Minggu, 15 Desember 2013

Mari Belajar kepada Samanta

       Nama Achyuta Samanta bagi sebagian besar orang mungkin masih terasa asing. Apalagi jika diperhatikan secara seksama, nama tersebut bukan khas Indonesia. Tentu saja asumsi ini benar, mengingat Samanta adalah pria berkebangsaan India dan boleh jadi belum pernah ke Indonesia. Namun siapa sangka, sosok Samantha membuat Buya Syafii Maarif (Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan peraih Magsaysay Award) terkagum-kagum dengan keunikannya. Bahkan Buya Syafii Maarif pernah memiliki pengalaman menarik bersama Samanta dan membuat sebuah tulisan yang berjudul, “Nabi Orang Termiskin”. Lantas, siapakah Samanta sebenarnya?
Sebagaimana yang tertulis dalam Wikipedia: The Free Encyclopedia bahwa nama lengkapnya adalah Dr. Achyutananda Samanta. Ia dilahirkan pada 19 April 1965 di Desa Kalarabanka, sebuah daerah miskin dalam wilayah Odhisa, salah satu negara bagian di India. Samanta menjadi yatim di usia empat tahun. Namun berkat kegigihannya Samanta memperoleh beasiswa dan berhasil menyelesaikan pendidikannya. Ia meraih gelar sarjana dari Unversitas Utkal. Samanta kemudian menjadi dosen namun meninggalkan profesi itu dan beralih menjadi aktivis kemanusiaan. Dari sinilah proyek mewah dan mencerahkan dalam bidang pendidikan, sosial dan kemanusiaan ia mulai.
Revolusi intelektual dan spiritual Samanta banyak dipengaruhi oleh realitas sosial yang terhampar di hadapannya. Banyak kaum miskin tetap terjerembab di pusaran kemiskinan tanpa bisa berbuat banyak. Tentu yang lebih fatal, pendidikan bagi kaum miskin merupakan barang mewah yang terlalu mahal harganya untuk diikuti. Suasana kemiskinan cukup ia rasakan, inilah mungkin yang membuat jiwa dan raganya memberontak sehingga ia berupaya keras menghalau kemiskinan dari masyarakat. Selain itu, Samanta juga merupakan, dalam bahasa Buya Syafii Maarif, seorang asketik Hindu yang taat, pengagum Mahatma Gandhi. Seorang asketik (sufi dalam konteks Islam), menyerahkan bukan saja hartanya namun juga jiwa raganya untuk sebuah perbaikan.
Samanta merintis lembaga pendidikan internasional yang bernama Kalinga Institute of Industrial Technology (KIIT) dan Kalingga Institute of Social Sciences (KISS). Kedua lembaga tersebut bernaung di bawah KITT Group of Institutions. Selama 20 tahun sejak berdirinya, lembaga pendidikan itu memiliki asset ratusan juta Dollar AS, memiliki lebih dari 36.000 siswa dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Bahkan lembaga tersebut memberikan beasiswa kepada 10.000 siswa dan mahasiswa miskin. Uniknya, lembaga pendidikan yang didirikan Samanta diperuntukkan bagi kaum miskin. Kepada Buya Syafii Maarif ia menuturkan bahwa lembaga mewah itu akan ia wariskan kepada masyarakat bukan untuk dirinya apalagi keluarganya. Sampai kini ia hidup membujang.
Pribadi Samanta amat mengagumkan, di tengah gemerlapnya kemajuan dan pembangunan yang ia lakukan, ia malah hidup amat sederhana. Samanta bahkan tidak memiliki rumah pribadi, ia memilih menyewa sebuah rumah yang amat sederhana untuk ukuran orang kebanyakan. Padahal para bawahannya hidup dalam kecukupan. Yang lebih mencengangkan, Samanta mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, termasuk memasak makanan. Jika ia mau, Samanta bisa saja menyuruh orang lain untuk menggantikan posisinya mengerjakan tugas-tugas rumah itu.
Meskipun bisa menjadi kaya, Samanta memilih hidup apa adanya. Seperti diungkapkan Buya Syafii Maarif, “ruang kerja” yang ia miliki mungkin terbilang aneh dan satu-satunya di dunia. Bagaimana tidak? Ia bekerja di bawah sebuah pohon dengan meja dan kursi terbuat dari plastik. Jika panas menerpa, ia menggeser kursi ke tempat yang lebih teduh. Di tempat itulah Samanta menyusun berbagai program penting untuk mencapai kemajuan. Di tempat itu pula ia menerima berbagai tamu mulai dari presiden, menteri, duta besar, dan orang-orang penting lainnya.
Ketika Buya Syafii Maarif berkunjung ke KITT dan KISS, Samanta menjemputnya dengan pakaian yang amat sederhana. Keesokan harinya ia masih memakai pakaian yang sama. Dibanding dengan para bawahannya yang berpenampilan necis dan bermobil mewah, penampilan Samanta setara dengan para supir di KITT dan KISS itu. Mobil yang digunakan Samanta juga sudah berusia lebih daripada sepuluh tahun. Tentu saja mobil itu jauh ketinggalan dibanding mobil mewah yang digunakan untuk menjemput Buya Syafii Maarif.
Buya Syafii Maarif memberi sebuah kesaksian bahwa apa yang ia lakukan belum ada apa-apanya dibanding dengan karya besar Samanta. Dengan usia yang jauh lebih muda dibanding Buya Syafii Maarif, Samanta telah melakukan terobosan luar biasa. Samanta memiliki keinginan untuk memberdayakan 2.000.000 kaum miskin dari jerat kemiskinan. Dengan amat rendah hati Samanta mengatakan kepada Buya Syafii Maarif bahwa ia amat mengagumi Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Kepada Samanta Buya Syafii Maarif bertanya tentang filosofi hidupnya, Samanta menjawab bahwa ia ingin membahagiakan orang lain. Menurut Buya Syafii Maarif, filosofi hidup itu memberikan kesan tidak mementingkan diri sendiri. Tak lupa Samanta juga berpuasa dua kali dalam sepekan. Ia juga bersemedi yang dalam pemahaman agamanya untuk tetap menjaga hubungan vertikal kepada Tuhan. Dengan ikhtiar tulusnya itu, Samanta kerap mendapatkan berbagai penghargaan nasional maupun internasional.
Buya Syafii Maarif berkomentar, ”…Terus terang saya malu sekali karena dia (Samanta) tak punya alasan untuk mengagumi saya. Syahadat usia dini tidak mengarahkan saya menjadi humanis yang berarti... tentu amatlah sulit bagi kita menjadi asketik seperti Samanta dengan karya besarnya itu. Sekiranya kita mau hidup jujur dan lurus saja sudah lebih dari cukup, pasti akan banyak sekali proyek pengentasan orang miskin yang dapat kita laksanakan di Indonesia. Mau studi banding? Temuilah Samanta di KIIT dan KISS, tak perlu ke Yunani atau negara industri lain.” (Tulisan Buya Syafii Maarif pernah dimuat di harian Kompas 26 November 2011).
Cerita faktual mengenai Samanta tentu saja memberi banyak pelajaran kepada kita. Pertama, Samanta mengajarkan kepada kita tentang pentingnya ketulusan dalam berbuat. Kedua, Samanta menunjukkan bahwa kebahagiaan yang menjadi dambaan kita semua dapat diartikulasikan melalui berbagai aktivitas membantu orang lain. Ketiga, Samanta membuang sikap oportunis dan pragmatis yang berorientasi untuk kepentingan pribadi. Keempat, Samanta berusaha memenuhi kebutuhannya namun ia tidak berusaha memenuhi berbagai keinginannya. Kelima, di tengah arus budaya materialis Samanta berusaha hidup sederhana dan apa adanya. Ia tidak ingin menyakiti kaum miskin dengan menunjukkan berbagai asesoris mewah yang dimiliki.
Banyak orang termasuk non Muslim membuat terobosan-terobosan penting dan bermanfaat bagi kemanusiaan, Samanta salah satunya. Dalam perspektif Islam, berbagai aktivitas itu tergolong tindakan islami (menyelamatkan). Karena itu, kita mesti bersikap seobjektif mungkin. Jangan karena alasan non Muslim berbagai kebaikan yang mereka lakukan kita cemooh. Alquran menjelaskan, “…janganlah kebencianmu pada suatu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil (tidak objektif). Berlaku adillah (objektiflah) karena ia mendekatkan diri kepada ketakwaan…” (QS.  ). Jika kita ingin keluar dari berbagai krisis saat ini mungkin saja filosofi hidup dan aktivitas Samanta dapat dijadikan rujukan. Kita merindukan sosok seperti Samanta itu. Wallaahu a’lam.

0 komentar: