Jumat, 12 Juni 2015

UMSU, HWPL dan Proyek Kerukunan

Indonesia merupakan anugerah terindah yang dibentangkan Allah di bumi ini. Kekayaan yang dikandung tidak hanya terdapat di perut bumi, laut, maupun udara, tapi juga terdapat pada keragaman agama.  Potensi yang disebut terakhir menjadi keunikan tersendiri. Meskipun hidup dalam kebhinnekaan, namun atmosfir di masyarakat tetap rukun dan damai. Sebab itu, berbagai energi positif harus dikerahkan untuk memupuk, merawat dan mengembangkan hubungan antar umat beragama, salah satunya melalui tradisi dialog kerukunan.
Banyak elemen masyarakat menaruh perhatian besar terhadap eksistensi kerukunan di Indonesia, misalnya: Maarif Institute for Culture and Humanity, The Wahid Institute, atau ICRP. Ada pula model gerakan yang muncul dari masyarakat secara bottom up (bergerak dari bawah ke atas) dan pada beberapa konteks difasilitasi oleh negara, seperti: Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB). Elemen-elemen tersebut menjadi pilar penyangga eksistensi kerukunan. Selain itu, terdapat pula model lembaga pendidikan yang menaruh atensi besar terhadap isu yang terbilang “seksi” tersebut, salah satunya adalah Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Sebagai amal usaha yang bernaung di bawah bendera Muhammadiyah, UMSU tidak berlepas diri dari pemikiran dan gerakan KH. Ahmad Dahlan sebagai jangkar sekaligus The Founding Father (Bapak Pendiri) Muhammadiyah. Sebagaimana dimafhumi, KH. Dahlan adalah sosok yang memiliki komitmen tinggi terhadap nilai-nilai keislaman, namun ia juga sosok yang terbuka dan pluralis. Berbagai dialog kerukunan selalu ia lakukan, namun uniknya ruh keislamannya bukan menjadi lemah bahkan semakin kuat. Inilah semangat historis yang terus disemai dan dikembangkan oleh UMSU hingga kini.
Menelisik visi UMSU, maka akan ditemukan outward looking (pandangan keluar), nilai-nilai inklusif, dan cita-cita tinggi untuk kemanusiaan. UMSU bercita-cita menjadi Perguruan Tinggi yang unggul dalam membangun peradaban bangsa dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sumber daya manusia berdasarkan al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Nilai-nilai keislaman dalam perspektif Muhammadiyah menjadi dasar pemikiran dan gerakan bagi UMSU. Berangkat dari visi tersebut, maka masa depan kerukunan umat beragama seperti bibit unggul yang disemai dan dirawat di sebuah lahan subur. Visi tersebut juga menyemburkan pesan kuat, bahwa seorang Muslim mesti terikat nilai-nilai keislaman yang ramah sekaligus menegasikan sifat ekstrim, eksklusif, apalagi radikal.
 Mencermati visi UMSU menjadi lebih menarik ketika penggalan kata “peradaban” dilihat secara komprehensif dan religius. Secara semantik, “peradaban” terambil dari akar kata “adab” yang memiliki beberapa arti, yaitu: “kehalusan dan kebaikan budi pekerti”, “kesopanan”, “akhlak”. (KBBI). Dalam bahasa Inggris, “peradaban” disejajarkan dengan kata “civilization” satu akar kata dengan “civilized” yang berarti “beradab”. Sementara dalam bahasa Arab disejajarkan dengan kata “tamaddun”. Kata “tamaddun” itu sendiri memiliki akar kata yang sama dengan “madinah”, berarti tempat yang berperadaban.
Jika dilihat lebih jauh lagi, kata “madinah” tidak dapat dipisahkan dari bagaimana Rasulullah memformat sebuah masyarakat yang uncivilized (tidak beradab) menjadi beradab (civilized). Semangat Madinah tidak saja menyangkut persoalan etika atau sopan santun secara umum, tapi juga sikap terbuka dan saling menghormati antar berbagai elemen masyarakat yang datang dari beragam kultur maupun agama. Sebagaimana dipahami, Rasulullah secara sosial berhasil membangun jaringan kemanusiaan dalam bingkai kerukunan antara kaum Muslim, Yahudi, Nasrani dan Musyrik Madinah. Bahkan dari sikapnya yang demikian terbuka itu lahir Piagam Madinah, sebuah kontrak sosial dan politik yang jauh melampaui masanya.
Melalui kata “peradaban”, UMSU juga merefleksikan semangat Madinah sebagai cita-cita. Bagaimana lahir komunitas masyarakat yang beradab, beretika, saling menghormati dan bekerjasama dalam bingkai kerukunan kendatipun dari keanekaragaman latar belakang. Proyek kerukunan umat beragama dalam konteks ini secara otomatis terinternalisasi dalam cita-cita dan kepribadian UMSU. UMSU hendak menjadi lembaga pendidikan terbuka dan fajar baru bagi masyarakat sekaligus menjadi pengawal kerukunan. Visi ini juga berangkat dari kondisi sosiologis dan antropologis Sumatera Utara yang memang terbilang plural. 
Dalam membumikan proyek kerukunan, UMSU melibatkan diri dalam berbagai aktivitas dialog dan kerjasama umat beragama. Langkah yang terbilang menggembirakan ketika Rektor, Dr. Agussani, menyampaikan secara deklaratif bahwa terlibat aktif dan kreatif bersama masyarakat merupakan komitmen sakral yang menjadi nilai-nilai perjuangan UMSU. Apalagi dalam konteks menumbuhkembangkan proyek kerukunan, UMSU tidak ingin menjadi Perguruan Tinggi menara gading, mengkaji berbagai kearifan secara tuntas namun lumpuh ketika dituntut untuk mengusungnya di ranah praksis. Dialog kerukunan dalam skala nasional dan internasional menjadi perhatian serius UMSU.
Proyek kerukunan yang digelorakan UMSU salah satunya dapat dilihat ketika terjadinya sinergitas antara UMSU dengan Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) sebuah organisasi perdamaian dunia yang berpusat di Seoul Korea Selatan. HWPL memiliki visi yang secara substantif sama dengan UMSU, berbuat untuk kepentingan kemanusiaan dan mensinergikan berbagai elemen masyarakat termasuk untuk merawat kerukunan. HWPL yang didirikan oleh Man Hee Lee, menggunakan model kerja global dan kolektif untuk mewujudkan perdamaian dunia.   
Bersama Pimpinan Pusat Muhammadiyah, UMSU mendapat invitasi dari HWPL sebagai partisipan dalam World Alliance of Religion for Peace: Peace Summit (WARP), pertemuan tingkat tinggi tokoh-tokoh agama dunia bulan September 2014 yang lalu. Acara tersebut digelar di kota Seoul. WARP melahirkan pesan universal, para tokoh agama, tokoh politik, tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat, aktivis perempuan dan pemuda, serta berbagai elemen masyarakat harus memiliki rasa tanggung jawab untuk menjadi duta perdamaian.
Menindaklanjuti pesan universal tersebut, UMSU melaksanakan dialog internasional tentang perdamaian dengan menghadirkan tokoh-tokoh agama dan para pemuka masyarakat pada bulan Oktober 2014 lalu. Dialog tersebut berlangsung di kampus utama UMSU dan memiliki muara yang sama dengan WARP oleh HWPL. Dalam dialog tersebut muncul kesadaran kolektif yang mencerahkan. Dialog antar umat beragama menjadi skala prioritas untuk mewujudkan kerukunan.
Sinergitas antara UMSU dengan HWPL terus berlanjut. Pada akhir Mei 2015, UMSU kembali mendapatkan invitasi untuk tampil sebagai pembicara dalam WARP yang dilaksanakan di Build Bright University Siem Reap Kamboja. Menariknya, hampir seluruh partisipan beragama Buddha. UMSU mengutus penulis sebagai pembicara dan Zailani sebagai peserta. Dalam WARP tersebut, penulis memaparkan bahwa Islam adalah agama yang dekat dan lekat dengan berbagai terminologi perdamaian. Dalam kitab suci Alquran, istilah-istilah perdamaian mudah sekali ditemukan. Misalnya, Alquran menyuruh umat Islam agar masuk ke dalam Islam (perdamaian) secara kaaffah (komprehensif), tidak boleh parsial. (Q.S. Al-Baqarah/ 2: 208).
Dalam konteks sosiologis, para pembicara sebagai representasi dari Islam, Hindu, Buddha dan Bahaisme, menemukan titik lebur nilai-nilai agama dalam konteks sosiologis, misalnya: sikap saling menghormati, persaudaraan, perdamaian, dan komitmen untuk merawat kerukunan. Meskipun demikian, masalah keimanan harus tetap dijunjung tinggi laksana mahkota. Permisifisme keimanan tidak dapat dibenarkan. Terkait hal ini, Islam memberikan basis teologis yang kuat, lakum diinukum waliyadiin, setiap orang diharuskan memegang secara kokoh prinsip agama masing-masing. (Q.S. Al-Kaafiruun/ 109: 6).

Kini proyek kerukunan menjadi program yang menempati prioritas penting bersamaan dengan program-program lainnya. Melalui Pusat Studi Islam dan Muhammadiyah (PSIM) dan Fakultas Agama Islam (FAI), UMSU terus melakukan diseminasi nilai-nilai toleransi, inklusivisme, kemuhammadiyahan, dan keislaman. Fokus program ke depan bukan hanya pada persoalan dialog, melainkan  menukik pada program nyata yang melibatkan berbagai elemen umat beragama. Sebab itulah berbagai pihak termasuk di antaranya sivitas akademika UMSU harus memberi dukungan terhadap kerja besar ini. Ke depan UMSU diharapkan dapat memainkan peran yang lebih bernas di bidang kerukunan. Posisi UMSU tidak saja sebagai operator tapi juga inspirator. Wallaahu a’lam.

0 komentar: