Minggu, 31 Mei 2015

Bersahabat dengan Alam

Islam adalah agama yang banyak mendeskripsikan alam semesta. Manusia sebagai khalifah mengemban amanah untuk mengelola alam secara profesional dan bertanggung jawab. Selain sebagai sahabat, alam diciptakan untuk menjadi laboratorium spiritual bagi manusia. Alam juga merupakan ayat-ayat Allah yang wajib dimengerti, dikaji, dan diperlakukan layaknya anggota keluarga dekat yang butuh atensi. Seperti halnya manusia, alam memiliki ritual tersendiri. Hanya saja model ekspresi ritualnya demikian abstrak sehingga tak terdeteksi indera manusia secara umum.
Persahabatan antara manusia dengan alam tak selalu berjalan harmonis. Sering terjadi konflik di kedua belah pihak yang tentu saja disebabkan oleh ulah manusia. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan bertambahnya umat manusia secara kuantitatif, berbagai sikap eksploitatif menjadi gurita tersendiri dalam watak manusia. Perlakuan terhadap alam sebagai sahabat karib dan posisi alam sebagai rekan hidup tergerus berbagai kepentingan. Tidak sedikit manusia memposisikan alam sebagai sebuah objek mati yang secara pragmatis dapat diambil manfaatnya sekaligus dengan menegasikan keseimbangan ekosistem.
Secara perlahan namun pasti, kerusakan alam meningkat dari waktu ke waktu. Mulai dari penebangan hutan secara liar, eksplorasi berbagai jenis barang tambang, pencemaran lingkungan, pemanasan global (global warming) sampai membuang sampah sembarangan, menjadi variabel-variabel penting lahirnya tensi antara manusia dengan alam. Menurut penuturan para orang tua kita, alam dengan karakteristik yang lekat padanya kini berubah drastis dan sulit dikenali wataknya. Dulu di berbagai kawasan seperti Puncak Bogor dan Berastagi, suhu terasa amat dingin kendatipun di siang hari. Kini rasa dingin itu telah menjadi masa lalu
Kerusakan alam bukan hanya sebatas rasa khawatir yang menyandera pikiran, namun menjadi deretan fakta pilu yang terbentang di hadapan kita. Dalam sebuah penelitian, Universitas Adelaide Australia mempublikasikan hasil riset  terbarunya tentang kerusakan lingkungan yang cukup mencemaskan. Disebutkan dalam penelitian itu, terdapat empat negara, yaitu: Brazil, Amerika Serikat, China, dan Indonesia sebagai negara-negara yang paling besar kontribusinya untuk kerusakan lingkungan.
Terdapat tujuh indikator yang digunakan untuk mengukur faktor penyebab terjadinya degradasi lingkungan, yaitu: Deforestasi (penggundulan hutan), pemakaian pupuk kimia, polusi air, emisi karbon, penangkapan ikan secara liar, dan ancaman punahnya spesies langka hewan maupun tumbuhan. Ketujuh indikator ini digunakan untuk dua kriteria, yaitu: Pertama, degradasi lingkungan secara global. Kedua, dampak kerusakan lingkungan untuk sebuah negara. (VIVA.co.id).
Data kerusakan alam juga disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, bahwa kerusakan alam sudah sedemikian parah. Khusus di Indonesia sendiri, bencana terjadi rata-rata 1295 kejadian setiap tahun. Berbagai bencana itu dikategorikan sebagai hidrometereologi. Bencana ini dapat mewujud berupa kebakaran hutan, kabut asap, banjir (bandang), kekeringan, longsor, cuaca ekstrem, dan puting beliung. Bencana hidrometeorologi tidak terjadi tiba-tiba tetapi akumulasi dan interaksi dari berbagai faktor, seperti sosial, ekonomi, degradasi lingkungan, urbanisasi, kemiskinan, dan manajemen tata ruang. (http://www.republika.co.id).
Paparan hasil riset Unversitas Adelaide dan komentar Nugroho bermuara pada konklusi yang sama, yaitu bahwa kerusakan alam lebih disebabkan karena human error (kesalahan manusia), meskipun tidak semua kerusakan dapat digeneralisir seperti itu. Dalam Alquran, Allah secara tegas mengingatkan bahwa pengrusakan manusia terhadap lingkungan seperti sebuah siklus, berawal dan berakhir pada  manusia. Di sini berlaku hukum kausalitas, cause and effect (sebab akibat). Akibat yang terjadi tentu memiliki mata rantai tak terpisahkan dengan sebab sebagai sebuah preseden. Manusia yang membuat kerusakan, konsekuensi negatifnya pasti akan kembali kepada manusia. (Q.S. Al-Rum/ 30: 41).
Telah lama para pakar dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang, termasuk kaum agamawan, menaruh rasa keprihatinan yang demikian serius terhadap kerusakan alam. Para agamawan pun dituntut untuk merevitalisasi doktrin agama sehingga berpihak pada alam. Selain itu,  konferensi dan seminar tingkat dunia untuk menghadang laju kerusakan alam juga banyak diselenggarakan, diantaranya: Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) bumi di Rio de Janeiro yang diselenggarakan 3-14 Juni 1992 oleh UNCED (United Nation on Environment and Development) menghasilkan prinsip terkait dengan lingkungan hidup.
Tidak sampai di situ, pada 4 September 1993 diadakan pertemuan Parlemen Agama-Agama dunia di Chicago. Pertemuan tersebut merumuskan apa yang disebut dengan Declaration Toward of Global Ethics (Deklarasi Menuju Etika Global). Pertemuan lain dilaksanakan di Cape Town, Afrika Selatan 1-8 Desember 1999. Selain itu, ada pula pertemuan yang dilaksanakan di Bali 15-25 September 2007. Pertemuan senada dilaksanakan di Tokyo tahun 2008. (Kemenag RI, 2012: 13-14). Rumusan yang dilahirkan dari berbagai pertemuan internasional itu berujung pada dua hal, yaitu: keputusan kuratif (memperbaiki lingkungan yang rusak) dan keputusan preventif (mencegah pengrusakan alam).
Alam kini tengah bersimbah darah karena telah dan tengah ditikam oleh keserakahan dan dicengkram syahwat manusia. Di sinilah kemudian peran agama menjadi strategis sebagai gerbang moral. Tak terkecuali Islam, bahkan secara teologis doktrinal, agama wahyu ini telah memacakkan tiang-tiang moral yang kokoh bagaimana  membangun perbersahabatan harmonis dengan alam. Konsep rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat bagi semesta alam) harus dipahami secara utuh, dimana alam merupakan salah satu network (jejaring) kehidupan yang turut menentukan baik dan buruknya eksistensi manusia. Dalam konsep itu berpadu tiga dimensi sekaligus, yaitu: dimensi ilaahiyah (ketuhanan), insaaniyah (kemanusiaan) dan bii’ah (lingkungan). (Q.S. Al-Anbiyaa’/ 22: 7).
Moralitas Islam terhadap alam juga tercermin dalam Ummul Kitaab (al-Faatihah). Di dalam surah itu Allah menjelaskan secara konkrit bahwa Dialah pemilik alam beserta seluruh isinya. (Q.S. Al-Faatihah/ 1: 2). Kalimat Rabbul ‘aalamiin (Tuhan semesta alam) juga mengisyaratkan pesan kuat agar manusia memelihara, mengawal dan merawat alam secara konsisten. Kata Rabb (Tuhan) dapat diartikan sebagai Tuhan Pemelihara. Sebab itu, nilai-nilai rabbaniah (kepemeliharaan) harus diimplementasikan oleh manusia. Sebagai sesama hamba Allah perlu dibangun relasi resiprokal (timbal balik), manusia hidup di alam dan sudah tentu membutuhkan alam. Alam juga perlu dikelola secara terencana.
Selain itu, Allah mengingatkan umat manusia lewat sebuah ungkapan: laa tufsiduu fil ardhi ba’da ishlaahihaa (janganlah berbuat kerusakan di alam (bumi) padahal Allah telah memperbaikinya/ menjaganya…” Penggalan kalimat imperatif ini menegaskan bahwa alam semestinya dijaga sebagaimana Allah telah melakukannya. Di sini pula tersembul pesan bahwa relasi harmonis antara manusia dan alam sejatinya menjadi opsi di atas berbagai kepentingan. Menariknya, di akhir ayat tersebut Allah memberikan harapan rahmat kepada komunitas manusia yang berbuat ihsaan (merawat alam). (Q.S. Al-A’raaf/ 7: 56).
Demikianlah, relasi manusia dengan alam tidak boleh diibaratkan seperti relasi antara budak dengan tuannya, bersifat eksploitatif, posesif dan otoriter. Relasi itu mesti menciptakan kesetaraan di mana alam ditempatkan pada status yang sederajat dengan manusia. Lebih daripada itu, keduanya adalah hamba Allah. Doktrin Islam diarahkan untuk menjadi pengawal (guardian) dan pembimbing (guidance) sekaligus kritik (criticism) terhadap relasi itu. Situasi ini akan mengantarkan roda kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, manusia tenteram dan damai menjalani kehidupan sementara alam tidak terusik dan tetap terpelihara secara baik. Inilah substansi persahabatan manusia dengan alam. Wallaahu a’lam.

0 komentar: