaan ini. Namun setelah ku dalami dan mendapatkan informasi yang cukup dari para senior dan sahabat-sahabat karibku, akhirnya ku putuskan untuk menjadikan IMM sebagai kampus kedua bagiku.
Saat itu, aku mulai jatuh cinta terhadap IMM. Ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Dengan bantuan orang-orang yang tulus lagi non pamrih, aku disarankan untuk lebih mengasah diri dan membasuh debu-debu dalam pemikiranku lewat sebuah madrasah yang dikenal  dengan Darul Arqam Dasar (DAD). Materi-materi yang ku terima di jenjang perkaderan terbawah ini tidak asing bagiku, malah semakin mendekatkanku pada Islam dalam perspektif Muhammadiyah. Aku masih ingat ketika para penceramah dan para instruktur menanamkan doktrin keislaman, ke-Muhammadiyahan dan ke-IMM-an ke dalam benakku, aku merasa seperti terhipnotis. Dalam dadaku bergelora sebuah ambisi, kelak aku ingin seperti mereka.
Usai dinobatkan sebagai kader IMM, darah merah bergejolak di dalam dadaku, persis seperti ketika aku diasah untuk menjadi kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di sekolahku. Aku amat emosional ketika itu. Sampai tersembul niat konyol di dalam diriku, kalau aku mati maka keranda yang mengusung jasadku yang terbujur harus berbendera IMM. Waktu terus berjalan mendewasakanku. Aku belajar dari orang-orang besar dan berpengaruh yang pernah dilahirkan dari rahim IMM. Mulai dari tokoh nasional sampai tokoh lokal. Aku berpikir, senang sekali menjadi orang besar dan terkenal seperti mereka. Namun yang membuat akalku menerawang dan khayalku membumbung tinggi adalah  buah pikir yang mereka lontarkan untuk mencerahkan masyarakat.
Aku juga sering bermimpi untuk menjadi seorang instruktur. Ternyata momen yang ku dambakan tiba juga, meskipun hanya pada level Masa Ta’aruf (Masta). Betapa bangganya diriku mendapat predikat tersebut. Padahal sesungguhnya predikat itu juga disandang para sahabatku yang lain. Aku memberanikan diri berdiri di depan kelas memoles dan  mengukir retorika di depan mastawan dan mastawati. Ikhtiarku membuahkan hasil, meskipun tidak semua, namun mastawan dan mastawati tertarik dengan paparanku mengenai IMM dan tentu saja al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Pasca momentum itu, aku selalu dilibatkan dalam banyak event oleh para seniorku, meskipun hanya sebagai petugas angkat dan cuci piring dalam sebuah kegiatan.
Darah segar IMM yang mengalir di tubuhku tak ku sia-siakan. Aku aktif di Komisariat Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Saat itu, aku diamanahkan oleh teman-temanku sebagai Ketua Bidang Keilmuan. Batinku berkata, bagaimana mungkin orang sepertiku menempati posisi bergengsi seperti itu? Namanya juga amanah, aku harus mengembannya. Padahal sesungguhnya, sederetan temanku punya keahlian lebih untuk posisi itu. Melalui bidang Keilmuan, aku menyemarakkan diskusi-diskusi ilmiah, bedah buku, dialog antar umat beragama, seminar nasional dan kegiatan akademik yang lain. Anehnya, kami menggali dana secara massif ke luar kampus. Tidak sedikitpun kami mengandalkan dana dari orang-orang dekat seperti Pimpinan Fakultas atau para senior. Jika pun ada, maka dapat dikatakan minim. Berbagai sponsorship kami dapatkan untuk mensukseskan berbagai kegiatan yang kami selenggarakan. Dalam diri kami terpatri target mulia, kami harus mampu menciptakan kail bukan meminta ikan. Target tersebut rupanya menjadi modal masa depan yang tingi nilainya.
Ketika aku diwisuda, puncak kesakralan akademik itu digunakan oleh teman-temanku untuk menciptakan selebrasi sederhana. Kala itu aku sudah duduk sebagai Sekretaris Bidang Kader dan Alumni Pimpinan Cabang IMM Kota Medan. Aku diminta untuk menyampaikan beberapa pokok pemikiran sekaligus kesan dan pesan selama menjadi mahasiswa S.I di FAI UMSU. Berbekal analisa dangkal dan pisau analisis tumpul, ku beranikan diri berbicara di hadapan mereka, sebagian besar yang hadir adalah kader-kader IMM. Meskipun hasilnya tidak memuaskan namun aku merasakan sensasi kebahagiaan yang sulit terlukiskan. Selebrasi yang diadakan teman-temanku juga menjadi ajang silaturrahim dan penguatan jaringan kader-kader ikatan. Pelajaran penting yang dapat ku petik kala itu adalah rasa kebersamaan yang kuat dan mengakar. Kami bergerak dalam keterbatasan, namun hal itu tidak melunturkan semangat kami untuk terus menjadi yang lebih baik.
Kesempatan untuk melanjutkan jenjang perkaderan Darul Arqom Madya (DAM) terbuka untukku. Di jenjang perkaderan itu, aku berinteraksi secara luas dengan sesama kader ikatan yang datang tidak hanya dari seluruh Sumatera Utara, namun juga dari Aceh, Sumatera Barat dan Riau. Tentu saja jejaring gerakanku bertambah luas, apalagi teman-temanku memiliki wawasan beragam. Hal tersebut menjadi modal tersendiri untuk menambah pengetahuan. Seingatku, di arena perkaderan itu kami banyak berdiskusi, terkadang sampai tegang namun tetap kreatif. Salah seorang peserta immawati dari Sumatera Barat menyebutku sebagai  sosok yang runtut dalam menyampaikan buah pikiran. Aku malu dengan sebutan itu. Padahal lontaran-lontaran pemikiran yang ku semburkan kerap tak tentu arah dan tak mengenai sasaran. Tapi sudahlah, memberikan julukan kepadaku adalah haknya dan menyimpan rasa malu juga hakku.
Usai DAM, statusku secara otomatis membawaku pada posisi yang lebih baik, luas dan tentu saja, kalau boleh ku sebut, sebagai salah seorang pilar perkaderan IMM di Sumatera Utara. Tentunya aku tidak sendiri, tetap bersama dengan rekan-rekanku yang lain. Kami aktif melakukan perkaderan di seluruh Sumatera Utara terutama di kota Medan. Aktivitas perkaderan, terutama DAD, menjadi kegemarankan. Bahkan perkaderan itu bermetamorfosa menjadikanku sebagai sosok maniak. Tapi aku melihat ini merupakan fenomena yang masih normal dan tak perlu ada kerisauan. Menariknya, di setiap perkaderan aku selalu diamanahkan sebagai Imam Training, tokoh spiritual dalam konteks tasawuf modern. Amanah itu terbilang professional, karena seorang Imam traning mestilah memahami ilmu-ilmu keislaman. Alasannya sebenarnya bukan itu, namun karena aku alumni dari fakultas agama maka Imam Training lebih tepat bagiku. Meskipun dari fakultas umum, tidak sedikit sahabatku memiliki paham keagamaan yang baik bahkan qira’atul Quran yang fasih. DAD menjadi lahan bagiku untuk berimprovisasi secara akademik dan intelektual. Ku rasakan DAD memformat diriku lebih baik dari waktu ke waktu.
Ada cerita menarik sebagai pengalaman hidup. Sebagai aktivis yang tidak saja fokus pada dinamika kehidupan akademik di program pascasarjana, bersama dengan yang lain, aku juga kerap mengikuti berbagai kegiatan di banyak tempat. Tentu hal ini menyedot dana yang tidak dapat dikatakan kecil untuk ukuranku, seperti: transportasi maupun konsumsi. Keduanya harus ku tanggulangi secara mandiri. Active income (pemasukan dana harian) ku dapatkan dari “menjual” ayat-ayat Allah (istilah yang kami populerkan untuk ceramah) selain membantu mengajar satu atau dua mata pelajaran untuk anak-anak. Praktis pendapatanku pas pasan. Karena itu, untuk makan sehari-hari aku selalu meminjam istilah yang populer di dunia fikih, yaitu: jama’ dan qashar (mengumpulkan dan memendekkan). Makan siang dan malam terkadang ku jama’ takdim (dilakukan sekaligus pada saat makan siang) atau jama’ takhir (makan siang dan malam dilakukan sekaligus pada saat makan malam). Terkadang makan malam atau siang yang sudah di-jama’ di-qashar pula alias dikurangi. Itulah suka dan dukanya aktivis. Namun pembelajaran yang ku dapatkan dari proses itu tidak kecil. Aku belajar mensyukuri nikmat Allah dalam situasi apa pun. Asupan gizi yang masuk ke tubuhku juga terbatas. Karena itu, aku termasuk orang yang cerdas memanfaatkan peluang untuk memperbaiki asupan gizi itu melalui rajin mendatangi undangan perkawinan, akikah, syukuran dan lain-lain.  Oleh-oleh yang ku bawa untuk mereka lebih banyak doa keselamatan ketimbang buah tangan nyata. Di tempat-tempat tasyakuran itulah aku memperbaiki gizi. Aku dapat makan sebanyak yang ku mau.
Jenjang perkaderan tertinggi di IMM yaitu Darul Arqom Paripurna(DAP)  menjadi impianku selanjutnya. Hal itu menjadi kenyataan. Pelaksanaannya di Jantung Ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta, tepatnya di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Bermodal dana yang cukup terbatas, kami memberanikan diri untuk merambah Ibu Kota Jakarta. Kami menempuh jalur darat. Di tengah perjalanan, ternyata kendaraan yang kami tumpangi mengalami kerusakan mesin, kami harus tidur di tengah belantara saat itu. Namun demikian, hasrat untuk mengejar pengalaman di simpul kota ilmu seperti Jakarta memotivasi kami untuk menghadapi berbagai rintangan.
Sesampainya di Ibu Kota, kami disambut dengan meriah dan gegap gempita oleh deru mesin-mesin kendaraan dan polusi udara yang cukup tinggi. Semua kami abaikan demi sebuah cita-cita, menjadi peserta DAP. Singkat cerita, kami berkumpul dengan kader-kader ikatan dari seluruh nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Di arena DAP, perdebatan-perdebatan kelimuan terjadi. Aku banyak mendapatkan wawasan baru. Teman-temanku dari Pulau Jawa memang ku akui unggul secara intelektual, setiap kali berbicara, maka argumentasi yang mereka bangun tentulah merujuk pada buku-buku ilmiah. Tak jarang buku-buku itu berbahasa asing (Inggris dan Arab). Dari situlah aku mengetahui, kalau kader-kader IMM di Jawa cukup matang dalam keilmuan. Mereka rata-rata berpredikat sebagai kutu buku. Beberapa di antara mereka juga penulis buku, sungguh strata keilmuan yang mengundang decak kagum diriku. Di sinilah perbedaan mereka dengan kader-kader IMM di kotaku, sudah pasti termasuk aku. Aku juga melihat, bahwa IMM di tangan mereka dirawat sebagai komunitas ilmu. Mereka tidak tertarik dengan isu-isu seksi semisal politik praktis yang cukup membius itu. Padahal era reformasi baru bergulir selama tiga tahun.
Kader-kader IMM di Jawa tidak asing dengan dunia tulis menulis. Media massa nasional menjadi konsumsi mereka. Nama-nama mereka juga menghiasi kolom opini. Mereka tidak saja mampu berwacana dalam konteks Jakarta saja tapi juga nasional. Inilah salah satu kelemahan yang terus ku ratapi ketika itu. Aku dan teman-temanku di Sumatera Utara banyak melakukan gerakan tanpa basis keilmuan matang, hasilnya tentu kurang reflektif dan cenderung pragmatis. Penyesalan secara pribadi berkecamuk di dalam diriku. Nafas dan semangat tulis menulis kader-kader IMM di Jawa coba ku transformasikan dalam konteks kehidupanku. Perlahan namun pasti, tangga ke arah itu mulai ku susun.
Sebagai anak kampung, bersalaman dengan orang-orang besar dan hebat melahirkan kebanggaan tersendiri. Saat DAP, aku bertemu dengan Buya Ahmad Syafii Maarif, sosok guru bangsa, ketika itu masih menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selain itu, aku juga dapat berfoto bareng dengan Prof. Amien Rais, saat itu beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat. Prof. Dr. Dien Syamsuddin juga menjadi salah seorang pembicara pada DAP. Ketiga tokoh besar Muhammadiyah dan nasional itu meninggalkan kesan tersendiri bagiku. Dadaku juga tertikam dengan sebuah pertanyaan, apa rahasia mereka sehingga bisa menjadi pintar? Setelah ku renungi, jawabannya sederhana, mereka rajin membaca dan disiplin dalam belajar. Ini kiranya modal dasar yang dianugerahkan Allah untuk keberhasilan seseorang. Meskipun terkesan sederhana namun tak setiap orang bisa melaksanakannya secara konsisten. Tapi modal itu saja belum mencukupi, ketiga tokoh yang ku sebutkan itu melibatkan diri dalam organisasi yang bernama Muhammadiyah. Via Muhammadiyahlah nama-nama mereka harum dan masyhur di tengah masyarakat. Sebagai sebuah lembaga, Muhammadiyah seumpama sebuah kendaraan yang akan mengantarkan seseorang menuju satu tujuan. Pintar pun seseorang namun minus lembaga, maka dirinya tidak akan menjadi besar.
Sebagai kawula muda, gejolak perubahan psikologis di dalam hidupku terjadi secara gradual. Seperti rekan-rekanku yang lain, aku tertarik dengan rekan-rekan immawatiku. Ketika kegiatan berlangsung, ada semacam gelora dan semangat membara yang muncul ke permukaan dengan keterlibatan mereka. Namun aku termasuk orang yang mampu mengendalikan itu secara rapi dan terstruktur sehingga para rekanku hampir tidak dapat membaca arah manuver cintaku. Meskipun sesungguhnya perasaanku seperti mereka. Jujur ku akui, tak jarang para immawan berdiskusi serius dengan tema pokok “immawati idaman”. Kajian terkadang dilaksanakan seru diiringi dengan canda dan tawa. Berbagai perspektif dipakai, mulai dari kemampuan intelektual, kelebihan ekonomi, kecantikan, keluhuran budi, religiusitas, sampai kepada garis keturunan, tak luput dari analisa-analisa kami. Kajian itu mirip proses perumusan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang menyedot energi dan memakan waktu. Ketika ku ingat masa itu, aku merasa geli.
Ada plesetan menggelitik pada bait-bait lagu mars IMM, teksnya seperti ini: “…immawan dan immawati…”, diganti menjadi: “…immawan untuk immawati…”. Rekan-rekanku yang agak “nakal” selalu mendendangkan plesetan itu. Aku sendiri tak ambil pusing dan tak pernah fokus pada bait-bait yang menurutku cenderung membelenggu itu. Tapi ketika aku menggunakannya sebagai optik ternyata ada benarnya. Tidak sedikit immawan dan immawati mengikat janji suci dalam mengarungi bahtera rumah tangga. “Kutukan” itu juga ku alami. Aku juga mengikat janji suci dengan seorang immawati. Dengan takdir Allah, ia pernah menempati posisi sebagai bendahara umum IMM Komisariat FAI UMSU.
Syi’ar pernikahanku mirip milad IMM. Mengapa demikian? Karena hampir seluruh elemen yang mengurusi dan meramaikan adalah warga ikatan. Mulai dari penerima tamu, kata sambutan, tausiyah pernikahan, sampai petugas angkat piring. Yang lebih mengesankan ketika itu adalah jas merah yang ku pakai. Jas itu tentu saja hasil pinjaman dan menariknya milik IMM. Termasuk sepatu yang ku pakai, hasil pinjaman dari salah seorang sahabatku. Aku masih ingat merek sepatunya, pakalolo. Sepatu yang ku pakai itu bagiku amat mahal. Aku bersyukur kepada semua pihak yang telah terlibat aktif untuk mensukseskan acara itu. Kini kami telah dikaruniai seorang calon immawan dan seorang calon immawati. Menjadikan immawati sebagai pasangan hidup secara umum tidak membutuhkan banyak energi, karena visi dan misi yang sama. Dan yang terpenting, modal finansial dapat dihemat secara maksimal. Karena immawati betul-betul mengerti bagaimana latar belakang pasangan hidupnya yang dekat dengan komunitas GOEL (Golongan Ekonomi Lemah).
Aku merasa bahagia melihat kader-kader ikatan kini melakukan progress yang baik untuk membesarkan IMM. Ikhtiar tersebut secara otomatis membesarkan kader ikatan itu sendiri. Demikian pula pihak-pihak yang mengecilkan IMM dalam berbagai dimensi berarti membunuh masa depan pelakunya. Akan berlaku hukum sosial dimana warga ikatan yang lain akan memberikan sangsi moral kepadanya. Dibingkai oleh semangat muda yang kadang-kadang berlebihan, dinamika di IMM selalu tinggi. Tak jarang lahir konflik internal antar sesama warga ikatan. Namun kenyataan ini masih dianggap wajar saja dalam sebuah organisasi. Di sepanjang sejarahnya juga demikian, di masaku konflik juga kerap terjadi. Bahkan yang terkadang sedikit miris adalah lahirnya IMM tandingan. Hal itu dipicu oleh ketidakpuasan warga ikatan terhadap kepemimpinan yang sah. Ditambah amunisi psikologis yang diimpor dari pemikiran-pemikiran pihak ketiga. Biasanya IMM tandingan tidak bertahan lama, institusi ini akan hilang dengan sendirinya.
Lebih daripada 10 tahun lalu IMM sudah ku tinggalkan dengan berakhirnya Musyda. Secara organisasional IMM sudah ku hapus dari rutinitasku, namun batinku tetap terpaut meskipun kadang-kadang resah dengan wajah muram IMM. Selain ku anggap sebagai kampus kedua, aku juga melihat IMM sebagai sebuah tenda besar dimana aku bernaung dan berinteraksi. Ingin rasanya masa itu ku ulangi, tapi tentu saja harapanku adalah sebuah utopia. Aku tak mungkin lagi kembali ke belakang. Aku juga sadar bahwa garis hidup selalu berjalan linier, ia tidak berhenti apa lagi mundur ke belakang. Ketika ku lihat album fotoku di IMM, aku mendapatkan sejuta cerita dan kenangan manis. Foto-foto itu dapat mendeskripsikan dengan baik potret masa lalu yang pernah ku lukis, dengan kelebihan dan berbagai kekurangan yang ku miliki. IMM telah berjasa besar dalam membentuk perilaku dan pola pikirku. Hingga kini belum ada kontribusi moral, intelektual dan material yang ku berikan untuk IMM. Jika pun ada, maka seperti buih di samudera, tidak memiliki arti apa-apa.
Kini aku bukan lagi kader IMM seperti sepuluh tahun lalu. Orang sering bilang, bagi kader-kader ikatan yang sudah selesai dan tak lagi berpredikat sebagai mahasiswa maka akan tergabung dalam komunitas alumni. Aku mengenal sebuah forum yang diperuntukkan khusus bagi alumni, yaitu Forum Komunikasi Alumni (Fokal). Forum ini cukup baik karena para alumni yang berasal dari berbagai latar belakang dapat bertemu, bersilaturrahim, meluahkan berbagai kerinduan dan berbagi pengalaman kepada generasi yang datang belakangan. Meskipun dalam beberapa hal aku melihat bahwa Fokal belum menunjukkan tajinya secara tajam dalam arti melakukan berbagai kegiatan untuk masyarakat atau untuk warga ikatan sendiri. Kegiatan Fokal masih bersifat temporer dan belum terencana secara matang. Pertemuan-pertemuan juga dilaksanakan secara reaktif, ketika ada momentum tertentu.
Ceritaku tentang IMM tentu memiliki dua kandungan yang dapat ditangkap oleh warga ikatan. Sisi positifnya dapat diambil kemudian ditransformasikan secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Sementara sisi negatifnya dijadikan sebuah ibrah (pelajaran berharga) agar warga ikatan tidak terjerembab pada lubang hitam yang sama. Aku mendambakan warga IMM agar bergerak dalam berbagai dinamika kegiatan positif yang memberikan manfaat untuk semua. Sebagaimana halnya Muhammadiyah, IMM dalam pandanganku harus kembali mengenal jati dirinya dan lebih menjadikan Muhammadiyah sebagai magnet pemikiran dan gerakan. Dalam pengamatanku selama ini, warga ikatan belum menjadi faktor determinan berbagai kegiatan Muhammadiyah. Aku membaca bahwa ada semacam kesan jika IMM kurang merasa at home (nyaman). Ini mungkin disebabkan karena komunikasi yang tersumbat, frekuensi pertemuan yang rendah, atau mungkin stimulasi pihak lain yang lebih menarik ketimbang stimulasi di Muhammadiyah itu sendiri.
IMM adalah gerakan intelektual yang berfungsi sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna dakwah Muhammadiyah. Artinya antara IMM dengan Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan. Aku mengumpamakan hubungan antara IMM terhadap Muhammadiyah seumpama hubungan antara rumah dengan pintu. Pintunya IMM sementara rumahnya Muhammadiyah. Sebab itu, warga ikatan selain aktif di IMM juga harus aktif di berbagai level kepemimpinan Muhammadiyah mulai dari Pusat, Wilayah, Daerah, Cabang atau Ranting Muhammadiyah. Sungguh ironis, jika ada warga ikatan yang beraktivitas di IMM namun mengabaikan peran sertanya di Muhammadiyah. IMM tidak boleh sepi dalam keramaian, dalam arti, di Muhammadiyah terdapat banyak organisasi otonom lain yang terintegrasi secara proporsional dengan Muhammadiyah sementara IMM menjaga jarak dan cenderung mengambil langkah menjauh. Keadaan ini semestinya dapat dieliminir dan ditinggalkan. Seperti yang lain, IMM adalah Ortom sah di Muhammadiyah, induknya adalah Muhammadiyah, bahkan statusnya berada pada posisi elit karena bergerak di perguruan tinggi. Gendang telingaku terasa pecah ketika orang mengatakan bahwa IMM di luar tidak bisa besar di dalam pun tidak mengakar.
Betapa bahagianya aku dan tentu saja para alumni lain, ketika ada gerakan kolektif warga ikatan untuk meneguhkan jati diri IMM. IMM dalam pandanganku adalah komunitas ilmiah, tempat berbagai disiplin kelimuan dikaji, diperdebatkan, dan digunakan sebagai energi untuk menggerakkan perubahan di masyarakat. Aku membayangkan bahwa suatu saat IMM akan menjadi katalisator berbagai perubahan. IMM benar-benar memeran fungsinya sebagai anak panah Muhammadiyah. Di setiap level kepemimpinan Muhammadiyah, ada saja kader-kader IMM yang terlibat. Aku juga membayangkan suatu saat, warga ikatan memiliki basis ilmu-ilmu keislaman, karena bagaimana pun ilmu-ilmu keislaman tidak dapat dipisahkan dari Muhammadiyah dan IMM. Apalah jadinya jika ada warga ikatan yang qira’atul quran-nya lemah atau tidak bisa baca sama sekali. Tentunya ini merupakan sebuah kegetiran dan preseden buruk yang dapat mencederai sejarah IMM. Menggali dasar-dasar ilmu keislaman bukan kewajiban kolektif, melainkan kewajiban individual yang mesti dilakukan secara bertanggung jawab. Terkait hal ini, warga ikatan berkewajiban memiliki buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Buku itu bersifat dasar namun penting. Diwajibkan bagi warga ikatan untuk menguasainya minimal pada pelaksanaan ibadah praktis.
Warga ikatan juga harus membawa IMM menjadi the community of reading (komunitas baca). Sebagaimana ku pahami, bahwa membaca akan membuka wawasan pelakunya. Dengan demikian ia dapat melekatkan diri pada tata pergaulan dunia. Wawasan kader-kader ikatan tidak boleh hanya sebatas halaman rumahnya, namun harus mengglobal. Wawasan akan mendesain pemiliknya berpikiran luas dan inklusif. Ini akan berpengaruh pada eksistensi dan kebesaran gerakan IMM. Aku masih ingat dalam sebuah perjalanan dari Medan ke Bandara Internasional Antar Bangsa Kuala Lumpur. Di pesawat yang sesaat hampir lepas landas, ku lihat seorang wanita Eropa, berusia hampir 60 tahun, sangat khusyu’ menikmati uraian demi uraian dalam buku yang ia baca. Aku ta’jub, di usianya yang sudah senja ia masih saja “rakus” melahap informasi. Wajar saja kalau pola pikirnya modern dan maju.
Aku juga pernah bertanya kepada seorang profesor besar dari Yogyakarta tentang arti pentingnya membaca ini, beliau menjawab bahwa beliau sebagai seorang profesor akan “mati” kalau meninggalkan tradisi membaca. Lalu ku tikam diriku dengan pernyataan sang professor itu, ia saja sebagai seorang profesor masih membaca, apalagi aku yang hampir tersisih dari keikutsertaanku dalam penciptaan peradaban. Aku tertunduk lesu dan meratap pilu karena pernyataan itu. Untuk diketahui, ketika aku aktif di IMM, aku akrab dengan buku-buku yang bernafas kritik sosial dan pemberontakan pada kemapanan. Judul-judul  buku seperti Islam Aktual, Islam Alternatif, Paradigma Islam, Cakrawala Islam, Tauhid Sosial, Islam Inklusif, Desekularisasi Pemikiran, ludes ku baca. Kepada pembaca yang budiman dan baik hati aku mohon maaf, meskipun untuk mendapatkan salah satu buku tersebut ku tempuh dengan jalan ilegal. Aku menggelapkan salah satu buku itu. Aku tau menggelapkan buku pinjaman adalah bagian dari dosa, tapi nalar “sesatku” mengatakan bahwa seseorang akan lebih berdosa jika tidak membaca buku. Kelak ketika Allah mengadili aku di hari kemudian mengenai buku itu, ku harapkan Allah akan melimpahi kasih sayang kepadaku sekaligus memaafkan aku karena kasus dunia itu. Ku tegaskan dalam tulisan ini, inilah salah satu perangaiku yang buruk dan tidak boleh dijadikan teladan.
IMM dalam pandanganku adalah gerakan dakwah dalam arti luas. Dakwah tidak boleh diartikan hanya dengan ceramah atau khutbah di masjid-masjid. Dakwah mesti diartikan dengan aktivitas ke arah kebaikan, dalam konteks Muhammadiyah selalu diungkapkan dengan terminologi amar ma’ruf nahiy munkar. Pertanyaanku yang agak menggelitik adalah bahwa sebagai gerakan dakwah, IMM perlu tempat untuk merumuskan dan pengkajian berbagai isu dakwah kontemporer. Aku mendambakan suatu saat kelak, asal ada visi yang sama, kader-kader IMM dapat membangun sebuah dakwah center (pusat dakwah). Di gedung milik IMM sendiri itulah warga ikatan melakukan berbagai format dakwah yang dibutuhkan oleh umat. Mulai dari perkaderan, pengkajian ilmiah, sampai berbagai aktivitas lain yang terkait ikatan dapat dilaksanakan. Betapa bangganya hatiku ketika niat ini dapat diwujudkan. IMM akan terlihat mapan dan kuat dalam gerakan.
IMM tidak akan pernah besar tanpa peran serta alumninya. Sebab itu, aku menyarankan agar kader-kader yang sedang aktif di IMM memiliki kecerdasan intelektual dan emosional untuk merekat hubungan para alumninya. Para alumni IMM kini sudah tersebar luas dan menapakkan kaki di berbagai aspek kehidupan. Jika dilacak, akan ditemukan alumni yang berprofesi sebagai birokrat, akademisi, politisi, pengusaha, guru, tenaga medis, dan masih banyak yang lain. Ku harapkan agar para aktivis menggunakan filosofi pragmatisme positif. Filosofi ini mengandung arti bahwa hal-hal positif dari para alumni diberdayakan dan dimanfaatkan sebaik mungkin, sementara sisi negatif dari para alumni dikikis dan dimasukkan dalam tong sampah sejarah. Demikian pula dengan para alumni, sikap bijak untuk terus membina, dalam batas-batas tertentu tidak melibatkan diri terlalu jauh pada urusan internal adik-adik, amat dibutuhkan. Jangan sampai adik-adik yang masih aktif masuk dalam pusaran yang ku istilahkan dengan proxy tension (perpanjangan tangan konflik) antar para alumninya. Dengan kata lain, konflik kepentingan yang terjadi di kalangan alumni diperpanjang oleh adik-adik IMM. Kita harus prihatin terhadap kondisi ini, karena mereka dapat menjadi korban kepentingan.
Bagi kader-kader ikatan, tidak ada kata berhenti untuk belajar. Belajar di bangku perkuliahan adalah sebuah keharusan dan prinsip yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Aku secara pribadi mengharamkan warga ikatan yang memiliki kecintaan terhadap IMM secara berlebihan namun terseok-seok dalam penyelesaian perkuliaan. Keadaan ini dapat memburukkan citra tidak hanya pribadi yang bersangkutan, tapi juga nama IMM itu sendiri. Di lingkunganku, keluhan seperti ini bukan saja ku dengar namun juga ku saksikan dengan mata dan kepalaku secara langsung. Buruknya citra IMM disebabkan bukan saja racun yang muncul dari luar tubuh IMM, sebagian besar justru disebabkan oleh perilaku tidak terpuji dari kader-kader IMM itu sendiri. Meminjam istilah Muhammad Abduh, bahwa kebesaran IMM terhalang oleh kader IMM itu sendiri.

Terakhir ku tulis dalam cerita ini, bahwa warga ikatan harus terbiasa dengan berbagai forum ilmiah. Diskusi kelompok, duduk di perpustakaan, menghadiri seminar, melaksanakan bedah buku, dialog keislaman, kebangsaan dan sejenisnya harus menjadi santapan sehari-hari. Warga ikatan juga harus akrab dengan masjid. Karena sarana ibadah itu dibangun untuk diisi, dipergunakan dan dimakmurkan. Jangan biarkan sarana ibadah tersebut terbengkalai, apalagi dimanfaatkan oleh orang lain. Penguasaan bahasa asing seperti Arab dan Inggris harus tetap menjadi sekala prioritas jika IMM ingin dikenal luas secara nasional maupun internasional. Aku pernah shalat Ashar di sebuah masjid besar di bagian tengah Indonesia. Di masjid itu para remajanya asyik mengikuti less bahasa Perancis selain Arab dan Inggris. Bagaimana tajamnya gerakan IMM ini jika aktivitas-aktivitas seperti ini dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Tanpa bahasa asing, tak mungkin IMM akan melekatkan diri pada pergaulan dunia. Jayalah IMM. Demikian, semoga bermanfaat.

5 komentar:

PJK UNIMED mengatakan...

Mantap mas, semoga bisa menjadi motivasi bagi adik-adik kita yang saat ini sedang tertidur lelap

Qorib Aja mengatakan...

Syukron katsir akhi, blm dapat memberi apa apa utk IMM, kecuali coretan coretan yg barangkali kurang bermakna

Qorib Aja mengatakan...

Syukron katsir akhi, blm dapat memberi apa apa utk IMM, kecuali coretan coretan yg barangkali kurang bermakna

Arif Pratama Marpaung mengatakan...

Walau beberapa Hal saya dengan Mas berseberangan dalam berpikir. Namun tulisan Mas kali ini sangat sejuk dan nikmat dibaca, yang mana sudah menjadi Ciri dakwah MQ yang sejuk dan mencerahkan. Thanks for your experience

Drs. Fuad Afsar alias Arjan Kamingga mengatakan...

Jadi ingat, bagaimana ketika DAM yang langsung dikomandani oleh Immawan Wahyudi di jalan Demak. Bersama Anwar Bakti, Mario Kasduri dll. Muncullah idola, Aclaq Sidik, diantaranya. Saya tak percaya, ketika Beliau tersandung kasus SMA Plus (?). Ada Ibrahim Sakti. Saya kecewa begitu dia tidak kenal saya saat pertemuan PAN di Binjai. Astaghfirullah. Maka saya enjoy saja ketika di Kisaran saya ketemu senior saya Shohibul Ansor dan idola saya DULU salah tingkah. Ahhhh IMM. Begitu akhir DAM saya menangis. Tidak tahu kenapa. Pintar sekali mereka mengobok obok emosi saya. Setelah itu darahku tidak lagi merah tapi bercampur hijau atau biru atau kuning. Darahku tercampur warna Muhammadiyah. Sedih, kecewa, penasaran melihat pemegang kemudi Persyarikatan di kampungku, kota rambutan. Tidak sedikit bermuhammadiyah dari pada, dari pada. IMM.....dipundak kalian terpikul beban yang SANGAT SANGAT BERAT. Siapkan diri kalian. Jangan 2 kan Muhammadiyah. Jangan jadikan Muhammadiyah sebagai pijakan langkah mengejar duniawi. Sungguh, hidup ini terlalu pendek jika itu yang kalian lakukan. IMM
أنا أحب ، أحب جدا