Jumat, 04 Juli 2014

Kaum Marginal Memaknai Idul Fitri



 Marginal berasal dari bahasa Inggris “marginal” yang berarti jumlah atau efek yang sangat kecil. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, marginal secara sederhana diartikan dengan: pertama, tidak terlalu menguntungkan, dan kedua, berada di pinggir. Kaum marginal dapat dipahami sebagai komunitas yang secara pragmatis tidak selalu memberikan keuntungan dan posisi mereka selalu tidak diperhitungkan karena berada di pinggir lingkaran kehidupan. Dengan kata lain, kaum marginal adalah kelompok wong cilik (orang kecil), mereka memiliki peran serta yang kecil baik secara kultural maupun struktural.
Secara faktual, sebenarnya yang disebut kaum marginal hampir sama dengan masyarakat miskin. Kaum marginal lebih daripada persoalan ekonomi, esensi kaum marginal menyangkut berbagai kemungkinan atau probabilitas orang untuk melangsungkan dan mengembangkan usaha serta taraf kehidupannya. Dapat dipahami bahwa kaum marginal bukanlah variable dependen, muncul dengan sindirinya tanpa ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ternyata, kaum marginal juga lahir karena setting masyarakat yang tidak adil dalam alokasi kesempatan.
Sebuah keluarga yang mengalami proses marginalisasi umumnya tidak berdaya, ruang geraknya serba terbatas, dan sulit terserap dalam sektor-sektor yang memungkinkan mereka dapat mengembangkan usahanya. Menurut Soedjatmoko sebagaimana dikutip oleh Moh. Ali Aziz et al., kaum marginal di perkotaan umumnya adalah buruh migran seperti: pedagang kaki lima, pedagang asongan, penghuni pemukiman kumuh yang biasa disebut tenaga kerja tak terdidik (unskilled labour). Mereka harus bertarung menghadapi pasar yang didominasi para kapitalis modern.
Kaum marginal di pedesaan umumnya adalah para petani yang hidup di tengah cengkraman para tuan tanah (land lord). Penghasilan mereka kecil namun energi mereka demikian besar untuk menghasilkan produksi pertanian yang sering tidak dinikmati oleh dirinya sendiri. Selain itu, kalau pun kaum marginal di pedesaan memiliki sawah namun secara kuantitatif kian menyempit dikarenakan berganti dengan sawah-sawah beton akibat skenario pragmatis para pengembang.
Sedikitnya terdapat dua karakteristik utama kaum marginal, yaitu: pertama, terjadinya mobilitas sosial vertikal. Mereka yang hidup miskin akan senantiasa dalam kemiskinannya sementara mereka yang berkecukupan akan senantiasa dapat menikmati kekayaannya persis seperti syair Rhoma Irama, “yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.” Kedua, timbulnya ketergantungan yang kuat dari pihak miskin terhadap kelas sosial ekonomi di atasnya (Aziz et al., 2005: 168). Dengan kata lain, si miskin terus menerus “menyusu” kepada si kaya, dan sudah tentu riwayat hidupnya diformat oleh berbagai kepentingan si kaya.
Dalam Islam kaum marginal identik dengan kaum dhu’afa. Kata dhu’afa diderivasi dari bahasa Arab dha’afa yang berarti lemah. Orang yang lemah disebut dha’iif. Komunitas kaum lemah disebut dhu’afa. Meskipun demikian, antara kaum marginal dan kaum dhu’afa tidaklah identik secara keseluruhan. Kaum marginal lebih cenderung pada arti terpinggirkan secara ekonomi dan sosial. Sementara kaum dhu’afa tidak saja meliputi kelemahan ekonomi maupun sosial tapi juga mentalitas, moralitas maupun fisik. Dengan demikian, kaum dhu’afa memiliki lingkup yang lebih luas daripada kaum marginal. Kaum marginal lebih dekat dengan arti fakir dan miskin.
Tidak ada harapan yang lebih besar bagi kaum marginal selain terpenuhinya  berbagai kebutuhan primer. Demikian pula ketika Idul Fitri menyapa mereka. Idul Fitri bagi kaum marginal diartikan bukan hanya semata kemenangan ruhani karena sudah melaksanakan puasa (shiyaam) selama sebulan penuh, tapi juga bagaimana secara jasmani kebutuhan mereka seperti: makanan dan minuman serta pakaian baru terpenuhi. Bagi mereka Idul Fitri ibarat festival spiritual di mana mereka meluapkan kebahagiaan jasmani maupun ruhani.
Idul Fitri menjadi ternoda manakala orang-orang yang mampu (the have) membuat selebrasi secara berlebihan namun mengabaikan kaum marginal. Hal ini kerap terjadi. Di saat orang-orang kaya menikmati kemeriahan Idul Fitri dengan makanan dan minuman yang mewah dan mahal harganya, namun  di sisi lain kaum marginal sering menjadi penonton bahkan pengais sisa santapan orang-orang kaya itu. Idul Fitri sejatinya menjadi momen perekat di mana orang-orang kaya membuktikan ketakwaannya melalui pengalokasian makanan, minuman dan pakaian kepada kaum marginal.
Di saat Idul Fitri, ruang-ruang publik diisi dan dimeriahkan bukan saja oleh orang-orang kaya tapi juga oleh kaum marginal. Seperti aktivitas Rasulullah, beliau pernah mendapatkan seorang yatim yang kebingungan merayakan Idul Fitri karena keterbatasan ekonomi, selanjutnya Rasulullah membawanya pulang, dimandikan dan diberikannya pakaian bagus. Di sini nampak jelas bahwa Idul Fitri terkait erat dengan atensi sosial yang harus didistribusikan secara merata kepada kaum marginal. Idul Fitri mengajarkan kita pola kehidupan komunalistik dan membuang pola kehidupan egoistik individualistik.
Idul Fitri melahirkan semangat kebersamaan. Melalui Idul Fitri terbangun simbiosis mutualisme (hubungan saling menguntungkan) antara orang-orang kaya dengan kaum marginal. Dengan berbagai karitas, kaum marginal diberdayakan dan diangkat taraf ekonomi mereka ke level yang lebih baik dan tercukupi, sementara bagi orang-orang kaya Idul Fitri ibarat pabrik akhirat yang memproduksi berbagai kunci surga dengan pendistribusian kasih kepada sesama. Selain itu, jiwa dan harta orang-orang kaya dibersihkan melalui zakat fitrah dan zakat maal (harta). Idul Fitri juga mempertemukan dua kelas (kaya dan miskin) dalam sebuah persaudaraan keimanan.
Makna Idul Fitri dalam pandangan kaum marginal sebenarnya juga merupakan sebuah proses pembelajaran. Bagaimana tidak? Selama ini, ukuran kesalehan seseorang biasanya dilihat dari shalat, puasa, haji dan umrohnya saja. Padahal, letak kesempurnaan keislaman seseorang selain melaksanakan rutinitas ritual yang memang sudah baku tersebut juga mesti dilihat dari bagaimana perlakuan positif untuk kaum marginal. Dengan kata lain, keislaman seseorang menjadi sempurna dengan dua hal: melaksanakan rutinitas ritual dan berbagi kasih kepada kaum marginal.
Tentu saja bagi kaum marginal, Idul Fitri bukan untuk mempertontonkan berbagai asesoris lahiriah dan bendawi, melainkan terjalinnya ikatan persaudaraan. Mereka ingin diperhatikan dan diposisikan selayaknya sebagai manusia, bukan sebagai warga masyarakat pelengkap penderita. Idul Fitri bagi mereka merupakan sarana pengekspresian pengakuan jati diri mereka. Melalui Idul Fitri, status kaum marginal menjadi demikian jelas bahwa sesungguhnya mereka memiliki posisi strategis baik secara teologis dan sosial. Mereka dapat menjadi jembatan amal saleh dan rekan kemanusiaan untuk mewujudkan kehidupan sosial yang harmonis.
Ketika langit senja di akhir bulan Ramadhan bergerak menyambut Idul Fitri, pertentangan kelas yang selama ini terjadi antara orang-orang kaya dan kaum marginal dengan sendirinya menjadi tereliminir. Karena Idul Fitri, lahirlah kebersamaan kelas yang saling mengisi dan melengkapi. Suara takbiir (allaahu akbar), tahliil (laa ilaaha illallaah), tahmiid (alhamdulillaah) bukan saja menjadi suara kemenangan langit ketika itu, tapi juga kemenangan yang menyebar di permukaan bumi. Kemenangan itu terwujud dengan hilangnya rasa haus dan lapar dan terpenuhinya berbagai kebutuhan primer bagi kaum marginal. Wallaahu a’lam.

0 komentar: