Senin, 18 November 2013

Semua Akan Berlalu



Dahulu kala hiduplah seorang tukang emas yang sangat ahli dalam membuat berbagai ukiran dari bahan dasar emas. Namanya cukup masyhur di seantero negeri. Berbagai kalangan, khususnya kaum elit, pernah datang kepadanya untuk dibuatkan cincin, anting, gelang dan sebagainya. Berpuluh-puluh tahun ia menekuni profesi itu.  Tak hanya cakap dalam persoalan emas, tukang emas itu juga sosok yang arif dan bijaksana. Berbagai hikmah selalu muncul dari pemikiran-pemikirannya. Seiring dengan perjalanan waktu, tukang emas itu telah memasuki usia senja. Setiap orang merasa khawatir jika suatu saat ajal tiba belum ada ahli waris maupun orang-orang terdekat yang memiliki keahlian seperti dirinya.
Rasa khawatir juga menghinggapi perasaan sang raja. Dengan cepat ia mendatangi rumah tukang emas itu agar membuatkan sebuah cincin untuknya. Permintaan sang raja tentu saja disanggupi oleh tukang emas itu. Dalam waktu satu pekan, cincin pesanan sang raja selesai dikerjakan. Tukang emas itu berangkat ke istana untuk menyerahkan cincin istimewa tersebut. Hati sang raja senang gembira menerima cincin pesanannya. Namun ia merasa, ada sesuatu yang harus disempurnakan. Raja kemudian meminta tukang emas itu untuk menuliskan sebuah kalimat yang dapat menjadi renungan bagi sang raja.
Dalam perjalanan pulang, tukang emas tersebut berpikir keras mengenai kalimat yang efektif dan efisien untuk cincin sang raja. Akhirnya ia menemukan ide, kalimat yang ditulis pada cincin itu mesti singkat namun spiritnya senantiasa diharapkan tetap hidup. Kalimat yang dipilih tukang emas itu adalah “this too shall pass” yang berarti “ini juga akan berlalu”. Tukang emas itu bergegas ke istana menyerahkan cincin tersebut. Sang raja kemudian memakai cincin pesanannya tanpa mengetahui makna yang tersembunyi di sebalik kalimat yang melekat.
Sampai pada suatu hari, raja dirundung masalah yang cukup berat. Ia duduk di tepi kolam memikirkan berbagai jalan keluar yang harus ditempuh untuk menyelesaikan masalahnya. Tanpa ia sadari, matanya menatap tulisan di cincin hasil karya tukang emas itu. Kali ini sang raja merenungi apa makna tersembunyi di sebalik kalimat “this too shall pass”. Setelah dicermati dan direnungi, barulah sang raja mendapatkan jawabannya. Bahwa seberat apa pun sebuah persoalan yang terjadi pasti akan berlalu dan selalu ada jalan keluarnya. Raja pun kemudian berhasil keluar dari beban berat yang menghimpitnya.
Kini sang raja seolah mendapat sebuah pegangan berharga dalam hidup. Ia berusaha menjadi sosok yang arif dan bijak seperti si pembuat cincin itu. Satu malam, sang raja menghadiri sebuah pesta mewah yang juga dihadiri para bangsawan dan  raja-raja. Ketika hendak menyantap hidangan, tulisan di cincin yang ia pakai terbaca olehnya. Ia pun sadar, bahwa pesta mewah yang ia hadiri juga akan segera berlalu. Ia juga berkesimpulan bahwa predikat sebagai raja yang ia sandang saat itu juga pasti berlalu. Demikian pula dengan jatah hidup yang ia jalani tentulah akan sampai batas akhir. Ia akan melalui hidup di dunia dan kemudian mati, lalu hidup di negeri lain. Sejak saat itu, raja berupaya memberikan yang terbaik untuk kepentingan seluruh negeri. Ia membaktikan dirinya untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran. Ia bertekad kuat mengisi hari-harinya dengan berbagai kebajikan. (Dikutip dari Komaruddin Hidayat, The Journey of Life (2013) dengan bahasa yang disadur oleh penulis).
Demikianlah, tulisan yang terdapat pada cincin sang raja ibarat marka  yang menjadi peringatan selama perjalanan hidup. “This too shall pass” telah memberi  makna yang demikian dalam. Jika diterjemahkan secara bebas, kalimat itu dapat diartikan “semua yang ada di dunia ini pasti akan berakhir karena itu segala sesuatunya tidak ada yang kekal”. Begitu pula dengan hidup yang sedang kita jalani pasti akan berlalu. Kita akan menghadapi kematian. Dunia suatu saat berubah menjadi masa lalu kita. Jabatan yang melekat pada diri kita juga seperti itu, suatu saat akan kita tanggalkan. Harta yang kita miliki tidak selamanya menjadi milik kita, boleh jadi ia hilang atau suatu saat diambil orang. Berbagai kesusahan yang kita hadapi juga tidak selamanya berlangsung, suatu saat pasti akan berakhir. Mungkin kesusahan itu berganti kesenangan dan kebahagiaan.
Roda kehidupan akan terus berputar. Boleh jadi datang satu masa kepada kita di mana pada masa itu kita berada di puncak karir, puncak kejayaan dengan harta berlimpah dan jaringan yang luas. Segala sesuatunya dapat kita atur hanya dengan menggunakan jari telunjuk kita. Namun masa itu tidak selamanya dapat kita genggam. Boleh jadi masa itu berganti sebaliknya: kekurangan harta benda, perkataan tidak lagi didengarkan orang, memo tidak berharga. Jadilah diri kita seperti kebanyakan orang, datang tidak menggenapi dan pergi tidak mengurangi.
Itulah sifat kehidupan dunia, berjalan secara linier dan berbagai pernak perniknya datang dan pergi silih berganti. Dunia dengan segala isinya tidak ada yang abadi. Dalam Alquran ketidakabadian itu disebut dengan faan (kefanaan). Semua yang ada di alam semesta ini akan berlalu, binasa, punah, hancur atau hilang kecuali Allah sendiri. Allah menjelaskan, “kullu man ‘alaihaa faan” “setiap yang ada di dunia akan fana” (Q.S. Al-Rahmaan/ 55: 26). Kata faan mengesankan bahwa periode kehidupan di dunia satu waktu tidak berlaku lagi. Setelah itu akan datang sebuah periode baru kehidupan yang memberikan ganjaran dan balasan terhadap berbagai aktivitas dalam periode kehidupan dunia yang sudah berlalu.
Pada ayat lain Allah juga menjelaskan bahwa “hari-hari” selalu dipergilirkan dalam kehidupan manusia (Q.S. Ali-Imraan/ 3: 140). Ini artinya hari-hari bersifat baharu. Hari membahagiakan yang pernah singgah dan kita rasakan dalam hidup pasti berlalu. Demikian pula dengan hari-hari di mana dada kita terasa sesak, bahu kita terasa cukup berat memikul rentetan masalah dan beban hidup yang dijalani, namun semua itu akan berlalu pula. Ayat ini juga memberikan pelajaran penting bagi kita agar kita tidak terlalu bergembira dengan kesenangan yang dimiliki dan tidak terlalu bersedih dengan kesusahan yang mendera, boleh jadi keduanya datang dan pergi silih berganti. Kejayaan tidak boleh membuat kita lupa diri dan keterpurukan tidak boleh membuat kita meratap. Kita mesti bersikap sewajarnya menghadapi dua keadaan berbeda tersebut.
Oleh sebab itu, berbagai asesoris dunia seperti: usia, pangkat, jabatan, harta benda, kecantikan, sebelum berlalu harus kita gunakan untuk sarana beramal shaleh. Demikian pula dengan kegagalan dan berbagai kesedihan yang kita alami, harus dijadikan sarana pendewasaan diri dan cermin evaluasi. Keseluruhannya bersifat temporer. Rasulullah sudah mengingatkan bahwa dunia beserta segala isinya berlangsung hanya sekejap saja. Beliau mengumpamakan dunia seperti sebuah pohon yang rindang, tempat berteduh sejenak ketika cuaca panas. Setelah panas reda, pohon rindang itu pasti ditinggalkan orang. Betapa berubah dan sekejapnya dunia ini. Kita merupakan musafir yang sedang menempuh perjalanan sebenarnya, yaitu perjalanan menuju Allah. Dunia adalah tempat berteduh atau singgah sebentar dalam perjalanan karenanya harus dimanfaatkan secara proporsional sebelum berlalu. Allaahu a’lam.

0 komentar: