Kamis, 08 Mei 2014

Lebih Hebat Daripada Nabi



Dalam sebuah cerita fiktif dikisahkan, ada seorang anggota legislatif (kebetulan ia anggota DPR-RI) yang baru menuaikan umroh ke Tanah Suci. Ia berniat untuk mengunjungi Pak Kiyai yang telah mengajarkannya berbagai kebajikan sekaligus mengunjungi pesantren di mana ia pernah dididik. Sebagai alumni pesantren, ia memiliki hubungan emosional yang cukup kuat dengan almamaternya. Namun kedatangannya ke pesantren tidak serta merta disambut Pak Kiyai dengan hangat. Pak Kiyai selalu memiliki asumsi miring pada setiap perilaku anggota legislatif termasuk dirinya.
Sikap Pak Kiyai berangkat dari deretan fakta negatif para anggota legislatif itu, misalnya saja mereka kerap menjadi pelaku utama dalam korupsi. Padahal jika dicermati secara jujur tidak semua anggota legislatif seperti dalam asumsi Pak Kiyai, terdapat sejumlah besar dari anggota legislatif itu yang memiliki komitmen moral dan komitmen kebangsaan yang kuat. Sesampainya di pesantren, ia sungkem kepada Pak Kiyai sekaligus memberikan dana secukupnya untuk pengembangan pendidikan. Pak Kiyai bersikap dingin namun tetap menerima sumbangan yang diberikan.
Setelah itu terjadi tanya jawab. “Pak Kiyai, saya dengan camat lebih hebat siapa?” Tanya anggota legislatif itu. “Tentu lebih hebat kamu.” Jawab Pak Kiyai. “Pak Kiyai, saya dengan wali kota lebih hebat siapa?” Tanya anggota legislatif itu kembali. “Tentu lebih hebat kamu.” Jawab Pak Kiyai ketus. “Pak Kiyai, saya dengan Presiden lebih hebat siapa?” Anggota legislatif itu meneruskan. “Yang pasti lebih hebat kamu. Mana mungkin program kerja Presiden akan terlaksana jika tidak kamu izinkan.” Jawab Pak Kiyai kembali. “Pak Kiyai, ini pertanyaan terakhir. Saya dengan nabi lebih hebat siapa?” Tanya anggota legislatif itu dengan lebih berani. Pak Kiyai menjawab, “Tentu saja lebih hebat kamu. Kalau nabi takut kepada Allah sedangkan kamu tidak sama sekali.” (Substansi dari cerita ini dikutip dari forum viva.co.id, disunting oleh penulis).
Demikianlah, cerita fiktif tersebut menunjukkan status sosial yang bersifat destruktif (merusak). Status sosial seperti ini sering melahirkan sikap arogan dan sering menjadikan pemiliknya lupa daratan. Status sosial lahir karena berbagai kelebihan, misalnya: karena kepemilikan harta, jaringan (net work) yang luas, jabatan publik yang tinggi, kecantikan fisik, dekat dengan para penentu kebijakan, ilmu yang mumpuni dan seterusnya. Padahal status sosial sejatinya dipergunakan sebagai jembatan penghubung pemiliknya menuju berbagai kebajikan, bukan sebaliknya digunakan untuk mengokohkan superioritas manusia untuk kemudian menafikan Allah. 
Secara evolutif, kini status sosial mengalami perkembangan yang lebih canggih. Memang orang tidak menjadikannya sebagai “tuhan” yang disembah secara konkrit seperti dahulu. Namun status sosial telah menjadi tujuan utama dari mana seseorang berangkat dan ke mana ia mengakhiri sebuah perjalanan. Untuk mendapatkan status sosial tidak jarang jalan yang ditempuh beraneka ragam. Bahkan terkadang malah bertentangan norma-norma agama dan masyarakat, menohok kawan seiring, menikam dari belakang dan memutuskan relasi persahabatan.
Status sosial yang melekat pada diri seseorang tidak wajar jika dikatakan sebagai konsekuensi logis dari olah pikir dan kesungguhan usahanya saja. Berbagai status sosial tersebut sesungguhnya berasal dari kemurahan Allah. Karenanya, manusia harus menggunakannya sesuai dengan tujuan Sang Pemberi status itu. Posisi Allah sebagai Pemberi (tinggi) dan posisi manusia sebagai penerima (rendah) harus dipahami secara proporsional. Karena manusia sebagai penerima, maka sungguh aneh jika yang menerima kemudian bersikap sombong dan menyalahgunakan amanah dari Sang Pemberi.
Di dalam Alquran, Allah menjelaskan bahwa pernah terjadi satu masa di mana manusia pada saat itu belum dapat disebut dengan sesuatu apa pun. Kemudian Allah memberi anugerah pendengaran dan anugerah penglihatan untuk mencermati. Lalu Allah menunjuki manusia itu jalan yang netral, namun manusia terpecah ke dalam dua tipologi yaitu: tipologi manusia yang bersyukur dan tipologi manusia yang melakukan kekufuran (pembangkang) (Q.S. Al-Insaan/ 76: 1-3).
Jika pendengaran dan penglihatan merupakan modal dasar bagi manusia untuk meraih status sosial, maka sudah sepantasnyalah manusia itu sadar bahwa pemberi potensi itu adalah Allah. Untuk mengikis sikap arogan dalam diri manusia, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan banyak merenungi hakikat penciptaannya. Dalam Alquran disebutkan bahwa makhluk yang disebut manusia diciptakan dari beberapa elemen dasar, di antaranya dari tanah.
Tanah itu sendiri diungkapkan dengan kata yang beragam, salah satunya thiin. Thiin  berarti unsur tanah yang merupakan bahan dasar pembentuk manusia dalam aspek fisiknya. Unsur tanah juga mengisyaratkan sifat-sifat rendah dan hina. Artinya, manusia selain memiliki tubuh dengan organ-organ dan panca inderanya yang sempurna, ia memiliki sifat-sifat dan potensi yang jika tidak dibimbing secara baik maka akan menjerumuskannya ke posisi yang hina (asfala saafiliin) (Q.S. Al-Thiin/ 95: 4-5).
Siklus kehidupan manusia juga mengajak kita untuk kembali memahami secara benar hakikat diri manusia itu sendiri. Dimulai dari kelahiran, manusia tidak memiliki apa-apa dan bersifat amat lemah. Kemudian manusia tumbuh,  berkembang dan menjadi dewasa. Di sinilah berbagai status sosial diraih dan melekat erat di tubuhnya. Namun pada akhirnya manusia harus kembali kepada Allah dengan keadaan seperti semula, tidak memiliki apa-apa persis ketika pertama kali datang ke dunia. Dalam siklus ini tidak terlihat jika berbagai predikat yang melekat semasa hidup akan dibawa pasca kematian, semuanya akan tinggal dan menjadi kenangan bahkan barang rebutan bagi yang masih hidup.
Marilah kita lihat fakta getir dari orang-orang yang hidupnya demikian sombong karena status sosial yang tinggi. Adolf Hitler, sosok fasis dari Jerman yang dapat menyulap kesalahan menjadi seolah-olah kebajikan karena diulang dan disampaikan ribuan kali. Ferdinand Marcos, dikenal sebagai lumbung korupsi dan kemewahan dunia, mayatnya saja tidak diterima oleh rakyat Filipina. Predikat yang mereka sandang malah menjadi puncak kesombongan bahkan berubah menjadi neraka dunia. Nama mereka dikenang abadi sebagai penjahat kemanusiaan. Demikianlah akhir hidup manusia yang mengkultuskan status sosial.
Karena itu, berbagai status sosial seperti: presiden, menteri, walikota, anggota legislatif, para hartawan dan lain-lain, sejatinya dapat menjadi alat perekat antara dirinya dengan Allah dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Bukan sebaliknya, status sosial itu menjadi bumerang yang melahirkan dua wilayah kesengsaraan, yaitu: dunia dan akhirat. Cukuplah Hitler dan Marcos menjadi monumen abadi manusia-manusia yang amat candu status sosial dan kesombongan.
Nasehat dari Ibnu Arabi sepertinya dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua. Ia mengatakan, “Wahai Saudaraku, jika di dalam hatimu ada sifat sombong maka ambillah segenggam tanah. Lalu perhatikan dan renungkanlah tanah itu, sesungguhnya dari tanah itu kita semua diciptakan dan kepada tanah itu pula kita semua akan dikembalikan.” Nasehat tersebut sangat tajam. Jika direnungi secara baik maka nasehat itu dapat menjadi dinamit spiritual yang mungkin saja akan meruntuhkan bangunan kesombongan dalam diri kita karena berbagai status sosial. Wa Allaah a’lam.

0 komentar: