Rabu, 04 Maret 2015

Kado Milad IMM

Salah satu wadah pembaruan Islam tempat berkumpulnya para aktivis mahasiswa adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Wadah ini merupakan organisasi otonom (ortom) di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah. Kelahiran IMM tidak dapat dilepaskan dari dakwah Muhammadiyah dalam konteks yang lebih luas namun membidik komunitas yang lebih spesifik yaitu kalangan mahasiswa. Pendirian IMM merupakan sebuah keharusan dan kebutuhan sejarah. Bagi Muhammadiyah, dalam mengembangkan dakwahnya diperlukan kader-kader muda yang yang berperan sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah. Karena itu, pada tanggal 28 Syawwal 1384 H./ 14 Maret 1964  M. didirikanlah IMM.
Peran tokoh penting seperti Djasman Al-Kindi, Rosyad Sholeh, dan Soedibyo Markoes tidak dapat diabaikan. Ketiga tokoh historis tersebut merupakan para peletak dasar dan pelaksana berbagai aktivitas sebagai embrio IMM. Ketiganya sering disebut sebagai assaabiquunal awwaluun (para tokoh pertama) dalam sejarah pendirian IMM. Mereka rutin melaksakan kajian keislaman dan kemuhammadiyahan. Dalam benak ketiganya selalu terjadi pergolakan pemikiran, apa yang dapat diberikan untuk membesarkan Muhammadiyah. IMM itulah kreasi dari pergolakan pemikiran mereka.
Momen lain dalam sejarah yang tidak boleh diabaikan adalah penandatanganan enam penegasan IMM yang dilakukan oleh KH. Ahmad Badawi sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah waktu itu. Apakah keenam penegasan tersebut? Pertama, IMM adalah gerakan Islam. Kedua, kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM. Ketiga, IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah. Keempat, IMM merupakan pengawal NKRI. Kelima, IMM adalah lembaga keilmuan yang bersifat amaliah. Keenam, IMM merupakan kreator berbagai kemaslahatan bagi banyak pihak.
Jika enam butir penegasan itu diperas dan dicermati lebih jeli, dapat dikatakan bahwa IMM adalah lembaga dakwah Islam. Dengan demikian berbagai isu sentral keislaman merupakan hal yang mutlak harus dimengerti. Dalam hal ini, meskipun tidak semua kader IMM mengambil konsentrasi keislaman, namun materi-materi keislaman umum semisal Qira’atul Qur’an (membaca al-Quran), ibadah praktis (shalat wajib dan shalat jenazah) harus dipahami dan dikuasai. Buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) dapat digunakan sebagai bacaan primer dan literatur yang harus dimiliki. Dalam buku itu dibahas hakikat Diinul Islam, ibadah khusus, masalah-masalah lima, beberapa keputusan hukum dan lain-lain. Pemahaman atas materi-materi ini menjadi kewajiban individual (fardu ain).
Selain itu, penegasan penting tersebut juga berisi tentang penjelasan dan posisi IMM dalam Muhammadiyah. IMM adalah lembaga yang tidak bisa tidak, harus terintegrasi dan bersinergi dengan Muhammadiyah. Sebab itu, setiap kader IMM pastilah kader Muhammadiyah. Tidak saja di IMM tingkat komisariat, cabang, daerah maupun pusat, para kader IMM harus terlibat aktif dalam berbagai kegiatan Muhammadiyah di tingkat ranting, cabang, daerah dan seterusnya. Penegasan ini sekaligus memformat pemahaman bahwa setiap kader IMM memiliki responsibilitas dan sense of belonging terhadap eksistensi Muhammadiyah.
Hubungan antara IMM dengan Muhammadiyah perlu dipupuk dan dikuatkan dari waktu ke waktu. Hal ini amat penting, mengingat kader IMM bisa saja datang dari keluarga atau lingkungan non Muhammadiyah, oleh karena itu pendalaman materi tentang keislaman dan kemuhammadiyahan dapat dilakukan di ranting, cabang atau daerah Muhammadiyah. Masa bagi seorang kader di IMM amat terbatas, selama berpredikat sebagai mahasiswa, itu pun jika kader yang bersangkutan cukup aktif. Bagaimana mungkin materi keislaman dan kemuhammadiyahan yang begitu luas dapat diperoleh hanya di IMM? Jawabannya tentu amat sulit. Mengintegraikan diri di ranting, cabang, dan daerah Muhammadiyah sejatinya perlu dilakukan.
Penegasan itu juga menunjukkan bahwa IMM adalah wadah berbagai kajian akademik, terutama keislaman dan kemuhammadiyahan. Sebab itu, IMM harus menjadi the community of knowledge (komunitas keilmuan). Berbagai kegiatan ilmiah seperti: seminar, bedah buku, diskusi, studi banding, membaca dan menulis, harus menjadi santapan sehari-hari. Agak terasa aneh jika kader-kader IMM merasa asing dan tidak terbiasa dengan berbagai aktivitas yang seyogyanya menjadi garapannya. Penegasan ini juga sejalan dengan tujuan IMM yang bermuara pada lahirnya para akademisi Islam yang berakhlak mulia. Sosok akademisi Muslim dengan kualifikasi budi yang luhur dan pengetahuan yang luas.
Berbudi luhur dan berpengetahuan luas adalah nilai yang senyawa dengan gerakan IMM. Dalam sebuah moto ditegaskan bahwa IMM adalah institusi yang anggun dalam moral dan unggul dalam intelektual. Moto tersebut mengandung spirit yang amat dibutuhkan kini. Sebab itulah, persoalan intelektual dan moralitas menjadi concern dan atensi penting. Gerakan dakwah yang bermuara pada perubahan masyarakat tidak mungkin bergulir jika kader-kader IMM mengabaikan kualitas akademik dan bermoral rendah. Di sisi lain, tempat-tempat seperti masjid, ruang pustaka, toko buku, lazimnya menjadi arena favorit berkumpulnya kader-kader IMM ketimbang kafe, warkop, karouke yang agak beraroma hura-hura. Meskipun dalam konteks tertentu dapat ditolelir.
Sebagaimana Muhammadiyah, IMM merupakan model gerakan civil Islam yang bersifat toleran, inklusif, cerdas, berkepribadian dan kosmopolit. IMM adalah sebuah ruang kesadaran kritis, dimana para kadernya menyemai dan menggelontorkan berbagai ide perubahan di masyarakat. Selain itu, IMM adalah gerakan dakwah kultural murni. IMM menegaskan jati dirinya sebagai lembaga kemahasiswaan non struktural (politik), namun tetap memiliki responsibilitas dalam dunia politik sebagai check and balance (pengkritik dan penyeimbang) yang tetap berkarakter anggun dan bermoral.
IMM dapat diumpamakan pabrik pemikiran dan gerakan kemahasiswaan yang akan melahirkan calon tokoh masa depan, baik tokoh persyarikatan, tokoh umat, maupun tokoh bangsa. Banyak tokoh nasional lahir dari rahim IMM. Sebut saja misalnya, Rosyad Sholeh, Sudibyo Markoes, Amirsyah Tambunan, Saleh Partaonan Daulay dan masih banyak lagi. Sementara di Sumatera Utara, di antara nama-nama seperti: Ibrahim Sakti Batu Bara, Hasyimsyah Nasution, Shohibul Anshor Siregar, Parluhutan Siregar, Kamaluddin Harahap, Hosen Hutagalung, Muslim Simbolon, Rafdinal, Ade Taufik, tak bisa dilepas dari IMM.
Jika dilihat posisi strategis IMM, maka sudah seharusnya setiap pihak merawat dan membesarkannya sebagai aset umat. IMM adalah the second campus (kampus kedua) untuk menambah pengetahuan dan mengasah kedewasaan diri. Menjadi kader IMM berarti bertanggung jawab secara moral dan spiritual dengan gerakan dakwah yang diusung Muhammadiyah. Bukan melirik pada berbagai pusaran kepentingan pragmatis yang berjangka pendek dan rentan konflik. Menjadi kader juga bukan untuk mendapatkan nilai tawar secara politis agar hasrat diri terpenuhi. Hal ini bisa saja terjadi ketika gerakan yang dilakukan menjauh dari Muhammadiyah dan sudah tentu berbagai kepentingan yang datang merayu. Jika ini terjadi, maka IMM hanya seperti barang mainan dan pastinya akan ditinggalkan orang. IMM akan mewujud sebagai benda sejarah yang kering makna. Menjadi kader IMM secara ideal berarti mensedekahkan tidak saja waktu, finansial dan pikiran, namun juga diri sendiri.Agar gerakan IMM bernas dan progresif, maka posisi IMM harus tetap independen, dalam arti tidak tersubordinasi oleh berbagai magnet yang tidak mendidik dan dapat melunturkan ideologi para kadernya. Kelak setelah menjadi tokoh, kader-kader yang pernah dilahirkan IMM harus kembali ke Muhammadiyah. Para kader itu dapat membangun Muhammadiyah dari berbagai aspek, apakah sebagai seorang akademisi, pengusaha, politisi, ulama, tehnokrat dan sebagainya. Mereka juga mesti terikat secara moral dan emosional terhadap perkembangan IMM. Selamat Milad IMM. Semoga Bermanfaat. Wallaahu a’lam.

0 komentar: