Senin, 01 Desember 2014

Beberapa Catatan Untuk Muhammadiyah

Setiap orang sudah mafhum bahwa Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam modern dan dalam konteks pendidikan menurut Azyumardi Azra menjadi yang terbesar di dunia. Sebuah media di Amerika seperti disampaikan M. Din Syamsuddin pernah menjuluki Muhammadiyah sebagai “the largest Muslim organization in the world”. Sementara Ahmad Najib Burhani menjelaskan bahwa Muhammadiyah memainkan peran dalam tiga konteks, yaitu: feeding (pelayanan sosial), schooling (pendidikan), dan healing (rumah sakit). Tentu tiga konteks yang menjadi ciri khas Muhammadiyah tersebut perlu mendapat tambahan keempat, yaitu: purifying (memurnikan akidah dan meluruskan ibadah).
Data yang penulis himpun dari situs resmi Muhammadiyah, organisasi ini memiliki 4.623 TK/TPQ, 2604 SD/ MI, 1772 SMP/ MTs, 1143 SMA/ SMK/ MA, 67 Pondok Pesantren, 172 Perguruan Tinggi, 457 Lembaga Kesehatan, 318 Panti Asuhan, 54 Panti Jompo, 82 Rehabilitasi Cacat, 71 Sekolah Luar Biasa, 6118 Masjid, 5080 Musholla, 20.945.504 M2 (lihat www.muhammadiyah.or.id). Aset Muhammadiyah yang demikian besar tetap terkait dengan keempat konteks gerakannya (feeding, schooling, healing dan purifying).  
Sejak berdirinya 18 November 1912, Muhammadiyah telah memberikan kontribusi penting dalam pencerahan bangsa. Kini usianya sudah mencapai 102 tahun, 18 November 2014. Jika dilihat dari perspektif usia yang sudah melebihi satu abad, tentu Muhammadiyah telah matang karena melewati dua fase sejarah, fase pra kemerdekaan dan fase pasca kemerdekaan. Pada fase pertama, Muhammadiyah melewati berbagai pressure (tekanan) dari pemerintah kolonial. Karena posisinya yang konsisten di jalur kultural, eksistensi Muhammadiyah oleh pemerintah kolonial secara politis bukan dianggap ancaman, namun mitra masyarakat yang turut mencerdaskan anak bangsa.
Pada fase kedua, Muhammadiyah terlibat aktif dan kreatif dalam perumusan falsafah dan dasar Negara. Tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Abdul Kahar Muzakkir, memberikan andil yang tidak kecil dalam mewarat bayi mungil yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di sinilah peran kebangsaan Muhammadiyah terasa mencolok. Pancasila sebagai dasar negara dianggap sebagai rumah bersama dan alat integrasi anak bangsa dengan pluralitas budaya dan agama.
Gerakan kebangsaan Muhammadiyah yang bersifat toleran seringkali terusik oleh  berbagai infiltrasi ideologi impor yang bersifat intoleran dan keras. Tak jarang ideologi tersebut mengganggu bahkan merusak spirit ideologi Muhammadiyah yang kental dengan nuansa keterbukaan. Moeslim Abdurrahman membaca gejala ini sebagai gerakan yang bersifat regresif (mundur). Bukan tidak mungkin, ketika fenomena semacam ini dibiarkan maka Muhammadiyah seperti pabrik yang memproduksi kebencian dan prasangka. Dua sifat ini merupakan batu sandungan dan duri tersendiri bagi terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.
Jika ditelusuri riwayat hidup KH. Ahmad Dahlan, kultur keterbukaan menjadi fundamen dari berbagai aksi yang dilakukan. Inilah yang seharusnya dihidupkan kembali dan menjadi salah satu modal sosial Muhammadiyah. Seperti dijelaskan Haedar Nashir, KH. Ahmad Dahlan bersahabat dekat dengan seorang pastor dari Muntilan, Heng Seneeflit. Perbincangan mereka tentang isu-isu kemanusiaan melahirkan sebuah persahabatan antar iman yang demikian dekat.  Sosoknya yang terbuka menyebabkan KH. Ahmad Dahlan memiliki ide-ide progresif yang sering dianggap nyeleneh namun terasa segar dan membumi.
Sejarah merekam bahwa KH. Ahmad Dahlan juga bersentuhan dengan ide nasionalisme dari Budi Utomo, sebuah organisasi nasionalis sekuler yang berpikiran maju. Inspirasi untuk mendirikan Muhammadiyah ia dapatkan dari Budi utomo. Prinsip egalitarianisme antara kaum laki-laki dengan kaum perempuan juga ia lakukan. Hal itu merupakan spirit berdirinya organisasi perempuan Aisyiyah. Untuk ini, Ahmad Jaenuri tak segan menyebut KH. Ahmad Dahlan sebagai sosok liberal. Liberal dalam konteks ini tentu terkait dengan kemajuan dan pencerahan.
Kini, gerakan Muhammadiyah tidak hanya menyangkut persoalan kebangsaan saja, namun juga meliputi gerakan kemanusiaan. Harus diakui, keterlibatan para pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah seperti: M. Din Syamsuddin, M. Syafiq Mughni, Abdul Mukti, Haedar Nashir dan lain-lain, dalam berbagai kegiatan kebangsaan dan kemanusiaan berskala dunia tidak dapat disangkal. Bahkan Muhammadiyah hingga kini tetap melakukan pendampingan terhadap masyarakat yang pernah terlibat konflik horizontal (Islam dan Kristen) di Mindanao Filipina. Berbagai aktivitas Muhammadiyah untuk Resolusi konflik juga dapat dikatakan tidak kecil, salah satunya di Kosovo. Dukungan moril dan materil Muhammadiyah untuk umat Islam palestina sekaligus pengakuan akan kedaulatannya tetap menggema hingga kini.
Gerakan kebangsaan dan kemanusiaan yang sudah dicontohkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah bukan barang jadi yang dapat hidup tanpa perawatan. Sebaliknya, spirit itu membutuhkan perhatian dan penanganan serius. Kelemahan yang dapat diamati adalah bahwa gerakan itu tumbuh subur di lingkungan elit Muhammadiyah namun terkubur ketika sampai di lingkungan yang lebih luas, seperti: Pimpinan Wilayah sampai Pimpinan Ranting. Padahal gerakan tersebut harus berakar di ranting-ranting sebagai basis warga Muhammadiyah. Berbagai prasangka (prejudice) dan kecurigaan baik antar umat beragama atau sesama internal umat Islam kerap mewarnai lokus pemikiran warga muhammadiyah. Sebab itu gerakan kebangsaan dan kemanusiaan seharusnya ditanamkan di lapisan terbawah warga Muhammadiyah.
Pada konteks lain, fenomena sebagai lembaga yang hanya mengurusi persoalan fikih juga demikian terasa. Jika kita melakukan observasi di banyak majelis taklim Muhammadiyah, maka nuansa fikih cukup kental dijumpai. Memang tak bisa dipersalahkan, bahwa aspek fikih terkait dengan persoalan praktis keseharian seperti menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal amat penting. Namun jika hal tersebut tidak diimbangi dengan sikap toleran, maka perasaan benar sendiri dan perasaan menjadi pewaris Nabi yang paling absah akan menjadi warna yang cukup dominan dalam sikap warga Muhammadiyah. Akhirnya warga  Muhammadiyah mudah sekali menuduh orang lain sebagai: bid’ah, liberal, tergelinsir, sekuler, antek Yahudi, bahkan kafir.
Harus diakui, mindset keagamaan warga Muhammadiyah banyak dibentuk oleh para penutur dakwahnya (ustaz, mubaligh, da’i). Untuk melahirkan warga Muhammadiyah dengan pandangan kebangsaan dan kemanusiaan yang inklusif, terbuka dan ramah, maka diperlukan pula para penutur dakwah dengan karakteristik pencerahan itu. Para penutur dakwah di Muhammadiyah selama ini berjalan sendiri-sendiri dan sebagian hampir tak punya waktu untuk sharing mengenai isu-isu kebangsaan dan kemanusiaan kontemporer dengan sesama penutur dakwah. Apa lagi masing-masing mengeluarkan fatwa yang kerap membingungkan dan cenderung memojokkan yang lain.
Sudah seharusnya para penutur dakwah ini meluangkan waktu untuk menambah ilmu pengetahuan supaya dakwahnya tetap prima. Hal ini akan berdampak positif untuk pencerahan umat. Bagi para penutur dakwah dan bagi warga Muhammadiyah secara umum, agar tidak kehilangan visi dan spirit gerakan kebangsaan dan kemanusiaan, maka majalah Suara Muhammadiyah menjadi sesuatu yang wajib. Dalam majalah itu selalu dikupas target Muhammadiyah untuk mengusung model Islam rahmatan lil ‘aalamiin. Majalah ini jelas mempromosikan nationality out look (pandangan kebangsaan) dan  humanity out look (pandangan kemanusiaan) secara serius. Kini, gerakan Muhammadiyah bergulir seperti bola salju (snow ball), semakin lama semakin besar dan menjadi kekuatan bangsa dan pilar kemanusiaan, from in group to out group (dari kelompok untuk semua). Itulah sebabnya Muhammadiyah dapat bertahan hingga kini. Wallaahu a’lam.

0 komentar: