Selasa, 03 Februari 2015

Fenomena Sufisme Perkotaan

Dunia modern yang berkembang akhir-akhir ini telah menempatkan manusia pada posisi superior. Manusia telah dapat mengatur dirinya dan menentukan masa depan sesuai keinginan yang telah ditetapkan. Kalau dulu manusia banyak bergantung pada kekuatan gaib yang muncul dari luar dirinya, kini secara perlahan kekuatan gaib tersebut dipinggirkan dan sering dianggap sebagai penghambat berbagai kemajuan. Manusia merasa benar-benar telah menjadi dirinya sendiri. Pilihan yang diambil manusia modern ternyata keliru. Sikap remeh mereka dalam mengapresiasi kekuatan gaib berujung pada berbagai petaka. Mereka seolah berjalan di tengah kemilau cahaya namun tak tentu arah. Pada konteks ini, muncul sebuah kesadaran baru untuk kembali pada kekuatan gaib yang semula diremehkan. Dalam kekuatan gaib itulah sesungguhnya eksistensi Tuhan. 
Kebutuhan manusia terhadap kekuatan gaib adalah hal yang bersifat perennial (abadi) dan tak mungkin diabaikan. Sebab, entitas manusia adalah sebagai mahluk material sekaligus spiritual. Di sinilah sesungguhnya peran strategis yang dimainkan sufisme (tasawuf) tersebut. Sebagaimana yang dipahami secara umum, bahwa sufisme merupakan ajaran keislaman yang mengajarkan penyucian diri untuk membangun hubungan sedekat mungkin kepada Tuhan. Meskipun muncul dari tradisi, namun spirit penyucian diri dan membangun keterdekatan kepada Tuhan demikian penting sebagaimana diinformasikan Alquran maupun hadis. Misalnya, seorang hamba harus merasakan kehadiran Tuhan di dalam dirinya, eksistensi Tuhan cukup dekat. Tuhan selalu menumbuhkan jiwa optimisme  ke dalam diri manusia (Q.S. al-Baqarah/ 2: 186). Bahkan di dalam hadis dijelaskan bahwa Tuhan senantiasa mengawasi berbagai gerak hati, lisan dan perbuatan manusia (HR. Muslim). 
Lalu, apakah yang dimaksud dengan sufisme perkotaan itu? Tentu saja secara definitif tidak banyak berbeda dengan batasan sufisme secara umum. Namun yang unik adalah kata sufisme itu sendiri diikuti oleh istilah perkotaan. Istilah perkotaan dapat dikaitkan dengan kehidupan yang cenderung materialistis dan dinamika kehidupan yang tinggi. Prinsip hidup rasional dan bernuansa individualistis pragmatis juga sering dikaitkan dengan istilah perkotaan.
Dengan demikian sufisme perkotaan dapat dipahami sebagai gerakan spiritual yang muncul dari tradisi Islam sebagai anti tesis dari model kehidupan perkotaan dengan berbagai karaktristik yang melekat padanya. Gerakan tersebut mengidealisasikan nilai-nilai spiritual untuk tetap menjadi basis kehidupan yang dirasakan kering dan tidak memuaskan. Dalam konteks ini, sufisme perkotaan memberikan kritik kepada dua hal, yaitu: model kehidupan modern yang kering dan gersang. Dan kedua, model pengamalan Islam yang cenderung rigid dan formalistik.
Dalam konteks ini, Ernest Gellner lebih cenderung pada kritik kedua. Menurutnya, sufisme perkotaan merupakan kritik tajam kepada pengamalan ajaran Islam yang kering dan cenderung simbolik. Gellner memaparkan bahwa sufisme perkotaan merupakan alternatif yang menjadi pilihan utama kaum Muslim karena ibadah yang dilaksanakan selama ini tidak dapat memuaskan dahaga spiritual (Gellner, 2011: 48).Pendapat Gellner tentu saja dapat diterima. Tapi kehidupan modern yang kering dan gersang juga dapat menjadi variabel penting munculnya gerakan spiritual perkotaan semisal sufisme itu. Inilah setidaknya yang perlu dipertajam oleh Gellner. Peradaban yang dibangun di atas kerangka bendawi menyebabkan manusia teralienasi dari lingkungan sekitarnya. Dalam konteks inilah ribuan bahkan jutaan manausia modern menjerit pilu karena kebahagiaan yang didambakan tak kunjung menjadi kenyataan. Benar, mereka dapat membeli kesenangan namun belum tentu kebahagiaan. Kerangka paradigmatik ini menempatkan dimensi spiritual secara subordinatif terhadap dimensi material.Istilah sufisme perkotaan (urban sufism) itu sendiri menjadi lebih populer ketika Julia Day Howell melakukan penelitian antropologi mengenai gerakan keagamaan yang bernuansa spiritual di Indonesia. Howell mencermati berbagai gerakan zikir dan kelompok-kelompok pengajian tumbuh dan berkembang secara subur di kota-kota besar Indonesia (Howell, 2007: 297). Dalam konteks ini, Howell hanya memperkenalkan istilah tersebut, namun secara substantif sufisme itu sendiri telah tumbuh dan berkembang pada masa Rasulullah dan para sahabat. Meskipun ketika itu masih sebatas realitas tanpa nama.Sufisme perkotaan adalah fenomena kontemporer yang menarik untuk dicermati. Pada masa belakangan ini, khususnya dalam konteks Indonesia, di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, terjadi ledakan pengamalan keagamaan. Dimulai dari kecenderungan kaum Muslim untuk menunaikan ibadah haji dan umroh. Bahkan mereka rela menunggu bertahun-tahun untuk dapat menunaikan ibadah haji karena kuota yang terbatas. Ibadah yang tergolong menghabiskan biaya besar ini telah menjadi trend tersendiri. Biro perjalanan haji dan umroh yang mendukung aktivitas ibadah ini juga mudah sekali ditemukan. Biro tersebut membantu masyarakat yang ingin melaksanakan ziarah spiritual ke berbagai tempat yang dianggap suci dan memiliki nilai historis. Mulai dari perjalanan biasa sampai perjalanan eksklusif dan berkelas ditawarkan kepada masyarakat. Selain itu, berbagai majelis zikir diikuti oleh banyak lapisan masyarakat mulai para pejabat sampai rakyat biasa. Di Jakarta misalnya, majelis zikir yang dipimpin di antaranya oleh Ustaz Arifin Ilham cukup menyedot jamaah yang tidak sedikit. Di Kota Medan Majelis Zikir Tazkira yang dipimpin Buya Amiruddin MS juga memiliki jamaah yang cukup banyak. Kedua fenomena majelis zikir ini lebih menitikberatkan pada penataan hati dan bagaimana berdialog secera intens kepada Tuhan. Demikian pula dengan berbagai training keislaman yang bernuansa spiritual, seperti ESQ model Ary Ginanjar Agustian dan Rasa Ruhani model Muhammad Iqbal Irham, adalah fenomena menarik sufisme perkotaan ini. Selain itu di beberapa tempat para ibu muda menyemarakkan kajian keislaman di sela-sela waktu senggang menunggu anak mereka pulang sekolah. Belum lagi berbagai rumah yang disulap menjadi majelis taklim oleh sebagian anggota masyarakat. Fenomena lain yang dapat diamati adalah munculnya majelis taklim, talk show keagamaan, diskusi-diskusi yang bernuansa spiritual di berbagai tayangan televisi. Bahkan tidak sedikit figur publik seperti para artis, rela meninggalkan dunia entertainmen yang selama ini digelutinya hanya untuk mendalami ajaran Islam. Tidak sedikit pula di antaranya yang rela mengenakan jilbab agar mendapatkan ketenangan batin dan tampil lebih islami. Meskipun tidak sedikit karena berbagai alasan menanggalkan jilbab itu kembali. Selain itu, pengajian-pengajian keagamaan secara rutin dilaksanakan di berbagai kantor uniknya lagi di saat jam kerja. Tak jarang materi pembahasan telah dipersiapkan secara rapi dan terencana. Ini adalah contoh-contoh bagaimana sufisme perkotaan mengambil tempat tersendiri dalam lokus kesadaraan keagamaan kaum Muslim.
Sufisme perkotaan merupakan warisan budaya Islam yang patut dilestarikan. Hanya persoalan selanjutnya adalah bagaimana sufisme perkotaan dapat menjadi salah satu instrumen rekayasa wajah Islam ke depan. Secara ideal, hubungan antara kultur material dan spiritual harus tetap berpadu. Di sini sufisme perkotaan bukan sebagai pelengkap, namun elemen penting terjadinya rekayasa itu. Kultur material secara historis telah gagal menjadikan manusia sebagai mahluk yang sesungguhnya. Alih-alih meraih kebahagiaan, kultur tersebut justru menjadikan pribadi manusia terpecah. Sebaliknya, sufisme perkotaan jika berjalan sendirian dan ditonjolkan secara berlebihan maka hanya akan berkembang menjadi semacam tempat pelarian. Sufisme semacam ini akan menghindar dari tanggung jawab sejarah sehingga, seperti kultur material, sama gagalnya dalam menyelesaikan persoalan masyarakat modern. Sufisme perkotaan ini akan kehilangan makna fungsi sosialnya untuk menghadapi tantangan kehidupan faktual dan objektif dalam perkembangan sejarah.Pada akhirnya, sufisme perkotaan akan melahirkan para sufi yang unik dan cukup berbeda secara fisikal ketimbang sufi yang dikenal selama ini. Boleh jadi para sufi itu lahir dari lapangan ekonomi, politik, sosial, olah raga, lingkungan, budaya, kuli kasar atau dari lapangan agama sendiri. Sufisme perkotaan memang tidak membentuk performa seorang sufi secara simbolik, melainkan keterdekatannya kepada Tuhan dan berbagai kebajikan yang ia torehkan. Wallaahu a’lam.


0 komentar: