Senin, 09 Juni 2014

Eksistensi Persaudaraan



Ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, tidak sedikit sahabat yang membelot dan menolak kepemimpinannya. Sampai titik yang terparah, sebagian mereka mencoba melakukan pembunuhan terhadap diri dan keluarga Ali. Namun karena kematangan spiritual yang sudah terasah dengan baik, Ali tetap menyikapinya secara arif. Upaya damai selalu dikedepankan Ali, hanya saja niat tulusnya tidak mendapat respons positif.
Salah seorang sahabat bertanya kepadanya, “Ali, apakah orang-orang yang menolak kepemimpinanmu tergolong kaum kafir?” Ali menjawab, “Bukan, dulu aku bersama dengan mereka memerangi orang-orang kafir.” Sahabat itu meneruskan, “Kalau begitu, apakah mereka orang-orang munafik?” Ali menjawab, “Bukan, orang munafik sedikit sekali menyebut nama Allah.” Sahabat itu meneruskan, “Kalau mereka bukan orang-orang kafir dan munafik, lalu siapakah mereka?” Ali menjawab, “Mereka adalah saudara-saudara kita yang pendapatnya berbeda dengan kita.”
Dialog antara Ali dengan sahabat yang bingung di tengah pusaran konflik tersebut ibarat sinar mercusuar di tengah gelap gulitanya perjalanan. Ali ingin menegaskan bahwa persaudaraan (ukhuwwah) adalah salah satu elemen ajaran Islam yang menempati posisi sakral. Dalam situasi dan kondisi apapun, termasuk dalam situasi rumit seperti yang tengah di hadapi Ali, persaudaraan harus tetap dijunjung tinggi dan ditempatkan pada posisi mulia. Mendapatkan jawaban itu, sahabat tersebut merasakan ketenangan batin dan pandangan positif terhadap orang lain apalagi terhadap saudara seiman.
Secara historis, spirit persaudaraan sebagaimana yang ditegaskan Allah dan rasul-Nya dan kemudian ditransformasikan melalui berbagai sikap politik Ali tidaklah selalu berjalan mulus sebagaimana yang diharapkan. Dari berbagai literatur dijelaskan, ketika persaudaraan bersentuhan dengan politik maka persaudaraan selalu dikorbankan. Pasca wafatnya Rasulullah, persaudaraan sepertinya barang yang demikian mahal harganya dan sulit sekali diwujudkan. Di antara empat sahabat dekat Rasulullah, Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, hanya Abu Bakar saja yang wafatnya dalam keadaan wajar. Sementara tiga sahabat lainnya wafat dalam keadaan terbunuh.
Tragedi kemanusiaan yang lahir di dunia Islam tidak saja terjadi pada masa sahabat. Peristiwa memilukan tersebut justru menjadi sajian rutin di sungai sejarah hingga saat ini. Terbentuknya Dinasti Umayyah (650-750) dan Abbasiyah (750-1200) juga tak lepas dari pertarungan berdarah yang menelan ribuan nyawa. Mata rantai tersebut berlanjut seolah tak terputuskan oleh pusaran waktu. Tentu yang cukup miris adalah para pelakunya sama-sama Muslim, memiliki kitab suci yang sama yaitu Alquran, mengikuti Nabi yang sama yaitu Muhammad. Kesucian persaudaraan menjadi ternoda dan tercampak tanpa makna.
Di zaman modern ini pertikaian demi pertikaian antar sesama umat Islam justru kian meningkat, bahkan tidak sedikit yang menggunakan cara-cara canggih. Dalil-dalil agama kerap dihamparkan sebagai pijakan teologis. Kasus perang saudara di Mesir, Pakistan, Afghanistan dan Surya misalnya, cukup membuat setiap kita semakin tak mengerti bagaimana mereka memaknakan persaudaraan.  Energi umat hampir terkuras habis untuk berbagai pertikaian internal. Akhirnya, tugas berat untuk menciptakan peradaban sebagai khaira ummah (umat terbaik) menjadi terpinggirkan.
Cukup arif sekiranya kita mau belajar dari bangsa-bangsa besar di dunia ini seperti: Jerman, China, Amerika. Mereka menyadari sepenuhnya dampak buruk perang saudara. Mereka telah menghentikan pertarungan berdarah tersebut. Energi besar yang mereka miliki digunakan untuk merekayasa masa depan (engineering of the future) secara terprogram. Jadilah mereka kiblat kebudayaan dan peradaban besar yang menjadi pujaan bangsa-bangsa lainnya.
Cukuplah Alquran dan As-Sunnah menjadi pedoman kita untuk melekatkan diri di setiap fase sejarah yang sedang berjalan. Dalam Alquran sendiri Allah menjelaskan kepada kita bahwa sesama umat Islam adalah saudara (ikhwatun) (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 10). Makna yang terbilang unik dan menarik dari kata ikhwatun itu bukan hanya sebatas saudara, namun lebih daripada itu, yaitu saudara kandung. Tentu yang lebih mengagumkan adalah kata ikhwatun itu diletakkan Allah setelah kata mu’minuuna (orang-orang Mukmin). Ini artinya, antara seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya bukan hanya sebatas saudara secara umum, namun juga saudara kandung.
Dalam ayat itu pula Allah menegaskan bahwa ishlaah (perdamaian) merupakan etika sosial sebagai penyangga persaudaraan. Ishlaah itu sendiri  dipahami sebagai sesuatu yang jika diabaikan akan mendatangkan kerugian sementara jika diterapkan akan mendatangkan berbagai kebaikan. Ini artinya, jika perdamaian diganti dengan permusuhan maka sampai kapan pun umat Islam tidak akan kuat dan unggul. Allah juga menyuruh kita untuk bertakwa kepadanya supaya kasih sayang Allah (rahmah) tercurahkan. Ketakwaan kepada Allah dapat diwujudkan melalui berbagai pesan persaudaraan dan perdamaian kepada sesama umat Islam maupun umat manusia secara universal.
Dapat dibayangkan bagaimana dekatnya persaudaraan sekandung itu. Sebagai saudara kandung, tentu saja sesama umat Islam memiliki responsibilitas yang besar terhadap eksistensi dan nasib saudara-saudaranya yang lain. Sementara pada surah yang sama ayat ke-11 Allah menegaskan, jangankan membunuh, mencela saja tidak dibenarkan, apalagi memberikan berbagai predikat negatif kepada saudara-saudara kita seiman. Rambu-rambu kehidupan ini ditujukan Allah kepada komunitas manusia terbaik, yaitu orang-orang yang beriman, terbukti dari panggilan yang digunakan Allah, yaa ayyuhalladziina aamanuu (hai orang-orang yang beriman).
Etika sosial yang dikemukakan Allah kembali dipertegas pada ayat ke-12. Dalam ayat tersebut Allah menyuruh kita agar menjauhi berbagai prasangka (dzan). Prasangka akan menghabiskan banyak energi dan kerap bermuara pada rasa resah untuk diri sendiri dan tentu saja mengusik tali persaudaraan. Hal yang lebih mengerikan dari prasangka ini adalah lahirnya itsmun (dosa). Allah juga melarang kita untuk melakukan tajassus (memata-matai) saudara-saudara kita, kemudian melakukan aktivitas yaghtab (menggunjing). Yaghtab itu sendiri satu akar kata dengan ghaib yang berarti tidak nampak. Yaghtab dapat berarti aktivitas menceritakan aib saudara-saudara kita yang mana mereka tidak nampak di sekitar kita. Jika mereka tahu akitivitas kita, mereka pasti tidak suka dan akan tersinggung dengan perilaku kita.
Rasulullah juga mengingatkan bahwa kesempurnaan keislaman kita terjadi ketika persaudaraan dapat dijunjung tinggi. Secara profetis beliau menegaskan bahwa harapan untuk masuk ke dalam surga menjadi tertutup ketika persaudaraan dikhianati dan diputuskan (qaathi’ al-rahm). Bahkan secara tegas beliau mengingatkan bahwa memaki (sibaab) seorang Muslim merupakan kefasikan dan memeranginya (qitaal) adalah kekafiran. Oleh karena itu, dalam situasi dan kondisi apa pun persaudaraan harus tetap dikedepankan di atas berbagai perbedaan kepentingan, termasuk di antaranya kepentingan politik. Persaudaraan tidak saja mengikat batin kita untuk menggapai kedamaian namun juga menjadi jalan mulus untuk meraih ridha Allah. Wallaahu a’lam.




0 komentar: