Kamis, 17 September 2015

Disiplin Sosial

Konon dalam sebuah cerita ada seorang turis asing yang lancar berbahasa Indonesia datang ke kota Medan untuk sebuah urusan. Sesampainya di bandara, ia disambut hangat oleh supir yang bertugas menjemputnya saat itu. Karena harus mengikuti sebuah acara, turis asing tersebut meminta si supir untuk memacu mobilnya lebih cepat. Namun sayang, memasuki kota Medan keduanya dihadang oleh lampu lalu lintas yang kerap menyala merah dan hal itu pertanda mereka harus berhenti. Si supir menyadari bahwa penumpang yang ia bawa dalam keadaan gelisah karena waktu yang sempit.
Untuk menghemat waktu si supir menerabas lampu merah pertama yang dilaluinya. Si turis heran lalu bertanya, “Pak Supir, mengapa lampu merah itu diterabas?” Sang supir menjawab, “Ini tanda berani Pak,” Jawabnya. Tiba di lampu merah kedua si supir mengulangi hal yang sama. Seperti semula turis asing itu kembali bertanya, “Pak Supir, mengapa masih tidak berhenti?” Si supir menjawab kembali, “Ini tanda lebih berani Pak.” Sampai di lampu merah ketiga, si supir tetap melakukan hal yang sama. “Si turis kembali bertanya, “Pak, mengapa masih diterabas juga?” Si supir menjawab ringkas, “Ini Medan Pak. Saya sudah terbiasa melakukan hal ini.”
Dalam dunia akademik kita mengenal istilah disiplin sosial (social discipline). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kata disiplin terkait erat dengan kepatuhan untuk melaksanakan peraturan. Sementara kata sosial berarti sesuatu yang terkait dengan masyarakat. Secara sederhana disiplin sosial adalah sikap mental untuk mematuhi berbagai peraturan yang ditransformasikan melalui perilaku baik dalam masyarakat. Mematuhi rambu-rambu dan lampu lalu lintas merupakan contoh sederhana dari disiplin sosial tersebut.
Disiplin sosial berawal dari kesadaran individual yang bergerak secara matang dan bermuara pada kesadaran kolektif. Hal ini muncul karena adanya kehendak bersama (collective will) untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tentu saja disiplin jenis ini menuntut kesiapan bahkan kematangan mental. Disiplin sosial berkonsekuensi logis pada terwujudnya sistem sosial yang rapi dan teratur. Banyak contoh lain yang dapat kita kemukakan untuk menunjukkan disiplin sosial ini, misalnya: menjaga kebersihan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, tepat waktu dalam berbagai aktivitas, jujur dalam mengelola birokrasi dan lain-lain.
Namun jika kita telisik secara mendalam dan berani, sikap mental masyarakat kita (umat Islam) belum siap untuk secara bersama mewujudkan disiplin sosial ini. Justru yang menjadi pemandangan kita sehari-hari adalah kesemerawutan sosial (social chaos). Dalam hal berlalu lintas misalnya, para pengguna jalan kerap tidak memperhatikan fungsi rambu-rambu dan lampu lalu lintas. Belum lagi dalam masalah kebersihan, masyarakat membuang sampah sembarangan. Apa akibat yang ditimbulkan? Kecelakaan sering terjadi dan kemacetan lalu lintas tak terhindarkan. Banjir pun telah menjadi rutinitas alam yang kita maklumi terjadi. Inilah sederetan fakta pahit yang tersaji di kehidupan kita.
Sungguh ironis, disiplin sosial sepertinya menjadi barang mewah yang sulit sekali diwujudkan. Tentu yang lebih ironis hal ini terjadi di tengah masyarakat yang menjadikan agama (baca: Islam) sebagai panduan dalam hidup. Padahal spirit disiplin sosial begitu kental terkandung di dalam Diinul Islaam itu. Lihat misalnya Q.S. Al-Ashr/ 103: 1-3 tentang kedisiplinan dan hadis Nabi tentang kebersihan bagian dari iman. Di sini ada mata rantai yang terputus antara normativitas disiplin sosial dengan perilaku umat Islam itu sendiri. Spirit disiplin sosial dibekukan dan diletakkan sebagai doktrin langit yang kering kontekstualisasi. Umat Islam terpenjara pada logo-logo agama dan meletakkan Islam dalam lingkup gerakan yang sempit.
Dalam konteks ini, Diinul Islaam dilihat sebatas hanya pada ritus-ritus keagamaan yang sempit. Umat Islam sudah merasa puas dan merasa sudah menjadi Muslim sejati manakala shalat dilaksanakan secara konsisten, puasa Ramadhan dikerjakan dan haji ditunaikan. Namun mereka tidak sensitif terhadap ajaran-ajaran Islam dalam ranah sosial. Akhirnya, ada seorang Muslim yang rajin shalat dan puasa namun tidak tepat waktu dalam aktivitas dan sering membuang sampah sembarangan. Atau ada seorang Muslim yang sudah menunaikan haji dan umroh namun melakukan praktik korupsi dan tidak mematuhi rambu-rambu berlalu lintas. Fenomena ini selain merusak kesucian ajaran Islam juga akan melahirkan pandangan yang peyoratif (merendahkan) terhadap umat Islam itu sendiri. Inilah paras Islam yang kumuh dan menyedihkan.
Jika kita melukis piramida, bagian dasar diumpamakan sebagai ibadah-ibadah ritual sementara puncaknya adalah disiplin sosial. Disiplin sosial hakikatnya merupakan muara dari semua ibadah ritual itu. Tidak ada ritualisme yang terpisah dari disiplin sosial. Dengan kata lain, seorang Muslim yang sudah mapan secara ritual harus menyempurnakan keislamannya melalui berbagai aktivitas, seperti: mematuhi peraturan lalu lintas, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari praktik suap, menjauhkan diri dari perilaku korup, menghargai waktu dan lain-lain.
Memang tidak dapat disanggah jika dikatakan bahwa Indonesia adalah Negara di mana agama berkembang dengan subur. Hampir semua penduduknya menganut agama. Bahkan data yang dapat dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) nasional tahun 2010 menginformasikan bahwa 236,7 juta dari 237,6  juta (99,6%) penduduk Indonesia memeluk agama. Tentu yang lebih menggembirakan jumlah penganut Islamnya sebesar 207,2 juta jiwa (87,1%). Data tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah umat Islam Indonesia terbesar di dunia.
Mestinya potensi kuantitas yang demikian besar itu dapat menjadi energi positif untuk mengawal disiplin sosial yang berujung pada lahirnya khaira ummah (umat terbaik), bukan sebaliknya menjadi beban dan sampah sejarah. Yang membuat batin kita semakin menjerit adalah deretan fakta-fakta hitam yang menunjukkan bahwa para pelaku ketidakdisiplinan sosial sebagian besar adalah orang-orang Islam. Sampai persoalan yang dianggap sakral sekalipun seperti pencetakan Alquran tak luput dari sikap indisipliner yang diwujudkan melalui perilaku korupsi. Di sinilah kemudian internalisasi terhadap nilai-nilai Islam dipertanyakan kembali.
Praktik disiplin sosial yang dilaksanakan di Jepang setidaknya dapat menjadi renungan bagi kita semua. Pernah satu ketika seorang turis berwarga negara Amerika berkunjung ke Negara penguasa teknologi itu. Ia melihat setumpuk uang di stasiun kereta api. Namun yang sungguh membuatnya kebingungan tak seorang pun dari warga Jepang yang berada di situ mengklaim bahwa uang itu miliknya. Sungguh hal itu merupakan fenomena langka dan unik yang pernah terjadi.
Orang Jepang memiliki rasa malu yang cukup tinggi, mereka tidak akan mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. Menurut Gregory Pflufelder, Direktur Donald Keene of Japanese Culture, orang-orang Jepang memiliki keinginan untuk menjadi yang pertama dan bertanggung jawab untuk melahirkan masyarakat yang berdisiplin tinggi. Keinginan itu telah menjadi budaya dan merasuk ke alam bawah sadar mereka yang setiap waktu dapat mewujud secara otomatis.
Kita juga bisa seperti orang-orang Jepang itu asal saja masing-masing kita memiliki keinginan yang sama dan ikhtiar yang tak kenal lelah. Tentu langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghayati kembali pesan moral Islam untuk kemudian ditransformasikan melalui berbagai perilaku positif dalam hidup kita. Diinul Islaam harus kita lihat secara kaaffah (menyeluruh). Agama wahyu ini mencakup semua hal termasuk persoalan disiplin sosial. Tentu yang termasuk penting adalah bahwa praktik disiplin sosial hendaknya digerakkan oleh setiap individu Muslim (bottom up) menuju komunitas yang lebih besar. Kita juga harus  mau belajar kepada bangsa-bangsa yang telah berhasil mempraktikkan disiplin sosial ini sekaligus menggali berbagai kearifan dari mereka. Wallaahu a’lam.

1 komentar:

Selaras Abadi mengatakan...

terimakasih artikelnya pak
silahkan mampir ke blog saya Klik disini