Rabu, 21 Mei 2014

Tasawuf Sosial


Salah satu jalan yang dapat kita tempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah tasawuf (islamic mysticism). Secara umum tasawuf dipahami sebagai salah satu elemen penting dalam Diinul Islaam yang mengajarkan bagaimana kita menata batin dengan baik sehingga terbangun relasi spiritual dengan Allah. Meskipun banyak mendeskripsikan aspek spiritual, tasawuf tidak serta merta mengajarkan ekskomunikasi dengan alam faktual. Justru titik kulminasi dari prestasi tasawuf terletak pada alam faktual tersebut yang ditransformasikan melalui berbagai kebajikan sosial.
Jika kita memasuki dunia akademik maka akan diketahui penolakan dan penerimaan terhadap tasawuf itu. Kelompok yang menolak memiliki argumentasi bahwa tasawuf bukanlah produk yang lahir dari semangat Islam, dan banyak ajarannya merupakan doktrin impor berbagai doktrin non Islam.  Misalnya doktrin membenci dan meninggalkan dunia. Selain itu, tasawuf kerap dipahami bertentangan dengan berbagai ritualisme Islam. Misalnya, seorang Muslim dapat menunaikan haji hanya dengan menghadirkan rasa itu tanpa harus bersusah payah berangkat ke Tanah Suci Mekkah.
Sementara kelompok kedua menyatakan bahwa tasawuf itu sesungguhnya produk yang lahir dari Alquran dan as-Sunnah. Meskipun pada masa Nabi dan para sahabat terminologi itu belum dikenal, namun secara substantif berbagai aktivitas Rasulullah dan para sahabat amat kental dengan nilai-nilai tasawuf. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa tasawuf pada masa Nabi dan para sahabat adalah realitas tanpa nama. Nabi dan para sahabat merupakan para sufi. Mereka mentransformasikan berbagai doktrin Alquran dan al-Sunnah dalam kehidupan nyata.
Lepas dari berbagai perdebatan akademik tersebut, tasawuf itu sendiri sebenarnya merupakan ajaran yang cukup menarik. Jika kita berbicara tentang manusia, dalam bahasa Arab salah satunya disebut al-insaan, maka ada dua eksistensi padu yang membentuk al-insaan tersebut yaitu jasmani dan ruhani. Pada aspek runahi inilah ranah tasawuf. Meskipun bersifat abstrak, namun eksistensi ruhani memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap eksistensi jasmani. Sebagai contoh, sifat sabar dan marah adalah dua hal yang abstrak dan menjadi urusan ruhani namun ekspresi kesabaran dan kemarahan dapat dilihat melalui berbagai dinamika jasmani.
Di tengah gurita kehidupan materialisme dan hedonisme yang berlangsung kini, tasawuf justru memainkan peran yang cukup signifikan dengan memberikan nilai-nilai (values) yang jelas untuk menata kehidupan. Tazkiyatun nafs (penyucian diri) merupakan substansi dari ajaran tasawuf itu. Melalui Tazkiyatun nafs itu, seorang Muslim dibekali nilai-nilai fundamental seperti; kejujuran, keteladanan, keberanian, rendah hati, kedermawanan, persaudaraan, dan berbagai nilai penting lainnya. Nilai-nilai fundamental itulah yang menjadi modal dasar untuk berpartisipasi dalam kehidupan ini.
Deskripsi tasawuf yang demikian menunjukkan bahwa elemen Diinul Islaam ini terfokus bukan hanya pada relasi seorang Muslim kepada Allah saja, namun lebih daripada itu terbangunnya relasi sosial kepada lingkungan sekitar. Di sini terdapat sebuah paradigma yang sebenarnya dalam tasawuf itu, yaitu bagaimana seorang Muslim memiliki keterdekatan kepada Allah melalui berbagai aktivitas yang bermanfaat dalam kehidupan sosial. Inilah yang disebut tasawuf sosial itu. Semakin dekat seorang hamba kepada Allah semakin besar pula pengorbanannya kepada lingkungan sekitarnya.
Dalam tasawuf sosial terdapat tiga alir gerakan yang saling berhubungan, yaitu; manusia, Allah dan kembali kepada manusia dan alam. Pada ketiga alir ini manusia bergerak untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai model penyucian diri, setelah keterdekatan itu terbangun lahir sebuah kewajiban untuk membuktikan keterdekatan itu melalui pendistribusian kasih kepada sesama dan lingkungan sekitarnya. Tasawuf sosial merawat relasi-relasi antara manusia dengan manusia lainnya dan alam semesta, bukan sebaliknya menegasikan bahkan memutus relasi yang seharusnya terbangun. 
Oleh sebab itu, tasawuf sosial menjadi suatu keharusan di tengah disorientasi makna hidup. Dalam konteks ini, keterdekatan diri kepada Allah dapat dilihat bukan saja melalui ritualisme dari waktu ke waktu secara rigid melainkan seberapa besar seorang Muslim merawat dan membina kehidupan sehingga bermuara pada situasi sa’iidun fii ad-dunyaa (bahagia di dunia) dan sa’iidun fii al-aakhirah (bahagia di akhirat). Dari sinilah kemudian lahir sufi-sufi modern yang menjadi pencerah dalam ranah sosial. Di malam hari sufi-sufi seperti ini ibarat rahib yang merintih di hadapan Allah namun di siang hari mereka seumpama para pendekar yang haus prestasi sosial.
Para sufi yang lahir dari rahim tasawuf sosial sering tidak dapat dilihat dari performa lahiriahnya di hadapan manusia, namun kehadirannya amat dibutuhkan orang dan ketidakhadirannya begitu dirindukan. Boleh jadi sufi ini lahir dari kalangan pengusaha, pendidik, politisi, olahragawan, pejabat publik, kuli-kuli kasar, maupun seorang Muslim yang menggeluti kajian keislaman itu sendiri. Hidup sufi jenis ini bergerak dari nilai-nilai ilaahiyah (ketuhanan) untuk kemaslahatan manusia, hewan, tumbuhan dan alam. Secara otomatis dan dengan sendirinya gerakan itu akan bermuara pada penyucian eksistensi Allah. 
Di tangan para sufi seperti inilah terwujud birokrasi yang terkelola secara baik, lahir berbagai aturan yang melindungi dan tidak memihak, tercipta lingkungan yang bersih dan nyaman, muncul penafsiran agama yang mencerahkan, dan tentu masih banyak lagi kemaslahatan lain yang dapat digapai. Sufi-sufi sosial ini terkadang kurang mengerti bahwa apa yang dikerjakannya berasal dari semangat ajaran agama namun yang dilakukannya cukup agamis. Di sinilah keunikan tasawuf sosial dan para sufi sosial itu. Selain itu, para sufi sosial tidak menempatkan diri pada station-station seperti; taubat, sabar, zuhud dan seterusnya secara ketat, melainkan secara longgar menjalaninya.
Untuk menelisik semangat Alquran dalam konteks tasawuf sosial ini, setidaknya kita dapat menganalisanya melalui berbagai ayat yang menyinggung ke arah itu. Dalam Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 11-12 Allah menjelaskan agar kita tidak merusak sistem sosial dengan menganggap rendah dan terus menerus mengungkap berbagai kelemahan orang lain. Sikap diskriminatif dan cenderung menganggap remeh sesama manusia bukan saja merusak sendi-sendi pergaulan tapi juga dapat mengotori batin yang berkonsekuensi pada pergeseran posisi ruhani yang menjauh dari Allah. Satu hal yang dapat kita garisbawahi adalah bahwa Allah menyuruh kita untuk menutup aib saudara-saudara kita dan memposisikan mereka sama mulianya seperti kita. Dengan demikian kehidupan sosial dapat berjalan secara harmonis.
Dalam Q.S. Al-Maa’idah/ 5: 8 Allah menyuruh kita agar menegakkan keadilan (al-‘adl) di tengah kehidupan bermasyarakat. Keadilan itu merupakan elemen penting agar roda kehidupan berjalan dengan baik. Jika keadilan tidak terealisasi dengan baik maka kehidupan akan guncang dan lahir suasana chaos. Keadilan ibarat nafas kehidupan, tanpanya maka kehidupan masyrakat akan berhenti. Itulah sebabnya Allah menyuruh kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui praktik keadilan. Muara dari praktik itu adalah ketakwaan kepada Allah. Melalui ketakwaan itulah terbangun keterdekatan (closeness) dengan Allah.
Sementara dalam Q.S. As-Shaaf/ 61: 10-13 Allah menyuruh kita untuk untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui jihad yang ditransformasikan lewat berbagai aktivitas sosial seperti membantu kaum dhu’afa dan mengalokasikan sebagian harta kita di jalan Allah. Para pelaku jihad sosial selain dekat kepada Allah juga akan mendapatkan berbagai konsekuensi positif sebagaimana yang Allah janjikan berupa ampunan atas berbagai kekhilafan dan sudah tentu tempat tinggal akhirat yang didamba, yaitu surga.
Tidak dapat tidak, tasawuf sosial merupakan salah satu jalan keluar terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk melepas berbagai kusut masainya wajah kehidupan. Tasawuf sosial berfungsi ganda, yaitu; terjalinnya hubungan mesra kepada Allah dan terlepasnya masyarakat dari berbagai penyakit sosial. Tasawuf sosial juga mengganti sikap beragama yang individualistik menjadi sikap beragama komunalistik dalam bingkai persaudaraan di bawah naungan payung kasih sayang Allah. Wallaahu a’lam.

0 komentar: