Jumat, 12 Juni 2015

Dalam Dekapan Ramadhan


Bulan agung nan mulia datang kembali. Kedatangannya dinantikan orang-orang yang beriman di seluruh sudut dunia. Berbagai lapisan masyarakat tanpa menghiraukan status sosial dan latar belakang kultural membaur, menyatu dan lebur dalam keheningan Ramadhan. Bulan ini penuh berkah, penuh nilai, penuh keindahan, sehingga ia laksana sebuah madrasah  spiritual yang menyejukkan. Madrasah tersebut berfungsi sebagai proses untuk melahirkan manusia-manusia tercerahkan yang akan memahat kehidupan sehingga bermanfaat untuk semua makhluk.
Ketika Ramadhan menyapa, ada saja sederetan pertanyaan yang menyembul di relung hati, sejauh mana masing-masing diri kita telah hidup dalam dekapan Ramadhan? Selain kegelisahan positif, bulan ini juga mempromosikan berbagai harapan sehingga orang yang memaknai kedatangannya secara arif dan bijak akan mengalami perubahan-perubahan drastis penuh makna. Rasa takut dan harap bergumul menjadi satu dalam menjalani kehidupan di bulan yang penuh maghfirah ini. Rasa takut akan lahir jika gagal memberi makna dan rasa harap akan muncul saat benar memberi makna Ramadhan.
Energi Ramadhan yang demikian besar menggerakkan roda kehidupan sehingga tampil dinamis. Nafas perekonomian wong cilik (rakyat kecil) menggeliat menemukan momentumnya. Di pelataran kampung, di jantung-jantung kota besar, volume perekonomian masyarakat melonjak drastis selama Ramadhan, menghapus rasa pilu karena kelesuan selama sebelas bulan sebelumnya, atau mungkin karena lolos dari jerembab jaring kapitalisme yang menggurita. Mulai pasar Ramadhan dengan wajah sederhana sampai Ramadhan Fair dengan wajah modern dan mewah bergandengan tangan mengisi hari-hari Ramadhan.
Tak terkecuali pada ranah spiritualitas, Ramadhan menampilkan diri seperti sebuah madrasah spiritual yang menciptakan atmosfir kegiatan belajar dan mengajar non formal secara serentak. Mulai dari kuliah subuh, kuliah dhuha, kuliah zuhur, buka puasa bersama, sampai santapan ruhani menjelang shalat Tarawih, menjadi opsi-opsi menarik bagi masyarakat yang ingin meningkatkan volume iman dan volume ilmu-ilmu keislaman. Lantunan bacaan ayat suci Alquran tak jarang terdengar dan membahana menembus kepekatan malam menambah kesyahduan detik-detik perjalanan Ramadhan.  
Pada ranah ritual, Ramadhan mendekatkan kaum Muslim dengan masjid melalui pelaksanaan shalat qiyaamul lail. Meskipun secara legal formal terbilang sunnah dan dapat dilaksanakan secara individual, ada semacam perasaan tidak nyaman ketika seseorang tidak melangkahkan kaki secara kolektif menuju masjid. Selain karena khawatir sangsi sosial dan yang terpenting rindu dekat dengan Allah.  Pada pelaksanaan ritual qiyaamul lail tersebut kaum Muslim membangun kepekaan nurani dan sekaligus berdialog dengan Sang Maha Pencipta. Kemeriahan Ramadhan tidak saja muncul ke permukaan secara fisikal namun juga menampakkan diri secara spiritual.
Ingin rasanya kaum Muslim berasyik masyuk dengan Ramadhan setiap saat.  Ada pula rasa agar Ramadhan jangan segera berlalu. Berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu. Namun Allah menentukan lain, ditetapkannya Ramadhan dengan kuantitas hanya satu bulan tentu agar kaum Muslim bersungguh-sungguh menggali dan meresapi nilai-nilai Ramadhan itu. Penggalian dan peresapan nilai-nilai itu diharapkan menjadi garis-garis besar haluan hidup, sehingga kaum Muslim mengerti arah dan tujuan, darimana berasal, dimana berada dan kemana akan pergi. Di sisi lain, Allah Maha Mengetahui kemampuan manusia, satu bulan Ramadhan adalah waktu ideal bagi kaum Muslim untuk menyegarkan kembali berbagai nurani yang layu karena terjangan badai kehidupan. Keputusan Allah Yang Maha Mengetahui juga menyiratkan bahwa Islam adalah agama moderat, tidak ekstrim termasuk dalam beribadah.
Optimisme terhadap Ramadhan secara jelas dipaparkan Allah dalam Alquran surah al-Baqarah/ 2: 183. Dalam ayat tersebut Allah membidik komunitas manusia secara spesifik untuk benar-benar hidup dalam dekapan Ramadhan. Komunitas manusia yang dibidik Allah adalah “orang-orang yang beriman”. Muara dari Ramadhan tersebut adalah munculnya predikat “takwa”. Orang-orang yang bertakwa tidak saja dibina secara fisik dan mental selama satu bulan penuh,  mereka juga dinilai cakap melakukan internalisasi Ramadhan. Internalisasi itu tergambarkan pada bagaimana nilai-nilai Ramadhan tetap lestari dan menjadi bingkai setiap langkah kaki dan desahan nafas mereka di luar Ramadhan. Bagi mereka, tidak ada hari tanpa Ramadhan.
Ramadhan menyepuh jiwa orang-orang yang beriman untuk hidup dalam kesejatiannya. Komunitas insan yang sudah menggenggam piala takwa menjadi para punggawa agama, di tangan merekalah berbagai perubahan sosial berawal. Jika mereka duduk dalam jajaran birokrasi, maka tugas utama yang mereka emban adalah bagaimana agar birokrasi berjalan baik dan tentu saja bersih dari berbagai bentuk penyimpangan. Jika mereka para politisi, maka berbagai kebijakan yang diputuskan menjadi nafas kehidupan bagi rakyat yang lapar dan haus perubahan. Jika mereka tokoh agama, maka mereka akan menampilkan model keberagamaan yang ramah bukan yang marah.
Ramadhan memang hanya satu bulan dan setelah itu akan berlalu. Namun semangat dan ruh Ramadhan seperti peduli terhadap sesama, jujur, prinsip hidup Qurani, tertib ritual, manajemen waktu, tidak mengenal tapal batas dan tak pernah berakhir. Inti sari Ramadhan sebenarnya terletak pada semangat dan ruh tersebut. Ramadhan akan mendekap jiwa-jiwa yang ambisius dengan berbagai kebajikan. Ibarat lautan yang airnya tak mungkin kering, Ramadhan juga tak pernah kering makna. Inilah yang selalu menjadi atensi dan target utama para pemburu Ramadhan itu. Rasa haus dan lapar memberikan isyarat dan nilai yang bersifat universal. Bahwa di berbagai tempat seperti: di gang-gang kecil dan sempit, di perumahan kumuh, di bantaran kali, di pedesaan tandus akibat erupsi, di komunitas marginal yang terusir dari kampung halamannya, si yatim yang terlunta-lunta, ternyata masih banyak sesama saudara kita yang mengalami lapar secara permanen. Sensitifitas sosial dalam konteks ini cukup dibutuhkan, selain diri kita ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang menderita. Ramadhan mendidik kita agar berjiwa humanis, berbagi kepada kaum yang menderita.  
Tidak makan dan minum di siang hari Ramadhan juga akan melahirkan nilai-nilai kejujuran. Nilai-nilai tersebut menjadikan kita pribadi-pribadi yang luhur dan bertanggung jawab. Aktivitas tidak makan dan minum berada di bawah kendali kita secara penuh, andai saja makan dan minum dilakukan secara tersembunyi tentu tidak seorang pun yang mengetahui. Akan tetapi perilaku amoral itu tidak dilakukan karena kita memiliki tanggung jawab moral kepada Allah. Selain itu, perjuangan fisik dan mental karena menahan haus dan lapar tak berani kita nodai dan kita kandaskan di tengah jalan. Sebab itulah, nilai-nilai kejujuran yang dipancarkan Ramadhan perlu dirawat dan dikembangkan dari waktu ke waktu sehingga terejawantahkan di berbagai ruang publik. Kejujuran inilah yang menjadi salah satu pilar tegaknya bangunan sistem kehidupan islami yang kita dambakan.
Tradisi lain yang menghiasi panorama Ramadhan adalah membaca Alquran yang lebih dikenal dengan terminologi tadarrus. Di luar Ramadhan, tak jarang kaum Muslim lebih mempopulerkan kultur koran daripada kultur Quran. Pergeseran posisi kaum Muslim dengan Alquran yang kian menjauh semakin tidak disadari. Disinilah terminologi Muslim tanpa Quran menemukan bentuknya. Muslim hanya sebagai predikat, namun kerangka berpikir dan model gerakannya justru kontra produktif dengan semangat Alquran. Sebab itulah Ramadhan menjadi sebuah momentum dimana kaum Muslim disadarkan kembali dengan pedoman hidup mereka. Kaum Muslim dilatih untuk mewujudkan masyarakat Qurani, berpikir dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah Alquran. 

Agar Ramadhan tak hanya sebatas ritual dan agar tak kering makna, maka menggali nilai-nilai Ramadhan menjadi sebuah kemutlakan. Meminjam kritik Jalaluddin Rumi, Sang Pendekar Tasawuf, ibadah apa pun termasuk puasa Ramadhan bisa saja seperti bangkai, fisiknya utuh namun ruhnya tercerabut. Sebab itu, nilai-nilai ini perlu dihidupkan dari waktu ke waktu. Semangat dan ruh Ramadhan itulah yang semestinya menghiasi hari-hari kaum Muslim sehingga menjadi umat yang benar-benar tercerahkan dan sekaligus mencerahkan. Wallaahu a’lam.

0 komentar: