Senin, 18 Agustus 2014

Dunia Tanpa Islam


 

Tak dapat disangkal, semenjak kehadirannya Islam telah memberikan kontribusi berharga bagi perbaikan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Visi teologis yang terumuskan dalam diktum rahmatan lil ‘alamiin bahkan menarasikan daya jelajah yang amat luas. Visi itu menjelaskan cita ideal Islam sebagai agama yang melingkupi dimensi ilaahiyah (ketuhanan), insaaniyah (kemanusiaan) dan tentu saja kauniyah (alam semesta). Ketiga dimensi itu merupakan tungku yang menyangga Islam hingga kini.
Seiring dengan perjalanan waktu, eksistensi Islam mulai dipertanyakan orang. Mengapa visi rahmatan lil ‘alamiin yang demikian indah dan penuh harapan kerap diterjemahkan lewat berbagai aktivitas umat Islam yang justru berseberangan dengan visi tersebut. Misalnya saja, berbagai tindakan teror yang puncaknya ditandai dengan serangan terhadap World Trade Center, 09/ 11/ 2001, dilakukan oleh umat Islam. Belum lagi sederetan aktivitas di tanah air yang mengatasnamakan jihad seperti bom malam Natal, bom Bali, bom Mapolres Cirebon, konflik horizontal atas nama Islam kerap terjadi.
Tentu saja, kasus-kasus tersebut turut serta membentuk opini masyarakat dunia terhadap Islam sebagai agama yang kerap melahirkan teror. Akhirnya orang berkesimpulan apa gunanya Islam hadir dan dianut oleh sebagian warga dunia jika hanya untuk melahirkan malapetaka kemanusiaan? Tidakkah dunia ini menjadi aman dan tenteram seandainya Islam angkat kaki dari permukaan bumi ini? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat nalar kita memberontak, namun harus dikemukakan pula uraian-uraian meyakinkan mengenai pentingnya Islam bagi kehidupan manusia.
Ada sebuah buku yang sedikit lawas ditulis oleh Graham E. Fuller, A World Without Islam (New York: Little & Brown, 2010) yang menarik untuk dikaji kembali. Fuller merupakan profesor sejarah di Simon Frase University (Kanada). Ia pernah menjadi orang penting di lingkaran CIA. Dengan latar belakangnya itu, Fuller tentu saja memiliki analisis yang cukup tajam dan data-data lapangan yang telah ia ketahui selama menjadi petinggi CIA. Membaca buku Fuller tentunya darah kita akan mendidih mengingat dari judulnya saja sudah mengisyaratkan kebencian yang memuncak terhadap Islam. Namun demikian, jika kita ikuti uraian-demi uraian yang dipaparkannya maka kita akan terkejut karena Fuller menulis berbeda dari apa yang kita asumsikan.
Fuller menjelaskan bahwa Barat berkepentingan besar untuk menguasai Timur Tengah (sebagian besar dunia Islam) dikarenakan dua hal penting, yaitu: sumur-sumur minyak yang kaya dan posisi Timur Tengah yang strategis secara geopolitik sebagai gerbang penghubung Dunia Barat dan Dunia Timur. Dengan berbagai dalih seperti perlunya demokrasi, penegakan HAM, pemberantasan terorisme, Barat dengan sekehendak hatinya menciptakan pertikaian demi pertikaian di dunia Islam. Di atas itu semua, syahwat politik dan penguasaan sumber daya alam menjadi faktor dominan yang menjadi agenda paling penting.
Dalam pembacaan Fuller, berbagai aksi terorisme yang terjadi di dunia Islam tidak tepat jika dikaitkan dengan Islam saja. Meskipun ada, namun aksi-aksi radikal yang lahir dari rahim umat Islam hanya sedikit. Ia mengemukakan bahwa di negara-negara Uni Eropa  aktivitas terorisme terjadi 498 kali. Dari jumlah ini, sebanyak 424 dilakukan oleh kelompok separatis, sejumlah 55 oleh kaum ekstremis kiri, 18 oleh kekuatan teror lainnya, hanya satu teror yang dilakukan oleh kelompok Islamis. Namun karena dunia dikuasai oleh hegemoni media Barat, maka deretan asumsi atas berbagai bentuk teror kerap disandarkan pada Islam.
Aksi teror yang dilakukan oleh umat Islam (living Islam) pada prinsipnya merupakan tindakan reaksional yang dimunculkan sekelompok umat Islam untuk melawan otoritarianisme Barat. Selain itu, sebagian menuduh Barat sebagai biang kerok kekisruhan politik, ekonomi dan sosial. Karenanya menjadi sebuah kewajiban religius (jihad) bagi umat Islam untuk mengusir Barat. Alhasil, berbagai tindakan radikal yang dianggap dapat menjaga kesucian Islam mudah sekali dilakukan.
Repons yang dikemukakan sejumlah cendekiawan Muslim Tanah Air terhadap karya Fuller tersebut secara substantif sama, semua bermuara pada apresiasi akademik yang tinggi. Seperti pendapat yang dikemukakan Buya Syafii Maarif, ia melihat bahwa tulisan Fuller adalah sebuah imajinasi sejarah, dikemas dari rentetan peristiwa panjang dalam percaturan dunia sejak masa kuno sampai sekarang. Dalam pembacaannya, Fuller tidak ada maksud untuk mengusir Islam, bahkan malah terkesan ada semacam pembelaan. Pihak lain pun dalam berbagai periode sejarah, katanya, bahkan berbuat lebih brutal.
Buya Syafii Maarif menambahkan, aksi-aksi terorisme belakangan ini sebenarnya didalangi oleh Amerika sendiri. Ia meminjam terminologi Johan Galtung, bahwa state sponsored terrorism (terorisme yang dilakukan negara) justru lebih bengis daripada terorisme perorangan dan kelompok. Contoh konkrit terhadap hal ini adalah Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Belum lagi anak emas Amerika yaitu Israel yang sudah meneror rakyat Palestina lebih daripada setengah abad (Gatra, 13 Maret 2008)).
Sementara Azyumardi Azra memaparkan bahwa konflik yang terjadi di dunia, terutama di negara-negara Timur Tengah faktor penyebabnya bukan karena Islam melainkan karena alasan-alasan lain semisal ekonomi dan politik. Ada atau tidak adanya Islam, Timur Tengah tetap berpotensi bergejolak. Sejarah telah membuktikan bahwa telah terjadi konflik antara Kristiani Ortodok Timur (Bizantium) dan Kristiani Katolik Roma. Hubungan antara kedua gereja ini telah diwarnai kecurigaan timbal balik dan penuh racun selama hampir dua millennium. Baginya, tulisan Fuller selain menjadi kritik bagi Barat, juga dapat mencairkan suasana antara Timur dan Barat yang selama ini beku (Republika, 17 Desember 2010).
Analisis yang tak kalah menarik dikemukakan Komaruddin Hidayat. Dalam tulisannya sebagai komentar terhadap karya Fuller itu ia menjelaskan bahwa   konflik yang terjadi antara Suriah, Irak, Iran, Arab Saudi, dan Mesir hanyalah kelanjutan persaingan etnis dan regional jauh sebelum Islam datang. Begitu pun persaingan antara Gereja Roma, Konstantinopel, dan Ortodoks Timur yang berpusat di Suriah dan Palestina sudah berlangsung ratusan tahun. Kemuliaan agama selalu saja tercoreng dan terkooptasi oleh negara yang secara laten berambisi memenuhi nafsu kekuasaan politik dan ekonominya (www.uinjkt.ic.id).
Di sini menjadi jelas, bahwa kekisruhan politik dan sosial bahkan yang bernuansa agama di negara-negara Timur Tengah memang sudah berlangsung demikian lama. Tak ada alasan sama sekali menjadikan Islam sebagai pihak tertuduh. Hal terpenting yang perlu dipahami adalah bahwa dunia tanpa Islam mungkin saja tidak secerah sekarang. Pengakuan yang jujur dan tulus seperti ini pernah dikemukakan sarjana kenamaan Barat Bernard Lewis sebagaimana dikutip oleh Jean Staune (2006: 97). Lewis menjelaskan bahwa selama berabad-abad dunia Islam berada di garis terdepan dalam membangun peradaban manusia dan telah meraih berbagai prestasi. Islam membawa kita ke dunia internasional yang demikian luas dan saling membutuhkan. Inilah prestasi sejarah yang cukup besar. Jadi, seandainya ada pihak yang menyatakan bahwa dunia menjadi aman tanpa kehadiran Islam maka pernyataan itu sesungguhnya bersifat utopis, rabun sejarah,  dan tak dapat dipertanggungjawabkan. Sampai kapan pun dunia membutuhkan Islam. Wallaahu a’lam.

0 komentar: