Kamis, 12 Juni 2014

Puasa Ghibah




Puasa merupakan salah satu tradisi keagamaan yang melekat erat dalam setiap ajaran agama, termasuk di dalam Islam. Andres Moller dalam bukunya Ramadhan in Java (2005) sebagaimana dikutip oleh Rusman Nurjaman menguraikan bahwa puasa terdapat dalam beragam agama, seperti: Yahudi, Kristiani, Hindu dan Buddha. Salah satu tujuan puasa dalam agama Yahudi untuk mengenang momen-momen historis dalam sejarah bangsa mereka. Bagi umat Kristiani puasa bertujuan untuk mengenang dan meresapi kembali pengalaman hidup Yesus Kristus. Puasa dalam tradisi Hindu bertujuan untuk mendisiplinkan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sementara dalam tradisi Buddha puasa ditujukan untuk selalu menghidupkan spirit etis dalam aktivitas kehidupan.
Meskipun lahir dari rahim tradisi keagamaan yang berbeda-beda, namun substansi dari puasa itu adalah bagaimana seorang manusia memiliki hubungan yang baik kepada Sang Pencipta melalui berbagai perwujudaan moralitas terpuji dalam kehidupan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, puasa diartikan dengan menghindari makan dan minum dengan sengaja. Pengertian ini tentu saja harus dikritisi mengingat puasa bukan hanya persoalan fisik tapi juga yang terpenting persoalan batin.
Akar kata puasa itu sendiri seperti yang dijelaskan oleh Bhikku Saccadhammo terambil dari akar kata upavasa (bahasa Pali) yang berarti menghindari nafsu duniawi. Bahasa Pali banyak digunakan dalam Kitab Suci agama Buddha, Tripitaka. Tidak dapat dipungkiri bahwa agama Buddha pernah berkembang pesat di Indonesia sebelum kedatangan Islam. Bahkan agama Buddha pernah dijadikan agama resmi negara di masa kerajaan Syailendra Majapahit. Banyak contoh lain pengaruh bahasa Pali yang menjadi kosa kata penting bahasa Indonesia, seperti: suriya menjadi surya, vanita menjadi wanita, dighayu menjadi dirgahayu. Memang secara sosiologis dan religius, kata puasa diidentikkan dengan ritualisme Islam.
Secara spesifik di dalam Islam kata puasa itu sendiri tentu saja tidak ditemukan. Dalam Alquran maupun hadis, kata yang secara substantif identik dengan arti puasa adalah shaum. Secara etimologis, shaum berarti benteng, tembok dan penahan yang kokoh. Dapat dipahami, makna shaum demikian luas. Terdapat dua hal penting dalam shaum itu, yaitu: hal-hal yang terkait dengan persoalan fisik dan psikis. Arti shaum juga memberikan penjelasan bahwa orang yang melakukan shaum sudah tentu memiliki benteng, tembok dan pertahanan diri yang kokoh dari berbagai ragam ujian fisik maupun psikis.
Selain sebagai ritualisme yang secara rutin dikerjakan, maka ada bentuk puasa sosial sebagai kelanjutan dari puasa ritual tersebut, yaitu puasa ghibah. Tentu saja terminologi puasa ghibah masih sedikit asing dan kurang populer dalam kajian fikih Islam. Namun jika dilihat dari aspek etimologi puasa ghibah sepertinya amat mendesak dan penting dilakukan oleh setiap Muslim. Apakah puasa ghibah itu? Secara sederhana ghibah diartikan dengan bergunjing. Dengan demikian puasa ghibah adalah mengendalikan diri agar tidak menggunjing aib orang lain.
Substansi puasa ghibah ini sebenarnya sering dikemukakan Rasulullah melalui berbagai dialog dengan para sahabat, meskipun namanya saat itu bukan puasa ghibah. Rasulullah bertanya, “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudara itu?” Rasulullah menjawab, “Jika apa yang kamu tanyakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.”
Puasa ghibah seperti yang dijelaskan Rasulullah mengandung dua hal penting: yaitu manajemen lahir dan manajemen batin. Dalam puasa ghibah seseorang diharuskan mengendalikan lidah secara baik dan pada tempatnya. Tentu saja lidah amat terpaut dengan hati. Jika hati memerintahkan agar lidah tidak lincah menuturkan berbagai kekurangan orang lain, maka pada saat itu puasa ghibah telah berlangsung. Kelemahan pelaksana puasa selama ini, termasuk puasa Ramadhan, terletak pada kemampuan mengontrol diri dari berbagai tarikan makan dan minum namun lemah dalam mengelola lisan dengan baik. Akhirnya ada orang yang berpuasa secara fisik namun batin dan lidahnya sama sekali tidak berpuasa.
Kasus-kasus seperti ini sering membuat Rasulullah prihatin. Kecerdasan ritual yang dimiliki seseorang tidak secara otomatis melahirkan kecerdasan spiritual dan emosional. Boleh jadi ada seorang Muslim yang  tertib berpuasa pada bulan Ramadhan dan puasa-puasa sunnah lain, namun kerap membeberkan berbagai aib dan kekurang diri saudara-saudaranya. Oleh sebab itu, Rasulullah mewajibkan betapa pentingnya puasa ghibah itu. Orang yang sanggup melaksanakan puasa ghibah secara konsisten maka dirinya tidak akan disentuh api neraka. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menolak ghibah atas kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat wajahnya akan terhindar dari api neraka.”
Jika puasa ghibah ini ditinggalkan maka akan berdampak pada masalah psikologis dan sosial. Secara psikologis pelaku ghibah memiliki jiwa yang tidak tentram dan selalu merasa gelisah. Energi segarnya akan habis karena selalu memikirkan berbagai kekurangan orang lain. Sementara secara sosial ghibah menyebabkan renggang bahkan putusnya relasi yang sebelumnya terbina. Sementara Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa ghibah juga akan melahirkan kerugian eskatologis. Menurutnya, “Menggunjing orang lain akan memancing kemurkaan Allah, menyebabkan berpindahnya kebaikan-kebaikan diri kepada orang-orang yang digunjingkan. Dan jika yang menggunjing tidak mempunyai kebaikan maka kebaikan orang yang digunjingkan akan dipindahkan kepada orang yang digunjingkan.”
Ghibah kini menyebar secara terencana dan tak jarang menggunakan media informasi. Hampir setiap waktu diri kita dapat terperangkap pada pusaran ghibah. Boleh jadi kita tidak melakukannya secara langsung, namun tak jarang kita menjadi penikmat ghibah tersebut. Banyak korban telah berjatuhan karena ghibah ini. Dari perspektif teologis, ghibah berujung pada dosa besar dengan berbagai side effect yang ditimbulkan. Sebab itulah posisi puasa ghibah demikian penting dan menjadi aktivitas keagamaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sebagai sebuah renungan, pada zaman Nabi Musa Allah pernah tidak mengabulkan doa kaum Nabi Musa. Belakangan diketahui bahwa doa mereka tidak diijabah oleh Allah karena di antara para pendo’a tersebut terdapat orang yang gemar sekali melakukan ghibah.
Seperti halnya puasa Ramadhan, puasa ghibah merupakan salah satu jalan utama untuk meraih ketakwaan. Salah satu ciri ketakwaan adalah mengontrol lidah secara maksimal. Puasa Ramadhan  sebagai amalan wajib begitu pula berbagai puasa sunnah lainnya menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan puasa ghibah ini. Demikianlah, semoga puasa Ramadhan yang setiap tahun kita laksanakan dapat dibarengi dengan puasa ghibah. Wallaahu a’lam.

0 komentar: