Jumat, 08 November 2013

Membaca Perjalanan Muhammadiyah




Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi tajdiid. Secara etimologi, tajdiid dapat diartikan dengan purifikasi (pemurnian) maupun dinamisasi (pembaruan). Purifikasi ditujukan untuk membersihkan ajaran Islam dari berbagai keyakinan yang dapat menodai keimanan maupun meluruskan ritualisme yang melenceng. Di lingkungan Muhammadiyah, kata-kata seperti: takhyul, bid’ah dan churafaat (TBC) cukup populer. Pada ranah inilah tajdiid dalam pengertian purifikasi ditujukan. Sementara tajdiid dalam pengertian dinamisasi ditujukan pada berbagai ranah selain keimanan dan ritualisme. Baik purifikasi maupun dinamisasi masing-masing bergerak menjauh, namun saling menguatkan. Purifikasi bergerak ke belakang, sementara dinamisasi bergerak ke depan.
Tajdiid dengan dua maknanya yang integral tersebut menjadi bagian dari kekuatan Muhammadiyah. Itulah sebabnya organisasi ini mendapat berbagai predikat dari banyak pakar. Misalnya saja Deliar Noer  menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan modernisme Islam. Abu Bakar Atjeh menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan salaf. Clifford Geertz memberikan predikat sebagai organisasi sosio kultural. Azyumardi Azra menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi civil Islam terbesar di dunia dalam bidang pendidikan. Bahkan media di Amerika seperti dikutip Cak Nur menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi reformis Islam terbesar (the largest reformist islamic organisation).
Dalam proses perjalanan waktu, tajdiid dalam pengertian purifikasi menguat dan mendapat respon positif. Variabel utamanya karena keislaman masyarakat masih sinkretik. Sebab itu perlu dilakukan purifikasi. Sifat purifikasi terkadang cenderung intoleran dan tertutup. Keadaan ini menggelinding seperti bola salju (snow ball), semakin lama semakin besar dan berlangsung selama puluhan tahun. Hal ini berpengaruh pada mind set warga Muhammadiyah. Seperti diungkap Wertheim, organisasi ini secara perlahan dikenal sebagai gerakan yang tertutup, kaku dan tidak kompromistis.
Melalui Majelis Tarjih lahirlah Himpunan Putusan Tarjih (HPT). HPT berisi tuntunan tentang akidah dan ibadah maupun mu’amalah. Patut diapresiasi, bahwa di Muhammadiyah terdapat panduan dalam memahami dan menjalankan Islam. Tapi perlu pula disadari bahwa HPT bagi sebagian kalangan dianggap kitab yang sakral. Jika hal ini dilakukan secara berlebihan maka akan lahir fanatisme ekstrim. Haedar Nashir mengingatkan bahwa fanatisme ekstrim bermuara pada sikap jumuud dan terbelakang. Keduanya adalah musuh utama tajdiid yang semestinya wajib diberantas Muhammadiyah.
Tak seperti purifikasi, dinamisasi berjalan terseok-seok di tengah hegemoni purifikasi. Ada semacam kesan, dinamisasi dipahami sebatas mendirikan panti asuhan, rumah sakit, sekolah dan masjid. Tentu saja makna seperti ini menjadi sempit. Pada masa awal, dinamisasi yang diejawantahkan melalui pendirian lembaga-lembaga seperti itu cukup relevan dan amat dibutuhkan. Namun dinamisasi adalah proses yang terus hidup dalam berbagai pemikiran dan gerakan Muhammadiyah. Tak seperti setting masyarakat tempo dulu, kini Muhammadiyah berjalan di sebuah zaman yang rentan perubahan. Karena itu, Muhammadiyah melalui dinamisasinya diharapkan tetap dapat bertahan seiring berbagai perubahan yang kian kompleks. Dengan demikian, dinamisasi harus dibaca melalui perspektif baru.
Pada aspek pelayanan sosial, Muhammadiyah memang tidak tertandingi, seperti kepemilikan sekolah, universitas, masjid, panti asuhan, dan rumah sakit. Namun dalam beberapa aspek lain seperti pemikiran Islam klasik maupun kontemporer Muhammadiyah dapat dikatakan terlambat atau mungkin ketinggalan dibandingkan dengan saudara-saudara dekatnya seperti Nahdhatul Ulama (NU) atau bahkan mungkin Al-Wasliyah. Kedua saudara dekat Muhammadiyah itu terlihat lebih responsif. Pemikiran-pemikiran mereka kerap ditransformasikan melalui berbagai media. Tradisi seperti itu di Muhammadiyah secara umum terkesan stagnan. Padahal Muhammadiyah cukup kritis terhadap status quo pemikiran Islam di masa awal kelahirannya.
Seperti diingatkan Buya Syafii Maarif bahwa stagnasi intelektualisme merupakan preseden buruk bagi organisasi ini. Buya Syafii Maarif menginginkan pemikiran-pemikiran Islam yang segar menjadi sebuah dinamika. Inilah yang menurutnya merupakan karakteristik dari sebuah gerakan tajdiid. Ia mencita-citakan agar Muhammadiyah menjadi sebuah komunitas ilmu (ummat al-‘ilm) dan universitas terbuka (open university) di mana tradisi kajian ilmiah yang bercorak kritis dan rasional hidup dan berkembang.
Agak sedikit memprihatinkan pada aspek pemikiran ini sebagian warga Muhammadiyah kurang responsif bahkan curiga. Sebagai organisasi pembaruan yang bersifat dinamis maka persoalan-persoalan klasik apalagi kontemporer seharusnya mendapat perhatian serius. Seperti diungkapkan Cak Nur,  betapa pun besarnya pujian yang diterima Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi, Muhammadiyah kini menghadapi tugas berat untuk meningkatkan proses demokratisasi umat dan bangsa dengan jalan membangun egalitarianisme, toleransi, inklusivisme, moderasi, dan humanisme universal yang sejati.
Memang tak semua isu itu dapat diterima, perlu pula dilakukan kajian intensif dan menelaahnya dengan selektif. Semestinya warga Muhammadiyah memiliki healthy scepticism (skeptis sehat), mengkaji terlebih dahulu secara kritis kemudian disimpulkan, bukan sebaliknya sick scepticism (skeptis sakit), rasa curiga yang berlebihan sekaligus menolak hal-hal yang dianggap mencurigakan. Sikap ini tentu saja tidak sehat bagi perkembangan tradisi ilmiah di lingkungan Muhammadiyah. Rasa tidak simpati juga sering ditujukan kepada minoritas warga Muhammadiyah yang kebetulan mendalami isu-isu sensitif tersebut.
Jika ditelisik lebih jauh, aktivitas Muhammadiyah dari Wilayah sampai Ranting tetap sama, belum terlihat pemikiran-pemikiran bernas yang dilontarkan. Jika pun ada, maka pemikiran-pemikiran tersebut tidak berjalan merata, hanya terjadi pada beberapa komunitas kemudian terkubur ritual organisasional. Sebab itulah, perlu pula upaya-upaya segar untuk memperbarui beberapa aspek di dalam tubuh gerakan pembaruan ini. Menurut Hannah Arendt bahwa revolusioner yang paling radikal sekalipun pada akhirnya akan menjadi konservatif pasca revolusi. Bukan tidak mungkin Muhammadiyah menjadi lembaga konservatif tanpa adanya penyegaran.
Potret tersebut menunjukkan bahwa tajdiid yang mengandung dua makna: purifikasi dan dinamisasi berjalan tidak seimbang. Inilah yang menyebabkan Muhammadiyah terkesan lambat. Dua kekuatan yang pada awalnya merupakan ruh Muhammadiyah menjadi terpecah. Peran purifikasi jauh lebih dominan dan melahirkan hegemoni tersendiri. Fenomena ini dapat dilihat di antaranya dari berbagai majelis ta’lim di kebanyakan Cabang dan Ranting yang sebagian besar mengupas masalah iman dan fikih dalam arti sempit ketimbang isu-isu kemanusiaan. Di sini peran mubaligh Muhammadiyah cukup signifikan dalam mengemas materi ta’lim yang lebih bercorak humanis dan terbuka, bukan sebaliknya yang disampaikan justru klaim-klaim kebenaran internal sekaligus memojokkan pihak lain.
Pada aspek lain pembacaan Azyumardi Azra terhadap Muhammadiyah perlu dipertimbangkan. Menurutnya, Muhammadiyah seharusnya lebih mengukuhkan posisinya di jalur tengah. Jalur yang menghubungkan antara pemerintah dengan masyarakat. Bukan sebagai oposisi, yang dinilainya lebih layak diperankan oleh partai politik tertentu. Suara moderatisme tetap digaungkan, terutama dalam kaitannya untuk memutus gerakan Islam transnasional yang kerap melahirkan berbagai radikalisme di tanah air. Muhammadiyah juga bukan lembaga legal semata yang bekerja hanya pada wilayah halal dan haram maupun penentu keberadaan hilal.
Azyumardi Azra menegaskan, Muhammadiyah melalui jaringan organisasinya di seluruh Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan, dapat membangun “jaringan ikatan kewargaan” (networks of civic engagement) berdasarkan keadaban (civility), kemandirian (independensi) vis-a-vis negara, toleransi dan respek pada keragaman, dan harga diri (dignity); serta menekankan pada ukhuwwah Islaamiyyah, ukhuwwah wathaaniyyah dan ukhuwwah bashaariyyah. Muhammadiyah juga dapat turut berperan penting sebagai salah satu faktor integratif negara-bangsa Indonesia.
Sudah saatnya Muhammadiyah berdaya dan mampu merespons secara konstruktif berbagai macam isu yang muncul di arena sosial dan politik, tentu lewat pendekatan kultural. Makna tajdiid sejatinya dipahami kembali secara kontekstual. Muhammadiyah mesti berperan sebagai kekuatan pengendali sejarah baik nasional maupun global. Kini Muhammadiyah jangan  hanya berkutat pada isu-isu ideologis dan formalisasi hukum Islam ke dalam hukum negara, namun juga responsif dengan berbagai isu strategis lain.  Allaahu a’lam.

0 komentar: