Kamis, 01 Januari 2015

Merawat Ukhuwah


Manusia sering disebut homo socius (makhluk sosial). Predikat tersebut memberi kesan bahwa ia membutuhkan orang lain. Bagi manusia, hidup dalam jejaring masyarakat menjadi sebuah kebutuhan mendasar (fithrah) yang tak dapat diabaikan. Dalam jejaring itu terdapat ukhuwah sebagai perekat yang dapat menyatukan berbagai entitas. Menariknya, Islam mengatur ukhuwah antar sesama manusia  secara jelas terutama antar sesama umat Islam. Merawat kedua ukhuwah  tersebut menjadi bagian dari ibadah, dan Islam mencela bagi siapa saja yang mengabaikannya.
Khusus ukhuwah antar umat Islam, Alquran baik secara tersurat maupun tersirat banyak mengemukakan hal tersebut. Misalnya dijelaskan, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali  Allah (habl Allah), dan janganlah kamu bercerai berai….” (Q.S. Ali-Imran/ 3: 103). Ayat ini mengandung spirit persaudaraan secara jelas. Menurut Al-Baydhawi, tali Allah dalam ayat ini dipahami dengan Din al-Islam (agama Islam) atau Kitab Sucinya (Alquran). Tanpa mempertimbangkan latar belakang kultural, etnis, maupun geografis, umat Islam merupakan saudara karena diikat oleh tali Allah baik karena kesamaan Din al-Islam maupun Alquran.
Dijelaskan juga pada ayat lain, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali-Imran/ 3: 104). Pada ayat ini, kaum Muslim hendaknya bahu membahu dan saling menopang. Bagian yang satu menjadi kekuatan untuk bagian yang lain. Bagaimana mungkin konsep bahu membahu dan saling menopang dapat terjadi tanpa adanya ukhuwah.
Lalu, apakah ukhuwah itu? Secara semantik, ukhuwah yang biasa diartikan dengan persaudaraan terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Hal ini berarti persaudaraan mengharuskan adanya “perhatian” semua pihak yang merasa bersaudara. Sementara kata ukhuwah tersebut diderivasi dari akar kata akh yang berarti “teman akrab” atau “sahabat”. (Lihat Shihab, 1996: 486-499).
Sudah tentu teladan persaudaraan Islam itu diberikan oleh Rasulullah sendiri ketika beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau membangun persaudaraan (al-mu’aakhaah) antara berbagai unsur anggota masyarakat baru Madinah, khususnya antara kaum Imigran Muhajirin dari Makkah dan kaum Penyambut atau Penolong (Anshar) di Madinah. Rasulullah melakukan perubahan mendasar sekaligus menciptakan kultur nirkekerasan pada masyarakat Madinah. Selain persaudaraan intern umat Islam, Rasulullah membangun persaudaraan kemanusiaan universal (ukhuwah insaniyah) sekaligus merumuskan sebuah kesepakatan sosial yang dikenal Piagam Madinah.
Sebagai suatu prinsip yang amat mendasar, ajaran persaudaraan itu mendapat penegasannya dalam Kitab Suci lengkap dengan petunjuk pelaksanaannya. Surah al-Hujurat/ 49: 10 meletakkan prinsip  persaudaraan itu. "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
Menarik untuk dipertanyakan, mengapa Alquran menggunakan kata ikhwatun dalam arti persaudaraan seketurunan ketika berbicara tentang persaudaraan sesama Muslim padahal ada kata ikhwan yang juga berarti saudara? Ayat tersebut ingin mempertegas jalinan hubungan antar sesama Muslim yang dijalin bukan saja karena alasan “keimanan” melainkan juga seakan-akan dijalin berdasarkan persaudaraan “seketurunan”.
Sudah sepatutnya ukhuwah ini disakralkan dan dijunjung tinggi. Kenyataan yang muncul sering sebaliknya, ukhuwah kerap menjadi korban berbagai kepentingan sampai egoisme paham dan institusional. Ketika ketiga hal tersebut berubah menjadi semacam berhala, maka ukhuwah menjadi terbengkalai dan terabaikan. Tentu yang lebih menyedihkan pesan moral Alquran gagal dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupan.
Harus disadari, energi umat yang demikian besar bergerak meredup karena berbagai persoalan. Misalnya saja karena kepentingan politik, dunia Islam seolah tercabik-cabik menjadi potongan-potongan kecil yang hampir tidak punya kekuatan. Dalam pergaulan internasional, dunia Islam sulit menegakkan kepala. Di samping ada semacam kecemburuan yang terkadang berlebihan ketika merespon berbagai kemajuan.
Menyangkut egoisme paham dan institusional sejauh ini masih menjadi hambatan tersendiri bagi terbangunnya ukhuwah. Kedua hal tersebut belum dapat dikelola secara maksimal dan menjadi rahmat tersendiri. Sering karena heterogenitas tersebut, berbagai kecurigaan dan prasangka bahkan predikat-predikat yang cukup menyakitkan kerap muncul. Itu ditujukan kepada sesama umat Islam.  Sedihnya, argumen-argumen tersebut diklaim berdasarkan ajaran Islam yang paling sesuai. Ruang toleransi seolah tertutup dalam konteks ini.
Sejatinya, hubungan antara sesama Muslim yang berbeda-beda kepentingan,  paham dan institusional tidak boleh terjadi dalam kerangka sikap yang absolutistik, seperti ditunjukkan dengan statemen: Saya pasti benar dan orang lain pasti salah. Seorang Muslim harus meletakkan perilaku sekundernya dalam kerangka relativistik, seperti banyak dikutip dari Imam Abu Hanifah: “Saya benar tapi bisa salah; dan orang lain salah tapi bisa pula benar.” (Lihat Madjid, 1995: 238-241). Ungkapan ini jika ditranformasikan secara baik merupakan salah satu cara efektif untuk turut serta merawat ukhuwah.
Oleh sebab itu, firman-firman Allah berikutnya dari Surah al-Hujurat (ayat-ayat 11 dan 12) tentang bagaimana cara memelihara ukhuwah ditunjukkan dengan cukup jelas: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendir dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Mengingat demikian pentingnya eksistensi ukhuwah, dekonstruksi paham keislaman yang kita anut selama ini perlu dilakukan. Kita sering tidak menyadari bahwa merawat ukhuwah merupakan kewajiban setiap Muslim. Kesalehan individual dan komunal masyarakat Muslim juga diindikasikan melalui konsistensinya merawat ukhuwah ini. Semangat persaudaraan harus tetap dikedepankan betapa pun besarnya perbedaan dalam kepentingan, paham dan institusi. Sebab itu, diperlukan sikap terbuka dan toleran terhadap berbagai perbedaan yang terjadi. Wallahu a’lam.

0 komentar: