Jumat, 31 Juli 2015

Muslim Tanpa Islam

Muslim dan Islam adalah dua hal yang saling terkait. Muslim terkait dengan individunya sementara Islam adalah institusi agamanya. Tapi mungkinkah seorang Muslim menjalankan hari-harinya tanpa Islam? Pertanyaan ini sungguh menggelitik. Ada sebuah kisah menarik tentang Muhammad Abduh, sosok pembaruan Islam asal Mesir. Dalam perjalanannya ke Paris, Abduh menyatakan bahwa di dunia Barat, Islam demikian semarak meskipun tanpa kehadiran kaum Muslim. Sebaliknya, ketika kembali ke kampung halamannya di Mesir, Abduh berkomentar sebaliknya. Menurutnya, di Mesir banyak sekali kaum Muslim namun minus nilai-nilai keislaman dalam aktivitas keseharian. Komentar Abduh menarik untuk dikaji lebih serius. Apa sesungguhnya yang diinginkan Abduh dan model tatanan sosial Islam seperti apa yang ia dambakan? Jika ditelisik secara komprehensif berbagai doktrin Islam tentang tatanan sosial, maka akan ditemukan konsep kaaffah (menyeluruh) (Q.S. Al-Baqarah/ 2: 208). Islam kaaffah berarti Islam yang menyeluruh, komprehensif dan integral. Dalam konsep Islam kaaffah, nilai-nilai Islam diejawantahkan dalam berbagai sistem kehidupan. Misalnya, Islam mengajarkan kebersihan maka nilai-nilai Islam tentang kebersihan harus dipraktikkan secara konsisten dan bertanggungjwab. Konsekuensi dari keengganan untuk mempraktikkan nilai-nilai Islam melahirkan dua sangsi, yaitu: sangsi sosiologis dan yang lebih penting sangsi teologis. Menjaga lingkungan agar tetap bersih merupakan model Islam kaaffah secara konkrit. Islam akan terpuruk jika kaum Muslim mengabaikan doktrin ini. Kritik sosial yang dilontarkan Abduh berangkat dari fakta getir di dunia Islam. Abduh mendambakan tatanan sosial islami seperti menjaga kebersihan, menegakkan keadilan, tepat waktu dalam berbagai hal. Mimpi-mimpi Abduh tidak ia dapatkan di lingkungan sekitarnya. Justru tatanan sosial islami ia temukan di komunitas non Muslim. Di sinilah kemudian Abduh merasa kecewa dengan kaum Muslim. Mereka demikian bangga dengan predikat sebagai pengikut Rasulullah namun gagal membawa nilai-nilai Islam di tengah kehidupan ril.
Muslim tanpa Islam adalah sebuah statemen negatif peyoratif yang amat menyakitkan. Namun jika kita mau mengakui secara jujur dan berani, statemen tersebut banyak benarnya. Jika kita telusuri berbagai negeri Muslim tak terkecuali negeri kita Indonesia tercinta, permasalahan utama yang sering muncul kepermukaan adalah sistem sosial yang belum terbangun secara baik. Sampah masih menjadi masalah tersendiri, kultur korupsi yang demikian tinggi, budaya antri dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas masih rendah, penegakan hukum yang tetap saja pandang bulu, dan masih banyak lagi yang lain. Anehnya, berbagai penyakit sosial tersebut terjadi di tengah komunitas Muslim sebagai populasi yang dominan. Alquran dan hadis seperti dua pusaka sejarah yang tumpul untuk menonaktifkan permasalahan sosial terkini. Kaum Muslim bersikap malu-malu tapi mau untuk mengejar kejayaan dunia. Padahal, kejayaan Islam dapat diraih lewat dua hal, yaitu: dunyaa hasanah (kejayaan di dunia) dan aakhirat hasanah (kejayaan di akhirat) (Q.S. Al-Baqarah/ 2: 201). Meskipun dalam banyak hal budaya Barat sekuler tidak dapat diterima, namun kemauan keras Barat dalam menegakkan sistem sosial yang baik patut menjadi teladan bagi kita. Kebersihan bagi mereka menjadi sebuah kebutuhan. Kebersihan telah menjadi basic need (kebutuhan mendasar) bagi mereka. Kebersihan juga merupakan sarat kehidupan yang bersifat universal dan standar bagi kebudayaan modern. Inilah di antara hal yang mengundang decak kagum Abduh. Kekaguman Abduh lebih daripada seratus tahun yang lalu dibenarkan oleh Hossein Askari seratus tahun kemudian. Askari, guru besar politik dan bisnis internasional di George Wahsington AS, dalam penelitiannya menemukan bahwa sistem sosial Islami justru dapat dilihat di negara-negara non Muslim seperti: Irlandia, Denmark, Luksemburg, Selandia Baru, Swedia, Finlandia, Norwegia, dan Belgia. Negara-negara tersebut memiliki tingkat kebersihan lingkungan yang baik, disiplin sosial yang kuat, kultur korupsi yang rendah, kesenjangan sosial yang kecil dan tingkat toleransi yang tinggi.
Menurut Askari, banyak negara yang mengaku dirinya islami namun kerap berbuat tidak adil, korup dan terbelakang. Di banyak negara, Islam digunakan sebagai instrumen untuk memperkuat hegemoni politik ketimbang untuk melahirkan kesejahteraan, yang terjadi kemudian adalah politisasi agama. (lihat Kompas.com). Jika Abduh melihat Islam tanpa Muslim di benua Eropa, di negara-negara maju khususnya di Asia Timur juga demikian halnya. Di Jepang misalnya, selain karena bersih dan kecanggihan teknologinya, hak hidup cukup diperhatikan. Jangankan untuk manusia, untuk hewan saja seperti kucing disediakan pulau khusus untuk berkembang biak. Demikian pula dengan Korea Selatan. Negara minus penganut agama ini tergolong negara maju dan bersih. Bahkan mereka membangun taman-taman kota dengan konsep go green (penghijauan). Uniknya lagi, mereka dapat membangun stasiun kereta api di bawah sungai Han yang cukup dalam. Di Korea Selatan, sungai selain menjadi sarana tranportasi kota juga menjadi objek wisata yang menyejukkan.
Tak terkecuali dengan Singapura. Negara kecil ini cukup disegani karena sistem sosial yang mapan dan baik. Bahkan Changi menjadi bandara terbaik dunia. Meskipun hidup tergantung dari jasa, Singapura layak menjadi contoh bagi kita dalam hal kebersihan dan disiplin berlalu lintas. Lampu hijau, kuning dan merah benar-benar difungsikan dan dipatuhi. Sehingga kemacetan dan kecelakaan lalu lintas dapat diminimalisir. Kultur korupsi di Singapura juga terbilang rendah. Keadaan ini mengantarkan Singapura sebagai negara kelima terbersih dalam konteks korupsi di dunia. Inilah contoh-contoh konkrit Islam tanpa Muslim.
Tatanan sosial seperti itu tentunya berawal dari sebuah harapan kolektif. Harapan kolektif itu mewujud ke dalam kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif terbangun dari kesadaran setiap individu sebagai bagian terkecil dalam sebuah komunitas. Langkah-langkah tersebut perlu dilalui untuk mencapai kemajuan. Masyarakat maju dapat ditandai dengan sifat mandiri dan bertanggung jawab. Mereka melaksanakan peraturan bukan karena takut hukum atau merasa diawasi oleh aparat berwajib, melainkan karena kebutuhan dan tanggung jawab moral masing-masing individu.
Untuk mencapai kemajuan seperti itu tentunya dapat dilakukan kaum Muslim. Islam adalah agama yang mengandung spirit modernitas. Dengan demikian kaum Muslim adalah sebuah komunitas yang berpikir dan bertindak maju sesuai tuntutan modernitas. Ciri-ciri yang menonjol dari sebuah modernitas adalah pemanfaatan waktu secara maksimal, menjaga kesehatan, bertanggung jawab, berpikir dan bertindak rasional, dan dinamis. Tanpa bermaksud apologetis, ciri-ciri modernitas tersebut mudah sekali ditemukan di dalam Alquran maupun hadis. Tentang kebersihan, Allah menjelaskan bahwa Dia mencintai orang-orang yang selalu melakukan evaluasi diri dan menjaga kebersihan (Q.S. Al-baqarah/ 2: 222). Allah juga memaparkan dalam banyak ayat tentang kedisiplinan. Disebutkan dalam sebuah ayat bahwa manusia itu dalam kerugian, hidup dalam kekumuhan dan tentunya memiliki budaya rendah bagi siapa saja yang gagal mengelola waktu secara paripurna (Q.S. Al-Ashr/ 103: 1-3). Di sini terlihat jelas bahwa karakteristik modernitas terintegrasi secara kokoh  dalam diri kaum Muslim.
Muslim tanpa Islam adalah sebuah predikat yang tak boleh terjadi. Muslim adalah raga sekaligus simbol, sementara Islam adalah spirit. Bagaimana mungkin raga dan simbol tanpa spirit? Tentu saja seperti seonggok bangkai yang terbujur kaku. Menjadi seorang Muslim berarti siap secara fisik dan mental mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam ruang publik. Seorang Muslim adalah uswah hasanah (teladan yang baik) bagi yang lain. Untuk merekayasa Muslim yang terintegrasi dengan Islam sebenarnya bukan terletak di tangan orang lain, melainkan di tangan kaum Muslim itu sendiri. Wallaahu a’lam.





0 komentar: